
.
.
.
Keputusannya sudah bulat. Arselli ingin mengakhiri ketegangan antara dirinya dan Alessya. Belahan jiwa yang dia rindukan setengah mati beberapa hari ini. Penyempurna hidupnya selama ini.
Separuh nafasnya hilang, tatkala berpisah dengan kekasih hatinya. Hidupnya hancur bak puing- puing, hilang dan sirna bak buih ditelan ombak lautan.
Tanpa Alessya di sisinya, tiada lagi kehangatan dan kelembutan yang selama ini menghiasi hari-hari dalam hidupnya dua tahun ini.
Hanya satu yang harus dilakukan, memperbaiki hubungannya dengan Alessya dan membuka pintu hatinya kembali yang sempat tertutup karena rasa kecewa yang tidak beralasan. Yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan berbicara hati ke hati.
Semua yang terjadi belakangan ini adalah ujian bagi cinta mereka, sang ibu menjadi perantaranya. Bak tangan kedua yang menghancurkan jalinan cinta kasih mereka. Mencoba memisahkan mereka dalam kesendirian dan kehampaan. Hanya demi sebuah kebahagiaan semu yang belum pasti ada.
Baru saja Arselli menutup pintu kamar hotelnya. Seseorang memanggilnya.
" Arselli ! " Seorang pria cukup tampan berjalan ke arahnya. Tidak asing baginya, karena dia adalah sahabat Arselli saat kuliah dulu. Di sampingnya seorang wanita yang cukup cantik mengiringi langkahnya.
" Dam ! " Sapa Arselli pada Damian. Wajahnya yang kusut dengan bulu-bulu halus yang mulai menghiasi wajahnya mendadak sedikit cerah saat itu. Bersapa dan berjabat tangan, mereka melepas kerinduan. Setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Karena Damian begitu terburu-buru saat itu, Arselli mempersilahkan masuk kedua tamunya itu ke kamarnya. Mempersilahkan duduk kedua tamunya pada sofa yang ada di ruangan itu.
Cukup lama mereka mengobrol, bermaksud untuk sekedar bertegur sapa setelah lama tidak berjumpa. Kebetulan Damian dan Emma istrinya tengah berbulan madu saat itu. Kebetulan menginap di hotel yang sama, mereka fikir tak ada salahnya untuk menyapa.
" Jadi Emma, sejak kapan kau berpacaran dengan Damian ? " Arselli bertanya pada istri sahabatnya itu yang juga temannya saat di kuliah dulu, hanya saja tidak terlalu kenal dan dekat. Mengingat Arselli jarang bergaul dengan perempuan. Hanya Elliana saat itu, wanita yang sempat dekat dengannya.
" Hanya satu tahun saja. " Jawab Damian mewakili istrinya Emma.
" Oh iya Arselli, terimakasih untuk hadiah pernikahan yang kau kirimkan tempo lalu. "
Ucap Damian bersyukur atas kado mobil mewah yang dikirimkan Arselli tepat pada hari pernikahan mereka.
" Sudahlah, itu tidak seberapa. Maafkan aku, karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian saat itu. " Ucap Arselli tulus sembari melihat ke arah jam tangannya.
Walaupun raganya saat itu berada di sana, fikiran dan jiwanya sudah melayang hendak menemui istrinya. Dia terlihat begitu gundah dan gelisah. Dan Damian maupun Emma dapat jelas membaca dan merasakannya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama mengobrol, mereka berpamitan untuk pulang. Apalagi setelah melihat Arselli yang sudah terlihat tidak tenang karena ingin segera menemui seseorang. Setelah mendengar ceritanya sekilas barusan, setelah tadi Damian memberanikan diri bertanya pada sahabatnya 'ada apakah gerangan ?'
" Aku titipkan Damian padamu, Emma. Dia sudah seperti adikku sendiri."
Arselli memeluknya setelah tadi terlebih dahulu memeluk Damian sahabatnya. Hanya pelukan sekilas saja, yang ternyata menjadi penyesalan baginya kemudian.
Damian bersandar di tembok saat itu, karena mendadak mendapat panggilan telfon. Sedikit mengambil tempat di sudut ruangan yang cukup tersembunyi untuk memfokuskan pembicaraannya.
Namun tiba - tiba ...
" Russel ... " Alessya datang ke kamar itu. Mendapati Arselli tengah memeluk Emma, tanpa melihat ada Damian di sana.
