
Beberapa hari kemudian ...
" Tidak !!!! " Tegas Alessya menolak secara frontal permintaan itu.
Mereka duduk di sofa di ruang keluarga, di villa milik Arselli. Alessya tepat duduk di samping suaminya. Awalnya mereka duduk dengan begitu dekat dan mesra. Namun kini, ketika emosi menguasai diri, Alessya perlahan menjauh darinya.
Bahkan Ayah Hans, Dafa, Diana dan Reynald ikut di sana mendukung Arselli untuk mengakhiri kehamilan itu. Sepertinya Arselli sengaja mengundang mereka untuk datang ke negara ini, agar mereka bisa membantunya membujuk Alessya.
Dia sungguh tidak sanggup melakukannya seorang diri. Dia paling tahu betapa keras kepalanya istrinya itu. Andai Ny. Rossie Ibu kandungnya Alessya masih ada, dia yang akan paling mudah memberikan pengertian padanya.
" Ini anakku, Russel. Jika kau tidak menginginkannya aku akan ... "
Merawatnya sendiri ... Apakah aku masih hidup saat itu ?
" A-yah dan Diana pasti akan membantu merawat anakku nanti, Iya kan ?. "
Matanya berkeliling menatap ke arah dimana Diana dan ayah Hans berada. Dengan berderai air mata dia meratapi nasibnya kala itu. Memohon belas kasih atau sekedar dukungan saat itu. Yang akan menguatkannya, menyambut takdir yang terasa masih belum berpihak padanya.
Ya Tuhan, baru saja kemarin dia mendapatkan kabar yang begitu membahagiakan. Kabar kehamilan yang merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi padanya, tapi nyatanya terjadi walaupun pada akhirnya kini semua orang meminta dirinya untuk mengakhiri.
Tidak ! Tentu saja tidak. Walaupun sakit dan harus berjuang setengah mati Alessya akan mempertahankannya dengan sekuat tenaga. Mempertahankan ketiga calon anaknya, walaupun nyawa sendiri yang menjadi taruhannya.
Tidak apa, toh dia juga akan tetap mati jika pada akhirnya mereka memaksa dirinya untuk mengakhiri kehamilan ini. Walaupun fisiknya hidup, jiwanya sudah mati bersamaan dengan hati nurani yang bersamaan luntur hanya karena mempertahankan satu kehidupan dengan mengorbankan tiga kehidupan dan itu adalah anak-anaknya, yang selama ini dia tunggu dan dia damba.
Diana menangis sesenggukan kala itu. Ayah Hans, Dafa dan Reynald hanya menatap dengan tatapan hampa dan penuh duka di sana.
" Aku juga ingin memiliki bayi seperti baby Zyo. " Tiada henti dia menangis. Zyo adalah anak laki-laki Diana dan Reynald.
" Russel, aku mohon ... jangan lakukan ini padaku. " Dengan tatapan memelas dan penuh air mata dia memohon pada suaminya.
" Mungkin saja ada keajaiban nanti. Kita jangan menyerah, aku mohon ... Please Russel .. Please .. !!! "
Rajuknya dengan sorot mata memelas dan putus asa. Ada kekecewaan di sana, mengapa suaminya seperti itu padanya dan pada bayi mereka berdua. Hingga mengajak keluarga dan sahabatnya untuk merayunya melakukan hal yang tidak mungkin untuk dia lakukan sampai kapanpun dalam hidupnya.
Arselli terdiam membatu dan membisu. Hanya kesedihan yang teramat sangat yang kini tengah menguasai diri dan hati. Kebingungan dan kegalauan yang begitu luar biasa. Air mata pun tumpah tak tertahan lagi, tepat disaat Arselli menunduk dan menjambak kasar rambutnya, air mata menetes dari matanya.
__ADS_1
***
" Bagaimana ini ? " Ujar Dafa.
Mereka tengah berkumpul sekarang. Kecuali Diana yang kini tengah menemani, sekaligus menenangkan Alessya di kamarnya.
" Kita hanya diberi waktu satu Minggu untuk membuat keputusan. Lebih dari itu, usia kandungannya sudah semakin bertambah. Bayinya akan semakin membesar dan bernyawa. Dan saat itu, langkah apapun yang kita ambil akan beresiko tinggi bagi Alessya. " Arselli menjawab sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari dokter kandungan itu.
