
Seorang perawat datang membantu Alessya untuk mengganti pakaian dan membersihkan dirinya . Entah kenapa setelah acara pernikahan tadi , cuaca terasa begitu panas , hingga membuat tubuhnya terasa begitu lengket dengan aroma yang cukup tidak mengenakkan .
Padahal saat itu cuaca baik - baik saja dan Alessya pun terlihat begitu segar dan wangi . Atau mungkin akal - akalan dia saja, untuk menutupi kegugupannya kala menyambut malam pertama pernikahannya . Dia ingin terlihat lebih fresh dari wanita manapun yang ada di dunia ini , setidaknya di mata suaminya dialah yang tercantik tiada duanya malam ini.
Entahlah , semenjak resmi menyandang status istri Nyonya Russel , Alessya menjadi paranoid berlebihan . Mungkin, karena takut suaminya itu akan berpaling darinya , sementara ada wanita lain di luaran yang tengah menantinya . Elliana seperti sesuatu hal yang begitu mengerikan yang bisa mengancam biduk rumah tangganya yang bahkan baru saja hari ini mereka bina.
Perawat membantu Alessya membuka bajunya , menyisakan kain penutup bagian sensitif di dadanya. Lekuk tubuh Alessya terlihat begitu jelas yang kala itu tengah duduk di kursi tanpa sandaran membelakangi pintu di ruangannya. Perawat berjenis kelamin perempuan itu mengelapkan washlap basah nan hangat di punggungnya yang terbuka menampilkan kulitnya yang putih dan mulus itu .
Rambut panjang yang ikal di ujungnya itu , dijumput ke atas kepalanya dan diikat dengan sembarang memperlihatkan tengkuk leher panjang nan seksi .
" Sebelum berpakaian saya akan mengganti perban di perut anda dulu ... " Ujar perawat itu dengan begitu sopan , sepertinya dia tahu bahwa wanita yang tengah dia rawat itu telah resmi menjadi istri sah dari salah satu anggota keluarga pemilik rumah sakit ini .Walaupun sebenarnya pernikahan mereka belum diresmikan secara umum , mengingat kondisi Alessya yang belum stabil dan Nyonya Alice yang tak kunjung memberi restu pada mereka .
" Baiklah ... " Jawab Alessya lirih .
Dia tidak terlalu memperhatikan keberadaan perawat itu , karena dia tengah sibuk dengan fikirannya yang berkelana liar dan sedikit vulgar memikirkan adegan - adegan dewasa di malam pertamanya nanti .
Apa yang harus aku lakukan ? Aku takut dia salah paham dengan ucapanku tadi ...
Tapi ... tidak ada kontak fisik ? Samasekali ?
Hah ... Kenapa aku bisa membuat peraturan seperti itu ? Bodoh ... !!!
***
Arselli memperbesar langkahnya untuk kembali menemui Alessya . Masih terngiang - ngiang di telinganya dengan begitu jelas panggilan ' sayang ' yang ditujukan padanya tadi. Apalagi dengan kalimat lanjutannya yang tidak kalah lebih menggoda , sebuah tawaran menggiurkan yang membuat kadar adrenalin di darahnya meningkat . Oh fikirannya berlarian kemana - mana , membayangkan istrinya tengah menyambutnya di malam pertama pernikahan mereka .
Ceklek !!!
Arselli membuka pintu kamar perawatan Alessya dengan begitu pelan , bermaksud untuk tidak mengagetkan istrinya yang tengah berada di dalam .
Alessya yang masih sibuk dengan fikiran liarnya tidak menyadari kedatangan suaminya yang kini tengah berada di belakangnya sembari tersenyum menatap punggung polosnya .
Arselli segera memberi tanda pada perawatnya dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sembari mengedipkan mata pada perawat wanita itu . Yang segera dibalas anggukan pelan oleh perawat itu.
" Apakah masih lama ? " Tanya Alessya kepada perawat itu , yang beberapa saat lalu berhenti dari aktifitasnya karena berinteraksi dengan seorang pria yang berada di belakang pasiennya tanpa sepengetahuannya itu. Dia sedikit risih karena harus bertelanjang setengah badan di hadapannya , walaupun mereka sesama wanita .
" Se-sedikit lagi , Nyonya ! " Jawabnya dengan begitu sopan sembari terbata .
" Benarkah ? Tapi ... Bisakah kau membantuku berpakaian terlebih dahulu , aku sedikit risih dan kedinginan . " Karena akan kesulitan baginya memakai baju sendiri dengan tangan yang ditusuk jarum infus .
