Lola And Loly

Lola And Loly
Berusaha Terbuka


__ADS_3

.


.


.


" Bagaimana kalau ini ? " Alessya memilih t-shirt bergambar salah satu karakter Disney terkenal.


Arselli mengangguk untuk ke sekian kalinya. Itu adalah pertanyaan Alessya yang ke sembilan puluh sembilan, atau mungkin ke seratus kalinya. Dia samasekali tidak mengingatnya.


" Bisakah kau hanya membeli saja, sayang ! "


Arselli menegur Alessya, berharap untuk tidak terlalu banyak bertanya padanya. Urusan belanja adalah urusan para wanita. Sedikit ribet jika dirinya dilibatkan dalam prosesnya. Lebih suka memberi mentahnya saja sebagai sokongan besar dari dirinya.


" Ini untuk oleh-oleh sayang ... "


Alessya menjawab sembari matanya tidak henti mencari barang yang cocok untuk dibeli dan dibagikan sebagai oleh-oleh nanti kepada para pelayan, teman dan semua yang cukup dekat dengan dirinya.


Arselli hanya tersenyum kecut mendengarnya. Dia tidak keberatan jika semua itu diberikan sebagai oleh-oleh. Hanya saja, mengapa terlihat begitu ribet seperti itu, memilih berbagai warna dan karakter motif. Membuang-buang waktu saja ...


" Menurutmu apakah ini akan cocok untuk Daffa ? " Kali ini Alessya memperlihatkan sebuah topi untuk laki-laki.


" Daffa ? Siapa itu Daffa ? "


Arselli memang tahu Alessya memiliki seorang adik satu ibu, dari hasil penyelidikan yang dilakukan asisten Henry dulu. Hanya saja, dia samasekali tidak ingat siapa namanya.


" Adikku, Russel. Masa kau tidak tahu. " Jawabnya ketus.


" Bukannya kau slalu memata-mataiku. " Seperti bergumam, namun dengan suara yang cukup keras. Arselli tersenyum mendengarnya, semakin hari istrinya itu semakin pintar saja. Pintar merayunya, pintar memanjakannya, pintar melayaninya dan kali ini pintar bersilat lidah dengannya. Tidak pernah ingin mengalah.


Ya ... namanya juga titisan singa betina. Kali ini Arselli menggaruk-garuk pelipisnya. Sesekali matanya melihat ke arah jam tangan yang sudah merangkak naik. Sudah lama mereka di sana. Dan sepertinya istrinya itu belum ada tanda untuk selesai juga. Begitulah wanita slalu betah jika berbelanja.


Mengucapkan kata mata-mata, Alessya mendadak ingat dan sadar.


Mengapa pertemuan diriku dengan Ny. Alice samasekali tidak terendus oleh asisten Henry ?


Apa jadinya jika Russel tahu, ibunya telah menyuruhku pergi.


Bahkan aku sudah memutuskan untuk pergi.


Untunglah, aku berubah fikiran .


Aku sungguh tidak sanggup membayangkan hidup berpisah denganmu Russel.


Walaupun terkadang kau begitu menyebalkan.


Dan entah bagaimana reaksimu jika tahu aku pernah berniat untuk pergi meninggalkanmu ?


" Alessya ! Alessya ! " Arselli melambai-lambaikan tangannya di depan mata istrinya yang sedang melamun itu.

__ADS_1


Alessya mengerjapkan matanya beberapa kali.


" Kau memanggilku, Russel ? " Dengan wajah sendu Alessya bertanya.


" Apa yang kau fikirkan, sayang ? Ayolah, bisa-bisanya kau melamun di tempat seramai ini. " Arselli menegur dan mengingatkan istri cantiknya itu.


" Tidak. Bukan hal yang penting. " Jawabnya bohong menutupi kegelisahan di dalam hatinya. Berjalan berlalu pergi meninggalkan sang suami.


Aku masih belum tenang.


Walaupun aku sudah memutuskan untuk tidak pergi, tidak berarti Ibumu akan diam saja bukan ?


Apakah aku harus bercerita padamu ? Menceritakan semuanya.


Tentang kondisi rahimku dan juga tentang permintaan ibu padaku.


Bagaimana ini, aku sungguh bingung.


Dalam kebingungannya, Alessya terus meneruskan kegiatan belanjanya. Walaupun dengan fikiran yang tidak fokus dan kemana-mana.


Dan kini ...


Jadilah Patrick yang terlihat sibuk sekarang. Menenteng barang belanjaan yang segitu banyaknya.


" Patrick ! " Panggil Alessya dari kejauhan. Dia telah bersiap dengan Arselli untuk berfoto berdua. Bermaksud meminta Patrick untuk mengambil foto mereka. Dengan background salah satu tempat yang menarik di sana.


Patrick beringsut berlari menghampiri sang nyonya majikan. Lalu mengambil ponsel dari tangannya.


