
Pagi hari yang cerah ...
Arselli turun dengan muka secerah mentari pagi. Sepertinya semalam dia telah berhasil mengantongi maaf dari sang Ratu. Entah bagaimana caranya.
Bagaimana tidak, bahkan dia meninggalkan sang istri dalam kondisi tak berdaya di atas ranjangnya tadi, setelah beberapa kali berhasil mengganggu tidur istrinya semalaman hingga pagi menjelang.
" Apa ini, Robin ? "
Arselli terpukau dengan sajian menu sarapan yang tersaji di atas meja makan. Hampir memenuhi meja makannya dan semua bergenre timur tengah.
Duduk di salah satu kursi utama meja makan itu. Hari ini dia libur bekerja, selain karena pekerjaannya sudah hampir selesai dia berencana untuk mengajak Alessya berjalan-jalan sebelum kembali pulang.
" Ini semua adalah pesanan Nyonya semalam. Katanya, dia sangat ingin sarapan dengan semua menu makanan ini. " Jawab Robin menunduk.
Sedikit bingung dirasakannya. Dengan mood nyonya majikannya yang akhir-akhir ini sedikit aneh dan berubah-ubah. Bahkan kejadian saat masak-memasak kemarin masih melekat di ingatannya, bagaimana Nyonya muda itu memaksa untuk memasak sendiri dan berakhir memaksa Robin untuk meloloskan masakannya yang dengan percaya dirinya dia anggap enak itu.
" Sepertinya Nyonya ingin memberikan pelajaran pada saya, Tuan. "
Robin sedikit meringis. Kejadian kemarin yang berakhir dengan insiden memalukan sedikit banyak menimbulkan rasa bersalah di hatinya .
Arselli hanya terkekeh mendengarnya.
" Kau pasti berusaha dengan sangat keras."
Menyadari bahwa Robin lebih ahli dalam memasak jenis masakan oriental dan western. Ini merupakan hal baru baginya. Walaupun akhirnya bisa, namun pasti sulit pada saat prosesnya.
" Tidak apa-apa, Tuan. Ini pengalaman baru bagi saya. "
Setidaknya dia mengambil sisi positif dari hal itu. Dia bisa belajar hal baru di tengah-tengah pekerjaannya.
" Hanya saja, sepertinya Nyonya akan bangun sedikit siang. Mungkin kau bisa menyimpannya untuk makan siang nanti. "
Ucapan Arselli sedikit mengejutkan Robin.
Sembari memakan sarapannya itu, lidahnya sedikit merasa aneh karena pagi-pagi sudah langsung disuguhi makanan dengan bumbu beraroma berat dan pekat.
Robin terkejut. Yang benar saja, dia bahkan sudah memasak sebanyak ini dari dini hari tadi. Dan pemesannya masih tidur sampai sekarang. Entah akan memakannya atau tidak ?
Mau tidak mau Robin hanya mengangguk saja. Tidak berani berkomentar apa-apa.
Namun ... angin segar menerpanya.
Setelah beberapa lama, Alessya datang dengan rambut yang terlihat masih basah. Melihat kedatangannya Robin terlihat senang sekali. Sepertinya usahanya tidak akan sia-sia.
" Kau sudah bangun ? " Menatap istrinya.
Arselli mengecup bibir Alessya yang kini telah duduk di dekatnya.
" Hmm. " Mengangguk pelan.
Alessya hanya ber-emh ria saja. Sepertinya moodnya pagi ini sedikit buruk. Sepertinya semalaman di charger samasekali tidak berpengaruh baginya, berbeda dengan Arselli yang terlihat begitu bahagia.
" Robin ... " Tatap matanya menyapu semua makanan yang tersaji di atas meja.
__ADS_1
Robin yang saat itu hampir berkata untuk menyapa istri majikannya, sekaligus mempersilahkan Nyonya mudanya itu untuk mempersilahkannya menikmati masakannya, yang merupakan makanan pesanannya semalam, terpaksa menahan ucapannya tepat di ujung lidahnya. Menunggu nyonya cantik itu untuk menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu.
" Robin ... bisakah kau membuatkan aku sandwich. Sepertinya perutku belum siap untuk menikmati semua makanan ini. "
Ucapnya dengan begitu santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sembari menatap Robin dengan mata indah polosnya.
Robin yang mendengarnya langsung melengos. Sesuai perkiraannya bukan ? Dia ragu nyonya majikannya itu akan memakan semua masakan itu. Bahkan mencicipinyapun tidak.
Arselli yang melihatnya hanya tersenyum saja ke arah Robin, mengangkat bahu dan tangannya. Dia tidak bisa membantu, bahkan mereka baru saja akur semalam.
***
Siang itu ....
Alessya menatap sebuah berkas kecil. Raut wajahnya menegang kala menatap benda itu. Seberkas bayangan berkelebat di ingatannya ...
.
.
Flash back On ...
Perdebatan terjadi cukup lama dan alot antara Alessya dan ibu mertuanya. Kali ini, setelah hampir satu jam lamanya mereka mengobrol dengan berurai air mata mengucur di pipinya, Alessya benar-benar menyerah dan hampir putus asa.
Apalagi setelah ...
