Lola And Loly

Lola And Loly
Sepenggal Kisah Duka (2)


__ADS_3

.


.


.


.


Alessya jatuh pingsan setelah beberapa saat lalu pandangannya tiba-tiba meremang. Kakinya terasa lemas dan mengambang. Tepat jatuh di pangkuan suaminya yang sedari tadi berdiri di belakangnya seolah telah bersiap dan berjaga dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Tertunduk lesu Alessya mendapat ucapan bela sungkawa dari teman, sahabat dan kolega suaminya dan keluarga dari ayah dan ibunya.


Ini adalah duka terbesar dalam hidupnya. Kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidupnya di dunia ini. Orang yang slalu mendukung dan mendoakannya. Menemani dirinya dalam suka maupun duka dari semenjak kelahirannya. Hingga akhirnya kini dia harus rela melepas kepergian ibunya dengan ikhlas hati, hingga ke liang lahatnya di tanah kembali ke bumi.


Hatinya terasa terbelah menjadi dua. Dan belahan hatinya itu sobek hilang tak bersisa. Hanya satu lagi miliknya yang begitu berharga yaitu suaminya. Yang dia janzi untuk slalu dia cinta dan dia jaga, karena dia sungguh takkan mampu jika kehilangan lagi untuk kedua kalinya nanti.


" Baik-baiklah di sana ibu ... " Ucapnya terakhir kali. Sembari menangis tiada henti, dalam pelukan suaminya dia melihat jenazah ibunya untuk yang terakhir kalinya.


***


" Alessya ... " Diana menepuk bahu Alessya yang sedari tadi melamun saja di pusara ibunya sembari bercucuran air mata. Karena khawatir Alessya begitu lama dan tidak kembali juga, dia akhirnya menyusulnya karena takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.


" Kau baik-baik saja ? " Tanyanya kemudian.


" Maafkan aku karena terlalu lama ... " Tersadar Alessya menghapus air matanya.


" Tidak apa ... hanya saja ini menjelang sore. Kau tidak masalah jika aku mengajakmu pulang saat ini ... " Dengan sedikit segan berusaha menjaga perasaan , Diana memberanikan diri.


Alessya mengangguk. Sembari menatap langit yang mulai mendung.


" Kita harus pulang ... lagipula aku juga ingin bertemu dengan Ayah. " Ucapnya kemudian, berhasil membuat Diana tercengang. Karena tidak seperti biasanya Alessya berinisiatif untuk mengunjungi ayahnya itu. Biasanya mereka akan bertemu jika kebetulan ada acara penting yang berkaitan dengan keluarga ataupun perusahaan Arselli dan ayahnya. Atau apabila ayahnya itu mengundang Alessya dan suaminya pada acara makan malam yang diadakan keluarganya.


Ya ... dia mendadak ingat tadi Alessya membeli hadiah untuk ayahnya itu. Mungkin akan diberikan saat pertemuan nanti.


" Kau tidak berencana untuk tiba-tiba pergi bukan ? " Tanya Diana merasa aneh.

__ADS_1


" Apa maksudmu ? Aku mengidap penyakit parah dan akan segera mati ? " Sembari tersenyum penuh arti.


" Apakah menjalin hubungan harus seperti itu dulu ? Divonis mati dulu seperti katamu ? " Tanyanya sedikit sinis dan sadis.


" Ah ... Sudahlah. Iya aku salah, aku mengakuinya. Berfikiran buruk tentangmu !! Tapi apapun itu Alessya percayalah aku senang jika kau ingin menjalin hubungan baik dengan ayah ... " Ucap Diana tulus.


Alessya terdiam. " Tentu saja. " Jawabnya singkat.


" Lagipula kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti. " Sambungnya lagi begitu lirih dan pedih.


Lagi-lagi ucapan Alessya membuat Diana bingung dan aneh. Ucapan Alessya seperti pertanda, seolah bom waktu yang akan meledak kapan saja, tinggal menunggu waktu.


" Aku tidak ingin menyesal seperti saat kepergian ibu ... hanya itu Diana. " Ucapnya dengan begitu lirih. Dan akhirnya Diana pun mengerti dan tak banyak bertanya lagi.


Ucapan mertuanya terakhir kali sungguh membuatnya berfikir dan berjaga seolah bersiaga. Ini adalah kenyataan, realita, dan fakta. Dia hanya mencoba menerimanya dengan hati lapang dan terbuka. Bisa saja kemungkinan itu ada dia akan pergi sesuai instruksi, berkelana disaat dirinya dicampakkan dunia nanti.


