
.
.
.
Pagi itu ...
Alessya tampak begitu sibuk membantu Hana. Membantu menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak di sana. Jika biasanya hanya ada mereka berdua, kali ini ada Robin dan anak buahnya yang membantu mereka.
Sementara Arselli tengah disibukkan dengan pekerjaannya bersama asistennya Henry. Setelah pagi lalu dia meninggalkan rumah yayasan itu, sebelum Hana dan anak-anak terbangun dari tidurnya. Setelah insiden percintaan mereka yang begitu menyesakkan jiwa itu terjadi pada mereka.
Pagi buta itu ...
Bagaimana tidak menyesakkan. Sesaat setelah Alessya menyetujui untuk disentuh oleh Arselli suaminya. Sebagai jawaban dari pertanyaan Arselli sebelumnya.
Hampir ... saja, adegan panas nan romantis itu terjadi. Beberapa detik sebelum Arselli menghentakkan bagian dari tubuhnya ke bagian tubuh istrinya, tiba-tiba Alessya bangun dari posisi tidur miringnya. Beringsut berdiri, berlari menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan hampir semua makanan yang sempat masuk ke dalam perutnya. Dan hal itu disebabkan oleh ...
" Russel ... kenapa kau bau sekali ?! " Pertanyaan yang lebih ke arah teguran atau keluhan semata.
Arselli pucat pasi mendengarnya. Melihat Alessya yang saat itu sudah polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya, sampai berlari kecil dan muntah-muntah di wastafel seperti tadi, sudah bisa dipastikan dia tidak sedang berpura-pura ataupun bersandiwara.
Melainkan nyata dirasakan olehnya, pengaruh dari hormon kehamilan yang kini tengah dirasakannya dan juga kemungkinan dari pengaruh bawaan si jabang bayi yang merupakan benih unggul darinya.
Dan kini ...
Asisten Henry menjadi korban uring-uringannya. Pelampiasan atas kemarahannya karena hasratnya gagal tersalurkan pagi tadi.
" Berapa lama biasanya itu terjadi ? "
Percayalah jika pertanyaan ini hanyalah salah satu dari rentetan pertanyaan yang hampir berjubel jumlahnya. Pasalnya, Arselli tidak berhenti bertanya dari tadi padanya. Dan semua pertanyaan berkaitan dengan kehamilan istrinya.
Ingin rasanya asisten Henry menjawab " Tuan, saya bukanlah seorang dokter. Tanyakan lah pada mereka yang memiliki gelar itu. " Namun sayang, asisten Henry samasekali tidak memiliki keberanian sebesar itu.
Hingga akhirnya dia meraba-raba jawabannya sepengetahuannya saja. Mengingat kembali moment disaat istrinya hamil dulu. Walau sebagian jawaban dari pertanyaan yang diajukan bosnya itu hasil mengarang indah belaka, karena saking tidak tahunya dan tidak ada pengalaman sebelumnya yang serupa.
" Biasanya hanya saat awal kehamilan, Tuan. Anda tidak perlu risau, saat usia kehamilannya bertambah biasanya akan normal kembali seperti biasanya. " Asisten Henry mencoba menenangkan bosnya yang tengah dilanda kecemasan akut.
" Dia sedang hamil kembar tiga, Henry. Apakah tidak masalah kami melakukan hubungan suami istri saat sudah besar nanti ? " Tanya Arselli begitu frustasi sembari menjambak kasar rambutnya yang sudah rapi tadi.
Membayangkan nanti sebesar apa kehamilan istrinya. Membuatnya sedikit meringis. Apalagi membayangkan istrinya saat bercinta nanti, akankah dia kuat melakukannya ?
Mengingat olahraga malam yang sering mereka lakukan dulu, slalu dilakukan dengan begitu aktif dan berkesinambungan antara dua insan yang sama-sama mengejar kenikmatan dunia fana.
__ADS_1
Bukan itu saja masalahnya, kecemasan Arselli merambah kemana-mana bukan hanya masalah di atas ranjangnya semata. Melainkan kondisi dari kesehatan istrinya yang harus menanggung beban sendiri mengandung anaknya yang kembar tiga itu.
Entah darimana gen kembar itu berasal, dia kadang tak percaya istrinya akan mengalaminya. Mengandung kembar tiga yang merupakan hasil dari pertempuran mereka setiap malam dulu sebelum berpisah dua bulan lalu.
Dan kini setelah bertemu, Arselli tidak bisa sepuas hati menikmati sang istri karena istrinya tengah hamil muda dan terkadang mengeluh bau akan dirinya, bukan hanya itu kehamilannya begitu mencemaskan baginya.
Sreeettt ....
Tiba-tiba mobil berhenti dengan mendadak. Asisten Henry menginjak rem seketika.
" Kembar tiga, Bos ? " Asisten Henry langsung menolehkan kepalanya ke arah bosnya yang kini tengah duduk di kursi penumpang belakang. Menelan ludah beberapa kali. Ada kekaguman dan ketakjuban di sana, di sorot matanya.
