
Sudah seminggu ini Alessya tidak keluar dari kamar kontrakannya , dia hanya mengurung diri di kamarnya , tidak pergi kuliah maupun bekerja. Dia hampir setengah gila , keputusannya untuk berpisah dengan Arselli ternyata hanya omong kosong belaka, disaat mulutnya menggebu - gebu mengutarakan keinginannya , ternyata hatinya sangat tidak siap menerima kenyataan bahwa pada akhirnya kekasihnya menyetujui permintaanya itu . Walaupun itu dengan sangat berat hati pria itu lakukan , karena Alessya yang terus saja mendesaknya , hingga akhirnya pria itu naik pitam dan terjadilah insiden malam itu.
Alessya terus saja merenung , sesekali matanya menangis meneteskan air matanya yang tidak tertahan , sembari terus - menerus menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia sangat ingin menelfon Arselli untuk sekedar menanyakan kabarnya. Dan dia juga sangat menunggu panggilan telfon maupun pesan dari pria itu. Walaupun dia bersikeras untuk mengakhiri hubungannya , tapi dari hatinya yang paling dalam sebenarnya dia sangat tidak ingin hal itu terjadi. Dia hanya ingin ketegasan dari pria itu antara memilih hubungan dirinya atau pertunangannya dengan Clara.
Tapi sampai sekarang tak satupun panggilan telfon yang masuk ke ponselnya dari pria itu. Apakah semudah itu Arselli melupakannya , melupakan cinta mereka yang belum seumur jagung pun. Hingga pada akhirnya Alessya merasa jengkel dan memutuskan untuk mematikan ponselnya.
Diana yang mengetahui masalah yang sedang dia alami merasa sangat cemas dan khawatir , apalagi setelah ponselnya tidak dapat dihubungi samasekali. Alessya seakan menutup semua akses ke dunia luar , entah apa niat dan tujuannya.
Mungkin dengan berdiam diri di kamar , menutup diri , tidur seharian , dapat membantu dirinya melupakan mantan kekasihnya. Tapi salah besar , Alessya benar - benar tidak waras kali ini , bukan hanya sekedar menutup diri , tapi dia seolah ingin mengakhiri kehidupannya.
" Alessya !! " jerit Diana ketika mendapati sahabatnya sudah tergolek tidak berdaya di atas lantai. Sepertinya dia pingsan karena kekurangan asupan makanan dan minuman.Badannya pun terasa begitu panas karena demam. Untung saja Diana meminjam kunci cadangan dari pemilik kontrakan , karena beberapa kali mengetuk pintu Alessya tidak juga keluar dari kamar kontrakannya , sedangkan tetangganya begitu yakin bahwa Alessya ada di dalam dan sudah beberapa hari ini tidak keluar.
***
Ketika tersadar dari pingsannya , Alessya kaget mendapati Diana dan Romeo duduk di samping ranjang dimana Alessya tengah terbaring lemah di salah satu kamar inap di rumah sakit.
" Ini dimana Din ? " setelah matanya berkeliling mengitari seluruh ruangan yang dia tempati , dia bertanya karena begitu penasaran.
" Di Rumah sakit. Kamu pingsan Alessya , untung aku menemukanmu. " jawab Diana sedikit ketus , masih khawatir dengan kondisi Alessya yang begitu ceroboh membiarkan dirinya sakit seorang diri tanpa memberitahukan orang lain dengan kondisi kamar yang terkunci. Bagaimana kalau sampai akhir tidak ada yang menyadari, mungkin Alessya akan berakhir dengan kematian.
__ADS_1
" Dan Romeo, apa yang kau lakukan di sini ? " terheran - heran mempertanyakan keberadaannya di sana. Beringsut bangun dari posisi tidurnya , duduk bersandar di bantal dengan bantuan dari Romeo dan Diana.
Romeo terkekeh tidak menyangka si wonder woman yang dia kagumi bisa tumbang juga. Dan sekarang tengah terbaring lemah di hadapannya .Dengan kondisi yang tampak lusuh dan pucat.Setelah mengetahui kabar dari Diana bahwa Alessya dirawat di rumah sakit , dia langsung datang untuk melihatnya.
" Mendengar calon pengawal pribadiku sakit , aku langsung melesat kemari ."
