
Alessya sedang makan siang di salah satu restoran mewah.Tidak mungkin seorang diri , pastinya dengan si pemilik dompet yang siap mentraktirnya. Kali ini bukan dengan Arselli kekasihnya , yang saat ini agak sedikit merenggang hubungannya hanya karena sebuah pot keramik senilai setengah milyar itu. OPS , Alessya tutup mata, tutup telinga dengan harganya ,pokoknya saat ini dia sedang marah dan merajuk pada kekasihnya itu. Bodo amat !!!
Kali ini Alessya makan bertiga bersama Diana dan Reynald . Sudah berbaikan ternyata mereka , lebih tepatnya beberapa menit yang lalu , mereka menumpah ruahkan apapun yang mengganjal di hati mereka. Dan akhirnya clear sudah masalah kecemburuan diantara mereka , berikut dengan masalah persaudaraan tiri , semuanya clear...clear...and clear...
Hari ini , Alessya terlihat begitu bahagia dengan senyuman yang begitu merekah di bibir merah mudanya, dan aura bahagia terpancar jelas di wajahnya. Seperti biasa , Alessya mendominasi semua makanan yang tersaji di atas meja , tak ingin melewatkan peluang menggiurkan di depan matanya , yang jarang ditemuinya. Dan seperti biasanya juga Diana dan Reynald begitu saja memaklumi kelakuan temannya yang satu ini.
" Aku senang kau mempunyai pacar , Alessya. " ujar Diana sembari sibuk dengan makanannya. Alessya yang mendengar hampir tersedak.
" Benarkah ? " , Reynald terlihat antusias.
" Siapa yang mengatakannya padamu ? " Alessya berusaha menyangkal.
" Kau harus lihat saat Lucas mengatakannya padaku , wajahnya terlihat pucat saat itu. "
" Lucas ? " Alessya kaget ternyata Lucas sudah mengetahui hal itu , rasa bersalah tergurat di wajahnya.
" Dia bahkan melihat bukti percintaanmu dengannya. " Diana menggoda Alessya sembari menunjuk lehernya. Reynald mengernyit mendengarnya .Alessya yang polos yang dikenalnya selama ini , ternyata sudah mengenal hal begituan.he...
" Apa ?!! " Alessya lagi - lagi tersedak hingga terbatuk .Ia teringat saat dirinya diantarkan Arselli ke tempat kuliahnya , dan di sana dia bertemu Lucas " Mungkinkah saat itu ?." gumamnya pelan.
" Kau harus mengenalkannya pada kami Alessya , kita bisa berkencan bersama. " ujar Diana lagi. Alessya tampak bingung mendengar ucapan itu , apalagi sekarang hubungannya dengan Arselli sedikit merenggang.Tidak tahu sampai kapan akan bertahan .Bisa saja besok juga sudah berakhir, fikirnya.
Tiba - tiba ...
" Kamu si wonder woman itu , kan ? " Tiba - tiba seorang pria tampan nan keren menghampiri meja mereka.
Alessya menatap tajam pria yang berdiri tepat di sampingnya itu , sembari menggigit ujung sendok setelah meloloskan suapan terakhirnya itu. " Wonder woman ?" gumamnya pelan. Mendadak teringat aksi heroik yang ia lakukan beberapa waktu terakhir ini , lebih tepatnya tadi malam.
Melirik ke arah Diana dan Reynald yang tengah menatapnya heran dengan beribu pertanyaan yang terpancar dari sorot mata mereka . " Itu... " Alessya sedikit malu pada kedua sahabatnya itu, masih menggigit ujung sendok itu.
" Boleh duduk di sini , ngga ? " sembari menggeser kursi yang akan didudukinya. Alessya hanya melongo memperhatikan pria keren itu . Belum juga diberi izin , sudah main duduk aza , buat apa bertanya , fikirnya saat itu juga sembari tidak henti menatap pergerakan pria itu , dari ia berdiri hingga duduk di kursi kosong yang berada di samping Alessya dan berada tepat di depan Reynald.
Apa kabar Reynald , masihkah menyukai Alessya ? Lupakan !!! Pokoknya semua permasalahan antara Alessya , Diana dan Reynald sudah clear..OK ??
__ADS_1
Begitu juga Diana dan Reynald tampak aneh dengan pria yang tiba - tiba duduk di depannya itu.
" Oh iya kenalin nama gue, Romeo...lebih lengkapnya Romeo Roman. " katanya sembari menjulurkan tangannya ke arah Reynald untuk berjabat tangan. Disambut oleh Reynald dengan sopan dan baik , karena sedari awal pria yang mengaku bernama Romeo Roman itu memang bersikap sopan . Jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak dan tidak bersikap baik padanya.
Hanya sedikit heran saja dengan sikapnya.
" Reynald . "
" Diana ." sembari berjabat tangan dengan mereka.
" Kamu ? " penasaran karena Alessya hanya diam saja , dan masih menggigit - gigit sendoknya yang tadi.
" Aku ??? " matanya berkeliling ke arah Diana dan Reynald sedikit nervous. " Alessya " jawabnya , sembari membalas uluran jabat tangan pria itu. Tangan Alessya yang dingin menghangat ketika bersentuhan dengan tangan pria itu.
" Oh iya , Lo yang tadi malem beraksi di Club malam itukan , Cassanova ? " Memulai pembicaraannya , karena ternyata itulah alasan dia duduk di meja itu.
