Lola And Loly

Lola And Loly
Akhir Bahagia


__ADS_3

" Ibu .. Aku datang. " Ucap Dean Allacy Russel si bocah tampan dan berkharisma.


" Maafkan aku ibu, aku baru datang setelah sekian lama. " Ucap Daleel Allacy Russel yang slalu menunjukkan keceriaan di wajah tampannya itu.


" Terimalah bunga ini, Ibu. Sebagai tanda cinta kasihku. " Ucap Daanish Allacy Russel si tampan nan pintar dan berwibawa.



Seorang wanita dengan perut buncit tiba-tiba datang dan berdiri di belakang mereka. Membawa seikat bunga mawar putih di tangannya. Mendengar celotehan itu dengan wajah kesal terukir di sana. Dia sedikit terlambat tadi, karena mendadak mendapat panggilan telfon dari seseorang.


Arselli mengulum senyum mendengar celotehan lucu dari bibir mungil tiga jagoannya itu. Tidak menyangka, selain gen tampan yang begitu dominan, serta kecerdasan yang tiada kentara yang berhasil dia turunkan dengan begitu sempurna tanpa terlewatkan sedikitpun.


Justru gen isengnya yang lebih jelas tampak dan muncul pada tiga putra tampannya itu. Dan jelas objek keisengan itu tiada lain adalah ...


" Ya !! Itu adalah kalimat yang biasa diucapkan olehku saat berkunjung ke sini. Mengapa kalian menirunya ? " Alessya menjitak kepala tiga jagoan tampannya itu dengan jari tangannya.


Menghukum fotocopy-an Arselli versi kecil hasil maha karya Tuhan yang begitu sempurna. Dan mereka adalah anak-anaknya. Yang ia kandung dulu selama delapan bulan lebih dengan berbagai masalah yang mengikuti proses kehamilan dan kelahirannya.


" Mommy ... " Dean salah satu dari anak itu mencebik sembari mengusap kepalanya yang sakit setelah mendapat jitakan yang cukup menyakitkan itu.


Dia membalikkan badannya seketika, menghadap ke arah Mommy-nya dan memancarkan bola mata memelas pada Daddy-nya yang berdiri tidak jauh darinya, berharap mendapat perlindungan dari sana.


Dan Arselli hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya. Lepas tangan, tatkala singa betina mulai bertindak turun tangan menghukum anak-anaknya yang lumayan nakal dan slalu iseng itu.


Sementara Daanish Dan Daleel lebih memilih diam sembari tak lupa mencebikkan bibir imutnya ke arah Mommy dan Daddy-nya yang tidak pernah membelanya saat Mommy-nya memarahi mereka.


Arselli menghampiri istrinya yang tengah hamil besar itu. Berusaha menenangkannya, yang akhir-akhir ini slalu mudah tersulut emosi dengan ulah keisengan ketiga jagoannya. Hasil cinta dan buah keringat malam mereka.


Membawanya dalam pelukan hangatnya, mengusap punggungnya dengan begitu lembut, mengalirkan cinta dari hati yang paling dalam. Sampai detik ini, Alessya sukses menjadi ratu di dalam hati dan kehidupannya.


" Daddy, mengapa kau slalu memeluk Mommy jika mommy memarahi kami ? " Tanya Daanish dengan begitu polosnya.


" Bukannya seharusnya kau memeluk kami ? " Kata Daleel menimpali.


" Ya, itu benar Daddy. " Dean ikut menimpali juga, tak ingin diam saja ketika melihat ketidak adilan yang begitu jelas di depan matanya.


Arselli tersenyum mendengarnya. Anak-anaknya ini benar-benar luar biasa.


" Karena, apapun yang terjadi, Daddy akan memeluk Mommy kalian. Begitupun kalian, harus melakukan itu saat dewasa nanti. Jadilah pelindung bagi Mommy. Ok ? "


Dengan bola mata yang berbinar mereka mendengarkan ucapan Daddy-nya itu. Menyimpan dalam memory otaknya yang paling dalam. Betapa Arselli menginginkan Arselli-Arselli junior itu menjaga, menghormati dan menyayangi Alessya apapun yang terjadi nanti.


