Lola And Loly

Lola And Loly
Sisi Liar ( 1 )


__ADS_3

Alessya mengelap dengan telaten semua meja di kafe tempatnya bekerja. Setelah dua jam lalu dia tiba lebih awal dari jadwal kerja yang ditentukan. Sepulang dari apartement dia langsung pergi ke J-Cafe , tempatnya bekerja. Akan ribet , memakan lebih banyak waktu dan ongkos apabila harus pulang dulu ke kontrakan.


Jika sebelumnya dia akan meminta Diana untuk menemaninya atau sekedar jalan - jalan sebentar untuk mengisi waktu luang sepulang kuliah, tapi sekarang dia seperti tidak ada tempat untuk kembali , tiada yang menemani , semuanya seakan pergi dan menjauh.


Tanpa terasa air mata menetes di pipinya , jika sebelumnya dia selalu kuat dengan masalah apapun yang menimpanya, karena selalu ada seseorang yang di sampingnya .Tapi sekarang semuanya sirna , sahabat dan kekasihnya mengabaikannya begitu saja. Bahkan setelah beberapa kali mengecek ponselnya, tak ada satupun panggilan telfon atau pesan dari kekasihnya itu.


Nama Elliana terngiang jelas di fikirannya menimbulkan tanda tanya besar di benaknya. Apa hubungan mereka ? Sejauh mana hubungan mereka ? Apakah mereka masih berhubungan .


Menjelang malam Alessya bersiap untuk pulang , setelah setengah hari ini dilaluinya terasa begitu panjang , melelahkan dan membosankan.Lelah mungkin lebih terasa karena kala itu fikirannya tengah bekerja keras menjawab semua pertanyaan yang muncul di benaknya dan semuanya tentang Elliana , Arselli dan Diana.


" Beres ... " melemparkan lap pada ember kosong yang tersedia.


" Kau sudah mau pulang ? " Tampak Meera telah berdiri di balik punggung Alessya .


" Hmm.." menegak air minum yang tersisa di botol air minumnya. Membalikkan tubuhnya menghadap Meera , menyandarkan bokongnya ke meja yang ada di dekatnya.


" Meera , kau kenapa ? " kala mendapati teman seperjuangannya dalam mencari rupiah tampak menangis tersedu - sedu.


" Alessya , maukah kau menolongku ? " Meera meminta tolong pada Alessya sembari menangis , dengan penuh bercucuran air mata.


***


Arselli dan asistennya Henry ,tengah menghadiri pertemuan dengan salah satu klien internasionalnya , yang entah kenapa malam ini pertemuan itu dilakukan di sebuah Club malam terkenal di kota ini.


" Kenapa harus di tempat seperti itu, Henry !!"


" Entahlah Tuan muda , mungkin sekalian bersenang - senang ."


Obrolan yang terjadi sebelum mereka tiba di Club malam itu , Club malam Cassanova.


" Semoga kerjasama kita akan membuahkan hasil Mr. Arselli ." ujar seorang pria yang duduk di hadapan Arselli di salah satu ruangan VVIP Club itu , sembari menghisap cerutunya dengan beberapa botol minuman yang sudah tersaji di atas meja.


" Tentu saja . " Tampak enggan menanggapi , tak ingin tertalu lama duduk di tempat keramaian seperti ini , dengan suara musik yang nyaring menggema , serta bau alkohol dan asap rokok yang menyeruak menjadi polusi udara di sekitarnya.


Mereka berjabat tangan sebagai simbol kerjasama , dan beberapa saat kemudian Arselli dan asisten Henry memilih untuk melenggang pergi dari tempat duduknya , meninggalkan rekan bisnisnya itu untuk bersenang - senang dengan beberapa rekannya yang lain.


Mereka berdua melangkah cepat dan besar menuju pintu keluar yang masih berada jauh dari tempat mereka berhenti sekarang , langkah mereka terpaksa berhenti ketika terdapat sebuah kekacauan di sana.

__ADS_1


Mereka tidak tahu pasti dengan apa yang terjadi , karena banyaknya orang yang bergumul menghalangi jarak pandang mereka .Hanya selentingan ocehan yang sampai di telinga mereka , dari mulut - mulut pengunjung yang berbau alkohol itu.


" Pria itu benar - benar menyebalkan . "


" Kasihan gadis itu. "


" Gadis itu hebat !! "


" Pria brengsek !! "


Tampak tidak dihiraukan samasekali oleh Arselli , tapi seketika dahinya mengernyit ketika ocehan salah satu pengunjung terdengar dan cukup menarik attensinya kali ini.


" Ayo , Alessya hajar pria brengsek itu !!! ." terdengar riuh disertai teriakan dan tepuk tangan.


" Alessya .." Arselli mengulang nama yang didengarnya , kenapa kebetulan sekali menemukan nama yang sama saat moment seperti ini. Dia membuang jauh fikiran itu , tidak mungkin Alessya gadisnya yang polos dan lugu itu berada di tempat seperti ini.


Tapi melihat dan mendengar keriuhan semakin kentara , rasa penasaran mulai mencambuk hatinya , mendorong kakinya untuk maju melangkah ke depan. Asisten Henry yang berada di sampingnya sempat ingin menahannya , ingin mengingatkan agar tidak terlibat jauh dalam hal seperti ini. Tapi, karena rasa penasaran pun menghantuinya kala itu , pria itu hanya diam mengikuti langkah kaki bosnya itu .


