
Arselli membawa Alessya yang terus saja menangis dalam dekapan dan gendongannya. Entah makna apa yang tersirat dari air mata itu , yang pasti Alessya merasa lega telah lolos dari sekapan Ben. Jika mereka tidak datang tepat waktu , entah apa yang akan dilakukan Ben padanya setelah mencium Alessya secara brutal tadi .
" Terima kasih telah datang , Russel. " Bisiknya pada telinga Arselli dengan terbata. Alessya begitu lemah saat ini untuk bicara pun dia terlihat begitu rapuh dan berusaha dengan sangat keras , agar suaranya bisa keluar dari bibirnya.
" Aku menyayangimu Alessya , akan kulakukan apapun untukmu. " Mengecup kening Alessya yang wajahnya semakin memucat saja. Arselli berjalan setengah berlari menuju mobil, khawatir dengan kondisi Alessya yang semakin parah dan lemah akibat darah yang tidak hentinya keluar dari luka di kepalanya.
Arselli mendudukkan Alessya di kursi penumpang mobilnya di bagian belakang. Dari balik punggung Arselli , mata Alessya tidak sengaja menangkap penampakan seseorang yang memakai pakaian hitam dan bertopeng di balik tembok mengarahkan sebuah pistol hendak menembak kekasihnya.
Dorr !!!
" Russel !!! Awasss !!! " Teriak Alessya dengan begitu kencang mengerahkan tenaga terakhir yang dimiliknya sembari mendorong Arselli hingga terpental jatuh.
Alessya cepat tanggap dengan segera mendorong Arselli hingga terjatuh berharap kekasihnya bisa terhindar dari tembakan itu. Namun , keputusan singkat yang dia pilih samasekali tidak menguntungkan dirinya samasekali. Tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang bisa saja tertembak apabila tubuh Arselli tidak menghalanginya.
" Argh.... " Erang Alessya , menahan nyeuri yang tak terperi saat peluru menembus perutnya.
" Alessya !! " Teriak Arselli yang awalnya merasa kaget ketika Alessya berteriak dan mendorongnya dengan begitu keras hingga dia terpental jatuh tadi.
Romeo , Lucas dan asisten Henry yang tengah membereskan Ben menghambur berlari menuju asal suara tembakan dan teriakan yang begitu memekakan telinga itu. Tragedi berdarah tampak di depan mata mereka. Begitu mendarah - darah , menyakitkan dan menyedihkan . Memancing emosi yang tertidur di dalam hati sanubari mereka. Betapa hal yang mereka lihat begitu mengejutkan dan tidak menyangka akan melihatnya di sepanjang perjalanan hidup mereka.
__ADS_1
Apalagi bagi Arselli, mungkin rasa sakit dan nyeuri yang mereka rasakan takkan sebanding dengan yang dirasakan olehnya saat itu. Kehampaan dan kekosongan datang secara tiba - tiba dan bersamaan. Kisah hidupnya serasa dipermainkan oleh takdir yang terkadang begitu menyakitkan. Hanya tersisa harapan , semoga kekasihnya baik - baik saja dan mampu melewati rasa sakit yang tak terperi itu. Rasa sakit yang begitu luar biasa menjalar di tubuhnya . Dan menjalar di hati Arselli saat itu , karena begitu menyakitkan bak dihujam tepat di ulu hatinya oleh pisau yang sangat tajam bahkan teramat tajam.
Brukk !
Alessya jatuh ambruk. Posisinya tadi yang belum sempurna duduk dengan benar menyebabkan dia terjatuh ke aspal jalan. Dengan darah yang perlahan mengucur dari mulutnya. Dan itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan darah yang keluar dari luka tembak di perutnya yang lebih banyak, merembes hingga ke pakaian yang digunakannya.
Cinta dan kasihnya pada Arselli mengalahkan rasa takutnya pada apapun . Alessya lebih memilih untuk melindungi kekasihnya mengabaikan keselamatan dirinya sendiri. Hingga ambang kematian dia berhasil membuktikan kepada Arselli , kepada siapapun , bahkan kepada dunia bahwa cinta yang dirasakan Alessya pada Arselli sangatlah besar , tulus , dan suci. Dan dia berhak mendapatkan cinta yang lebih dari Arselli . Lebih dari cintanya Arselli terhadap Elliana dan siapapun lagi yang sempat mengisi hati Arselli sebelumnya.
