
.
.
" Alessya ... "
Arselli berjalan menghampiri istrinya berada. Memperhatikan dengan begitu lama, seolah memastikannya bahwa wanita yang kini ada di hadapannya itu benar-benar istrinya, Alessya.
Berjalan perlahan mendekatinya. Mengikis jarak diantara mereka. Memeluknya kemudian dengan begitu erat dan lama.
" Russel ... "
Alessya hanya terdiam setelahnya, menerima pelukan itu walaupun keraguan masih terus menggelayutinya. Tangannya terdiam kaku tak membalasnya. Walaupun setengah hatinya bahagia karena bertemu dengannya, sebagian hatinya masih bertahan untuk menolaknya.
Selang berapa lama, dalam gerakan lambat Alessya membalas pelukan itu. Meraih kehangatan darinya yang selama ini dia dambakan dan dia rindukan.
Hana yang melihatnya akhirnya paham bahwa lelaki itu adalah suami Alessya.
" Ehem ! "
Suara deheman Hana terdengar cukup keras. Cukup menyadarkan mereka yang saat itu mendadak hilang ingatan. Yang melupakan keberadaan Hana di sana. Melupakan bahwa mereka tengah berada di tempat terbuka, berpelukan dengan erat dan lama dan bisa saja menjadi tontonan gratis bagi para tetangga.
Alessya tersadar seketika. Melepaskan pelukan itu lalu mendorong dada suaminya menjauhkan tubuhnya darinya.
" Maafkan aku. Masuklah ! Ini ... masih tempat umum dan sedikit terbuka. " Hana mengingatkan mereka yang tengah diliputi dengan kerinduan. Tersenyum manis menahan kikuk yang tengah dirasakan. Merasa tak enak mengganggu sepasang insan yang tengah 'sosonoan' alias melepas kerinduan yang terpendam.
Arselli berdehem memahami keadaan. Memilih diam saja tak berkomentar apa-apa. Hanya menatap saja dengan lebih dalam dan lebih lekat kepada wanita yang kini berada di hadapannya setelah begitu lama berpisah dengannya.
Sempurna !
Dua bulan tidak berjumpa, Alessya semakin cantik dan mempesona saja. Sepertinya hormon kehamilan menyebabkan aura kecantikan yang selama ini terpendam memancar dengan indahnya. Dan kini Alessya begitu luar biasa di matanya.
Sempurna !
Hanya kata itu yang mampu dia ungkapkan untuk menggambarkan kekagumannya. Kepada Alessya istri tercintanya, yang slalu mengisi fikirannya, ingatannya dan hatinya selama dua bulan ini.
" Masuklah ! Russel ... " Ucap Alessya dengan begitu lirih. Berjalan pelan mengikuti langkah Hana yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Keraguan menggerogotinya kala itu. Dia masih ingin marah namun tak bisa. Dia ingin membenci namun tak tega. Dia ingin mengusirnya namun sungguh dia tak kuasa.
Yang ada, hatinya diliputi keinginan untuk kembali bersama merajut kasih dan cinta, mengarungi samudera hidup bersama dalam suka maupun duka. Menyambut buah hati tercinta.
Walau kadang keegoisan seakan mengikutinya. Merasa tak rela jika harus semudah itu memaafkannya, berbaikan dengannya dan menyerahkan jiwa raganya.
Setidaknya Arselli harus berjuang meraihnya, merajut kembali cinta yang sempat terkoyak. Membuktikan cintanya dan menaklukkan hati Alessya. Alessya ingin Arselli memperjuangkannya dengan lebih keras dan berusaha dengan sebenar-benarnya.
__ADS_1
" Duduklah ! " Hana mempersilahkan mereka duduk di sofa sederhana di ruang tamunya. Kemudian dia berjalan ke arah dapur untuk menjamu tamunya.
Alessya duduk di salah satu sofa. Diikuti Arselli yang duduk tidak jauh darinya, tepatnya di hadapannya.
Menyodorkan dua gelas minuman berupa teh hangat untuk keduanya, Hana beringsut pergi meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
" Mengobrollah ! Aku akan memeriksa anak-anak terlebih dahulu. " Ucap Hana sembari berjalan ke arah kamar yang berjajar dimana anak-anak tengah tidur di sana.
Mereka cukup lama terdiam. Begitu kaku dan canggung untuk memulai pembicaraan.
" Bagaimana kabarmu ? " Akhirnya Arselli mengakhiri keheningan itu.
" Ba-baik. " Alessya menelan ludahnya membasahi mulutnya yang terasa kering saat itu.
" Selamat atas kehamilanmu. " Kalimat yang sebenarnya lebih cocok diungkapkan untuk dirinya sendiri.
