
" Kamu sudah sarapan ? " tanya Alessya pada Arselli ditengah kesibukan Arselli mengemudikan mobilnya menuju tempat kencan mereka akhir pekan ini. Sesuai janzi semalam , Alessya bersedia pergi berkencan sebagai mahar agar Arselli segera pulang meninggalkan apartemen yang ditinggali Alessya . Kalau tidak, entah jadi apa dirinya semalam , bisa - bisa pagi tadi dia sudah tepar di atas ranjang.
" Hmm...belum. " jawabnya singkat.
" Sini ." memberi tanda pada Alessya untuk mendekat padanya.
" Apa ? ". Alessya menanggapi serius symbol yang diberikan Arselli , mendekatkan kepalanya pada pria itu mengira kalau pria itu akan membisikkan sesuatu yang penting padanya.
Cup
Arselli mengecup dan ******* singkat bibir Alessya. Sembari matanya tetap fokus ke arah jalan. Mumpung sedang lampu merah .
" Apaan sih ? " semburat merah tampak di pipi Alessya yang terkejut mendapat ciuman dadakan itu , di mobil pula. Padahal mereka sudah melakukannya beberapa kali , tapi entah kenapa pagi ini begitu mengejutkan , Alessya menyentuh bibirnya dengan malu - malu kucing.
" Sarapan , sayang... " jawab Arselli merayu gomballll.
" Ish..." . Lain di mulut lain di hati , perasaan Alessya begitu membuncah saat itu apalagi saat mendengar kata sayang dari mulut kekasihnya , terbaca jelas oleh sudut mata Arselli.
" Itu baru sarapan pembuka. " Arselli mengingatkan jangan senang dulu karena nanti akan ada lagi.
Alessya mendelik mendengarnya , kadang Arselli bertingkah konyol dan menyebalkan tapi tetep aza cinta . Perasaannya tidak akan mudah luntur begitu saja hanya karena hal sepele bukan , bahkan Arselli sudah beberapa kali melakukan kesalahan padanya , tapi lagi - lagi cinta yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan di sampingnya. Sebuah ciuman di pagi hari bahkan bukan sebuah kesalahan , hanya sebagai bumbu pemanis di perjalanan cinta mereka .
***
" Laut ? "
Mereka tengah duduk di salah satu kafe yang berada di pinggir laut.Alessya bukan main senangnya kala itu.Arselli mengajaknya berkencan di salah satu tempat yang sangat dia sukai. Terpaan angin dan nyiur melambai terasa menyentuh kulitnya. Sembari menunggu pesanan es kelapa muda segar kesukaannya.
Menghabiskan waktu bersama , dengan cuaca yang cukup mendukung tidak terlalu panas , mereka begitu menikmati panorama laut siang itu. Tanpak angin bergemuruh kencang dan suara deburan ombak laut di sela - sela waktu mereka. Begitu menenangkan dan menjadi lebih menyenangkan kala tersadar di sampingnya duduk sang kekasih tercinta yang sudah memakai kemeja ala - ala pantai Hawaii yang dia pilihkan di salah satu toko cinderamata. Plus kaca mata hitam bertengger di hidungnya.
Dan dia sendiri , sebagai ratu yang terkenal pongah dan keras kepala dengan liciknya dia menolak pakaian pantai yang dipilihkan Arselli untuknya. Jelas dia menolak tegas , Arselli memilihkan dress pantai dengan punggung yang terbuka lebar . Entah apa yang difikirkan pria itu . Sebenarnya Arselli sadar betul Alessya tidak akan memakainya , dia juga membelinya hanya iseng saja untuk menggoda kekasihnya itu. Lagipula dia tidak akan rela tubuh kekasihnya dipandangi oleh mata - mata pria yang ada di sana , apalagi saat itu tempatnya lumayan ramai.
Saat itu , Alessya hanya memakai topi anyaman berdaun besar dengan pita bercorak bunga , yang tadi sempat dibelikan Arselli di toko cinderamata . Tidak lupa kaca mata hitam ikut bertengger di hidung lancipnya.