" Ba-baik . " Sembari menjulurkan tangannya untuk mengambil seragam ganti Alessya yang terletak di atas ranjang yang berada tidak jauh darinya . Namun , saat perawat itu hendak mengambil seragam itu , tiba - tiba Arselli mengambilnya , hingga perawat itu kaget dibuatnya .
Perawat itu melotot dan kebingungan , apalagi setelah melihat senyum nakal dari pemilik rumah sakit ini , karena berhasil mengambil baju istrinya bermaksud mengerjainya . Lagi - lagi dengan telunjuk yang ditempelkan pada bibirnya memberi kode keras agar istrinya tidak curiga.
" Ba-ba ... ba ... " sembari terbata - bata pelan .
Alessya yang melihatnya bingung melihat perawat itu mendadak bersikap aneh , belum menyadari keberadaan suaminya yang kini tengah berdiri tepat di belakangnya .
" Apa yang ingin kau katakan ? " Tanya Alessya pada perawat itu . Perawat itu hanya menunduk sesekali menatap ke belakang punggung Alessya .
__ADS_1
" Ada apa di belakangku ? " Menolehkan kepalanya ke arah mata perawat itu memandang .
Dalam gerakan lambat , Alessya menolehkan kepalanya ke arah belakangnya .
" Kya !!!! " Teriak Alessya dengan begitu kencang .
Matanya langsung membelalak seketika mendapati suaminya yang tengah berdiri di belakang punggungnya .
" Apa yang kau lakukan di sini ? " Teriaknya lagi sembari refleks membalikkan badannya ke hadapan suaminya, masih belum menyadari dirinya yang tengah bertelanjang setengah badan , untunglah masih ada pelapis tipis yang masih menutupi gundukan manis di dadanya itu .
Arselli masihlah lelaki normal , kala dia disuguhi pemandangan yang indah di depan matanya , takkan mungkin dia menolaknya begitu saja apalagi bila disuguhkan mentah - mentah oleh wanita yang sudah berstatus halal baginya , takkan berdosa bukan ?
Sembari tersenyum nakal dia menatap gundukan manis yang terlihat begitu padat dan sintal itu .
Perawat yang melihat interaksi itu merasa canggung , perlahan melangkah keluar meninggalkan mereka sepasang pengantin yang tengah kasmaran itu .
Alessya merasa risih melihat tatapan dan senyuman nakal dari pria yang telah resmi menjadi suaminya. Mengikuti arah tatapan matanya dan ...
" Kya !!! " Teriaknya lagi sembari refleks menyilangkan kedua tangannya menutupi dada seksinya.
" Biar aku yang membantumu berpakaian ... " Jawabnya dengan begitu singkat .
" Tapi ... " Sembari menunduk menahan malu.
***
Arselli membantu Alessya berpakaian dengan begitu lembut dan perlahan , sembari berjongkok di hadapannya . Melakukan hal itu dengan begitu telaten dan dipenuhi dengan ketulusan , sembari menatap luka bekas tembak yang berbalut perban mengingatkan dirinya betapa besar pengorbanan gadis yang kini tengah duduk di hadapannya itu dalam melindungi nyawanya . Mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkannya. Ya , walaupun sesekali disertai dengan tatapan liar dan senyuman nakal karena melihat sesuatu yang menggoda . Alessya menerimanya walaupun dengan perasaan malu yang luar biasa. Pipinya bahkan sampai bersemu merah , belum lagi degub jantung yang berdebar dengan tidak normal .
Bagaimanapun dia bahagia telah melindunginya . Melihat pria itu hidup dan kini menjadi suaminya adalah karunia luar biasa yang diberikan Tuhan padanya.
Sesekali Arselli menelan ludahnya kala mereka terpaksa harus berdekatan saat memakaikan bajunya itu . Apalagi disaat tidak sengaja wajahnya begitu dekat dengan dada istrinya . Ingin rasanya menerkam istrinya saat itu juga , namun berusaha dia tahan dengan sekuat tenaga mengingat kondisi istrinya yang masih belum sembuh benar . Belum lagi mengingat perjanzian yang diberikan Alessya , dia samasekali tidak berniat membangunkan singa yang tengah tidur di malam pertama pernikahannya itu .
" Terimakasih ... Untuk tetap hidup , Alessya . " Ucapnya disela-sela aktifitasnya dan fikiran liarnya .
