
Karena bagaimanapun juga, orang tua dan keluarga itu seperti rumah, tempat kita kembali disaat kita dibuang dan dicampakkan dunia ...
.
.
Ayah Hans menyambut kedatangan Alessya, setelah mendapat informasi dari Diana bahwa Alessya akan datang berkunjung ke rumahnya.
Dengan tangan yang tulus dan terbuka menyambut kedatangan putri yang dulu terbuang dan ternyata kini berjasa menolongnya dikala ayahnya tengah terpuruk di bawah.
Pernikahan Alessya dan Arselli yang merupakan pengusaha sukses ternama sedikit banyak mempengaruhi perkembangan perusahaannya. Arselli akhirnya memberikan kucuran dana yang cukup besar untuk membantu menstabilkan perusahaan yang terancam pailit itu. Dan semuanya itu secara tidak langsung dikarenakan Arselli menghargainya sebagai ayah dari istrinya yang sangat dia cinta.
" Bagaimana kabarmu ? Aku senang kau datang ... " Ucap Ayah Hans pada Alessya dengan begitu hangat tanpa melupakan wibawanya sebagai seorang ayah dan pria. Menyambut dengan tangan terbuka dengan sebuah pelukan hangat.
" Ba-ik, Ayah ... " Jawabnya sedikit kaku dan terbata.
Mempersilahkan Alessya duduk di salah satu sofa di ruang keluarga. Hans tidak lupa menyuruh pelayan untuk menyajikan makanan cemilan beserta minuman yang sudah disiapkan dari tadi.
" Aku dengar kau baru berkunjung ke makam ibumu ? "
" Iya ... aku baru saja dari sana tadi. " Alessya terlihat begitu kaku saking jarangnya bertemu dan mengobrol. Biasanya jika mereka terpaksa bertemu Arselli lebih sering mengambil alih pembicaraan diantara mereka, karena mengetahui retaknya hubungan ayah dan anak itu.
Selang beberapa lama Alessya menyodorkan paper bag berisi kemeja dan beberapa makanan yang sempat dia beli tadi bersama Diana. Bermaksud sebagai hadiah dan bingkisan sekedarnya.
" Apa ini ? Kau tidak perlu repot-repot memberikan semua ini ... " Ayah Hans sedikit terharu dengan perhatian putrinya itu.
Bagaimanapun dia adalah putrinya dari seorang wanita yang pernah mengisi hati dan hari-harinya. Bahkan tidak dipungkiri bahwa ibunya Alessya adalah cinta pertamanya. Hanya saja mungkin takdir tidak berpihak kepada mereka hingga akhirnya hubungan mereka kandas di tengah jalan. Terkalahkan oleh sebuah keegoisan dan kesombongan.
" Dimana Mommy ? " Bermaksud menanyakan ibu tirinya yang merupakan ibu kandung dari sahabatnya Diana. Awalnya dia bingung harus memanggilnya apa, namun dia ingat Diana slalu bercerita bahwa dia memanggil Mommy pada ibunya itu.
Kecanggungan begitu kental terasa. Alessya bahkan tidak sadar sejak dia duduk tadi dengan begitu kaku dan tertunduk kikuk, jemarinya tiada henti memainkan tali tas yang melingkar di tubuhnya.
" Mommy ? " Ayah Hans sedikit terkekeh tidak menyangka Alessya menanyakan wanita yang Alessya anggap dulu sebagai perusak rumah tangga orang tuanya dan perusak keharmonisan keluarganya. Dengan embel-embel Mommy pula disebutkan dari bibir mungilnya.
" Ah ... wanita tua genit itu ... dia sedang pergi ke salon. " Dengan sarkastik ayah Hans menjawab pertanyaan Alessya.
Alessya menatap ayah Hans. Ujung bibirnya berkedut, sedikit menyungging. Hampir tersenyum menahan gelak tawa. Mengernyitkan dahinya dan mengangkat sebelah alisnya.
Wanita tua genit ?
" Di usianya yang sudah tua itu, dia masih saja pergi ke salon. Mungkin dia takut ayahmu yang sudah tua ini akan berselingkuh tergiur rayuan wanita muda di luaran sana. " Sembari terkekeh ayah Hans ingin menghangatkan suasana. Walaupun berkesan garing ya ... apa daya sudah terlanjur berkata.
__ADS_1
Sebenarnya Mommy Diana tidak pergi ke salon. Mendengar Alessya akan datang berkunjung, ayah Hans meminta istrinya itu untuk pergi sementara waktu ke luar agar Alessya tidak merasa canggung atau merasa sakit hati mengingat kembali masa lalu. Dan Mommy Diana cukup pengertian untuk itu. Biarlah pendekatan antara ibu tiri dan anak tiri itu ditunda terlebih dahulu. Yang lebih penting adalah memperbaiki hubungan ayah dan anak yang telah retak selama beberapa tahun lamanya.