Arselli berteriak dengan begitu histeris memeluk tubuh Alessya dalam ketidak berdayaan dan keputusasaan. Tidak menyangka demi dirinya Alessya mengorbankan dirinya sendiri bahkan nyawanya.
Lintasan - lintasan kenangan terbayang di mata Arselli yang berkabut dan dipenuhi dengan air mata. Moment saat pertemuan pertama , berkenalan , awal berkencan , menonton , kecemburuan yang dirasakan , berciuman , berpelukan dan segalanya. Hanya jerit tangis nan perih sembilu terdengar begitu menyayat hati dalam keheningan pagi buta beserta gemerincik hujan yang mendadak turun seolah langit ikut menangis meneteskan air matanya menangisi Alessya yang tengah berjuang di ambang kematiannya.
" Kau jangan pergi Alessya !! Jangan pergi !! " Jeritnya sembari mencoba menyadarkan Alessya yang sudah terpejam matanya kehilangan kesadarannya.
Romeo membantu Arselli dan petugas kesehatan itu memindahkan Alessya ke dalam mobil ambulance. Arselli ikut masuk ke dalam menemani Alessya sebagai walinya nanti setelah mereka tiba di Rumah Sakit nanti. Tiada henti dia menangis sembari menggenggam tangan Alessya yang begitu rapuh dan ringkih. Air mata terus mengalir dari matanya membasahi pipinya. Dia tidak bisa membayangkan bila Alessya sampai mati karena tidak bisa diselamatkan. Hanya keajaiban Tuhan yang dia harapkan semoga Alessya kuat menahan luka yang mendera di tubuhnya itu. Arselli hanya bisa berdoa dalam hati dengan tiada henti.
Mobil ambulance segera melenggang pergi meninggalkan tempat kejadian itu. Sementara Henry dan Romeo membereskan Ben untuk diserahkan pada polisi sekaligus melaporkan kronologis kejadian dimana penyekapan bermula hingga berakhir dengan penembakan tadi.
Dan Lucas ???
__ADS_1
***
Lucas mengejar seseorang yang terlihat berlari setelah berhasil menembakan peluru dari pistol yang dia miliki. Berlari dengan cepat dan tangkas tak ingin kehilangan jejak atas orang yang telah menyakiti gadis pujaannya , temannya , kekasih dari kakak laki - lakinya. Perbuatannya bukan main - main , bukanlah hal sepele karena nyawa menjadi taruhannya. Dan itu sudah termasuk kategori pembunuhan berencana bukan ? Dia layak mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
Bugh !! Lucas menendang keras punggung si pelaku , hingga pistol yang berada dalam genggamannya terlempar jauh dari tangannya.
Bugh !!
Menendang lagi dengan sekuat tenaga merobohkan seketika , melampiaskan kemarahan atas kesakitan yang tengah dirasakan oleh gadis yang sempat dia inginkan untuk menjadi kekasihnya itu.
Erangan lemah terdengar dari mulut si pelaku bertopeng itu , begitu lemah nyaris tidak terdengar. Sepertinya dia menahan sekuat tenaga agar suaranya tidak terdengar oleh Lucas.
Rona ketakutan tergambar jelas dari mata si pelaku yang bertopeng itu , begitu lemah, ringkih , dan mudah untuk ditaklukkan.
Siapa kau sebenarnya .Berani sekali kau menyakiti Alessya....
Lucas berjalan mendekat ke arah si pelaku bertopeng itu. Dengan langkah pasti dan mengintimidasi. Mendekatkan dirinya , meraih topeng yang menempel di wajahnya secara kasar.
" Kau ???? " Lucas tertegun merasakan kaget yang begitu luar biasa. Matanya mengerjap beberapa kali memastikan bahwa penglihatannya tidak salah sama sekali. Khawatir dia salah mengenali seseorang yang tengah tergolek tidak berdaya akibat tendangannya yang begitu keras tadi.
__ADS_1
" Lucasss... " Bibirnya bergetar menahan rasa takut yang menjalar di tubuhnya . Rasa takut atas diri Lucas , Arselli dan Alessya yang sudah dia tembak dengan sembrono tanpa memikirkan akibatnya sama sekali.
Seluruh tubuhnya bergetar dengan penyesalan yang perlahan menyeruak di relung kalbunya. Dia tidak menyangka begitu tega melakukan hal keji itu pada Alessya. Tapi apa daya penyesalan samasekali tak berarti , jika Alessya mati hukuman menantinya dengan begitu pasti.