
" Apa yang terjadi ? !! " teriak Arselli kencang sembari menarik kasar kerah baju yang dipakai Romeo. Kedua pria itu tampak begitu panik dan khawatir , apalagi Arselli wajahnya tampak merah padam.
" Sepertinya, Alessya dalam bahaya . " jawab Romeo , tubuhnya tampak bergetar kala itu . Mendengar jeritan Alessya tadi , dia begitu yakin Alessya benar -.benar dalam bahaya , dan nyawanya sedang dipertaruhkan saat ini.
Melihat respon Romeo yang benar - benar terlihat panik , ditambah wajahnya yang pucat , ketakutan dan kecemasan semakin menguasai Arselli.
" Dimana dia ? apa dia mengatakan sesuatu ? " tanya Arselli.
" Tadi dia akan mengirimkan alamatnya , tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi , sesuatu telah terjadi padanya , Arselli. " jawab Romeo ragu , sembari mengusap kasar wajahnya.
" Entahlah , .. sepertinya tadi dia menjerit atau berteriak ... dia menangis ketakutan tadi. Dan ponselnya mati , seseorang mengambil ponselnya . Aku yakin itu.!! " jawab Romeo.
Elliana yang melihat kepanikan kedua pria yang tengah berada di hadapannya menjadi ikut khawatir.
" Bagaimana ini ? Perlukah kita melapor pada polisi ? " tanyanya menyela obrolan kedua pria itu.
" Kita harus mencarinya . " jawab Arselli.
" Tapi ke mana ? " jawab Romeo.
" GPS , coba lacak ponselnya mungkin masih aktif . " jawab Elliana.
Arselli mengambil ponselnya dan mencoba melacak no ponsel Alessya , tapi tidak bisa. Dia gusar , marah , takut , menyesal , merasa bersalah dan segalanya dia rasakan kala itu , bercampur menjadi satu. Mengacak acak rambutnya berusaha menghilangkan stress di otaknya.
" Alessya !!! " teriaknya hampir menangis .Merasa Bersalah seandainya dia tidak mengabaikannya tadi , Alessya tidak akan pergi seorang diri.
" Oh iya , Meera !! " tiba - tiba Romeo ingat tadi sebelum pergi Alessya menerima panggilan telfon dari seseorang yang bernama Meera. Merasa angin segar menerpa wajahnya ditengah kebuntuan itu.
" Kau mengenal seseorang bernama Meera? " tanya Romeo pada Arselli.
" Ya , dia temannya. " jawab Arselli.
" Sebelum pergi tadi , dia mendapat telfon dari seseorang yang bernama Meera. " jawabnya dengan begitu yakin. Walaupun tadi jarak mereka cukup jauh , tapi dia yakin tidak salah mendengar Alessya menyebut nama itu.
__ADS_1
***
Arselli dan Romeo memutuskan bekerja sama untuk menolong Alessya . Sementara Elliana pergi ke kantor polisi terdekat dengan menggunakan mobil Romeo.Arselli dan Romeo berhenti di sebuah kontrakan rumah kecil. Menurut informasi dari asisten Henry di sanalah Meera tinggal.
Arselli mengetuk pintu itu beberapa kali. Mendobraknya kemudian , karena tak kunjung mendapat jawaban dari pemilik rumah. Tak ada siapapun di sana , hanya kondisi rumah yang berantakan yang mereka temukan kala itu.
Beberapa saat kemudian , asisten Henry dan Lucas datang ke tempat itu juga , mereka sudah berembuk tadi melalui panggilan telfon untuk bertemu di sana , dan merencanakan hal yang akan di lakukan bersama.
Lucas menghambur berlari menghampiri kakaknya itu. Tangannya mengepal menahan amarah.
Bugh !!!
Satu pukulan keras mendarat di wajah Arselli. Darah merah mengalir di ujung bibirnya. Arselli hanya diam menahan kesal , kala merasakan linu di tulang rahangnya. Memegangnya sembari menatap tajam Lucas , menahan diri untuk tidak melawan .Bagaimanapun saat ini prioritasnya adalah menyelamatkan Alessya.
" Dasar brengsek , kau !!! " Lucas menunjuk - nunjuk wajah Arselli.
" Bisa - bisanya kau membiarkan dia dalam situasi seperti ini. "
" Tenanglah... " ujar Romeo pada Lucas dan Arselli.
Arselli menghapus darah di ujung bibirnya dengan ujung jarinya. Menatap asisten Henry kemudian. " Kau membawanya ? "
Asisten Henry menganggukkan kepalanya dan menggiring atasannya itu menuju mobil yang dia gunakan tadi saat datang bersamaan dengan Lucas. Membuka bagasi mobilnya dan menunjukkan koper besar yang saat dibuka ternyata berisi beberapa senjata api laras panjang dan pendek . Romeo yang mengikutinya di belakang cukup terkejut melihatnya , ternyata misi penyelamatan kali ini bukanlah main - main belaka.
