
Di Sore hari yang cerah...
Hari pernikahan tiba , Alessya tetap menggunakan seragam pasiennya yang ibunya tutupi dengan sebuah selendang putih berbahan broukat dengan sedikit manik - manik mutiara di atasnya sehingga terlihat berbinar menyamarkan Alessya yang hanya memakai seragam pasien di hari pernikahannya itu.
Sembari mematut dirinya di depan cermin yang sedari tadi ada di genggaman tangannya. Dalam hati , Alessya memuji hasil karya sahabat karibnya itu.
" Kau cantik , Alessya . Kau yang tercantik . " Puji Diana Setelah beres mendandani calon mempelai pengantin wanita , entah pada pengantinnya atau pada hasil karyanya yang menurutnya luar biasa.
Walaupun kepalanya masih dibebat perban , dan tangannya ditusuk jarum infus , Alessya tetap menjadi ratu di hari pernikahannya. Polesan make up tipis menghiasi wajah cantiknya memancarkan kecantikan dan keanggunan bak putri raja.
" Aku pastikan, Kak Arselli akan semakin mencintaimu . " Menggoda sahabatnya yang diketahuinya amnesia kepada kekasihnya itu.
" Kau yakin , melupakan pria setampan itu dari ingatanmu , Alessya ?" Tanya Diana.
" A-apa maksudmu , kau fikir aku berbohong dengan penyakitku ? "
" Tidak ... Aku hanya mengkhawatirkannya . Betapa malang nasibnya karena terlupakan dari ingatan kekasihnya. " Terkekeh pelan mencoba merelaksasi keadaan yang sedikit menegang.
" Dia begitu khawatir padamu saat itu , aku sampai terharu melihatnya .Memikirkan jika diriku dalam posisimu saat itu , apakah Kak Reynald akan ketar ketir seperti dia nanti. "
Diana mulai menceritakan bagaimana kondisi Arselli pada saat Alessya masih dalam kondisi kritis , walaupun sebelumnya sempat bercerita , hanya saja kali ini Diana melakukannya dengan lebih gamblang tanpa ditutupi sedikitpun , mengingat kondisi kesehatan fisik Alessya yang berangsur baik .
" Hush ! Kau harus hati - hati dengan ucapanmu. Jangan sampai kau mengalami apa yang aku alami Diana. " Senggah Alessya di sela obrolan Diana.
" OPS ! " Seketika Diana memukul pelan bibirnya sendiri. Terhenti sesaat lalu melanjutkan lagi ceritanya.
" Oh iya , Dia bahkan mencengkeram kerah baju dokter Edward dengan begitu kencang. Saat Dokter itu baru keluar dari ruangan operasimu . Dokter Edward hampir seperti vampir dalam film Twilight itu , Alessya. Begitu pucat pasi saat itu . " Lanjutnya lagi hingga membuat Alessya terpana tercengang mendengarnya. Diana masih saja terkekeh sembari membayangkan reaksi dokter Edward yang lumayan tampan itu.
" Be-benarkah ? " Sembari mengerjapkan matanya beberapa kali .
" Ah..dia benar - benar putus asa saat itu Alessya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya , apabila dokter itu keluar membawa berita buruk tentang kematianmu. " Sedikit bergidik dengan ucapannya sendiri , berharap sahabatnya itu panjang umur. Membayangkan kekacauan apa yang akan dibuat oleh kekasih sahabatnya itu , apabila kabar duka datang pada saat itu.
***
Arselli datang bak pangeran tak berkuda . Membawa rombongan kecil ke ruangan tempat mereka akan melangsungkan pernikahan dengan beberapa keranjang simbolys seserahan . Walaupun keranjang yang dia bawa tidak begitu banyak , tapi isi dan nilainya sudah dipastikan bernilai fantastis dan luar biasa.
