Lola And Loly

Lola And Loly
Salah Paham


__ADS_3

" Russel..."


" Hmm " jawab Arselli.


" Apa yang terjadi dengan matamu?" lolos melontarkan pertanyaan yang sudah sedari tadi dia tahan. Merasa aneh karena tidak seperti biasanya Arselli memakai kaca mata hitam, apalagi di pagi yang mendung ini.


Arselli berdehem mendapat pertanyaan yang sangat tidak ingin dia jawab itu. Berdoa dalam hati, agar masalah kacamata ini tidak berlanjut.


" Kau tidak ingin menjawabnya ?" semakin penasaran ,bukankah jika tidak terjadi apa - apa Arselli tinggal membuka kacamata itu, dan menunjukkan bola matanya pada Alessya. Tapi dia hanya diam seribu bahasa , semakin membuat Alessya curiga.


Alessya tahu Arselli bukan type orang yang mudah mengalah dan menyerah.Secara dia adalah seorang PresDir perusahaan besar dengan Predikat Angkuh , Sombong , Diktator, Piawai bermain trik dan Berwibawa Tinggi. Yang Alessya tahu , Arselli sedikit lemah apabila berhadapan dengannya .Entahlah didepan Alessya pria ini menjadi seperti memiliki kepribadian ganda dengan karakter lemah lembut , manja ,idiot dan sedikit liar.Dan mau melakukan apa saja demi Alessya alias BuCin.


Setelah beberapa lama Alessya mengingat sesuatu


" Baiklah, kau ingat... , kau pernah berjanzi padaku akan mengabulkan keinginanku." Alessya mengingatkan janzi Arselli saat pernah menggoda Alessya dengan spidol permanent beberapa waktu lalu.Lagi - lagi Arselli berdehem menyamarkan degub jantung yang tidak jua stabil. Tampak wajahnya merenggut kali ini , mendengar ucapan Alessya barusan.


" Aku tagih janzimu sekarang !!! " sembari melotot , tegas dan mengintimidasi.


Mendesah pelan, Arselli memperbaiki posisi duduknya yang mulai terasa tidak nyaman.Masih melajukan kendaraannya menuju universitas Alessya. Seharusnya jika tahu akan begini ,dia tidak akan menjemputnya pagi ini. Dia sedikit melupakan sebuah fakta bahwa kekasihnya itu seorang titisan singa betina antagonis yang berada di muka bumi ini. Yang tidak akan mudah melepaskan mangsanya sebelum mendapat apa yang diinginkannya.


Alessya mengetuk - ngetuk jemarinya di atas paha kakinya , pertanda sudah tidak sabar mendapat jawaban dari pria itu, dan Arselli melihat itu semua.


Arselli semakin terlihat gelisah , mengusap kasar rambutnya dan menggeliatkan badannya. Seperti mengulur - ulur waktu sembari tetap berusaha menjaga kendali setir mobilnya.


" Baiklah ! " setelah beberapa saat , terlihat sudah yakin dan mantap dengan resiko yang akan dia dapatkan. Perlahan - lahan namun pasti dia membuka kacamata hitam itu dan menyimpannya di atas dashboard mobilnya itu lebih tepatnya dilemparkan.


Bruukk !!!


Alessya meringis melihat kacamata yang diyakininya sangat mahal itu dilempar begitu saja.


Alessya melotot setelah melihat sepasang mata Arselli yang merah , sisa mabuk semalam.


" Kau mabuk ? Dan kau menyetir mobil Russel !" Arselli masih fokus dalam diamnya. Memalingkan wajahnya dari Alessya.


Alessya sedikit kaget , tidak menyangka , ternyata kekasihnya itu punya kepribadian seperti itu , melampiaskan masalah yang dipendamnya pada minuman beralkohol .Apalagi sekarang pria itu sedang menyetir sebuah kendaraan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu , apakah Arselli tidak memikirkan akibatnya samasekali, fikirnya.


" Aku menyesal , maafkan aku ." Merasa bersalah.


Seharusnya aku tidak menjemputmu dalam kondisi seperti ini . Bodoh !!


" Apa karena semalam ? " Arselli bingung menjawab apa, seperti anak remaja yang ketahuan merokok oleh ibunya.Mengusap pelan dagunya , memikirkan jawaban apa yang cocok diberikan kepada Alessya. Memikirkan maksud pertanyaan kekasihnya itu.


