
Arselli meremas fotho yang dia terima dari Diana ketika bertemu di toilet tadi.Dia tidak menyangka Clara bisa berbuat sejauh ini. Apalagi dia ingat betul bahwa fotho itulah yang dulu berhasil memprovokasi ibunya , hingga dia memutuskan untuk mengadakan acara pertunangan itu.
Tampak Alessya tengah duduk di sofa dengan gurat lelah di wajahnya. Mereka bertengkar hebat tadi . Alessya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka , karena tidak ingin dianggap orang ketiga yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri, tentu saja keinginannya itu tidak diindahkan samasekali oleh Arselli , pria itu malah semakin mengungkungnya mengurungnya di kamar itu , hingga gadis itu mau merubah keputusannya kembali , melanjutkan perjuangan cinta mereka.
Pertengkaran mereka terdengar serius. Setelah asisten Henry dan Diana membantu mereka meninggalkan pesta dan pergi ke salah satu kamar di hotel itu. Bukan maksud apa - apa Arselli membawa Alessya ke hotel , tapi untuk menenangkan kekasihnya dan memberinya waktu dan peluang untuk berganti pakaian.
Sesuai permintaan Alessya , Meera di bebas tugaskan dari pekerjaannya malam ini , karena merasa tidak enak membiarkan
temannya bekerja seorang diri. Dan tentu saja semua berkat bantuan asisten Henry.
" Makanlah Alessya , aku tahu kau belum makan apapun dari tadi ." menunjuk ke arah makanan yang sudah sedari tadi dia pesan dan samasekali tidak disentuh bahkan dilirik oleh kekasihnya. Ini sudah hampir tengah malam dan Alessya memang belum makan apa - apa dari sore tadi . Kalau jujur sebenarnya gadis itu sangat kelaparan , tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui itu.
Alessya masih terlihat murka , belum tampak aura perdamaian di wajahnya , sepertinya " putus " adalah keputusan final yang ada di benaknya. Jika Arselli menolak, dia sepertinya sudah siap untuk melanjutkan pertengkaran mereka tadi.
" Aku tidak ingin makan , aku ingin hubungan kita berakhir. " lanjutnya.
" Tidak !! " teriak Arselli. Auranya sangat mencekam kala itu , jika itu di dapur mungkin piring - piring tengah berseliweran bak UFO si piring terbang di luar angkasa.
krwkk...krwkk...perut gadis itu berbunyi , dan Arselli mendengarnya dengan sangat jelas.Alessya mencelos mendengarnya merasa malu sendiri.
" Makanlah !!! Setelah makan kita bisa melanjutkan lagi pertengkaran yang kau inginkan itu !!." sembari meninggalkan Alessya sendiri ,sementara dia pergi ke balkon untuk menghisap sebatang rokok.
Alessya senang mendengarnya ,perutnya benar - benar tidak bisa diajak kompromi kali ini.
" Apa maksudnya pertengkaran yang kau inginkan ? ." bergumam pelan , sembari memasukkan satu persatu makanan yang tersedia di meja ke dalam mulutnya . Nafsu makannya memang tinggi , hampir semua makanan di lalapnya hingga habis , hampir tidak ada sisa. Dan seperti biasa , Arselli dengan begitu pengertiannya memahami semua itu. Mungkin Alessya membutuhkan energi ekstra untuk marah - marah nya kali ini.
***
Alessya memeluk erat Arselli dari belakang punggung tegap itu, yang tengah berdiri menghadap pagar balkon . Entah mengapa , setelah laparnya hilang amarahnyapun ikut mereda , mungkin karena stress yang berlebihan dirasakannya dari tadi, emosi nya menjadi sedikit tidak stabil.
" Kau lihat apa ? " tanya nya lembut , tidak menyadari pria yang dipeluknya itu tengah ketat ketir mengatasi jantung dan darahnya yang memompa dan berdesir hebat kala dua gundukan padat dan hangat itu bersandar di punggungnya.
__ADS_1
Arselli hanya diam berusaha meredam perasaan yang bergejolak di dalam dirinya itu , dengan terus menghisap rokoknya itu , pura - pura tidak peduli dengan keberadaan Alessya yang begitu dekat di belakangnya.
" Russel... " bisiknya pelan, ke arah telinga pria yang dipeluknya, sembari tangannya mengusap
dada dan perut pria itu dengan lembut , bahkan lembut sekali. Entah niat apa yang terselubung di hatinya , tapi sungguh Arselli dibuat tidak berdaya karenanya.
" Hmm !! " jawabnya so cool , dengan tangan yang mengepal keras.
" Mungkin...kita memang tidak ditaqdirkan untuk bersama , Russel. Tapi aku mengerti ,keputusan ibumu mungkin yang terbaik bagimu. Aku berjanzi , walaupun kita putus , kita masih bisa berteman dan berkomunikasi satu sama lain " Berucap lembut mengutarakan isi hatinya , dia menyerah bila harus bertengkar terus seperti tadi , begitu melelahkan dan menyakitkan.
Rupanya Alessya sudah sangat tahu kelemahan Arselli, kehangatan dan kelembutan gadis itu adalah kelemahan terbesar Arselli . Tapi sayangnya pria itu sudah menyadari bahwa gadis itu tengah memanfaatkan kelemahan pada dirinya.
" Alessya !!! " sentaknya pada gadis itu ,sembari membalikkan badannya menghempas pelukan gadis itu.Dia marah karena Alessya masih saja membahas kata putus dari mulut manisnya itu.
