Lola And Loly

Lola And Loly
Perangkap Jahat


__ADS_3

Sembari berlari akhirnya tangisan Alessya yang sedari tadi dia tahan meledak juga . Meraung cukup keras dalam keramaian pasar cinderamata. Dia tidak berlari ke toilet , melainkan berlari menuju pintu gerbang keluar tempat pariwisata itu. Menuju sahabatnya Meera yang jelas membutuhkannya , meninggalkan Arselli yang tengah melupakannya karena begitu asyik bertemu dengan mantan kekasihnya yang begitu cantik dan mempesona itu.


Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya menetes juga .Untuk ke sekian kalinya Arselli telah menorehkan luka di hatinya. Apakah dia sengaja atau tidak sengaja , dia samasekali tidak mengerti. Apakah menyakiti hati Alessya sudah menjadi salah satu hobby baginya , dengan tanpa sadar sekalipun. Ataukah karena dirinya begitu lembek , karena selalu terbawa perasaan dan begitu mudah untuk memaafkan kesalahannya yang menyakiti hatinya.


Mengenai Clara , Alessya mengerti karena hubungan mereka lebih karena perjodohan yang diatur oleh ibunya. Tapi , sekarang Elliana ,bukankah sudah jelas Arselli bahkan marah padanya karena tidak sengaja memecahkan barang pemberian Elliana. Bukankah itu sudah membuktikan arti penting wanita itu bagi Arselli .


Alessya benar - benar kecewa kali ini. Kekecewaannya benar - benar tidak tertahankan. Dia sadar mungkin dirinya belum begitu berarti bagi Arselli. Dengan tekad yang bulat dan niat yang kuat , dia memutuskan sesuatu hal yang mungkin saja suatu saat dia sesali , tapi setidaknya dia merasa puas untuk saat ini , sekedar membalas rasa sakit di hatinya.


Baiklah, aku akan pergi dari kehidupanmu . Jangan pernah berharap kau bisa bertemu denganku lagi. Alessya menggeram kesal sembari mengepalkan telapak tangannya.


***


Setelah beberapa lama asyik maksuk dengan Anna atau Elliana , Arselli tersadar dengan keberadaan Alessya. Matanya berkeliling mengitari sekitar , mencari keberadaan Alessya . Sebenarnya tidak terlalu lama juga dia mengobrol dengan Elliana , hanya sekitar lima belas menit sudah berlalu saat itu. Menurutnya tidak berlebihan mengobrol dengannya bukankah dilakukan di depannya itu lebih baik daripada dilakukan sembunyi - sembunyi. Menandakan tidak terjadi apa - apa diantara mereka , hanya sekedar mengobrol biasa.


Masih belum menyadari kepergian Alessya dari tempat itu. Romeo akhirnya angkat bicara setelah tahu bahwa Arselli mencari keberadaan Alessya.


" Kau mencari Alessya ? " tanyanya tiba - tiba , setelah Anna berdiri tepat di sampingnya menandakan obrolan mereka sudah selesai.


" Oh ya , kemana dia ? " semburat cemas tampak di wajahnya , degub jantungnya mulai terasa tidak beraturan , perasaannya benar - benar tidak enak kala itu.


" Entahlah , beberapa menit lalu dia bilang pergi ke toilet. Tapi setelah aku menyusulnya , dia samasekali tidak ada di sana. " Tampak gurat cemas memenuhi wajah Romeo juga kala itu.


" Sepertinya , dia marah padamu ." berbisik pelan tidak ingin terdengar Elliana.


" Dia tadi bertanya padaku , apakah Anna itu Elliana ? "


Arselli tertegun dengan penuturan Romeo , sepertinya Alessya sudah salah paham dan cemburu buta tadi. Menyesali dirinya sendiri yang tidak menjaga perasaan Alessya . Mencemaskan Alessya yang telah pergi entah kemana. Tapi kemana dia pergi ? Itu yang dia cemaskan saat ini. Merogoh ponsel yang dia simpan di saku celananya , berkali - kali dia mencoba menghubungi Alessya , namun hasilnya nihil Alessya samasekali tidak mengangkat panggilan , padahal ponselnya jelas tidak mati dan panggilannya terhubung kala itu.


Seperti ucapan Romeo yang mengatakan bahwa Alessya tadi hendak pergi ke toilet , Arselli menghambur untuk menyusulnya , namun Alessya tidak ada di sana juga.


Bodoh !!! Geramnya pada dirinya sendiri.


Beberapa lama mereka mencari hingga menjelang malam, tetapi tak kunjung juga ditemukan .Arselli mencoba melakukan panggilan telfon lagi namun tidak diangkat. Romeo yang ikut - ikutan panik dan cemas , mencoba melakukan panggilan juga kepada Alessya . Dan akhirnya dalam satu kali mencoba akhirnya tersambung....

__ADS_1


" Romeo.... " jawabnya pelan terbata di balik telfon itu.


***


Alessya menghentikan taksi yang dia tumpangi di depan sebuah rumah tua berukuran besar , sesuai dengan alamat yang dikimkan Meera padanya melalui pesan singkat ke ponselnya. Keraguan melingkupinya kala itu , padahal hari sudah menjelang malam kala itu , tapi dia begitu nekad mendatangi tempat asing yang samasekali tidak pernah dia datangi , dengan tujuan menolong Meera.


Apalagi tempat itu begitu sepi jauh dari mana - mana , jika terjadi sesuatu padanya , walaupun teriak sekencang apapun tidak akan ada yang datang untuk menolongnya. Karena begitu jauh dan mungkin tidak akan terdengar oleh orang lain.