__ADS_1
Ruang perawatan Alessya yang sedari awal dihuni olehnya sudah terlihat nyaman karena Arselli sengaja meminta fasilitas lebih kepada pihak rumah sakit yang merupakan salah satu aset milik keluarganya itu , kini dihiasai dengan beberapa buket bunga mawar merah sebagai symbol cinta dan mawar putih yang merupakan bunga kesukaan sang mempelai pengantin wanita di setiap sudut ruangannya.
Entah apa yang merasuki Arselli , hingga menentukan tanggal pernikahan disaat Alessya masih terbaring di rumah sakit . Padahal jika dia mau bersabar , dalam kurun waktu dua hari lagi Alessya diperkirakan sudah bisa pulang walaupun tidak dalam kondisi pulih benar . Sepertinya dia begitu takut sesuatu hal akan terjadi dan memisahkan dirinya dengan kekasihnya.
Sebenarnya Arselli menginginkan Alessya tetap di rumah sakit sampai luka di kepala dan perutnya benar - benar sembuh. Perdebatan kecil terjadi kala itu , dan akhirnya sang raja kalah , masih kalah dan selalu saja kalah . Walaupun amnesia , titisan singa betina masih bersemayam di tubuhnya . Alessya akan selalu menang dengan argumennya. Dan Arselli terpaksa mengalah dari kekasihnya.
Dokter Edward , asisten Henry dan Lucas yang baru hari ini akhirnya menunjukkan batang hidungnya datang bersamaan dengan pengantin pria hadir sebagai saksi pernikahan mereka. Ada juga Diana , Reynald , dan Nyonya Rossie ibunya Alessya yang sudah sedari awal berada di sana.
Setelah sebelumnya Pak Hans ayahnya Alessya yang saat itu berniat menjadi wali dalam pernikahan putrinya itu datang lebih awal bersama dengan istrinya yang merupakan ibu angkat dari Diana.
Walaupun merasa canggung dengan perasaan sembilu perih yang terasa dan terlihat jelas dari raut wajah Alessya dan ibunya , kedatangan kedua orang yang pernah menorehkan luka yang cukup dalam di hati mereka itu berusaha mereka abaikan sedemikian rupa, tak ingin menodai kebahagian hari ini yang merupakan hari penting dalam sejarah kehidupan mereka.
Dengan dibimbing oleh petugas resmi dan berwenang , pernikahan yang sakral itu berjalan dengan begitu khidmat dan lancar. Cincin bertahtakan berlian kini telah tersemat cantik di jari manis Alessya, pertanda ikatan suci telah terjalin sekaligus sebagai symbol cinta diantara mereka. Dengan kecupan penuh kehangatan menghiasi kening Alessya.
Hati Alessya dalam diamnya menghangat walaupun ada kehampaan di sana tatkala menyadari , Arselli hanya seorang diri tanpa didampingi ibunya , Nyonya Alice untuk sekedar memberikan restunya akan pernikahan ini.
Tapi mengapa , Alessya sampai berfikir sejauh itu. Bukankah saat ini dia sedang amnesia ? Walaupun kejanggalan kian terasa karena amnesia yang dia alami hanya berlaku pada Arselli dan Elliana ? Ada apa dibalik itu semua ?
***
" A-apa yang kau lakukan ? Masih banyak orang di sini, dan bukankah kau sudah setuju dengan perjanzian itu ! " Terlonjak kaget Alessya begitu gugup dengan degub jantung yang terasa begitu kencang , malu yang terasa bersamaan kala menyadari posisi mereka kali ini begitu intim , sedangkan masih ada Asisten Henry, Dokter Edward dan Lucas di sana. Bahkan untuk berbicara pun dia hanya berbisik karena suaranya seakan tertahan di tenggorokannya.
" Tenanglah , mereka sedang mengobrol . " Sembari menoleh sekumpulan orang yang sedang asyik mengobrol di sofa di ruangan kamar itu.
" Jangan seperti ini , a-aku malu , Russel !! " Merasa terdesak Alessya mendorong pelan dada suaminya yang semakin menindih tubuhnya perlahan dengan kedua telapak tangannya itu. Bahkan wajahnya dia palingkan karena khawatir suaminya itu mendadak menciumnya seketika sembari meringis menahan kesal akan tingkah nakal suaminya itu.