Merekapun mengangguk mengerti.


" Anak-anak pintar. " Arselli mengelus rambut mereka secara bergantian.


" Kau jangan terlalu keras pada mereka. Ibu bisa marah jika mengetahuinya. " Bisik Arselli pada istrinya.


" Ibu terlalu memanjakan mereka. " Jawab Alessya saat itu.


Sedikit menghela nafas, tatkala menyadari bahwa dirinya telah melewatkan masa pertumbuhan anak-anak itu. Karena selama ini Ny. Alice mengambil alih kepengurusan anak-anak itu dengan mengirim beberapa baby sitter berkompeten ke rumah mereka. Belum lagi sikapnya yang slalu memanjakan mereka secara langsung.


Belum lagi Ny. Alice yang slalu mempromosikan cucu-cucunya hingga mereka berhasil menjadi bintang iklan susu formula bersama Mommy-nya Alessya. ( Terjawab ya, ngidam Alessya yang ingin menjadi aktris film laga terpenuhi tatkala mereka menjadi bintang iklan produk untuk bayi dan balita. Dan itu semua dengan dukungan Ny. Alice tentunya. Karena untuk menjadi aktris film laga, Arselli dengan tegas menolaknya. )

__ADS_1


" Sudahlah, kau jangan sampai stres. Mereka hanya bercanda tadi. " Arselli tertawa sembari mengelus perut buncit Alessya. Tertawa menyadari bahwa ketiga buah hatinya benar-benar memiliki hobby yang sama dengan dirinya yaitu menggoda seorang wanita yang bernama Alessya.


" Pokoknya, untuk bayiku yang satu ini, aku yang akan mengurusnya sendiri, Russel. " Sembari mengelus perutnya sendiri.


" Kau yakin ? Kau jangan melupakan aku, Sayang ! Aku membutuhkanmu di atas ranjang. " Bisik Arselli kemudian, dibalas cubitan oleh istrinya diperutnya.


Alessya lalu berjalan menghampiri batu nisan ibunya, Ny. Rossie. Mengusap batu itu dengan tangannya.


Berdoa di sana dengan khusu dan setulus hati. Dan mengucapkan kalimat yang sudah berhasil dihafal dengan begitu sempurna oleh ketiga jagoannya. Kalimat yang slalu Alessya ucapkan saat berkunjung ke sana bersama Arselli dan ketiga anak-anaknya.


" Ibu .. Aku datang. "


" Maafkan aku ibu, aku baru datang setelah sekian lama. "


" Terimalah bunga ini, Ibu. Sebagai tanda cinta kasihku. " Menyimpan satu ikat bunga mawar putih yang dia bawa tadi. Bersamaan dengan beberapa ikat bunga yang sudah sedari dulu diletakkan oleh suami dan ketiga putranya.


" Baik-baiklah kau di sana, Ibu. "


Ucap Alessya saat itu. Dan kini, Arselli dan tiga jagoannya yang mengulum senyum setelah mendengarnya.


" Daddy ... mengapa Mommy tidak pernah mengganti kalimatnya jika berkunjung ke sini ? " Tanya Dean berbisik pada telinga Daddy-nya itu dengan begitu polosnya. Sukses membuat Arselli tersenyum seketika.


" Hush !!! " Arselli menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Meminta mereka untuk diam dan tak banyak berbicara. Apalagi, saat ini Alessya mulai menangis mengenang ibunda tercintanya di depan pusaranya.


" Kita ikut berdo'a untuk Grandma. " Lanjut Arselli menuntun anak-anaknya untuk mendo'akan neneknya.


***


" Kau yakin anak kita perempuan ? " Arselli bertanya pada istrinya yang sedang duduk santai di sofa di kamarnya.