" Sudah terlambat bagimu untuk memutuskan, Alessya. Jika kau benar-benar mencintainya tinggalkanlah putraku secepatnya ! "
Aura dingin terpancar dari mata Ny. Alice saat kalimat itu meluncur deras dari lidah tajamnya.
Ucapan Ny. Alice begitu menusuk. Menghancurkan dirinya dari sisi paling dalam. Bermula dari jantung hatinya, lalu ke otak dan segalanya. Hancur , remuk redam dan tak bersisa.
" Ini bukan salahku, Ibu. Aku mohon ... "
Alessya terisak tak berdaya. Kali ini dia duduk bersimpuh di hadapan ibu mertuanya. Memohon agar dia dibiarkan untuk tetap di sisi suaminya.
Walaupun hanya berstatus menjadi istri simpanan sekalipun dia rela. Merelakan suaminya menikah dengan wanita lain yang lebih sempurna dan bisa menyempurnakan kebahagiaan suaminya juga akan dia lakukan, asalkan dia tetap diizinkan untuk mendampingi suaminya sampai kapanpun.
" Cukup !!! Aku mohon, Alessya ... Andai kau bisa memberinya seorang anak. Walaupun awalnya aku tidak menyukaimu, tapi sungguh aku pasti akan menerimamu dengan tangan terbuka. Tapi itu percuma , karena itu tidak akan bisa terjadi bukan ? "
Ny. Alice mengingatkan kembali mengenai vonis dokter yang menyatakan bahwa rahim Alessya bermasalah dan ketidakmungkinannya untuk memiliki seorang anak.
Dia menyodorkan dua buah benda pada Alessya. Yang kini tampak berjejer di atas meja tepat di hadapan Alessya berada. Saat itu, Alessya sudah duduk kembali di sofa yang tadi dia duduki. Setelah beberapa saat menenangkan diri.
Mendengarkan ucapan terakhir Ny. Alice padanya. Rasa hangat sedikit menjalar di hatinya. Setidaknya ada setitik tempat di hati Ny. Alice untuk dirinya, walaupun kenyataan itu akhirnya berbenturan dengan fakta dirinya yang tidak bisa hamil dan mewujudkan impian suami dan ibu mertuanya.
" Ambillah ini !! "
Menunjukkan jarinya pada sebuah buku rekening tabungan yang sudah bisa dipastikan berjumlah fantastis, cukup untuk bekal Alessya menjalani seumur hidupnya setelah berpisah dengan Arselli nanti.
" Dan ini !! "
Kali ini Ny. Alice menunjukkan jarinya pada selembar kertas, sebuah tiket penerbangan international lengkap dengan berkas penting lainnya.
__ADS_1
" Aku dengar, kau akan menyusul putraku ke LN. Pergilah disaat dia lengah nanti. Di sana, akan ada seseorang yang akan membantu kepergianmu nanti. Kau tinggal menghubunginya jika kau sudah siap. "
Ucapan Ny. Alice sukses mengobrak abrik hidup Alessya saat itu juga. Mengoyak tepat di jantung hatinya.
Dengan berat hati ...
" Aku akan memikirkannya lagi, Ibu ... Hiks ...."
Sembari menangis tersedu-sedu memejamkan matanya, tangannya kemudian terulur mengembalikan buku rekening itu pada ibu mertuanya.
" Aku tidak memerlukan ini Ibu. "
Kemudian bangun berdiri. Berjalan berlalu pergi meninggalkan ruangan yang kelam itu. Dengan membawa tiket itu.
Flash Back Off ...
.
.
Alessya menatap berkas yang tidak sengaja jatuh dari dalam tasnya saat dia hendak mengambil dompetnya dari sana. Berkas yang dia terima dari Ny. Alice sebelum kepergian dirinya menyusul Arselli.
Bibirnya tersenyum namun terasa begitu hampa ...
" Maafkan aku, Ibu. Aku tidak bisa meninggalkannya. Kecuali, jika dia sendiri yang meninggalkanku. " Gumamnya pelan.
" Maafkan aku, karena terlalu mencintainya Ibu ... " Gumamnya lagi.
Tangan Alessya bergerak bermaksud untuk merobek tiket itu. Namun, tiba-tiba Arselli datang, masuk ke dalam kamarnya. Alessya segera memasukkan kembali benda itu ke dalam tasnya. Walaupun terlihat curiga, namun Arselli sangat menghormati privacy pasangannya itu.
" Ayolah Sayang, Kita hampir terlambat. " Ucap Arselli pada Alessya.
Siang ini mereka berencana untuk berjalan-jalan keluar berkeliling kota mengunjungi berbagai tempat dan objek wisata menarik di negara ini.
" Baiklah ... "
Mengambil dompetnya dari dalam tas itu, lalu memindahkannya pada tas jinjing yang akan dia gunakan siang ini.
Berjalan menghampiri suaminya yang tengah berdiri di ambang pintu. Saat itu, Alessya tidak menyadari mata Arselli menatap tajam ke arah tasnya tadi.
Apa yang disembunyikan Alessya ????
.
.
.
π Bersambung ... π
Jangan lupa like, rate dan koment yang banyak ya ...
Beri semangat pada penulis amatir ini ...
__ADS_1
Jangan biarkan kolom komentnya sepi bak kuburan.