Kau ingat nama panggilanku ? Sembari mengernyitkan dahinya. Alessya masih belum menyadari hal itu.
" Apakah perjanzian itu masih berlaku ? Bukankah kita sempat beberapa kali berciuman dan kau terlihat menikmatinya ? " Sembari terkekeh menggoda istrinya.
" Kita bukan berciuman , yang benar kau menciumku , mencuri ciuman dariku . " Masih berbisik sembari menahan tekanan dari tubuh suaminya dengan tangannya .
Tiba - tiba suara seorang wanita yang cukup tidak asing terdengar di belakang Arselli.
" Arselli ! " Ujar wanita itu , Arselli yang mendengarnya langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara begitupun juga Alessya langsung mengintip dari balik tubuh suaminya yang menghalangi pandangannya.
__ADS_1
" Elliana ? " Dengan perlahan Arselli bangun dari posisinya melepas kungkungannya terhadap istrinya.
" Kau ke sini ? " Tanyanya sedikit heran , sudah jelas terakhir kali mereka bertemu Arselli memang memberitahukan perihal pernikahannya , tetapi dia samasekali tidak merasa mengundangnya.
" Aku ingin bicara , tapi tidak di sini , boleh ? " Tanyanya berusaha mengintimidasi Pria yang masih dia cintai itu.
" Oh iya , Alessya aku ucapkan selamat atas pernikahanmu . " Sembari menatap tajam Alessya tanpa menjulurkan tangannya untuk bersalaman . Sebuah ucapan yang terlihat begitu dipaksakan dipenuhi ketidakikhlasan dan ketidakrelaan , dan terasa begitu jelas menyentug hati Alessya maupun Arselli.
Arselli menatap Alessya seolah meminta persetujuan , walau ragu Alessya menganggukkan kepalanya.
Namun , tatkala Arselli telah beberapa langkah meninggalkan dirinya pergi bersama Elliana , Alessya merasa sangat tidak rela membiarkan suaminya pergi berduaan begitu saja dengan wanita lain . Sepertinya dia harus melakukan sesuatu agar suaminya tidak melupakan dirinya barang sedetikpun.
" Sayang ... !! " Teriaknya tiba - tiba. Bukan hanya Arselli dan Elliana yang kaget dengan panggilan itu. Sekumpulan orang yang tengah menyaksikan kehadiran Elliana di sana pun ikut terhenyak sembari menahan geli di ujung bibirnya.
Arselli mengangkat kedua alisnya , kaget dan tidak percaya datang bersamaan ,seolah tak percaya suara wanita yang sangat dia cintai yang sekarang telah resmi menjadi istrinya , dan sekarang tengah amnesia itu , terdengar memanggil dirinya dengan begitu mesra.
Arselli menoleh ke arah Alessya , memastikan suara itu keluar dari mulut istrinya sekaligus memastikan panggilan itu tertuju padanya.
" Cepatlah kembali , bukankah malam hampir tiba ... " Menatap Arselli dengan bola mata berbinar. Seolah memancarkan rayuan dari matanya mengingatkan akan malam pertama.
Arselli melenggang pergi menahan senyum yang terkulum di bibirnya , dengan perasaan yang membuncah di dadanya , merasakan kecemburuan tengah mendera istrinya . Meninggalkan istrinya yang seketika raut wajahnya bertekuk berubah seketika. Dengan seribu tanya dan tatapan dari sekumpulan orang yang ada di sana terutama dokter Edward .
Asisten Henry seketika itu juga ikut melenggang pergi setelah mendapat tanda dari bosnya tadi . Mungkin dia tidak ingin adanya kesalahpahaman,sehingga menghadirkan asisten Henry menjadi saksinya nanti .
π
π
π
Jangan lupa tersenyum
Jangan lupa bahagia
Jangan lupa , like , rate dan vote ,
__ADS_1
Kritik dan saran juga.