Menyangka Arselli tengah berduaan dengan seorang wanita di kamar hotelnya. Disaat dia tengah kesepian karena jauh dari istrinya. Mencari kehangatan dari wanita lain saat Alessya tidak berada di sampingnya. Padahal itu semua hanyalah fikiran buruk Alessya saja.
Arselli terkejut mendapati Alessya di sana. Dengan posisi dirinya yang sungguh tidak nyaman untuk dilihat, disaat seorang wanita tengah berada dalam pelukannya.
" Alessya ... !!! "
Teriaknya sembari berlari berusaha mengejar istrinya. Namun terlambat, Alessya terlanjur keluar dari kamar.
Brukk !!!
" Alessya !! "
Arselli memukul, menggedor dan menendang pintu kamar itu, yang terkunci dari luar. Dia tidak bisa mengejar Alessya yang kini entah akan pergi kemana. Disaat kemarahan dan emosi menguasai diri. Disaat kesalahpahaman belum berhasil dijernihkan dengan mata hati dan fikiran yang terbuka.
***
Alessya pergi berlari, setelah Arselli menyadari keberadaannya tadi. Dia pergi meninggalkan hotel dan menaiki taksi yang berhenti di hadapannya.
Penampilannya begitu kacau saat itu. Air matanya mengalir tanpa henti. Penuh dengan keputusasaan dan keterpurukan. Sepertinya ini sudah takdir hidupnya, disaat dia memutuskan untuk tidak pergi dan bertahan di samping suaminya. Arselli malah berpaling darinya. Memilih wanita yang lebih sempurna darinya, yang mungkin nanti bisa memberikan seorang anak untuknya.
" Nona, kemana tujuan anda ? " Sopir taksi itu mengernyitkan dahinya. Merasa pernah melihatnya.
Alessya bingung menjawab apa. Tidak ada satupun orang yang dia kenali di negara ini. Tujuannya jelas tidak pasti. Ponsel dan dompetnya yang disita asisten Henry belum kembali ke tangannya.
Bagaimana ini ? Bahkan dia tidak memiliki no.ponsel seseorang yang dikenalnya. Apalagi uang, yang samasekali tak dimilikinya barang sepeserpun saat ini.
__ADS_1
" A-ku- ... " Jawabnya terbata. Bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin kembali ke hotel atau ke villa. Ini akan sangat memalukan baginya, melukai harga dirinya sebagai seorang wanita.
Sopir taksi itu memperhatikan Alessya dari balik kaca kecil mobilnya. Merasa pernah melihatnya, di dunia maya maupun di dunia nyata.
" Bukankah kau si Wonder Woman yang memakai sepatu kaca itu ? Apa kau masih mengingatku ? " Alessya terperangah mendengarnya. Menghapus air matanya dengan jemarinya.
" Kau fotographer itu ? " Tanya Alessya setelah beberapa lama memperhatikannya. Pria yang pernah dia temui saat di Disneyland tempo hari. Yang memotretnya saat berciuman bersama suaminya Arselli.
***
Arselli berlari mengejar Alessya ke lantai bawah. Setelah beberapa saat lalu asisten Henry datang dan membukakan pintu kamarnya. Berharap Alessya masih ada di sana dan bisa menerima penjelasannya. Tidak berfikiran buruk tentangnya dan tidak salah paham padanya.
Namun, harapannya sirna. Alessya telah pergi dari sana meninggalkannya. Membawa kesalahpahaman di hatinya.
" Telfon Robin ! Pastikan Alessya pulang ke villa, Henry ! " Perintah Arselli pada asisten Henry yang mengikutinya sedari tadi.
" Perintahkan Patrick dan semua anak buahmu untuk mencarinya !! "
Asisten Henry mengangguk. Tubuhnya sedikit bergetar. Merasa ini kesalahan darinya. Karena ikut andil dalam masalah ini Karena telah membawa nyonya mudanya itu ke hotel ini, hingga kesalahpahaman itu terjadi.
" Maafkan saya, Tuan. " Ucap asisten Henry menundukkan kepalanya sebelum pergi, untuk menjalankan perintah dari majikannya itu. Yang kini tengah diliputi kemarahan yang begitu luar biasa.
Arselli menjambak kasar rambutnya. Perasaannya begitu campur aduk saat itu. Emma dan Damian hanya menatap pemandangan menyedihkan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Merasa tidak enak akan sesuatu yang telah terjadi di depan mata mereka sendiri. Yang secara tidak langsung disebabkan karena kedatangan mereka.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, rate dan vote ...