***


" Sayyang ... " Bisik Alessya pada ponselnya, ketika ponselnya berbunyi mendapat panggilan dari sang suami. Dia sedikit risih mengingat dia masih di dalam mobil bersama Diana dalam perjalanan menuju rumah Ayahnya.


" Aku sedang di perjalanan bersama Diana. Aku berencana untuk berkunjung ke rumah Ayah. " Jawabnya dengan sedikit mesra. Kadar mesranya sedikit dia tahan mengingat ada orang lain di sana. Jika biasanya saat mereka bertelfon ria berdua di rumah. Alessya slalu bersikap manja, dengan suara mendayu-dayu untuk menggoda suaminya.


" Benarkah ? Itu berita bagus Alessya ... kau mencoba menjalin hubungan baik dengannya. Sayang sekali aku tidak ada di sana melihatnya. " Merasa senang mendengarnya.


" Tidak apa-apa, aku mengerti kau sangat sibuk saat ini. " Sembari menatap ke luar jendela.


" Bukan jawaban itu yang kuinginkan. Aku merindukanmu ... " Ucap Arselli sedikit ketus.


" Aku juga merindukanmu . " Sembari matanya melirik pada Diana yang tengah tersenyum sendiri.


" Kapan kau akan menyusulku ke sini ? Ini sudah satu minggu, aku sedikit kesepian ...


Apa kau tidak khawatir ? Di sini banyak wanita cantik dan seksi. " Mencoba merayu dan menakut-nakuti istrinya agar segera menyusulnya ke sana.


" Awas ya ... kalau kau nakal di sana. Aku punya mata-mata di sana. " Jawabnya sembari mencebik. Melirik lagi pada Diana yang sekarang terlihat cekikikan.

__ADS_1


" Benarkah ? Jadi ... kapan pastinya kau akan ke sini ? Jika belum bisa, setidaknya kita bisa video call bukan ? Seperti yang pernah kau janzikan. Apa kau lupa ? " Pipi Alessya memerah mendengarnya. ( Maksud Arselli adalah meminta Alessya untuk bervideo call di kamar mandi atau apalah yang berbau-bau seksi. He ... )


" Iya ... nanti malam ! Sepulang dari rumah ayah. " Bisiknya kemudian, khawatir perbincangan nakal itu didengar oleh Diana yang sedari tadi hanya tersenyum dan cekikikan saja tak mau berhenti. Apalagi setelah melihat pipi Alessya yang merona. Sudah diperkirakan jenis obrolan apa yang sedang mereka bicarakan.


" Baiklah sampai nanti ... " Ucapnya berniat mengakhiri panggilan.


" Apakah aku sudah mengucapkan I love you ? " Tanya Arselli nakal.


" I love you ? " Refleks Alessya balik bertanya.


" I love you too ... " Arselli terkekeh karena berhasil menggoda istrinya.


" Akhirnya ... kau mengucapkan itu lebih dulu ... " Katanya menggoda.


" Kau yang memulainya tadi, aku hanya terjebak ... Ah ... kau ini slalu saja menggodaku. " Tanpa sadar keluarlah mode manja nan mendayu dayunya yang sedari tadi dia tahan. Dengan pipi yang lagi-lagi bersemu merah. Bahkan kali ini bukan hanya Diana yang tersenyum mendengarnya, bahkan supir pribadi Alessya pun ikut tersenyum mendengarnya sembari sesekali mengintip dari balik kaca kecil di depannya.


***


" Dasar kalian ini ... " Diana terkikik geli setelah sepasang insan itu mengakhiri obrolan telfonnya.


" Si kaku dan si lugu berkolaborasi ... entahlah ternyata kealayan dan keromantisan kalian mengalahkan semua pasangan muda di seluruh bumi ini.Betul tidak pak supir ? " Tanya Diana bercanda dan pak supir hanya mesem-mesem saja mendengarnya.


Dan Alessya hanya tersenyum saja tak berkomentar apa-apa. Fikirannya justru mendadak kacau kala membayangkan jika suatu saat nanti mereka terpaksa berpisah karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan mereka untuk bersama lagi. Mungkin panggilan telfon seperti tadi akan dia rindukan seumur hidupnya nanti.


Aku mencintaimu ... Russell ...


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


Jangan lupa like dan koment

__ADS_1


__ADS_2