Arselli terkejut melihat pemandangan itu. Seorang gadis dengan tubuh tinggi , dengan ikal di ujung rambut panjangnya , memakai kaos t shirt berwarna gelap dan sebuah jaket melapisi badannya, tampak celana jeans ketat menempel di kakinya memperlihatkan bentuk tubuh gadis itu yang seksi , walaupun kurus pinggul dan bokongnya terlihat begitu menggoda. Mengingatkannya pada seseorang , bila dilihat dari postur tubuhnya yang terlihat dari belakang itu. Tapi lagi - lagi dia menyangkalnya dengan keras.


Bugh !!


Gadis itu bersalto menendang seorang pria yang kata orang -orang brengsek itu hingga ambruk tidak berdaya. Melangkah pelan merangkum wajah pria di bawahnya dengan telapak tangannya dan lutut sang gadis yang menekan kaki pria itu , sehingga terkunci diam tidak berkutik.


Gadis itu terlihat hebat di mata Arselli ,diam - diam sedikit mengagumi di lubuk hatinya.


" Brengsek kau !! Awas jika kau mengganggu temanku lagi." Teriak gadis itu sembari menghempas keras wajah pria brengsek itu, yang suaranya sedikit tidak asing di telinga Arselli , masih ragu menebaknya dengan hingar bingar musik yang menyamarkan suara itu.


Gadis hebat itu berdiri menggapai teman perempuannya yang tengah tergolek di lantai tidak berdaya dengan air mata yang terus bercucuran di matanya , sembari mengalungkan tas kecilnya yang terhempas kala berkelahi tadi.


" Bangunlah , maafkan aku , seharusnya aku tidak menunggu di luar . " Kata gadis hebat itu , sembari memapah temannya berjalan tepat ke arah Arselli berada.


Manik mata mereka bertemu , ketika kedua gadis itu semakin berjalan mendekat ke arah Arselli berada. Tampak terkejut bukan kepalang kedua insan itu.


" Alessya.... " Arselli terpukau ternyata gadis hebat itu adalah kekasih kesayangannya , yang polos dan lugu itu.


" Russel.... " terlihat senang mendapati Arselli berada di sana , di saat sulit seperti itu. Tapi , raut wajahnya berubah seketika.

__ADS_1


Tidak , aku sedang marah padamu !!!


Berlalu pergi meninggalkan pria itu yang masih diam termangu di tempatnya berdiri. Asisten Henry tampak tersenyum , ternyata kekasih bosnya itu benar - benar luar biasa.


Alessya pergi meninggalkan keriuhan dan kehebohan di Club malam itu. Seorang gadis cantik memberi pelajaran kepada seorang hidung belang di Club malam itu.


Selentingan obrolan keluar dari mulut mereka ada yang memuji , mencibir sok alim dan sebagainya .Bahkan banyak pria yang bersiul diantaranya. Melihat Alessya yang cantik dan terlihat begitu tangguh , dengan bentuk tubuh yang lumayan molek dan aduhai.


Bahkan sebagian ada yang dengan berani mengulurkan tangannya pada gadis itu , sekedar untuk berkenalan ataupun mengajaknya berkencan di lain waktu. Arselli yang masih berdiri di belakangnya hanya bisa melihat pemandangan itu .


Perasaan cinta dan kagum campur aduk dirasakannya. Kekesalannya akan pot keramik yang sempat mengingatkan kembali perasaan pada sang mantan kekasih urung mendominasi hati dan fikirannya.


Alessya memang luar biasa selalu luar biasa di mata dan hatinya , walaupun belum seutuhnya bisa menggantikan posisi Elliana. Wanita yang dulu selalu mengisi hari harinya menjadi ratu di hatinya.


***


Alessya setengah berlari melangkah meninggalkan Club malam itu. Sedikit menyesali perbuatannya tadi , sok berani menjadi wonder woman. Sebenarnya ketakutan menyelimuti hatinya kala itu , khawatir pria itu akan membalas dendam padanya.


Tapi , mau bagaimana lagi dia tidak rela membiarkan temannya dilecehkan di tempat umum , bahkan oleh kekasihnya sendiri.


" Bagaimana bisa kau berpacaran dengan pria seperti itu , Meera. " Terus berjalan menjauhi Club malam yang berhalaman luas itu , sembari mencari taksi untuk pulang.


" Aku sudah ingin putus dengannya , Alessya. Aku terpaksa datang ke sini karena dia slalu memerasku. " Meera beralasan.


" Maafkan aku , karena tadi tidak mau ikut ke dalam. " Menyesal membiarkan Meera pergi ke dalam sendirian. Alessya memang belum pernah pergi ke tempat seperti ini , saat Meera mengajaknya ke tempat ini , dia benar - benar ragu dan takut.


" Tapi kau datang juga.Aku sungguh berterima kasih padamu." Ya untunglah Alessya menerobos masuk melawan rasa takut di hatinya, mengingat Meera tidak keluar setelah jeda waktu yang dijanjikan kepada Alessya.


" Jika dalam setengah jam aku tidak keluar , tolonglah aku. " Ujar Meera sebelum masuk ke dalam Club saat itu.


" Kau benar, aku akan sangat menyesal nanti , bila terjadi sesuatu padamu. "


" Kau hebat Alessya , aku tidak menyangka ternyata kau pandai bela diri. " terkekeh mengingat aksi Alessya tadi bak di film laga.Alessya terkekeh malu sendiri.


Langkah mereka terhenti ketika Alessya melihat sebuah mobil yang dia yakini sebagai mobil kekasihnya .


Dimana dia ? Kenapa tidak menyusulku , apakah dia benar - benar tidak peduli padaku ?

__ADS_1


__ADS_2