Namun percayalah. Asisten Henry bukanlah takjub pada bosnya yang berhasil membuahi istrinya. Melainkan kehendak Tuhan yang menjadikan hamil istri majikannya yang saat itu telah divonis tidak akan hamil oleh dr. kandungan yang sempat memeriksanya. Kembar tiga pula, sungguh keajaiban dari Tuhan Yang Maha Esa.
" Iya ! Memang kenapa ? " Arselli berdehem sembari membetulkan kerah dan dasinya. Gerakannya terlihat sombong sekali.
Percayalah siapapun yang mendengar nada bicara Arselli saat itu. Bisa membaca dan menduganya, ada kebanggaan di sana. Dimana benih unggulnya tumbuh subur bersamaan menjadi tiga orang bayi di dalam rahim istrinya.
***
Sore itu ...
Arselli datang setelah menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Membawa seikat bunga mawar putih kesukaan istrinya Alessya.
Alessya yang saat itu sedang duduk santai di dalam kamarnya menerima bunga itu dengan senang hati.
Mengecup lembut bibir suaminya. Beringsut menyimpan bunga itu pada vas keramik yang ada di sana. Di meja kecil di samping tempat tidurnya.
" Kau baik-baik saja sekarang ? " Arselli bertanya pada istrinya.
Ayolah, wanita ini bahkan tidak terlihat gundah ataupun gelisah karena gagal bercinta dini hari tadi. Berbeda dengan dirinya yang resah dan gelisah sampai detik ini.
Alessya menatap dalam mata suaminya. Tersenyum lembut padanya.
" Kemarilah ! "
Panggil Alessya pada suaminya yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk saat itu. Saat itu, Alessya tengah duduk di atas ranjang kecilnya.
Arselli tersenyum mendengarnya. Berdo'a di dalam hati. Semoga ini firasat baik untuknya. Semoga saat ini keberuntungan datang menghinggapinya.
Alessya meraih tangan Arselli dalam genggamannya. " Maafkan aku. " Ujarnya lembut sembari mengecup punggung tangan suaminya.
Hati Arselli menghangat seketika. Ada desiran lembut mengalir di tubuhnya.
__ADS_1
" Kita lakukan sekarang, mumpung anak-anak sedang pergi keluar bersama Hana. " Ucap Alessya sembari membuka kancing kemeja suaminya.
" Kau serius ? " Arselli bahagia seketika. Merasa lega, akhirnya hasratnya yang menegang sedari tadi akan terwujudkan saat ini.
" Emh. Cepatlah ! Sebelum aku mencium bau itu lagi. " Hati Arselli mencelos. Ya Tuhan sampai kapan hal ini akan terjadi ?
" Ingat ! Harus pelan - pelan dan hanya sekali saja. " Lanjutnya lagi. Arselli tak menjawab namun cukup mengerti lagipula waktunya singkat, sampai anak-anak kembali dan itu sebentar lagi.
Alessya membaringkan tubuhnya setelah berhasil membuka semua kancing kemeja suaminya. Menyingkap dressnya dan menyerahkan sisanya kepada suaminya.
Seperti motto ...
Selanjutnya terserah anda ...
***
" Kapan kau akan pulang ? " Tanya Arselli mendempet punggung istrinya, sembari mengelus lembut perut istrinya. Dia tidak menyia-nyiakan waktu, mumpung istrinya sedang tidak mengeluh bau pada dirinya. Pepet terus ... mumpung kesempatan itu ada.
" Menurutmu, kapan aku harus pulang ? " Dia masih terlihat ngos-ngosan saat itu. Olahraga siang itu cukup melelahkan. Walaupun Arselli menyuruh Alessya untuk diam saja dan menjadi anggota pasif. Namun kenikmatan yang menjalar di tubuhnya refleks membuat tubuhnya bergoyang, bergerak mengikuti irama gerakan suaminya.
Bagaimanapun percintaan mereka saat ini adalah yang pertama kalinya setelah berpisah dua bulan lalu. Dan pertama kalinya setelah mereka mengetahui kehamilan Alessya.
" Bagaimana kalau nanti malam atau besok siang ? " Dia ingin secepatnya membawa Alessya pulang. Agar dia bisa bebas melakukan apa saja dengan istrinya. Bukan hanya masalah ranjang saja, melainkan makan bersama, mandi bersama, bercanda , menonton dan sebagainya. Melakukan hal-hal itu begitu canggung apabila dilakukan di rumah Hana yang dipenuhi dengan anak-anak yang masih bersih dan suci, fikirannya belum terkontaminasi.
Alessya memikirkannya barang sejenak.
" Besok saja Russel. Kita akan makan siang bersama untuk perpisahan. Dan suruhlah Robin dan Henry untuk berpartisipasi. Aku ingin memberikan anak-anak itu hadiah. Kau setuju ? "
" Tentu saja. Apapun itu, aku akan menyetujuinya. Asal kau ikut pulang bersamaku. " Mengecup puncak kepala istrinya.
Mereka segera bangun setelah mendengar suara anak-anak yang datang.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, rate dan koment ya ...