Alessya baru ingat , kemarin seharusnya adalah hari pertamanya bekerja dengan Romeo.Setelah kekecewaan yang dia rasakan kepada atasannya di kafe menyangkut pesanan spesial yang menyebabkan dia merasa malu di hotel tempat Ulang tahun Clara , tak ada alasan baginya kembali bekerja di kafe itu, esoknya dia langsung menghubungi Romeo untuk menerima tawaran pekerjaan yang pernah dia terima beberapa hari sebelumnya. Hanya saja , pertengkaran dengan Arselli membuatnya sedikit linglung hingga melupakan hari pertama dimana dia harus memulai pekerjaannya.
" Apakah tawarannya masih berlaku ? " Menundukkan kepalanya menyesali keteledorannya melupakan hari pertama kerjanya.
" Tentu saja , saat itu pastikan kau jangan sampai lupa lagi !! " jawabnya dengan santai.
***
Setelah mendapat informasi no kamar tempat Alessya dirawat , akhirnya Arselli mencari kamar tersebut sesuai arahan dari bagian informasi. Tibalah dia berdiri di depan pintu. Dengan keraguan yang memenuhi fikirannya, tapi tidak serta merta mampu mengurungkan niatnya sedikitpun untuk bertemu gadis yang begitu dia cemaskan itu. Walaupun statusnya hubungan mereka sudah berakhir , hatinya tetap sama mencintainya .
Perlahan membuka pintu tanpa menimbulkan suara , tidak ingin mengagetkan Alessya yang ada di dalam ruangan itu. Berhasil , dia tidak mengagetkan Alessya ,tapi dia yang kaget luar biasa mendapati Alessya berdua dengan seorang pria.
Romeo tengah menyuapi Alessya makan sesuai permintaan Diana , sementara Diana dia pergi dulu ke luar untuk mengambil pakaian ganti Alessya.
__ADS_1
" Makan yang banyak , biar lekas sembuh " ujar pria itu lembut , sembari menyuapi Alessya , sesekali mengelap noda makanan yang menempel di bibir mungil gadis itu
" Perutku masih mual , Rom . " menolak suapan terakhir dari pria itu.
" Udah ... ,jangan ngeyel !! " paksa Romeo pada Alessya .Dia terlihat khawatir dengan kondisi Alessya yang semakin kurus semenjak perkenalan mereka.
" Tapi , aku... " sedikit manja menjawab ucapan Romeo.
Sebenarnya Alessya merasa tidak enak apabila harus disuapi oleh Romeo mengingat mereka belum terlalu kenal apalagi Romeo adalah calon atasannya nanti , tapi saat itu Romeo begitu memaksa membuat Alessya merasa tidak enak hati untuk menolaknya.
Arselli yang sudah membuka pintu dengan perlahan terpaksa melihat pemandangan itu, dimana Romeo menyuapi Alessya dengan begitu telaten , dan Alessya begitu penurut pada Romeo. Menimbulkan sedikit rasa cemburu di hatinya . Tangannya mengepal menahan rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya itu , sembari menatap tajam kedua orang yang berada di depan matanya itu.
Semudah itu kau berpaling Alessya , apakah karena pria ini kau begitu ingin mengakhiri hubungan kita ?
***
" Russel.. " Alessya memanggil Arselli ketika mendapati pria itu tengah berdiri di depan pintu yang sudah tertutup kembali. Dia sedikit kaget melihat kehadirannya di sana , apalagi pada saat moment yang tidak tepat , dia tengah berduaan dengan Romeo dan tengah menyuapinya.
" Bagaimana kabarmu ? " Beringsut menghampiri Alessya. Dia terlihat seperti menahan emosi di matanya. Menahan cemburu dan amarah yang datang bersamaan.
__ADS_1
" Ba- baik ... " dengan gugup menjawab pertanyaan Arselli yang tengah berjalan ke arahnya, sembari memberi kode kepada Romeo untuk berhenti menyuapinya. Dia sedikit ketakutan dengan tatapan Arselli yang tajam kepadanya. Apalagi melihat tangannya yang mengepal , selintas mengingatkan insiden malam itu saat di hotel , saat Arselli dikuasai oleh amarah yang hampir menguasai tubuh Alessya .Ya dia memang merindukan Arselli, tapi bukan yang seperti ini. Dia merindukan Arsellinya yang lemah lembut dan slalu perhatian padanya.
Romeo yang melihat Alessya yang begitu tegang dan ketakutan sedikit khawatir , apalagi setelah melihat Arselli duduk di samping Alessya dengan begitu posesif , seperti berusaha mengklaim pada Romeo atau siapapun yang melihatnya bahwa Alessya adalah miliknya.