" Bisakah kau berhenti membahas hal itu lagi ? " tanyanya dengan nafas yang memburu kencang , terlihat penuh dengan amarah dan emosi.
" Kau tidak mengerti perasaan ku , Russel. " Berusaha berkata pelan , tidak ingin pembicaraan ini lagi - lagi berakhir dengan pertengkaran sengit seperti tadi.
" Kau bilang apa ? Kau yang hanya memikirkan dirimu sendiri ,bukannya Aku !! " Teriaknya kencang tidak terima saat Arselli menyentaknya tadi.
" Aku sudah cukup tersakiti oleh semua ini.Kau fikir.. bagaimana rasanya melihat kekasih yang sangat kau cintai bertunangan dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Belum lagi wanita dari masa lalumu itu, yang kerap hadir di fikiranmu. Kita bahkan bertengkar terakhir kali hanya karena pot pemberiannya. " Emosi Alessya membludak , mengutarakan semua yang terpendam di hatinya selama ini.
" Jangan membahas Elliana , Alessya. Dia samasekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. "
" Heh...kau masih mencintainya bukan ?!!! , Tapi , kenapa kau masih ragu untuk melepaskan aku. Apakah satu wanita tidak cukup bagimu ? !! " tanyanya frontal.
" Alessya ...!! "Menatap tajam gadis itu. Beringsut menarik kasar tangan Alessya , menyeretnya meninggalkan teras balkon dimana mereka berdiri , berjalan cepat menuju kamar menghempaskannya secara kasar ke atas ranjang.Beringsut naik dan menindih tubuhnya, lalu mencium bibir gadis itu secara brutal , tanpa memberi jeda atau waktu untuk menarik nafas bahkan untuk sekejap pun.
Sebelah tangannya menggenggam erat kedua tangan Alessya , hingga membuat gadis itu tidak berdaya untuk melakukan parlawanan barang sedikitpun. Kakinya menahan pergerakan frontal gadis itu, yang hendak mendorong dan menendangnya.
Tenaga Arselli begitu luar biasa apalagi ketika amarah dan nafsu menguasainya. Mengalahkan perlawanan Alessya yang tidak seberapa dirasakannya. Padahal, perlawanan yang dilakukan gadis itu lumayan besar dengan tenaga yang dia peroleh tadi setelah menghabiskan makan malam , belum lagi jurus - jurus bela diri yang sedikit banyak dia kuasai.Tapi malam ini sungguh tidak berguna samasekali , pria itu benar - benar dilanda emosi dengan level yang semakin lama semakin meninggi.Semakin Alessya melawan semakin tinggi pula tenaga yang ia kerahkan untuk menaklukkan gadisnya itu.
__ADS_1
Sadarkah mereka yang sedang tindih menindih , gadis itu sudah setengah ***** setelah kemejanya ditarik paksa tadi, tanpa menyisakan barang sehelai pun kain yang menutupi bagian atas tubuhnya dan dengan bebasnya , tangan pria yang diatasnya meng********* bagian sensitif yang berada di sana. ****** dan ******* sesuka hatinya.
Hanya rintihan yang terdengar bukan lenguhan atau desahan atas kenikmatan. Hati , jiwa dan raganya serasa remuk redam.
Siapa yang senang diperlakukan seperti itu oleh pria yang sangat dicintai olehnya.
" Hentikan ,Russel...aku mohon " jeritnya , sembari menangis meraung keras , kala bibirnya berhasil terlepas dari pagutan
kasarnya. Saat itu Arselli sudah hampir membuka pakaian bagian bawah Alessya.
" Kita belum menikah... " jeritnya lagi berusaha mengingatkan Arselli akan janzinya.
Arselli tersentak , dia terperanjat kaget mendengarnya.Perlahan melepaskan pagutannya , beralih menatap dalam mata gadis yang sudah sembab dan penuh dengan air mata , genggaman pada pergelangan tangan yang sudah memerah itu perlahan melonggar. Arselli perlahan bangkit , sehingga ada jarak di antara tubuh mereka. Dia seperti tersadar apalagi setelah melihat kondisi kekasihnya yang hampir ********* itu.
Beringsut duduk di ujung tempat tidur membelakangi Alessya . Menundukkan dan mengusap kasar kepalanya , dia menangis lelaki itu meneteskan air matanya , mengungkapkan penyesalan di hatinya.
Bagaimana dia dengan terlajur nafsu hendak menguasai Alessya , berharap gadis itu kelak memohon untuk tidak ditinggalkan olehnya. Tapi nyatanya penyesalan terbesar dirasakan olehnya saat ini , setelah tersadar dia sudah menggoreskan luka yang sangat dalam di hati kekasihnya.
" Baiklah , Alessya...sesuai keinginanmu kita akhiri hubungan kita sekarang juga.Maafkan aku.. " ujarnya lirih tertunduk lesu, memejamkan matanya setelah berdiri dari duduknya tadi . Berjalan perlahan menuju pintu meninggalkan Alessya yang tengah terduduk dengan selimut yang menutupi tubuh setengah bugilnya itu.
Arselli berjalan cepat meninggalkan kamar itu ,menahan amarah terhadap dirinya sendiri , dengan baju yang kusut dan berantakan . Hampir semua kancing kemejanya terbuka memperlihatkan dada bidangnya yang tegap dan putih. Meninggalkan Alessya yang masih terisak tangis di sana seorang diri dengan hatinya yang benar - benar remuk redam.
*
*
*
Jangan lupa Like , rate dan vote.
Kritik dan saran ditunggu.
__ADS_1