" Apakah anda yakin ini tempatnya ? " tanyanya pada supir taksi itu.


" Sesuai dengan yang tertera di ponsel , nona ." jawabnya dengan begitu meyakinkan.


" Baiklah , terimakasih. "


" Berhati - hatilah , nona. Tempat ini begitu sepi , sebaiknya anda menghubungi seseorang untuk menemanimu. " supir taksi itu terlihat mengkhawatirkannya.


Bodoh ! seharusnya aku meminta tolong pada Romeo tadi.


" Benar . Terimakasih . " jawabnya terbata , beringsut turun dari taksi , berdiri tepat di pintu gerbang rumah tua itu.


Sudah sedari tadi kau menelfon ku , apakah kau sudah menyadari penyebab kepergian ku ? Alessya menatap layar ponselnya.


Mengendap - endap semakin masuk ke halaman rumah itu yang cukup besar dan dipenuhi dengan batangan kayu tua beserta drum - drum berkarat. Dia mulai mencurigai sesuatu , ketika mendengar suara teriakan beberapa pria dari dalam rumah tua itu.


Lagi - lagi ponselnya bergetar , sebenarnya dia sangat takut kala itu , namun kemarahan dan rasa gengsi menguasainya kala itu. Dia mencoba menahan sekuat hati untuk tak sekalipun mengangkat panggilan dari kekasihnya untuk ke sekian kali , walaupun saat itu dia sangat ingin melakukannya.


Ayolah Alessya apakah rasa gengsimu lebih penting dari keselamatanmu ?


Baiklah dia mencoba mengalah dengan keadaan , nyawanya lebih penting bukan . Saat dia akan mengangkat panggilan itu , pintu rumah itu terbuka , dia harus bersembunyi terlebih dahulu. Beringsut berlari mengendap mencari tempat aman di sekitar rumah itu.


Apakah Meera benar - benar ada di dalam , kenapa perasaanku begitu tidak enak ?


Alessya berjongkok di balik pohon , dia mengecek ponselnya kembali . Panggilan dari Arselli sudah terhenti . Dia tidak bisa melakukan panggilan keluar , karena pulsanya sudah habis .

__ADS_1


Dasar bodoh , dasar kere !!! gerutunya pada diri sendiri.


Dia tidak mungkin kembali pulang , dia sudah terlanjur masuk ke area itu , dan saat pintu terbuka tadi seorang pria keluar dari rumah itu dan berjaga di pintu gerbang. Sepertinya , kata mundur sudah tidak bisa dilakukan lagi ,misi dan instingnya kali ini bukan hanya untuk menyelamatkan Meera melainkan dirinya sendiri. Nyawanya benar - benar terancam kali ini.


Syukurlah beberapa saat kemudian , panggilan dari Romeo masuk. Ponsel nya tidak berbunyi karena sudah disetting silent , hanya layar ponsel yang terlihat berkedip.


Romeo ??


Menerima panggilan itu dengan segera , saat ini dia benar - benar ketakutan dan sangat membutuhkan pertolongan , siapapun itu dia tidak peduli. Dia benar - benar ingin selamat , bahaya benar - benar ada di depan matanya.


" Romeo.... " jawabnya pelan dengan terbata ,terhenti sesaat , karena ada suatu pergerakan di sekitarnya.Tidak ingin suaranya terdengar oleh pria yang tadi berdiri di gerbang depan tadi. Walaupun terlihat jauh , tapi dia sangat cemas , ada orang lain lagi di sana . Karena suara teriakan yang terdengar dari dalam rumah tadi terdengar cukup banyak , kemungkinan bisa saja salah satunya tengah berkeliling di halaman rumah untuk mencarinya.


" Alessya .. kau di mana ? " tanya Romeo dengan begitu khawatir , apalagi mendengar suara Alessya yang begitu ketakutan.


" Tolong aku !! " sedikit berteriak terdengar hampir menangis di telinga Romeo.


" Apa yang terjadi ? " Teriak Romeo , mengalihkan perhatian Arselli yang tengah menatap layar ponselnya . Arselli akhirnya tahu bahwa Alessya sedang dalam bahaya saat ini.


" Aku kirimkan alamatnya padamu. Aku mohon tolong aku !! " Bisiknya di balik telfon dengan nada memelas. Dia tengah benar - benar menangis dan ketakutan saat itu.


Belum menyadari sudah ada seorang pria yang berdiri di belakangnya , melangkah pelan dan pasti ke arahnya . Alessya membalikkan badannya ke sumber suara ketika suara ranting kayu yang terinjak terdengar jelas di belakangnya. Kaget setengah mati mendapati seorang pria tinggi besar tengah berdiri tegak , Alessya melotot karena begitu kaget dan histeris.


Bugh !!


" Ahh... " jerit Alessya kencang mungkin akan terdengar oleh Romeo dari balik telfon, karena panggilan telfonnya belum terputus.


Brukk. Alessya terjatuh , terbaring di tanah.


Kepala Alessya dihantam sebongkah kayu oleh pria itu hingga terkapar pingsan.


" Alessya... Alessya... !! " teriak Romeo.


" Apa yang terjadi ? Alessya !! " kali ini suara Arselli yang terdengar berteriak.

__ADS_1


Ponsel yang tergolek di tanah diambil oleh pria itu sembari menyeringai mengerikan. Merasa puas misi awalnya telah berhasil.


__ADS_2