Lola And Loly

Lola And Loly
Bintang di Hatiku


__ADS_3

" Maaf ... " Berucap lirih Alessya meminta maaf atas kebohongannya selama ini. Ujung jarinya yang lentik bermain - main di dada bidang suaminya.


Di sela aktifitas olahraga malam, mereka beristirahat dan mengobrol untuk barang sejenak. Kini mereka tengah terbaring polos bak bayi baru lahir hanya dengan ditutupi selimut tebal. Saling berpelukan memberi kehangatan satu sama lain dalam dinginnya ruangan kamar yang ber-AC.


" Maaf ..." Lagi dan lagi Alessya berujar maaf tiada henti, namun kali ini dia mendongakkan wajahnya pada Arselli suaminya untuk memastikan kemarahannya.


" Sudahlah, tidak apa-apa ... " Ujarnya berusaha menenangkan sembari mengelus kulit punggung Istrinya yang halus bak sutra. Kala menatap mata istrinya yang berbinar mana mungkin dia bisa marah.


" Tapi ... " Masih melanjutkan melukis sesuatu di dada suaminya. Dia benar - benar merasa bersalah saat itu.


" Sudahlah, lagipula ... " Arselli mengulum senyum sedikit penasaran dengan reaksi istrinya nanti setelah mendengar ucapannya kali ini.


" Apa ? " Lagi - lagi Alessya mendongakkan wajahnya agar bisa menatap suaminya. Melihat bibir suaminya yang tersenyum mendadak hatinya merasakan firasat yang tidak enak.


" Ya ... Lagipula kami semua sudah tahu kalau kau itu hanya berpura - pura Amnesia . " Dengan ragu dia menjawab. Dan benar saja Alessya terkejut bukan main. Saking terkejutnya dia langsung bangkit dari posisi tidurnya beringsut duduk , melupakan dirinya yang masih polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya .


" Apa ?!!! " Teriaknya lalu menutupi mulutnya yang tetap terbuka seolah kaku tidak bisa tertutup lagi karena mendengar ucapan dari mulut suaminya itu.


Arselli tergelak melihat reaksi istrinya , refleks tangannya menarik selimut untuk menutupi dada istrinya yang seolah melambai - lambai padanya.


Akhirnya tersadar , dengan refleks tangannya meraih selimut yang digenggam suaminya tadi. Menutupi dada polosnya dengan selimut yang dipegangnya kini.


" Bagaimana kau bisa tahu ? Dan kami ? Siapa saja kami itu ? " Mendadak dia teringat dengan Lucas.


" Apakah Lucas yang memberitahumu ? "


" Oh ... Jadi Lucas juga tahu ? Dia memang adikku Alessya. Tidak sebodoh itu bisa dibohongi olehmu yang tidak pintar berbohong itu. " Sembari terkekeh menggoda istrinya.


" Apakah ibu juga tahu ? Bagaimana dengan dokter Edward ? " Tanyanya dengan begitu penasaran.


" Semuanya tahu Alessya. Ibu , Edward , Henry dan ... Lucas tentunya. Hanya kau yang tidak tahu. " Sembari menjentik hidung istrinya yang mancung dan lancip itu. Lalu menarik tubuhnya untuk kembali tidur dalam pelukannya.


" Ahh ... !! " Merajuk sembari menggerak - gerakkan kakinya dengan manja. Lalu menutup seluruh tubuh hingga kepalanya dengan selimut.


Arselli tergelak melihat tingkah lucu istrinya itu.

__ADS_1


" Sudahlah ... jangan terlalu difikirkan. Kau hanya harus melayaniku dengan sangat baik untuk menebus kesalahanmu itu. " Sembari menepuk pelan punggung istrinya yang tengah bergelung manja di samping tubuhnya di balik selimutnya.


" Ini memalukan Russel ... Dan semua ini salahmu ! " Jawabnya sembari menengadahkan wajahnya yang sudah memerah itu keluar dari selimut yang menutupinya.


" Salahku ? " Mengangkat kedua alisnya merasa penasaran dengan kalimat lanjutan yang akan diucapkan istrinya.


" Ya. Kalau saja saat itu kau tidak mengabaikanku demi Elliana. Aku pasti tidak akan membencimu. " Dengan nada nyolot dia menyalahkan suaminya.


Deg


Arselli terkejut sekaligus tersadar dengan kesalahannya. Kesalahan yang akan slalu diingat dan disesali seumur hidupnya.


Ternyata benar dugaan ku , kau marah karena itu.