" Apa ini tidak terlalu berlebihan ? " tanya Romeo.
" Saya sudah menyelidikinya , Tuan. Ini bukanlah penculikan biasa. " jawab asisten Henry.
" Apa maksudmu ? " Arselli bertanya.
Asisten Henry tampak membisikkan sesuatu padanya , hal yang cukup penting yang membuat wajah Arselli memucat seketika.
Tiba - tiba...
__ADS_1
Brukk !! Brukk !!
Suara terdengar dari kamar mandi kontrakan itu. Lucas mendobraknya , mendapati Meera tengah terikat dengan mulut di plester.
***
" Ben . " jawab Meera kala empat pria itu menginterogasinya.
" Dia adalah pria yang sempat berkelahi dengan Alessya di Club malam. " lanjutnya kemudian , kala sebuah nama tidak cukup memuaskan bagi pria - pria yang tengah dahaga akan informasi yang sangat penting itu.
" Dia mengancamku dan menyuruhku untuk menghubungi , Alessya. Dan meminta Alessya datang ke suatu tempat. " menjelaskan sembari meringis menahan sakit yang menjalar di tubuhnya , sepertinya dia mendapat kekerasan fisik saat berhadapan dengan Ben , tatkala pria itu datang untuk mengancamnya untuk menghubungi Alessya . Ben ternyata menyimpan dendam yang teramat sangat pada Alessya , akibat insiden di Club Malam yang menyebabkan perkelahian diantara mereka dan dia merasa kesal karena kalah telak di muka umum oleh seorang gadis yang terlihat begitu ringkih dan lemah.
" Dia bekerja sama dengan satu kelompok . Mereka sangat mengerikan . " Meera menangis merasa bersalah pada Alessya.
Arselli mengepalkan tangannya mendengar penuturan gadis itu. Kemudian menatap tajam asisten Henry , yang menganggukkan kepalanya tatkala mereka bertemu pandang. Ternyata tidak salah dugaan asisten Henry yang sempat dia bisikkan tadi pada atasannya itu.
Kelompok yang bekerja sama dengan Ben adalah salah satu kelompok atau gank jahat yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Mereka tidak bekerja sendiri melainkan berkelompok dan tidak akan melakukan sesuatu hal yang membahayakan kelompoknya apabila tidak mendapat balasan atau bayaran yang setimpal. Pertanyaannya adalah Ben bukanlah seseorang yang cukup penting atau kaya untuk mampu membayar kelompok itu, kecuali jika Ben memang salah satu anggota dari kelompok itu.
Hanya saja mungkinkah , ketua dari kelompok itu rela menjerumuskan kelompoknya dalam masalah hanya karena permintaan anggotanya. Arselli jelas tahu siapa ketua dari kelompok itu , Karena pernah berurusan dengan mereka saat masih tinggal di Paris dulu. Dan Ben samasekali tidak ada hubungannya dengan ketua kelompok itu, dia jelas tahu itu.
" Ben , dia adalah sahabat dari ketua kelompok itu. " jawab Meera tiba - tiba diantara keheningan pria yang tengah berfikir keras itu.
" Jika mereka tidak mendapat bayaran dari Ben , kemungkinan ... " Arselli mengepalkan tangannya kala mendengar ucapan itu dari asisten Henry.
" Uang tebusan ? ! " Potong Arselli seketika.
Asisten Henry menganggukkan kepalanya , membenarkan ucapan atasannya itu.
" Jika memang itu tujuannya , mereka pasti akan menghubungi mu . " ujar Romeo .
" Setelah Alessya keluar dari Club malam itu , Aku melihatmu mengancam Ben. Sepertinya dia menyadari , kau bukanlah orang biasa . " lanjut Romeo setelah mengingat sesuatu.
Rasa bersalah semakin bercokol di dada Arselli , dia begitu ceroboh mengabaikan Alessya tadi , sehingga pada akhirnya Alessya pergi sendiri. Dan mengingat Alessya yang sekarang ditahan oleh orang - orang yang mengetahui kedekatan Alessya dengan dirinya yang terkenal memiliki harta yang melimpah membuat dirinya semakin merasa bersalah. Bertekad kuat dalam hatinya , akan memberikan berapapun yang mereka inginkan dan melakukan apapun demi menyelamatkan kekasihnya itu. Karena dia tidak akan sanggup bila terjadi sesuatu pada Alessya.
__ADS_1