" Ya , semalam aku sedikit stress Alessya , belum lagi masalah di perusahaan." Jawabnya terputus tidak mau menatap Alessya.

__ADS_1


" Kau yakin ? Apa ada kaitannya denganku ? " terlihat masih ragu , mengingat percintaan yang gagal tadi malam.


" Tidak !! Sudahlah , kita jangan membahasnya lagi , OK ? " menjawab tegas tidak ingin memperpanjang masalah. Alessya sedikit kaget dengan nada bicara pria itu , menarik nafas pelan menenangkan dirinya , berusaha untuk percaya dan mengerti.


" Kau seperti vampire yang sudah menggigit leherku, Russel ." Tersenyum kecut, memalingkan wajahnya ke luar jendela. Berusaha mencairkan suasana.


Arselli menyeringai mendengarnya Rasa dongkol karena dicerca dan diinterogasi mendadak hilang seketika itu juga.


Emmang iya aku yang menggigit lehermu, fikirmu siapa lagi ? Kau lupa atau pura-pura lupa ? Kekasihnya yang satu ini memang lucu , dan itu salah satu alasan Arselli menyukai Alessya. Mengusap rambutnya sedikit frustasi , Arselli nyeungir kuda .


***


Lucas berjalan santai keluar dari dalam mobil menuju gedung kampusnya . Dia tampak asyik sendiri sembari tangannya tengah memainkan kunci mobilnya. Tatkala sudut matanya , melihat sebuah mobil sport berwarna merah menyala terparkir di tepi jalan dekat dia memarkirkan mobilnya.


Matanya tajam menelusuri seseorang yang tengah duduk sembari tertawa di balik kaca mobil itu.Rahangnya mengeras mengetahui di balik kaca itu adalah Alessya dan Arselli kakaknya. Apalagi ketika melihat Alessya tertawa begitu lebar bersama Arselli.


Sembari berjalan pelan mengawasi gerak - gerik aktifitas di dalam mobil itu langkahnya berhenti total , diam terpaku membisu , menahan rasa kaget akan kejutan yang terasa begitu menggelegar. Arselli mencium bibir Alessya walaupun sekilas , dan tidak berlangsung lama tapi cukup memberi kejutan di pagi hari itu,kala matahari baru bersinar.


Ya saat Itu Alessya memberikan hadiah jam tangan yang sedari malam dia siapkan untuk diberikan kepada Arselli .Dan sebagai ungkapan kebahagiaan dan terimakasihnya Arselli mencium Alessya. Sekalian mungkin,sambil menyelam minum air.


Alessya terlihat turun dari mobil itu meninggalkan pelukan mesra kepada pria itu dengan lambaian tangan serta senyuman yang hangat sebagai tanda perpisahan.


Arselli melenggang pergi dengan mobil mahalnya itu , meninggalkan Alessya yang masih berdiri di sana.


" Alessya ... ! " sembari setengah berlari khawatir Alessya melanglang jauh pergi tak terkejar olehnya nanti.


" Lucas ! " seperti biasa Alessya tersenyum lebar menyambut kedatangan pria itu, yang sedikit banyak sudah lumayan dekat ,mengingat pertemuan terakhir mereka tatkala Lucas mengantarnya menemui Reynald di Rumah Makan Nusantara.


" Kau baru datang ? " tanya Lucas terlebih dahulu memulai pembicaraan sembari terus melangkah mengikuti langkah Alessya yang kecil. Berdiri di sampingnya tak ingin mendahului ataupun didahului.


" Hmm ." Jawab Alessya menolehkan wajahnya ke samping di mana Lucas berada. Sembari tetap berjalan tidak menghentikan langkah kakinya, teringat janzi pertemuan dengan Diana.


Deg !!!


Apa itu ???


Lucas melihat sesuatu di leher Alessya , beberapa tanda merah yang sepertinya berusaha Alessya tutupi tapi tetap terlihat.


Gila !!! Kalian sudah sejauh itu ???


Aku benar - benar jauh tertinggal.


" Kau kenapa ? " tatkala melihat Lucas masih berdiri kaku di tempat sebelumnya , tertinggal beberapa langkah dari Alessya . Lucas termenung memikirkan sesuatu, seperti menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.