Arselli sangat senang sekarang, anak keempat yang kini sedang dikandung istrinya ternyata berjenis kelamin perempuan.


Dia merasa lega, akhirnya akan ada Alessya junior walaupun itu berarti secara tidak langsung dia menyambut riang kedatangan si singa betina junior.


Kehamilan kedua Alessya tidak sesulit dan serumit kehamilan pertamanya. Walaupun awalnya mendapat tentangan keras dari Arselli saat Alessya tiba-tiba hamil setelah diam-diam melepas alat kontrasepsinya.


Pencerahan dokter yang mengatakan kandungan dan kondisi badan Alessya baik-baik saja berhasil menenangkannya.


" Hmm. Anak kita perempuan, Russel. " Jawab Alessya sembari tersenyum.


" Syukurlah. Akhirnya ada Alessya junior dalam kehidupan kita. " Mengelus perut istrinya. Pandangan Arselli sedikit berkabut. Mengenang proses kelahiran si kembar tiga yang begitu dramatis dan menyesakkan.


Lima tahun lalu ...


Tanpa menghiraukan ketiga bayinya yang ada di sana, yang tengah menangis berharap sambutan dari orang tuanya. Arselli sungguh mengabaikan mereka bertiga, berjalan perlahan menatap Alessya, mendekati istrinya tercinta, yang kini tengah terbaring kaku di atas ranjang yang ada di sana.


Alessya terkulai lemas, pucat dan matanya terpejam rapat. Entah apa yang terjadi padanya. Kematian kah ?


Arselli duduk bersimpuh di hadapannya. Menangis dan meraung, menghadapi kenyataan yang terasa begitu pahit di hadapannya ini.


" Alessya ... bukankah kau berjanji padaku untuk tetap hidup, huh ?! " Ujar Arselli di sela tangisnya kala itu. Hilang sudah rasa gengsi menangis di depan orang lain. Para dokter dan perawat bahkan masih ada di sana. Membersihkan si kembar yang masih merah itu.


Hari ini menjadi saksi bukti, bahwa tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Segala sesuatu sudah diciptakan dengan pasangannya.

__ADS_1


Ada Arselli, ada Alessya


Ada sedih, ada bahagia


Ada kelahiran, ada kematian


Dan Arselli tidak menyangka ... hal ini terjadi dalam hidupnya.


Namun ... ternyata semua fikirannya itu salah. Arselli terlanjur terbawa perasaan dan emosi saat itu.


Karena tiba-tiba ...


Seseorang menepuk bahunya untuk mengingatkannya. Dan membisikkan sesuatu di telinganya.


" Jangan berlebihan ! Istrimu masih hidup Arselli. Dia hanya belum sadar dari pengaruh anastesinya. " Ucap orang itu yang akhirnya Arselli sadari adalah dr. Edward yang juga ikut dalam proses operasi itu.


.


.


.


" I love You ... " Ucap Arselli malam itu. Mengecup bibir istrinya yang masih saja terasa manis itu.


" I Love You too ... " Jawab Alessya. Melingkarkan tangannya di leher suaminya. Alessya memagut bibir Arselli dengan begitu lembut namun berakhir kencang dan berlangsung lama.


Jika di kehamilannya dulu, mereka bahkan berpuasa untuk bercinta. Di kehamilan kali ini, Alessya bahkan lebih agresif dari sebelumnya. Hasratnya begitu besar dari biasanya. Dan Arselli, slalu dengan senang hati melayaninya.


.


.


.


.


πŸ’ž TAMAT πŸ’ž


.


.


Jangan lupa like, rate dan koment untuk terakhir kali ya ...


Terimakasih karena telah mendukung-ku untuk terus melanjutkan menulis karya ini yang abal-abal dan butiran debu.


Terimakasih karena telah membaca sampai akhir.


Semoga kebahagiaan dan kesuksesan menyertai kalian.


Love you All ... 😘😘😘


Bonus picture 😍😍

__ADS_1



__ADS_2