
Semua orang yang menunggu kabar Alessya tampak berdiri dengan tegang dan harap - harap cemas , berdiri mengitari di sekitar dokter itu berada. Diana menutup mulutnya sembari tidak henti matanya meneteskan air mata dan mulutnya bersuara sesenggukan walaupun begitu lembut dan sekilas. Reynald berdiri di belakang Diana , berusaha menenangkan dengan memegang kedua bahunya.
" Apa maksudmu ?!! " Arselli menarik kerah dokter itu dengan kasar , menghempas punggung dokter itu ke tembok yang ada di belakangnya. Memotong pembicaraan dokter itu yang belum selesai.
" Seharusnya kau berusaha dengan sebaik mungkin !! " Teriaknya ke telinga dokter yang tengah meringis menahan rasa sakit dan takutnya.
Romeo dan asisten Henry yang melihatnya langsung menenangkan Arselli , mencoba melepaskan cengkraman tangannya pada kerah dokter itu.
" Tenanglah Arselli , dokter belum menyelesaikan kalimatnya ! " Romeo berusaha mengingatkan Arselli untuk kembali sadar dan lebih mengendalikan diri dan emosinya.
" Biarkan Dokter Edward menjelaskan terlebih dahulu , Tuan . " Asisten Henry sangat mengerti dan mengetahui bagaimana perasaannya saat ini , tapi emosi sebesar apapun takkan mampu untuk membantu menyelamatkan Alessya. Semua tergantung usaha Dokter dan Takdir Tuhan tentunya.
Arselli menatap mata asisten kepercayaannya itu , sepertinya dengan melakukannya dia bisa mendapatkan kekuatan akan dirinya yang semakin lemah dan terpuruk. Apalagi setelah mendengar ucapan dokter itu yang langsung membuatnya down seketika.
Melonggarkan cengkeramannya dengan perlahan , akhirnya Arselli melepaskan dokter itu dan memberinya kesempatan untuk melanjutkan pembicaraannya yang sempat tertunda tadi.
" Baiklah , lanjutkan pembicaraanmu tadi Andrew. Bagaimana keadaan Alessya sekarang ? " Demi apapun , walau tangannya sudah terlepas dari kerah sang dokter , aura menakutkan masih memancar jelas dari wajah Arselli. Dokter itu masih serasa bermimpi hari ini harus berurusan dengan nyawa seseorang yang sangat penting bagi Arselli sahabatnya yang seorang milyuner itu
***
Lucas berjalan cepat memasuki bandara menuju terminal penerbangan internasional. Tidak jauh di belakangnya tampak seseorang mengikutinya berjalan sembari menundukkan kepalanya. Dengan tangannya yang bergetar dia menarik koper berukuran besar di sampingnya. Langkah mereka terhenti untuk melakukan Check - in untuk mendapatkan Boarding pass.
" Pergilah ... Aku hanya bisa membantumu sampai sini. " Lucas mengucapkan selamat tinggal tanpa menatap orang itu samasekali. Hatinya sungguh hancur menyaksikan perbuatannya tadi yang menembak Alessya hingga terkapar dan hampir mati , bahkan sampai sekarang dia belum mendapat kabar baik samasekali dari asisten Henry.
" Maafkan aku , Lucas. Aku sungguh menyesal... " Bibirnya masih saja bergetar setiap kali dia berucap , air matanya masih terus menetes membasahi pipinya. Bahkan tangan dan kakinya bergetar hebat seperti menggigil kedinginan.
__ADS_1
" Aku tidak akan memaafkanmu...sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu . Aku hanya tidak ingin terjadi pertumpahan darah lagi. Jika Arselli sampai tahu kau pelakunya , aku bahkan tidak bisa menolongmu. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu pada Alessya... " ucapannya terputus tak ingin membayangkan hal buruk di fikirannya. Bagaimanapun dia sangat berharap Alessya tetap hidup.
" Lucas... "
" Pergilah sejauh mungkin kau bisa ! Agar Arselli tidak bisa menemukanmu. " Bagaimanapun dia masih mencemaskan teman masa kecilnya itu. Ikatan persahabatan yang mereka jalin sudah sangat lama , dan sekarang hancur karena perbuatan sahabatnya itu. Apalagi setelah mengetahui rencana awal dirinya adalah untuk menghabisi Arselli bukan Alessya.Tapi , siapapun yang dia tembak tadi , kesalahannya sungguh tidak termaafkan . Lucas membantunya lari ke luar negeri , karena dia tahu Arselli pasti akan membalaskan dendamnya karena telah menyebabkan Alessya hampir mati.
" Lucas ... " Masih menangis tiada henti.
" Jika dia sampai menemukanmu , aku tidak akan bisa menolongmu lagi... " Membalikkan badannya , berlalu pergi meninggalkannya seorang diri dengan tangisan yang tanpa henti.