" Buat di rumah saja , buat tidur . Bajunya sejuk , cocok buat dasteran di rumah kalo udah nikah nanti ." tolak Alessya santai sembari menyeruput minuman segar yang ada di meja. Tatkala Arselli mempertanyakan Alessya yang menolak memakai baju yang dipilihkannya untuknya , sedangkan Arselli yang begitu angkuh dan sombong menurut saja memakai kemeja pantai berwarna pink pilihan Alessya , membuat dirinya merasa dicurangi kala itu.
__ADS_1
" Yakin , kamu masih bisa memakai baju saat tidur nanti ? " terkekeh Arselli menggoda sembari mengangkat kedua alisnya. Sedikit geregetan juga dengan tingkah gadisnya itu , dan dengan konyolnya dia hanya bisa menurut dan mengalah saja.
Memutar bola matanya merasa jengah. Alessya lupa , pria yang duduk di depannya hari ini sudah kebelet kawin , saat kata tidur tidak sengaja terlontar dari mulutnya , sinyal kuat langsung menyambarnya. Bibirnya hanya bisa mencebik tersenyum menanggapi ucapan pria itu , jika ditanggapi nggak kelar - kelar nanti. Bisa - bisa berakhir check in di salah satu hotel di tempat ini. Alessya bergidik membayangkannya. Arselli yang mengerti apa yang difikirkan Alessya , tersenyum dan geleng - geleng kepala saja , fikiran gadis ini sedikit kotor sepertinya.
***
" Alessya . " Tiba - tiba seorang pria memanggil namanya , tidak jauh dari tempat mereka duduk.
" Romeo. " jawab Alessya , setelah melihat keberadaan pria yang memanggilnya.
Romeo menghampiri Alessya yang sudah bangun dari duduknya menyambut kedatangan pria itu , bagaimanapun Romeo adalah bosnya dan dia ingat betul , besok adalah hari pertamanya bekerja bersama Romeo. Melihat gerakan Alessya yang begitu refleks setelah kehadiran Romeo , sikap posesif Arselli timbul , berdiri tegap dengan rahang yang mengeras segera berdiri di samping Alessya.
" Kau sendiri ? " tanya Alessya.
" Aku bersama seorang teman ." jawabnya .
" Anna ." teriak Romeo pada seorang wanita yang berdiri cukup jauh dari mereka . Mata Alessya tertuju pada wanita cantik , seksi dan mempesona yang berjalan ke arahnya.
" Anna ? " gumam Arselli pelan. Dia ikut menoleh memandang wanita itu. Sedikit kaget mendapati wanita cantik yang sudah lama dia kenal , bertemu saat ini.
" Arselli !!? " Alessya kaget kala wanita itu memanggil nama kekasihnya dengan begitu khas dan hangat .Mereka sepertinya sudah saling mengenal sebelumnya.
Dan di depan mata Alessya terjadilah reuni pertemuan diantara dua insan yang saling mengenal itu . Tanpa segan berpelukan dan bercengkrama diantara mereka , seperti mereka hanya berdua di sana . Melupakan keberadaan Alessya dan Romeo yang menatap lamat dan dalam pertemuan itu.
Tidak masalah dengan pelukan dan cengkraman mereka , Alessya mengerti mungkin teman atau sahabat lama. Tapi setelah melihat tatapan hangat dari mata kekasihnya yang sudah tidak tertutupi oleh kaca mata hitamnya itu , terhadap wanita bernama Anna itu , cukup menoreh luka yang cukup dalam di hatinya.
Apalagi , bukan hanya Arselli , tatapan wanita itu bahkan lebih hangat dan berbinar kala kedua mata mereka bertemu. Seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
Romeo yang berdiri diantara mereka cukup mengerti dengan situasi itu , melihat mata nanar Alessya rasa bersalah menyeruak di hatinya. Sepertinya kehadirannya bersama teman lamanya sedikit mengganggu kencan mereka . Sebuah hubungan masalalu mungkin ?
drrtt...drrtt...drrtt...
Getar ponsel memecah hening kala itu , Alessya memiliki alasan untuk berpaling sementara waktu dari pemandangan yang cukup memuakkan itu.