" Maafkan aku, Alessya. Itu memang salahku dan aku sangat menyesal karenanya. "


" Menyesal katamu ? Tadi saja kau akan pergi untuk menemuinya. Apa itu yang disebut menyesal ? Padahal kau sendiri tahu dengan pasti bahwa aku samasekali tidak amnesia. "


Arselli tersenyum lucu mendengarnya. Hey... sejak kapan mereka berubah posisi. Mereka sudah duduk sekarang, di atas ranjang. Saking seriusnya dan tersulut emosi kala mulai membicarakan perempuan yang bernama Elliana itu.


Sembari menatap tajam suaminya yang tengah senyam senyum itu. Sembari melayangkan pukulan pada dada bidang suaminya itu.


" Ha ... " Arselli tergelak kencang mendengar dan melihatnya. Meraih tangan istrinya dan menggenggam erat seolah tak ingin terlepas darinya. Lalu merangkul istrinya dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Abaikanlah tangan pria itu yang kini tengah bermain-main di dada istrinya.


" Russel ! " Jeritnya sembari berusaha terlepas dari jeratan tangan nakal suaminya itu.


" Dengarkan ! " Tegasnya cukup untuk menghentikkan gerakan Alessya yang tengah meronta - ronta itu. Alessya hanya terdiam dengan memendam rasa kesal di hatinya.


" Tadi itu , aku berbicara dengan Edward, bukan Elliana." Lanjutnya setelah terdiam sejenak. Kepalanya bersandar di bahu istrinya saat itu.


" Apa maksudmu ? " Sedikit menolehkan wajahnya pada suaminya.


" Ya. Tidak ada Elliana , Alessya. Dia sudah kembali ke Paris.Kau ingat saat dia mengajakku berbicara di rumah sakit ? " Dengan nakal dia menjilat dan menggigit telinga istrinya.

__ADS_1


Alessya menganggukkan kepalanya. Sembari menahan geli di telinganya itu.


" Dia berpamitan untuk pulang saat itu. " Lega sudah memberi penjelasan pada istrinya, berharap tidak ada kesalah pahaman lagi diantara mereka.


" Benarkah ? " Tanya Alessya.


" Hmm. " Arselli menganggukkan kepalanya.


" Kita sudah menikah sekarang. Untuk ke depannya, bisakah kau mempercayaiku ? " Mengingat Alessya yang slalu mudah tersulut emosi dan cemburu. Karena bukan tidak mungkin, masalah lain akan mendera hubungan mereka. Dengan fondasi yang kuat pernikahan akan tetap bertahan walaupun badai terus menerjang. Dan fondasi itu adalah cinta dan kepercayaan.


Tidak menyadari dirinya sendiripun slalu terbawa emosi dan cemburu apabila sudah menyangkut dengan Alessya. Karena menurutnya Alessya hanya miliknya seorang.


" Baiklah , suamiku . " Tersenyum lembut pada suaminya yang masih menyandarkan dagunya di bahunya.


" Alessya ... " Arselli memeluk lebih erat istrinya.


" Hmm ? "


" Aku mencintaimu ... " Bisiknya pada telinga istrinya.


" Aku juga ... Mencintaimu. " Jawabnya sedikit menolehkan kepalanya untuk menatap suaminya lagi.


" Kau adalah bintang di hatiku, Alessya. Selamanya ... hanya kau yang akan menyinari hatiku. " Ucapnya dengan begitu lembut dan romantis.


" Dan kau ... adalah duniaku , Russel. Aku hanya akan bersinar untukmu. " Jawabnya tak kalah romantis.


" Terimakasih karena telah menyelamatkanku saat itu ." Mengingat Alessya yang sudah melindungi dirinya dari tembakan Clara.


" Hmm. " Alessya menggelengkan kepalanya.


" Aku yang berterimakasih karena membuatku bertahan hidup. " Betapa histerisnya pria itu menangis dan meraung meminta agar Alessya tetap hidup saat kritis kala itu, walaupun Alessya sedikit tidak sadar namun dia mengingat itu dengan pasti. Menyulut semangat hidup di dalam dadanya menjadi semakin berkobar.


Beberapa lama mereka saling menatap dalam suasana yang mendadak romantis. Membawa mereka dalam syahdunya malam yang menenangkan. Dalam hangatnya pelukan mereka berpagut mesra, menapaki tangga gairah tahap demi tahap, meraup nikmatnya cinta yang semakin bergelora, yang kian lama bergemuruh di dalam dada.


Keheningan malam menjadi saksi kala bibir itu menyusuri leher jenjang putih nan seksi , menikmati dua gundukan indah dan menggoda, mengawali untuk melanjutkan kembali aktifitas malam penuh gairah mereka, untuk meraih kenikmatan menggelora di ronde-ronde percintaan panas mereka berikutnya.

__ADS_1


" Russel ... matikan lampunya ! " Sayup - sayup Alessya berteriak dalam sela desahan panjang mereka.


__ADS_2