Selamat tinggal Clara...aku tidak menyangka hubungan pertemanan kita bertiga akan berakhir seperti ini.
Selamat tinggal untuk semua kenangan diantara kita bertiga.
Jangan pernah muncul diantara kami lagi , sampai kapanpun.
Terlintas bayangan masa - masa kecil mereka di matanya , ketika mereka bermain bertiga. Arselli dan Lucas bergantian menjaga dan memanjakkan dirinya yang merupakan wanita satu - satunya diantara mereka.
Maafkan aku , karena keegoisanku, aku telah menghancurkan persahabatan kita.
Menghancurkan masa depanku sendiri...
Selamat tinggal Lucas ...
Selamat tinggal Arselli ...
__ADS_1
Clara berjalan semakin dalam ke bandara. Bersiap pergi meninggalkan negara kekasih hatinya yang sudah tidak mungkin dia dambakan lagi.
***
Setelah upaya CPR gagal dilakukan , Dokter dengan segera meminta alat pacu/ kejut jantung AED ( Automati dic External Defibrillator ) dengan tenaga listrik untuk merangsang detak jantungnya dan menempelkannya pada dada Alessya yang terbuka , membuat tubuh Alessya melenting. Beberapa kali alat pacu jantung itu ditempelkan di dadanya, beberapa kali itu juga tubuh Alessya melenting bereaksi atas kejut listrik yang menjalar di tubuhnya itu.
Akhirnya setelah berbagai upaya dilakukan, detak jantung Alessya kembali muncul pada layar monitor ICU menandakan kondisinya mulai stabil. Para dokter dan perawat bersyukur dengan berhasilnya usaha mereka , setidaknya satu nyawa telah berhasil mereka selamatkan hari ini.
" Kondisinya sudah mulai stabil, walau tadi dia sempat mengalami henti jantung. " Ujar Dokter yang bernama Edward itu, menjelaskan secara mendetail. Arselli tengah duduk di ruangan pribadi dokter itu , hanya mereka berdua di sana.
" Maksudmu, tadi dia hampir saja mati ? " Dengan lebih tenang dan bersahabat Arselli melanjutkan pembicaraan mereka. Dokter Edward telihat lebih lega melihat Arselli yang sudah berbicara lebih tenang padanya. Setelah bertahun - tahun bekerja sebagai dokter pribadi sahabatnya itu , baru kali ini dia melihat Arselli begitu panik dan emosional seperti ini. Dia menjadi sedikit penasaran hubungan apa yang terjalin diantara mereka berdua.
" Ya , Jantungnya benar - benar berhenti berdetak tadi. Karena keajaiban , dia kembali ada di sini. " Mendengarnya, Arselli terlihat lebih lega , setidaknya Alessya dipastikan masih hidup saat ini.
" Hanya saja , akibat pemukulan di kepalanya yang cukup keras , kemungkinan dia akan mengalami sedikit masalah di otaknya." Arselli memejamkan matanya , seolah tidak kuat lagi mendapat kabar buruk mengenai Alessya untuk ke sekian kalinya.
" Tapi .. apapun itu , dukungan dari orang - orang yang mencintainya akan sangat membantu dalam proses penyembuhannya nanti. " Lanjut Dokter Edward memberi harapan positif kepada mereka yang tengah dilanda kecemasan itu. Seperti angin segar yang berhembus kala panas melanda mereka. Seperti air yang menyejukkan tenggorokan dikala dahaga.
Bagi Arselli itu sudah cukup , mengetahui Alessya masih hidup seperti mendapat curahan hujan emas dan berlian dari langit.
" Apakah kerusakannya cukup parah ? " Tanya Arselli dengan begitu penasaran.
" Entahlah... Mungkin amnesia . " Jawabnya santai merasa tidak bersalah sama sekali.
" Amnesia !! Bagaimana itu bisa terjadi ? " . Tanyanya dengan emosi yang mulai merangkak naik lagi ke ubun - ubun. Walaupun dia bukan seorang dokter , sedikit banyak dia tahu istilah itu. Hilang ingatan ? Bagaimana bisa ? Bagaimana jika Alessya tidak mengingatnya dan mengenalnya lagi ? Apa yang harus dilakukannya nanti ? Segala hal mengenai istilah amnesia itu berkecamuk di fikirannya. Membayangkan dirinya akan terlupakan dari memory ingatan Alessya terasa lebih menyakitkan dari hal apapun yang terjadi di dunia ini dalam sepanjang sejarah hidupnya. Walaupun itu masih lebih baik bila dibandingkan dengan kabar kematian Alessya , setidaknya Alessya hidup dan dia masih bisa melihatnya. Tapi , apakah dia mampu melihat Alessya yang melupakan dirinya tak mengingatnya sama sekali.
__ADS_1
" Itu belum pasti Arselli , tenanglah. " Dokter Edward memecah lamunan Arselli yang melebar jauh kemana - mana.