Pipi Patrick bersemu merah melihatnya. Melihat sepasang manusia yang tengah dimabuk cinta. Entah mereka sedang berpose apa ? Hanya mereka dan Patrick yang tahu.


Ya Tuhan ... berikanlah aku jodoh segera ...


πŸ˜”πŸ˜”


Patrick berdo'a di dalam hati. Terlalu lama bersama dua sejoli ini membuatnya merasa iri dan ingin segera mempunyai seorang istri. Sesekali merutuk di dalam hati. Kenapa bukan asisten Henry yang ikut ke sini.


***


Malam telah tiba, mereka sudah pulang sejak satu jam lalu. Begitu melelahkan namun menyenangkan.


Mereka tengah berendam air panas kini, berdua. Merelaksasi tubuh mereka yang kelelahan tadi. Menikmati aroma sabun yang bertebaran di udara. Sembari bercengkerama dan bercerita. Berbagi bahagia yang kini tengah mereka rasa.


Punggung polos Alessya yang saat itu tengah bersandar di dada polos suaminya, merasakan nyaman saat berada dalam pelukan hangatnya. Sesekali mereka bercumbu mesra melepaskan hasrat yang bergelora di dalam dada. Walaupun tidak sebesar biasanya, karena lelah sudah terlanjur menguasai raga.


" Russel !! " Panggil Alessya lirih.


" Hmm ? " Arselli masih memejamkan mata.


" Mengapa kau bilang kau tidak menyukai anak-anak, padahal kau sangat menyukainya ? "

__ADS_1


Alessya yang mengingat betapa banyaknya anak-anak di Disneyland tadi, mendadak teringat suaminya yang mengaku tidak menyukai anak-anak itu. Tapi nyatanya semua adalah bohong. Pria itu sangat menyukai anak-anak seperti saat di pesta tempo hari.


Mendengarnya, Arselli sedikit kaget. Perkiraannya benar, Alessya sudah mengetahuinya. Alessya melihatnya saat dirinya menggendong seorang anak lelaki di pesta tempo hari. Matanya yang sedari tadi terpejam akhirnya terbuka juga.


" Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau terus memikirkan anak dalam pernikahan kita. " Arselli mengeratkan pelukannya saat itu. Memberi kehangatan dan kenyamanan dalam kebersamaan mereka berdua.


" Tapi- apa kau tidak penasaran kenapa aku tidak kunjung hamil ? "


Tanya Alessya kemudian sembari menatap Arselli. Walaupun dia ragu dan takut, namun dia berusaha untuk memberanikan diri. Cepat atau lambat dia harus jujur kepada suaminya. Apalagi dia sudah memutuskan untuk menolak keinginan Ny. Alice untuk meninggalkan Arselli. Keputusannya sudah bulat untuk terus berada di samping suaminya walau dalam kondisi apapun. Dalam suka ataupun duka.


Namun ...


Dia butuh kepastian. Dia ingin terbuka mengenai kondisi rahimnya terlebih dahulu pada suaminya itu. Dia ingin tahu apa pendapat suaminya jika mengetahui hal ini.


" Apa kau tidak penasaran kenapa aku tidak kunjung hamil ? "


Alessya mengulangi pertanyaannya. Menyadari yang ditanya sedari tadi hanya diam dan melamun saja.


Arselli kaget mendengarnya. Alasan sebenarnya dia sudah tahu, namun dia tidak ingin membahasnya. Tak ingin membuat Alessya merasa berkecil hati bersamanya. Tekadnya sudah bulat, menerima Alessya apa adanya, dalam suka maupun duka dan dalam kondisi apapun juga. Berusaha menepati janzi yang pernah dia ucapkan saat pernikahan mereka dulu. Untuk slalu bersama dan seiya sekata.


" Tidak ! Aku tidak perlu mengetahuinya. Dalam kehidupan, tidak semua yang kita inginkan dapat tercapai dan kita dapatkan. Semua sudah ditentukan oleh Tuhan. Hidupku sudah sempurna dengan kehadiranmu saja, Alessya. " Jawab Arselli berusaha mengalihkan pembahasan itu. Dia tidak berbohong, karena itulah yang dia rasakan sekarang.


" Tapi- bukankah hidupmu akan lebih sempurna jika- " Ucapannya terputus ketika Arselli tiba-tiba bangun dari sana.


" Sudahlah ! Cepatlah ! Kita harus segera tidur, Alessya. Ini sudah malam. "


Sembari berjalan menuju shower untuk menyelesaikan ritual mandinya. Tidak ada adegan romantis dan lainnya, sepertinya moodnya mendadak memburuk saat itu.


***


" Berjanzilah Alessya ! " Alessya yang saat itu hampir tertidur dalam pelukan Arselli terbangun seketika.


" Apa ? " Alessya mendongakkan wajahnya ke arah suaminya.


" Berjanzilah padaku! Apapun yang terjadi kau akan tetap di sampingku ! "


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan koment yang banyak ya ...


Agar daku semangat untuk crazy up 😍😍


__ADS_2