" Ehem !! " Alessya berdehem. Tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga mereka. Dia memilih diam saja tanpa berkomentar apa-apa.
Setelah beberapa lama, Alessya makan malam bersama Ayah Hans, Diana, dan Reynald yang sengaja datang ke sana dan seorang pria muda yang cukup tampan yang duduk di depan Alessya.
" Dia adalah Daffa ... Dia putra Ayah dan Mommy ... " Ayah Hans mengenalkan Alessya pada adik satu ayahnya itu.
" Senang bertemu denganmu. " Ucap Daffa tulus.
" Aku juga. " Alessya menjawabnya singkat dengan sebuah senyuman tulus di bibirnya. Hatinya menghangat ternyata dia masih memiliki keluarga sedarah selain ayah dan ibunya yaitu Daffa adiknya.
" Semoga kita bisa menjalin hubungan dengan lebih baik. " Walaupun berkesan kaku, tapi semua memahami maksud baik Alessya.
" Tentu saja, Kakak ... " Ucapan Daffa berhasil mengocok perasaan Alessya dengan berbagai rasa.
***
" Bagaimana kunjungannya apakah berjalan lancar ? " Baru beberapa menit Alessya sampai di kamarnya, Arselli sudah menelfonnya dengan berbagai pertanyaan. Waktu di LA menunjukkan jam 9 pagi.
" Sayyang ... aku baru saja tiba. Aku harus mandi dulu Ok ... ? " Melihat jam yang menunjukkan waktu jam 8 malam.
" Baguslah ... kau bawalah ponselmu ke kamar mandi kita mengobrol di sana. " Ucap Arselli dengan begitu antusias.
" Ayolah .. apa kau rela aku menatap wanita lain ? " Dengan setengah putus asa dia mencoba tetap berusaha. Hasratnya yang tak tersalurkan selama satu Minggu ini sedikit membuat kepalanya stress berkali - kali lipat.
" Baiklah, apa yang harus aku lakukan ? "
" Buka bajumu ! "
" Sayyang ... aku malu ... " Ucapnya sembari tersipu.
" Ayolah ... aku sudah melihat semua yang ada pada dirimu ... " Rayunya lagi.
Pipi Alessya bersemu merah .
" Baiklah, aku ke kamar mandi sekarang. "
***
Sembari mengobrol dia berendam air hangat. Namun ... karena saking asyiknya mereka mengobrol Alessya sampai tertidur saat itu.
__ADS_1
" Alessya .. !" Arselli memanggil istrinya agar bangun dari tidurnya. Khawatir tubuhnya bergeser dan tenggelam.
" Alessya .. ! " Panggilnya lagi tanpa henti.
" Alessya .. ! Hah ... wanita ini. Bisa-bisanya dia tidur saat mandi . " Gerutunya kesal dan panik.
" Alessya !!! " Teriaknya lagi dengan lebih keras. Asisten Henry yang berada di luar ruangannya langsung kaget dan masuk ke dalam ruangan bosnya yang tengah dilanda panik itu.
" Ada apa Tuan ? Apa yang terjadi dengan Nyonya muda ? " Tanyanya terlihat begitu khawatir.
" Sambungkan aku ke rumahku , cepat !! " Teriaknya kesal.
" Baik, Tuan. " Jawab asisten Henry.
" Aku harus bicara dengan Susan ! " Susan adalah kepala pelayan wanita di rumahnya bersama Alessya. Seorang wanita paruh baya yang baik dan bijaksana. Dan terpercaya tentunya.
***
Susan masuk ke kamar mandi dengan menggunakan kunci cadangan. Setelah mendapat instruksi darurat dari majikannya tadi.
Mendapati Nyonya mudanya tengah tertidur sembari berendam membuatnya sedikit geli. Apalagi setelah melihat ponsel yang tengah berdiri di depan Nyonya mudanya dengan aplikasi video call yang masih aktif menyala. Dan mendapati wajah Tuannya di sana yang sedang dilanda panik luar biasa.
Bibirnya tersenyum, pipinya memerah mendadak jiwa mudanya bangkit kembali. Berdesir dadanya .. Dia paham, ternyata majikannya itu tengah bermesum ria dengan video ' mesem-mesem ' . Ha ...
" Nyonya ... Nyonya ... " Susan membangunkan Alessya dari tidurnya.
Mengerjap matanya Alessya terbangun.
" Kau ? " Sembari menatap Susan merasa aneh kenapa Susan ada di sana.
Susan mengarahkan pandangannya pada ponsel Nyonya Mudanya sembari tersenyum kecil. Memberi tanda bahwa Tuan tengah memperhatikan mereka.
Alessya menatap layar ponsel.
" Kau ingin mati ?!!! "
Arselli marah tak terkira. Pandangan matanya tajam dengan aura yang begitu mengerikan .
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, rate dan vote .