Byurrr... Diana tersedak menyemburkan air di mulutnya (sedikit) mendengar ucapan pria itu. " Club malam , Cassanova ? " menatap tajam Alessya. Berbeda dengan Diana yang terlihat kaget , Reynald terlihat lebih tenang mendengarnya. Alessya hanya terlihat menelan ludahnya.
" Hebat Lo , aksi heroik Lo luar biasa , gwe salut sama cewek model Lo. " Reynald yang mendengarnya terkekeh seolah mengerti . Tahu pasti dari dulu memang gadis yang sempat mengisi hatinya itu pandai bela diri , dan tidak sedikit aksi heroik gadis itu yang pernah dia lihat .
Romeo masih memegang gelas minumannya , sesekali menegak minuman itu , sembari menunggu tanggapan dari gadis yang duduk di sampingnya itu , yang sedari tadi hanya diam saja tanpa berkomentar apapun yang terlontar dari mulutnya.
" Lo , emang pandai bela diri ya ? " tanyanya serius pada Alessya , lebih spesifik dan terlihat benar - benar menunggu jawaban dari pertanyaan itu harus keluar dari mulut Alessya.
Awalnya Alessya mengangguk , tapi akhirnya menggeleng, terlihat bingung harus menjawab apa.
" Emh...sedikit !! Yang semalem lawannya kan lagi mabuk. " jawabnya ragu. Mau jawab ya , nanti disangkanya sombong.Padahal memang handal , petarung handal malahan. Kemampuan yang dimilikinya ini juga merupakan salah satu faktor pendukung dia meraih beasiswa full dari universitasnya , beasiswa jalur prestasi belum lagi nilai - nilai pelajarannya yang memang bagus dan luar biasa.
" Gue punya tawaran menarik " ujar Romeo , setelah beberapa lama mereka ngobrol kesana kemari. Memicingkan matanya ke arah Alessya , menerka apakah Alessya tertarik atau tidak.
" Lo mau ngga, jadi pengawal pribadi gwe ". Romeo dengan santai nya berkata , tanpa ragu dan rasa bersalah sama sekali.
Byurr....
__ADS_1
Kali ini Alessya yang menyemburkan air dari mulutnya. Kaget dengan tawaran itu , sedikit kesal juga mengapa Romeo mengeluarkan pernyataan itu saat dia sedang minum .
***
Arselli menatap layar ponselnya dengan raut kecewa di wajahnya. Berkali - kali menghubungi Alessya , tak satu kali pun mendapat jawaban, pesan yang dikirim berulang pun tak ada satupun yang dibalas. Ternyata , gadis itu benar - benar marah.
Arselli berjalan cepat dan pasti , seperti biasa pertemuan penting di luar perusahaan dengan klien baru perusahaannya menuntut dirinya untuk menuruti keinginan mereka yang menentukan tempat dimana mereka bertemu.
Terakhir kali menanda tangani kontrak di sebuah Club Malam terkenal , sekarang di Restoran terkemuka .Demi kemajuan perusahaannya dia rela melakukan apapun selama masih berada dalam kode etik yang benar.
" Alessya... " kerinduannya sedikit terobati ketika melihat gadis itu berada di restoran itu juga bersama dua orang temannya yang sudah sedikit banyak dia ketahui dari laporan tertulis hasil investigasi asisten andalannya .
Apalagi melihat gadis itu tengah tersenyum begitu merekah pertanda kebahagiaan sedang menghinggapi hatinya.
Namun , senyumnya seketika luntur ketika melihat seorang pria yang duduk di sampingnya . Menimbulkan pertanyaan besar di dadanya.
Langkahnya terus melaju memburu waktu dan tempat pertemuan itu , di salah satu area makan khusus dan pribadi.Mengabaikan untuk sementara keberadaan gadisnya yang dilihatnya sedang bersama pria lain itu , percayalah dia ingin sekali menerkam kekasihnya itu mencoba mengungkapkan kecemburuan di hatinya.
" Semoga berhasil ." kontrak baru berhasil ditandatangani. Kali ini Arselli hanya berhadapan dengan asisten pribadi dari kliennya itu , dengan berbekal surat kuasa dari atasannya.
***
Arselli menarik erat tangan Alessya saat tidak sengaja berpapasan di lorong restoran itu. Alessya yang hendak pergi ke toilet terpaksa mengikuti Arselli ke ruangan khusus tadi ,dimana Arselli menandatangani kontrak.
Henry yang melihatnya segera mengamankan ruangan itu , kemudian mengantarkan kepergian klien yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu sedari tadi. Untungnya mereka tidak melihat tingkah bosnya yang sedang diserang malarindu dan cemburu itu.
Arselli merangkul erat gadis itu , menyandarkannya ke tembok, mendekatkan wajahnya hendak mencium gadis itu.Namun siapa sangka yang akan terjadi , Alessya memalingkan wajahnya , menolak ciuman itu. Mendorong pelan dada Arselli agar menjauh dari dirinya.
Kau menolakku , Alessya.
" Alessya.... " menatap mata Alessya dalam , dengan pertanyaan penuh bergumul di benaknya. Alessya berpaling dari tatapan itu.
" Maafkan aku , Russel ." Menundukkan kepala merasa bersalah karena telah menolaknya , tapi hatinya terlanjur sakit saat ini.
__ADS_1
Apakah karena pria itu , pria yang bersamamu tadi ?
Dan Alessya berlalu pergi meninggalkan Arselli sendiri di ruangan itu.