
Dunianya terasa gelap kala sang bintang meredup sinarnya ...
.
.
.
Di tengah pesta, Arselli mendadak teringat istrinya yang sedari tadi dia abaikan karena merasa cemburu setelah melihatnya mengobrol dengan pria yang dulu pernah menyukai bahkan mencium pipi istrinya itu. Mencari kesana sini, Alessya sama sekali tidak bisa ditemui.
Arselli bahkan telah menyadari, disaat dia menggendong seorang anak lelaki yang merupakan putra dari salah satu temannya, mungkin saja Alessya melihat dan memperhatikannya hingga membuat hatinya terluka dan menyadari kebohongannya, mengenai ketidaksukaannya pada anak-anak.
Rasa bersalah datang bersamaan. Menyeruak dari relung hati yang paling dalam. Penyesalan memang tidak pernah di awal, itu pula yang dirasakannya sekarang. Hanya karena kecemburuan, dia menyakiti hati istrinya.
Sungguh, dia tidak pernah bermaksud seperti itu. Salah satu temannya di pesta memberitahunya bahwa Alessya saat ini pasti merasa terluka. Karena mendengar kata-kata dari para wanita yang membicarakannya. Membuatnya semakin merasa bersalah dan ingin segera menemuinya.
Cukup lama dia mencari, dan hasilnya nihil. Alessya samasekali tidak ada di sana, di pesta itu. Sempat terfikir mungkinkah Alessya pergi, karena marah dan kecewa padanya ? Ataukah dia pergi bersama Romeo ? Tidak, itu adalah sesuatu hal yang tidak mungkin untuk terjadi dan dia tidak sanggup untuk membayangkannya sekalipun.
Ponselnya mendadak berbunyi, sebuah panggilan dari sopir pribadinya, Patrick.
" Tuan, ada masalah. Nyonya berkelahi dengan seseorang !! "
Ucap Patrick dengan begitu panik dan terburu-buru. Dan akhirnya malah terputus begitu saja, tanpa menjelaskan secara mendetail kronologis kejadian itu sebenarnya.
Arselli yang sedari tadi mencari Alessya langsung panik seketika. Beringsut berlari keluar meninggalkan pesta. Mencari keberadaan istrinya.
***
" Aku mencarimu tadi !! "
Nada suara Arselli sedikit meninggi, sungguh berbeda dari biasanya. Menjelaskan betapa cemasnya dirinya ketika Alessya mendadak hilang dari pesta.
" Aku fikir terjadi sesuatu padamu, dan ternyata, kau benar-benar membuat masalah besar, Alessya !! "
" Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu ?!!! Apa kau tidak pernah memikirkanku sedikitpun ? "
Kemarahannya itu tertuju pada wanita yang kini duduk di belakangnya. Sembari bicara, tidak henti Arselli melirik Istrinya dari balik kaca kecil di depan atas mobilnya.
" Maaf !! Aku fikir kau sedang marah padaku tadi. "
Hanya kata itu yang Alessya ucapkan dengan begitu lirih. Sembari menunduk dan menautkan jari jemarinya. Rasa bersalah dia rasakan menyadari sang suami begitu mencemaskannya.
Perasaannya kini sungguh sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Masalah yang bertubi seolah terus menimpanya. Berawal dari vonis dokter yang menyedihkan, pilihan menyakitkan dari sang mertua yang sampai saat ini bingung untuk dia putuskan, sebuah kenyataan bahwa sang suami sangatlah menyukai anak-anak dimana dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa memberikan hal itu dan kini, harus menghadapi sang suami yang merasa marah dan kecewa padanya.
__ADS_1
Padahal disaat dirinya melakukan kebaikan seperti tadi, dirinya merasa bahagia, berharga dan diinginkan. Berbeda jauh dengan dirinya yang merasa tidak berguna bagi suami dan mertuanya karena kekurangan yang dimilikinya.
Andai kau tahu perasaanku, Russel ...
Kejadian tadi sungguh di luar rencana dan prediksi. Dia memiliki kemampuan bela diri yang cukup mumpuni. Jika tadi dia hanya berdiam diri, penyesalan tentu akan dia tanggung seumur hidupnya. Dan dia tidak ingin seperti itu. Toh preman tadi hanyalah preman biasa, yang bahkan sanggup dia kalahkan dengan beberapa pukulan dan tendangan saja.
***
Sesampainya di villa ...
Arselli hendak pergi begitu saja meninggalkan Alessya di dalam mobil dalam kesendirian dan kehampaan.
" Russel, kakiku sakit ! "
Teriak Alessya walupun pelan dan terbata. Memanggil namanya serasa begitu menyakitkan dan menakutkan. Dia masih belum keluar dari dalam mobilnya.
" Sakiit ! "
Meringis manja kemudian. Mencoba menarik perhatian suaminya agar menolongnya kala Arselli menoleh ke arahnya, pandangan mata mereka tidak sengaja bertemu melalui jendela kaca mobil yang terbuka.
Mendengar suara ringisan itu, dan melihat tatapan mata indah yang tengah memelas, membuat hatinya sedikit tersentuh. Arselli yang saat itu berada dekat pintu, kembali lagi untuk melihatnya.