Namun , disaat terakhir saat tangan Arselli terjulur hendak memasang kancing baju di bagian depan , tiba - tiba ...
" Biar aku yang lakukan ! " Sembari menahan tangan suaminya yang sudah terjulur tepat di depan dadanya itu . Tangan mereka bersentuhan , mengalirkan aliran listrik tekanan tinggi yang sedari tadi mereka tahan .
Pipi Alessya tampak bersemu merah , kala mata mereka mendadak bertemu secara bersamaan , memancarkan kesenduan dan hasrat yang terpendam .
Kau tidak akan menciumku , Russel ? Alessya menggigit bagian bawah bibirnya , merasakan kebingungan akan ketidaksingkronan dirinya dan alam bawah sadarnya .
Di satu sisi dia ingin bertahan dalam kebohongannya , karena tidak mungkin tiba - tiba dia mengakhiri kebohongannya begitu saja dan otomatis berarti dia harus menunjukkan penolakan dirinya akan seseorang yang dianggap hilang dari ingatannya itu dan disatu sisi dia menginginkan sentuhan dari suaminya namun terkendala oleh perjanzian yang dibuatnya sendiri.
Bagaimana ini ? Alessya merenggut , sibuk dengan fikirannya sendiri .Sembari jemarinya bergerak lincah mengancingkan baju yang digunakan olehnya.
Cup
Tiba - tiba Arselli mengecup bibirnya . Hati Alessya menghangat seketika . Seperti istilah Pucuk dicinta ulampun tiba . Namun ...
__ADS_1
Itu saja ?
Bibir Alessya terasa bekedut merasakan ketidakpuasan . Matanya semakin sendu seolah memohon kepada pria yang dihadapannya itu untuk menciumnya lagi dengan lebih intens dan mesra .
Arselli membelai lembut rambut Alessya . Sembari menatap hangat mata istrinya . Alessya hanya menelan ludahnya , menahan gejolak yang bergemuruh di dadanya , sembari mengusap kasar tengkuknya yang terasa merinding karena menginginkan lagi sentuhan dari suaminya . Lagi - lagi dia menggigit bibir bagian bawahnya itu.
Kau tidak akan menciumku lagi , Russel ? Ayolah ... ini malam pertama kita .
Arselli mengangkat tubuh Alessya yang tengah menahan hasrat yang bergelora itu . Membaringkannya di atas ranjangnya dan menyelimuti tubuhnya .
Sesaat tadi fikiran Alessya sempat melayang , mengira suaminya akan mulai menyentuhnya lagi di atas ranjang nanti . Namun jatuh seketika kala tak terjadi apapun diantara mereka.
Cup !
Mencium lembut kening istrinya .
Ayolah Russel ... hanya itu ? Kau tidak akan mencium bibirku lagi ?
Jemarinya tanpa sadar menyentuh bibirnya yang terus saja berkedut hampir bergetar . Lagi - lagi dia menggigit bibirnya untuk menghilangkan hasratnya itu.
" Tidurlah ! Ini sudah malam . " Sembari mengusap lembut pucuk kepala istrinya , beringsut melangkah pelan menuju sofa untuk dirinya tidur malam ini .
Namun , langkahnya mendadak terhenti kala sesuatu menarik ujung jas yang dikenakannya . Arselli menunduk , mendapati tangan Alessya tepat berada di sana menariknya . Matanya langsung tertuju menatap Alessya seolah bertanya ' Ada apa? '
Menelan ludahnya beberapa kali wajah Alessya tampak begitu merah kala itu. Walaupun hasratnya begitu besar saat itu , namun keberaniannya belum sejauh itu untuk dirinya meminta sebuah sentuhan hangat dari pria yang sudah halal baginya itu .
Arselli mengangkat alisnya seolah bertanya lagi .
" Se-la-mat malam ... Russel .... ! "
Dengan ujung bibir yang tersungging lembut , Arselli menatap Alessya yang tengah menahan gemuruh di dadanya itu .
" Selamat malam , Sayangku ! " Melenggang pergi menuju sofa , meninggalkan Alessya yang kecewa di malam pertama mereka terbaring sendiri di atas ranjangnya .
π€
π
π
π
π
π€£π€£π€£
Jangan lupa like , rate βββββdan vote.
Jangan lupa berbahagia
__ADS_1
Senyumin aza
Jangan lupa juga tinggalkan jejaknya ...