Setidaknya bayi itu bisa menyelamatkan pernikahan mereka yang tengah di ujung tanduk, menyelamatkan cinta mereka yang hampir kandas. Menyelamatkan dirinya dari ditinggal pergi istrinya, Alessya. Bayi itu bak pengikat atau rantai bagi kaki Alessya yang hendak melangkah pergi meninggalkannya.
" Kau tahu ? Sejak kapan ? " Yang benar saja, bahkan dirinya sendiri baru saja tahu kehamilannya hari ini.
" Sudah lama, Alessya. Selama aku mencarimu, semua informasi tentangmu berdatangan padaku. " Sepertinya Alessya terlupa, mata-mata Arselli ada di mana-mana.
Alessya tersenyum kecut, tidak merasa aneh mendengarnya. Memangnya apa yang bisa dirahasiakan olehnya dari suaminya. Hal yang paling kecil pun tak pernah luput dari pengawasan suami posesifnya itu.
" Tapi kau terlambat mengetahui keberadaanku di sini. " Merasa puas mendapat celah untuk meledek Arselli.
Seperti pertengkaran terakhir kali. Arselli berhasil mengetahui rahasianya. Namun dia egois tak mengkonfirmasi kebenarannya pada Alessya. Hingga akhirnya Arselli mengurungnya, menjauhinya hingga menginap di hotel dan berakhir salah paham dengan hadirnya tamu wanita yang tidak terduga oleh mereka berdua.
" Kau salah paham padaku. " Arselli berniat untuk menjelaskan.
" Kau juga salah paham padaku. " Alessya membalasnya.
Arselli tersenyum mendengarnya. Mereka terdiam beberapa lama. Malam itu mendadak begitu hening tak seperti biasanya.
Arselli sungguh tidak ingin bertengkar. Namun sepertinya Alessya masih begitu marah padanya.
" Kau sudah tahu semua ini hanya kesalahpahaman saja ? " Arselli melanjutkan pertanyaannya.
" Hmm. " Jawab Alessya dengan begitu singkatnya.
" Kenapa kau tidak pulang, Alessya ? "
" Kau tidak mencariku. Aku fikir kau sedang bersenang-senang dengan wanita itu. " Arselli mengernyitkan dahinya. Berarti Alessya masih salah paham padanya
" Kau salah paham, Alessya ... " Arselli belum menyelesaikan kalimatnya, Alessya sudah langsung memotong ucapannya.
__ADS_1
" Aku tahu ! " Potong Alessya ketus.
" Sejak kapan ? " Arselli penasaran.
" Baru saja. " Alessya masih ketus padanya.
Arselli menatap Alessya, lebih dalam dan lekat. Tersenyum, kemudian bangun dari duduknya berjalan mendekati Alessya dan berjongkok di hadapannya.
" Baru saja ? " Arselli meraih tangan Alessya dan menggenggamnya. Alessya samasekali tidak menolaknya.
" Hmm. " Alessya menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana bisa ? " Heran mendengarnya.
" Bayi ini tidak ingin aku salah paham lagi padamu. " Jawab Alessya sekenanya. Membuat Arselli tersenyum mendengarnya.
" Dia sepertinya senang, karena kau datang untuk mencarinya. "
Sepertinya Alessya tengah merajuk pada Arselli, menggunakan bayi yang dikandungnya sebagai alasannya.
Baiklah, setidaknya istrinya tidak salah paham lagi padanya. Tidak perlu banyak lagi bicara, besok dia akan mengajak Damian dan Emma untuk bertemu dengan Alessya dan menjelaskannya.
" Aku ... sangat merindukanmu. Kapan kau akan pulang ? " Alessya hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.
Sabar ... sabar ....
" Bolehkah aku menginap di sini ? " Arselli bertanya lagi. Tekadnya sudah bulat untuk memperjuangkan Alessya. Bagaimanapun dia menolaknya.
Alessya hanya menggelengkan kepalanya. Arselli lalu mengecup lembut tangan istrinya.
" Kenapa ? " Arselli bertanya setelah beberapa lama.
Lagi-lagi Alessya hanya terdiam, membuat Arselli putus asa karenanya. Beringsut berdiri dan berjalan untuk duduk di sofa tadi. Langkahnya terlihat begitu lunglai dan gontai. Percayalah kelelahan ini, sepertinya sudah mencapai puncaknya.
Hati kecil Alessya mencelos. Mendapati gurat sedih dan putus asa di wajah suaminya. Baiklah ..dia akan mencoba memberi kesempatan kedua.
" Russel ... " panggilnya lirih. Arselli hanya menoleh padanya , tiada lagi semangat di matanya.
" Datanglah besok , apa kau bisa ? "
.
.
.
__ADS_1
π Bersambung ... π
Jangan lupa like, rate , dan koment ya ...