" Bagaimana jika keajaiban itu memang ada ? Bukankah kehamilan Alessya juga merupakan keajaiban ? " Reynald mengemukakan pendapatnya. Sempat dekat beberapa lama dan sudah seperti saudara baginya, sedikit banyak membuatnya mengerti dan memahami isi hati dan fikiran Alessya.
" Itu sangat tipis ! " Jawab Arselli terdengar begitu putus asa. Ada helaan nafas terdengar disana.
" Kenapa tidak menco-banya ! Menu- .."
" Kau fikir nyawa untuk dicoba-coba ! " Ketus Arselli memutus ucapan Reynald yang memang sedari awal terdengar ragu untuk mengucapkannya. Namun dia memberanikan diri untuk mengemukakannya.
Reynald tersenyum ..
" Justru itu !! Bukankah kita juga saat ini tengah melakukan hal itu ! Alessya jelas marah dan menolaknya mentah-mentah. Dia pasti berfikir kita terlalu egois, karena hanya demi mempertahankan satu nyawa kita akan mengorbankan tiga nyawa sekaligus. " Jawab Reynald saat itu.
Arselli terperangah mendengarnya.
" Tapi ... " Reynald mencoba berargumen kembali namun disanggan oleh ayah Hans.
" Cukup ! Berhenti berdebat ! Kita serahkan pada Alessya. Bagaimanapun kita berusaha merayunya jika dia tidak menyetujuinya, akan sangat sulit. Kita tidak mungkin memaksanya bukan ? " Ayah Hans menatap Arselli untuk membuatnya mengerti, karena memang itu kenyataannya tidak mungkin memaksa Alessya untuk mengakhiri kehamilannya. Kecuali jika Arselli siap untuk dibenci Alessya seumur hidupnya.
" Kau ? !! " Sorot mata Arselli dipenuhi kemarahan kala itu. Walaupun kekecewaan yang lebih pasti tergambar di sana.
Hening ...
Waktu merangkak naik. Malam itu mendadak begitu hening terasa. Mencari jalan keluar untuk masalah ini haruslah dengan kepala dingin dan terbuka. Jangan terburu-buru ataupun terbawa oleh perasaan dan emosi yang hanya akan menambah masalah itu menjadi semakin menjadi-jadi.
Satu minggu adalah waktu yang terlalu singkat. Untuk memutuskan memilih siapa yang dipertahankan dan siapa yang harus diakhiri.
Namun ... Alessya sungguh tidak mengerti, mengapa mereka seegois itu ?
__ADS_1
Tidak !! Bukan mereka !! Tapi Russel suaminya ...
Kau sungguh egois !! Mengorbankan tiga kehidupan hanya untuk mempertahankan satu kehidupan , Russel ...
***
Alessya membereskan sebagian pakaiannya. Sesaat setelah Diana meninggalkan Alessya di kamarnya.
Setelah beberapa lama Alessya puas menahan dera dan nestapa dalam hidupnya, dengan cucuran dan deraian air mata. Dia memutuskan untuk pergi dari sana.
" Apa yang kau lakukan ? " Arselli yang baru saja masuk ke kamarnya kaget mendapati Alessya tengah membereskan pakaiannya.
" Aku akan pergi dari sini ... " Jawab Alessya tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun pada suaminya itu.
" Apa katamu ? Kau akan pergi ? Pergi ke mana ? Kau tidak diizinkan naik pesawat oleh dokter. Apa kau lupa ? " Arselli mengira Alessya berencana ikut pulang bersama Diana dan ayah Hans. Mengingat mereka tidak akan lama di negara ini. Terutama Diana yang kemarin terpaksa meninggalkan Baby Zyo pada neneknya.
" Aku tidak akan pulang bersama mereka. Mereka sudah berkomplot denganmu ! " Ucap Alessya dengan nada ketus dan kasar.
" Aku akan ke rumah Hana. " Ketusnya.
" Russel ... antarkan aku ke sana. Aku mohon ... " Dengan setengah memelas Alessya menatap suaminya. Dengan bola mata yang berkaca-kaca dan bibir mata yang sudah terlihat bengkak baik itu atas maupun bawah. Sudah dipastikan besok, lingkar hitam akan berada di sana. Dan jadilah mata panda.
" Alessya ... " Arselli menatap mata istrinya. Meraih tangannya setelah beberapa lama, meraihnya untuk memeluknya. Namun, seketika Alessya menghempasnya.
" Antarkan aku, Russel. Kalau kau tidak mau, aku akan pergi sendiri ke sana. " Masih dengan suara serak dan parau.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like,rate dan vote