Lola And Loly

Lola And Loly
Penyelamatan


__ADS_3

Alessya tersadar dari pingsannya , darah segar masih terus mengalir di pelipisnya. Sembari menahan perih dan sakit di kepala yang teramat sangat , memaksakan diri untuk bangun tidurnya itu.


Perlahan membuka kelopak matanya, kaget mendapati dirinya tengah berada di ruang sempit , gelap , dan kotor penuh dengan debu. Dengan tangan yang terikat ke belakang dan kaki yang terikat erat , dia samasekali tidak bisa pergi kemana - mana . Belum lagi mulut yang ditutupi plester , bahkan untuk teriak pun dia tidak akan bisa.


Dimana ini ? Kenapa kepalaku begitu sakit ?


Fikirannya menerawang kembali disaat dia menerima panggilan telfon dari Romeo , meringis ketakutan ketika mengingat bayangan seorang pria yang menghantamkan kayu pada kepalanya dengan cukup keras , seketika langsung membuat dirinya kehilangan kesadarannya.


Apakah aku masih hidup ? Ketika mengingat kembali betapa kerasnya kayu itu menghantam kepalanya .Merasakan betapa sakitnya kepalanya yang begitu terasa sampai saat ini.


Romeo , apakah kau akan menolongku ? air matanya menetes tak tertahankan menghadapi situasi ini. Betapa saat ini , dia begitu tidak berdaya , dengan tangan dan kaki yang terikat kencang merasa takkan mampu melepaskan diri dari bahaya ini.


Russel , apakah kau mengkhawatirkanku ?Apa kau menyadari kepergian ku ? Kala mengingat Arselli mengabaikan dirinya demi bersama Elliana tadi , sehingga membuatnya pergi seorang diri.


Tadi ???


Dia masih belum menyadari , hari sudah berganti. Kemarin sore adalah hari dimana dia begitu apes masuk ke perangkap musuh yang ingin menjebak dan membalas dendam padanya , sekaligus memeras kekasihnya yang kaya dan sukses itu. Dan semalaman dia pingsan , baru pagi ini dia tersadar dari pingsannya. Dengan kepala yang terasa sakit dan pusing bukan main , bahkan kondisi badannya begitu lemah karena mulai kehabisan darah , akibat darah yang terus mengucur pada luka di pelipis akibat pemukulan yang dia terima kemarin sore .


***


Krieett


Pagi itu , suara pintu terbuka terdengar , mengejutkan Alessya yang tengah sendiri dalam ruang gelap itu . Seorang pria datang dengan langkah perlahan dan terdengar begitu mengerikan , membuat degub jantung gadis itu semakin tidak karuan .

__ADS_1


" Ben ? " Alessya mengenali pria itu.


" Kau mengingatku rupanya. " Beringsut menghampiri Alessya , menarik rambutnya hingga meringis kesakitan , lalu menarik plester yang menutupi bibir mungilnya. Ben menatapnya dengan begitu tajam , beserta seringai licik di bibirnya.


" Dalam situasi seperti ini , kau masih saja cantik Alessya. " Membelai pipi Alessya dengan jarinya , lalu merangkum kasar kedua pipi gadis itu.


" Kau ingat , kau pernah melakukan ini padaku. Saat itu kau menghempas wajahku dengan begitu kasar. " Ben mengingatkan Alessya kejadian di Club malam itu.


" A-apa yang kau inginkan ? " menahan nyeuri di kepalanya , Ben menarik rambutnya dengan begitu kasar.


" Kau ingin tahu ? Baiklah...Kau harus mengingat ini selamanya.. " mencium bibir gadis itu secara brutal dan kasar. Dengan kondisi lemah , terikat dan kesakitan melawanpun tidak ada gunanya , apalagi melawan pria sehat berhati jahat yang tengah dipenuhi dendam itu. Ilmu bela diri yang dia miliki tak berguna saat ini.


Brukk !!


Arselli marah luar biasa melihat pemandangan itu . Seorang pria asing dengan kurang ajar telah berani menyentuh tubuh gadis yang dikasihinya itu , miliknya yang slalu dia jaga selama ini bak porselen . Dengan seenaknya Ben menyentuh dan melecehkan Alessya walaupun belum sejauh itu.


Bugh !


Arselli menedang Ben dengan sekuat tenaga. Tangannya terkepal keras mengarah ke tulang pipi pria itu. Berkali - kali meluapkan emosi di dalam dadanya.


Bugh ! Bugh ! Bugh !


" Hiks... " terdengar lirih di telinga Arselli. Dia sadar betul itu suara rintihan kekasihnya.

__ADS_1


Arselli mencelos sakit mendapati Alessya yang tengah memeluk erat Romeo. setelah Romeo membuka ikatan pada tangan Alessya . Jantung hatinya terasa ditusuk - tusuk pisau tajam , kulitnya serasa disayat silet hingga meringis. Dalam situasi seperti ini , dia tidak bisa meluapkan kemarahannya begitu saja . Ada hati Alessya yang harus dia jaga , yang mungkin saja saat ini tengah mengalami syok ataupun trauma.


Lucas dan Henry mengambil alih Ben , Dan Arselli menghampiri Alessya yang tengah berada dalam pelukan hangat Romeo. Memintanya untuk memeluknya.


" Alessya... " panggilnya lembut. Sembari membuka ikatan pada kaki Alessya.


" Maafkan aku , hmm ." Menyentuh tangan Alessya sedikit menariknya , berharap gadis itu membalikkan badannya untuk menghadapnya tidak membelakanginya seperti saat ini.


Alessya melepaskan pelukannya pada Romeo. Berpaling menatap kekasihnya, menatap pria yang tampak begitu kacau dan berantakan itu.


" Kau mencemaskan aku ? " tanya Alessya polos.


" Tentu saja. Aku sangat mencemaskanmu , sayangku." Balas menatap Alessya , membelai wajah gadis itu dengan lembut.


" Kemarilah . " Membuka tangannya lebar berharap Alessya memilih memeluknya mengabaikan pelukan Romeo tadi padanya.


Kau cemburu rupanya.


Alessya menghambur masuk ke pelukan Arselli menyandarkan kepalanya pada dada hangat kekasihnya itu.


" Aku ingin pulang , Russel . " Sembari mengeratkan pelukannya di tubuh pria itu.


" Baiklah . " Menggendong Alessya bermaksud membawanya ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2