Melihat istrinya terlihat 'kesakitan', Arselli langsung menggendongnya dan membawanya ke kamarnya. Walaupun masih dengan mode dingin dan cueknya. Dia mengira Alessya tengah berpura-pura dan merajuk padanya.
Alessya berkata pelan, kala suaminya membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
" Sudahlah, kau tidurlah. "
Mengecup kening istrinya, Arselli lalu meninggalkan Alessya sendiri, untuk menenangkan diri.
***
Dini hari ...
Setelah hampir beberapa jam Arselli menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, berusaha melupakan masalah yang akhir-akhir ini hinggap di kehidupan mereka. Berita kondisi rahim Alessya bahkan masih menguasai fikirannya dan sekarang bertambah lagi kecemasannya.
Kejadian penyekapan Alessya yang bermotif balas dendam dulu, bermula dari aksi heroik Alessya di Club malam. Arselli takut hal itu akan terulang kembali, dimana Alessya mengalami penembakan setelahnya, dan hampir meninggal karenanya. Dia sungguh tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika terjadi sesuatu pada Alessya.
Akhirnya dia memutuskan kembali ke kamarnya. Menemui sang istri yang dia 'benci' sekaligus dia rindukan secara bersamaan. Mencoba membicarakan secara baik-baik sekaligus mencari kehangatan dalam dinginnya malam.
Berjalan perlahan menuju kamar yang terang benderang. Tidak seperti biasanya, karena Alessya sangat tidak suka apabila harus tidur dengan lampu kamar yang masih menyala.
Apakah dia memang belum tidur ?
__ADS_1
Kaget dirasakan olehnya ketika mendapati Alessya tertidur dengan gaun pesta yang masih menempel di tubuhnya. Dengan kondisi miring dan hampir meringkuk.
Mendekatinya kemudian, Alessya tampak menggigil dengan panas yang terasa bersamaan kala telapak tangannya menyentuh dahinya.
" Alessya, kau demam ? " Lirih, Arselli merasa khawatir.
Arselli bergerak cepat untuk mengatasi demam istrinya itu. Segera membuka semua baju yang menempel di tubuhnya lalu menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Yang sebelumnya sempat dia kompress terlebih dahulu dengan menggunakan air hangat sekalian membersihkannya dari keringat.
Arselli terkejut kala mendapati luka lebam pada beberapa bagian tubuh istrinya. Sepertinya, akibat dari perkelahian tadi. Bahkan kaki Alessya terlihat membengkak dan berwarna biru.
Aku kira tadi kau hanya berpura-pura saja, maafkan aku Alessya ...
Arselli hanya bisa menghela nafas, membuang rasa kesal yang bergemuruh di dadanya, berganti cemas dan sesal karena melihat kondisi istrinya yang begitu mengkhawatirkan.
" Maafkan aku !! " Bisik Arselli sembari mengecup lembut pucuk kepala istrinya. Menyampirkan selimut di tubuh istrinya yang terlihat menggigil dingin karena demamnya. Duduk di sampingnya, setia menjaganya.
***
Asisten Henry membawa seorang dokter wanita untuk memeriksa kondisi istri majikannya itu.
" Sepertinya istri anda mengalami stress yang berlebih. Apabila melihat luka pada tubuh dan kakinya, semua hanyalah luka ringan saja ... " Jelas dokter itu setelah beberapa saat lalu memeriksa kondisi Alessya.
" Tekanan psikis yang berlebih bisa membuat kondisi kesehatan menurun drastis apalagi disaat tubuh kita sedang terluka ... " Lanjut dokter itu, yang terdengar seperti menyindir suami pasien karena diduga telah melakukan KDRT kepada istrinya yang sekarang telah menjadi pasiennya.
" Ehem ... " Asisten Henry sedikit paham, mengerti dengan situasi yang tengah di hadapinya. Tak ingin ada kesalahpahaman berkepanjangan akhirnya dia menjelaskan kejadian semalam.
Sebagai asisten yang baik dan bisa diandalkan, dia harus menjaga nama baik dan kredibilitas atasannya. Agar tidak sampai tercoreng oleh hal sepele yang berasal dari masalah pribadi semata.
Dokter wanita itu tersenyum mendengarnya.
" Jagalah istri Anda , Tuan. Sepertinya berbicara dari hati ke hati akan lebih baik untuk menyelesaikan masalah sebesar apapun itu. " Ucap dokter itu terdengar menceramahi dan menasehati. Sepertinya dia ingin benar-benar memastikan kesehatan dan keselamatan pasiennya.
Tidak jarang terdengar KDRT yang terjadi dalam rumah tangga, berawal dari cinta dan kekhawatiran yang berlebih. Yang pada akhirnya cinta itu malah lebih menjurus pada posesif berlebih dan sebuah obsesi untuk menguasai pasangannya. Dan dokter ini menyimpulkan, bahwa pria tampan yang tengah duduk di dekatnya merupakan seorang suami posesif dimabuk cinta yang tengah dilanda ketakutan.
.
.
.
π Bersambung ... π
Jangan lupa like, rate dan koment ya ....
__ADS_1