__ADS_1


" Hmm, tidak... " Beringsut melangkah maju mendekati , menyusul Alessya yang sudah berada cukup jauh di depannya.


Mereka berjalan beriringan , Lucas lebih memilih berjalan di belakang Alessya dengan wajah yang terlihat pucat dan dahi yang mengkerut. Dengan beribu pertanyaan bergumul di benaknya.


Sejauh mana hubungan kalian ? Apa kalian sudah melakukannya ?


Sedikit aneh dan tidak percaya , Alessya seperti bukan type gadis yang murahan dan liar , dia terlihat seperti gadis baik , lugu , dan polos.


Apakah dia memaksamu ?


Tapi tadi dia terlihat senang - senang saja.Ahh lama-lama Lucas bisa gila karena terus memikirkannya dan sibuk dengan berbagai pertanyaan di fikirannya.


Sementara Alessya berjalan di depan Lucas melanjutkan langkahnya menuju Diana tanpa peduli apa yang difikirkan oleh Lucas.


***


" Diana !! " teriak Alessya beringsut berlari kecil menghampiri Diana. Melihat sikap hangat Alessya, Lucas sedikit lega mengingat masalah mereka yang dia ketahui beberapa waktu lalu.


Diana yang melihat Alessya segera menghambur cepat menghampiri Alessya berjalan dari arah berlawanan . Sorot matanya terlihat begitu tajam tiada kehangatan yang biasa Alessya temui di sana , dengan semburat wajah yang kaku dan garis senyum yang samar. Langkahnya begitu besar dan cepat seolah ingin segera memperkecil jarak di antara mereka.


Alessya melihatnya dengan jelas , keanehan menelusup ke hatinya.


Ada apa denganmu ? Dimana Diana yang begitu hangat dan ceria ?


" Diana .." menyapa sahabatnya itu yang sudah berdiri tidak jauh di depannya . Tak ada jawaban dari sahabatnya ,Alessya tidak menyerah mungkin Diana tidak mendengarnya , fikirnya berpositive thinking.Walaupun sedikit aneh , karena Diana terlihat memendam sebuah amarah di matanya.


" Diana , apa kabarmu ? " konsisten menyapa Diana semanis mungkin seperti biasanya. Sepertinya Alessya sudah menerima kenyataan bahwa Diana adalah saudara tirinya. Dia melupakan kekejaman ibu tirinya yang telah merebut ayahnya dan mengambil alih kekayaan ayahnya , sehingga Alessya dan ibunya samasekali tidak mendapat apa - apa setelah keluar dari rumah ayahnya itu. Demi persahabatannya dengan Diana , dia melupakan semua itu .


prakkkk !!!


Diana melemparkan beberapa lembar fotho ke hadapan Alessya , tepatnya ke wajah Alessya. Fotho itu langsung berhamburan di udara berserakan di tanah setelah dihempas bebas sekuat tenaga oleh Diana , seperti melampiaskan amarah yang telah lama tertahan di ubun - ubunnya.


Alessya kaget , wajahnya bergeming mendapat lemparan fotho itu , menatap nanar pada lembaran - lembaran fotho yang tergolek tidak jauh dari sepatu sneaker warna abunya.


Lucas yang mengerti dengan fotho itu , tidak kalah kaget melihatnya , matanya menatap bergilir ke dua orang sahabat yang sedang berdiri berhadapan dengan sedikit jarak diantara mereka. Lucas mengerti betapa kesalahpahaman telah datang merundungi mereka untuk yang kedua kalinya , dan lagi - lagi Alessya lah yang pasti akan terluka oleh semua ini.


Menatap satu persatu lamat - lamat fotho yang refleks dia ambil setelah insiden tersebut .


OMG !! mulut Alessya menganga, melahap udara besar - besar.


" Diana , kau salah paham. " Satu kalimat terucap dengan penuh makna. Terucap tulus dari bibir Alessya , berharap Diana mempercayainya , lebih mempercayai persahabatan yang terjalin diantara mereka selama ini , sebagaimana Alessya bisa menerima kenyataan status keluarga diantara mereka karena Alessya begitu menghargai dan mempercayai persahabatan mereka itu.


Jangan lupa like , rate , dan vote.

__ADS_1


Kritik dan saran ditunggu.


__ADS_2