
Alessya tersadar dari pingsannya , darah segar masih terus mengalir di pelipisnya. Sembari menahan perih dan sakit di kepala yang teramat sangat , memaksakan diri untuk bangun tidurnya itu.
Perlahan membuka kelopak matanya, kaget mendapati dirinya tengah berada di ruang sempit , gelap , dan kotor penuh dengan debu. Dengan tangan yang terikat ke belakang dan kaki yang terikat erat , dia samasekali tidak bisa pergi kemana - mana . Belum lagi mulut yang ditutupi plester , bahkan untuk teriak pun dia tidak akan bisa.
Dimana ini ? Kenapa kepalaku begitu sakit ?
Fikirannya menerawang kembali disaat dia menerima panggilan telfon dari Romeo , meringis ketakutan ketika mengingat bayangan seorang pria yang menghantamkan kayu pada kepalanya dengan cukup keras , seketika langsung membuat dirinya kehilangan kesadarannya.
Apakah aku masih hidup ? Ketika mengingat kembali betapa kerasnya kayu itu menghantam kepalanya .Merasakan betapa sakitnya kepalanya yang begitu terasa sampai saat ini.
Romeo , apakah kau akan menolongku ? air matanya menetes tak tertahankan menghadapi situasi ini. Betapa saat ini , dia begitu tidak berdaya , dengan tangan dan kaki yang terikat kencang merasa takkan mampu melepaskan diri dari bahaya ini.
Russel , apakah kau mengkhawatirkanku ?Apa kau menyadari kepergian ku ? Kala mengingat Arselli mengabaikan dirinya demi bersama Elliana tadi , sehingga membuatnya pergi seorang diri.
Tadi ???
Dia masih belum menyadari , hari sudah berganti. Kemarin sore adalah hari dimana dia begitu apes masuk ke perangkap musuh yang ingin menjebak dan membalas dendam padanya , sekaligus memeras kekasihnya yang kaya dan sukses itu. Dan semalaman dia pingsan , baru pagi ini dia tersadar dari pingsannya. Dengan kepala yang terasa sakit dan pusing bukan main , bahkan kondisi badannya begitu lemah karena mulai kehabisan darah , akibat darah yang terus mengucur pada luka di pelipis akibat pemukulan yang dia terima kemarin sore .
***
Krieett
Pagi itu , suara pintu terbuka terdengar , mengejutkan Alessya yang tengah sendiri dalam ruang gelap itu . Seorang pria datang dengan langkah perlahan dan terdengar begitu mengerikan , membuat degub jantung gadis itu semakin tidak karuan .
__ADS_1
" Ben ? " Alessya mengenali pria itu.
" Kau mengingatku rupanya. " Beringsut menghampiri Alessya , menarik rambutnya hingga meringis kesakitan , lalu menarik plester yang menutupi bibir mungilnya. Ben menatapnya dengan begitu tajam , beserta seringai licik di bibirnya.
" Dalam situasi seperti ini , kau masih saja cantik Alessya. " Membelai pipi Alessya dengan jarinya , lalu merangkum kasar kedua pipi gadis itu.
" Kau ingat , kau pernah melakukan ini padaku. Saat itu kau menghempas wajahku dengan begitu kasar. " Ben mengingatkan Alessya kejadian di Club malam itu.
" A-apa yang kau inginkan ? " menahan nyeuri di kepalanya , Ben menarik rambutnya dengan begitu kasar.
" Kau ingin tahu ? Baiklah...Kau harus mengingat ini selamanya.. " mencium bibir gadis itu secara brutal dan kasar. Dengan kondisi lemah , terikat dan kesakitan melawanpun tidak ada gunanya , apalagi melawan pria sehat berhati jahat yang tengah dipenuhi dendam itu. Ilmu bela diri yang dia miliki tak berguna saat ini.
Brukk !!
Arselli marah luar biasa melihat pemandangan itu . Seorang pria asing dengan kurang ajar telah berani menyentuh tubuh gadis yang dikasihinya itu , miliknya yang slalu dia jaga selama ini bak porselen . Dengan seenaknya Ben menyentuh dan melecehkan Alessya walaupun belum sejauh itu.
Bugh !
Arselli menedang Ben dengan sekuat tenaga. Tangannya terkepal keras mengarah ke tulang pipi pria itu. Berkali - kali meluapkan emosi di dalam dadanya.
Bugh ! Bugh ! Bugh !
" Hiks... " terdengar lirih di telinga Arselli. Dia sadar betul itu suara rintihan kekasihnya.
__ADS_1
Arselli mencelos sakit mendapati Alessya yang tengah memeluk erat Romeo. setelah Romeo membuka ikatan pada tangan Alessya . Jantung hatinya terasa ditusuk - tusuk pisau tajam , kulitnya serasa disayat silet hingga meringis. Dalam situasi seperti ini , dia tidak bisa meluapkan kemarahannya begitu saja . Ada hati Alessya yang harus dia jaga , yang mungkin saja saat ini tengah mengalami syok ataupun trauma.
Lucas dan Henry mengambil alih Ben , Dan Arselli menghampiri Alessya yang tengah berada dalam pelukan hangat Romeo. Memintanya untuk memeluknya.
" Alessya... " panggilnya lembut. Sembari membuka ikatan pada kaki Alessya.
" Maafkan aku , hmm ." Menyentuh tangan Alessya sedikit menariknya , berharap gadis itu membalikkan badannya untuk menghadapnya tidak membelakanginya seperti saat ini.
Alessya melepaskan pelukannya pada Romeo. Berpaling menatap kekasihnya, menatap pria yang tampak begitu kacau dan berantakan itu.
" Kau mencemaskan aku ? " tanya Alessya polos.
" Tentu saja. Aku sangat mencemaskanmu , sayangku." Balas menatap Alessya , membelai wajah gadis itu dengan lembut.
" Kemarilah . " Membuka tangannya lebar berharap Alessya memilih memeluknya mengabaikan pelukan Romeo tadi padanya.
Kau cemburu rupanya.
Alessya menghambur masuk ke pelukan Arselli menyandarkan kepalanya pada dada hangat kekasihnya itu.
" Aku ingin pulang , Russel . " Sembari mengeratkan pelukannya di tubuh pria itu.
" Baiklah . " Menggendong Alessya bermaksud membawanya ke dalam mobil.
__ADS_1