Sebuah panggilan telfon dari Meera. Memberi tanda pada Romeo bahwa dia akan menerima panggilan itu. Kenapa pada Romeo ? Karena Arselli tengah begitu asyik maksuk mengobrol dengan wanita yang begitu mempesona itu. Alessya sedikit tidak enak jika harus mengganggu keasyikan mereka.
__ADS_1
" Ya , Meera.. " jawab Alessya. Sembari melangkah sedikit menjauh dari ketiga orang itu.
" Alessya, maaf mengganggumu. " Suara Meera tanpak bergetar di balik telfonnya.
" Ada apa ? Apa yang terjadi ? " tanya Alessya panik , mengingat akhir - akhir ini Meera slalu diteror oleh mantan kekasihnya yang bernama Ben , yang sempat dia hajar di Club malam.
" Tolong aku , Alessya . Aku mohon... " jawabnya memelas semakin membuat Alessya cemas di buatnya.
" Kau di mana ? jawab.. " tegas Alessya.
" Aku akan mengirimkan alamatnya padamu. "
" Baiklah , tunggulah aku di sana. " Meyakinkan kepada Meera bahwa dia akan menemuinya , tubuhnya berbalik setelah menutup panggilan telfon itu. Menatap kembali pemandangan yang semakin memuakkan saja. Entah mengapa , tiada angin tiada hujan nama Elliana terlintas di benaknya.
" Elliana ? ... " gumamnya pelan.
" Anna ? " gumamnya lagi setelah beberapa saat.
Apakah mereka orang yang sama ?
Tapi dia bukanlah gadis bodoh , marah hanya dengan berasumsi sendiri yang belum tentu kebenarannya . Kakinya melangkah mendekat ke arah Romeo , yang berdiri agak menjauh dari dua insan yang tengah mengobrol asyik melupakan sekitarnya sejenak karena saking menikmati pertemuan mereka itu.
" Anna itu , apakah namanya Elliana ? " tanyanya pada Romeo setelah mengumpulkan keberanian untuk mendapat jawaban yang akan sedikit mengagetkannya nanti dan berusaha bersikap biasa - biasa saja di depannya.
" Elliana . Ya , itu nama lengkapnya . " jawab Romeo dengan begitu meyakinkan , menunjuk wanita yang dipanggil Anna itu.
Alessya tampak pucat mendengarnya. Apalagi setelah melihat pemandangan mereka berdua. Arselli benar - benar melupakannya. Dia mendadak ingat kepada Meera. Mundur teratur dari sekumpulan orang itu. " Aku ke toilet dulu " ucapnya pada Romeo. Hatinya menjerit sekeras - kerasnya , menahan kesal dan amarah yang tiada tertahan . Begitu kesal karena Arselli lebih memilih untuk mengobrol dengan Elliana , melupakan keberadaan dirinya yang sudah ada sejak tadi.
Apakah dia lupa , atau pura - pura lupa ?
Apalagi setelah melihat mata pria itu yang begitu berbinar , bersinar memancarkan kebahagiaan , tatkala bercanda dan tertawa bersama dengan Elliana.
Sebegitu bahagianya kah dirimu ?
" Kau perlu diantar ? " tanya Romeo tiba- tiba dengan begitu perhatian. Dia sedikit jengah juga harus terjebak diantara dua orang itu.
__ADS_1
" Tidak ! " jawabnya tegas, segera berlari ke arah toilet berada. Walaupun kakinya terasa lemas kala itu , dia mencoba bertahan untuk tetap berdiri tegak , tidak ingin terlihat rapuh di mata siapapun.
Romeo terperangah melihatnya , sedikit aneh dengan sikap Alessya , yang tiba - tiba berubah kaku dan dingin dengan wajah yang terlihat pucat tadi. Dia mengerti mungkin Alessya sedikit cemburu melihat kebersamaan Arselli dan Elliana. Tapi akankah baik - baik saja membiarkan Alessya sendiri dengan kondisi seperti itu , dengan kondisi hati dan perasaan yang tampak semrawut tidak karuan.