
Siang itu , hanya mereka berdua di ruangan beraroma obat itu. Romeo akhirnya keluar dari ruangan setelah Alessya memintanya dengan setengah memelas tadi , tak ingin ada pertengkaran ataupun perkelahian. Walaupun dengan berat hati Romeo melangkahkan kakinya ke arah pintu , menuju lorong di rumah sakit itu. Berdiri di dekat pintu dia menyandarkan punggungnya di tembok. Memendam sedikit rasa kecewa di hatinya.
Arselli menatap tajam gadis yang tengah duduk di hadapannya itu, tatapan yang penuh dengan tanya dan interogasi. Alessya berusaha berpaling dari tatapan itu , menghindari tatapan tajam itu.
" Siapa dia ? " tanya Arselli pada Alessya.
" Dia Romeo . " jawabnya gugup sembari menundukan wajahnya menatap jari tangannya yang saling berpilin bertautan.
" Kamu Julietnya ? " tersenyum sarkastik pada Alessya tangannya terjulur membelai lembut rambut Alessya , menyelipkan rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga gadisnya.
" Hah ? " Alessya terperanjat refleks wajahnya terangkat menatap Arselli . " Maksudnya ? "
belum juga mulutnya tertutup Arselli langsung tertawa melihat reaksi Alessya sehingga gadis itu mengernyitkan dahinya.
" Dia Romeo kamu Juliet ! " jawabnya sinis , walaupun bibirnya masih tersenyum Alessya tahu bahwa pria ini tengah menyindirnya .
" Jelas - jelas kamu yang bertunangan dengan perempuan lain !! " ketusnya sembari mencebik. Tangannya refleks memukul tangan Arselli yang berada tidak jauh di dekatnya.
" Serius Alessya, dia pacar baru kamu ? " tanyanya mengintimidasi berusaha memastikan apakah gadis pujaannya semudah itu berpaling darinya. Memalingkan hatinya untuk pria lain , padahal hubungan mereka baru berakhir satu Minggu yang lalu fikirnya.
" Kalo iya kenapa ? jadi impas kan !! " jawab Alessya memprovokasi , sepertinya dia tidak kapok memulai pertengkaran dengan mantan kekasihnya itu , setidaknya itu lebih baik daripada tidak berkomunikasi samasekali.
" Kamu serius ? " tatap matanya semakin tajam menatap mata Alessya berusaha mencari kebohongan di matanya . Ayolah Alessya , Arselli sepertinya sangat berharap bahwa yang diucapakan Alessya itu bohong belaka.
Alessya terdiam , tidak ingin melanjutkan pertengkaran omong kosong itu. Dia berbalik menatap mata pria itu dengan lembut dan syahdu. Mencoba menyampaikan isi hatinya yang terpendam. Rasa cintanya yang masih bergolak dan bergelora di dadanya. Tanpa malu - malu dia meraih tangan pria itu dengan lembut.
" Kamu jahat , Russel !! " Tiba - tiba menghempas kencang tangan Arselli dari genggamannya, memukul dada Arselli bertubi - tubi , setelah puas meluapkan amarah yang berkecamuk di dadanya dia beringsut merubah posisi duduknya menjadi tidur membelakangi Arselli , menarik selimut dan menutup kepalanya. Sembari terdengar sengguk sedan menangis pelan .
__ADS_1
Sebenarnya tadi dia ingin mengungkapkan kerinduan di hatinya dengan memeluk pria itu , meraih kehangatan darinya, tapi mendadak lintasan bayangan ketika Arselli bertunangan dengan Clara hadir begitu saja di benaknya , membuatnya menjadi muak seketika.
Arselli yang awalnya merasa senang tatkala Alessya menggenggam tangannya , merasa aneh dengan perubahan sikap gadisnya itu yang mendadak menghempaskan tangannya begitu saja.Begitulah perempuan sangat sulit untuk dimengerti. Atau mungkin Alessya sedang datang bulan , fikirnya.
***
Menjelang malam , Diana terpukau melihat pemandangan sensual di depan matanya . Tiada angin tiada hujan saat dia masuk ke ruangan Alessya , tepat setelah dia menutup pintu ruangan itu , dia langsung disuguhi pria tampan tengah berdiri baru saja keluar dari toilet .Bertelanjang dada dengan handuk yang melingkar di pundaknya , tampak air masih menetes ke dadanya yang bidang dari rambutnya yang basah. Dan dengan tidak tahu malunya pria itu bersikap biasa - biasa saja di depan gadis itu. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya tanpak tidak memperdulikan kehadiran Diana di sana.
" Kenapa kau tidak bilang ada Kak Arselli di sini ? " Bisiknya pelan pada Alessya. Wajahnya tampak memerah melihat pria itu , entah apa yang terlintas di fikirannya kala itu.
" Memangnya kenapa ? " Dengan santainya Alessya menjawab itu , menatap Diana polos tidak menyadari temannya yang tengah menahan malu setengah mati itu , sembari memakan makanan yang dibawa Diana. Alessya masih fokus menatap makanan yang berada di hadapannya tanpa melihat sekeliling yang berada di sekitarnya.Belum menyadari tingkah Arselli bak kumbang yang tengah tebar pesona diantara bunga - bunga.
" Duh , kak Arselli ganteng banget Alessya. Lihat badannya kekar gitu ? " Masih berbicara sembari berbisik tidak ingin terdengar oleh Arselli. " Kamu serius putus sama dia ? " menatap tajam Alessya sesekali melirik pria seksi yang tengah bertelfon ria sambil berdiri berkacak pinggang tidak jauh darinya dan Alessya berada .
" Masa sich ! " .Penasaran dengan ucapan Diana dia memalingkan matanya dari makanan yang tengah dia nikmati dengan khusyu maksuk itu. Dan iya , Alessya langsung gigit sendok dech , greget greget kriuk gitu jadi pengen gigit kayaknya itu cowok . Andai saja , saat itu mereka hanya berdua saja tanpa Diana , sudah Dia sambar mungkin mangsa empuk di depan matanya. Tanpa sadar Alessya menjilat kepala sendok yang tengah di pegangnya itu, belum berpaling dari menatap dada bidang pria itu.
Alessya masih belum menyadari tingkah konyolnya sudah ketahuan oleh Arselli , hampir saja air liurnya menetes bila Diana tidak menegurnya , sembari berpamitan untuk pergi dari ruangan itu , memberi kesempatan pada sepasang kekasih yang tengah bermasalah itu , sekaligus menenangkan jantungnya yang ketar ketir melihat tingkah sepasang kekasih bermasalah yang tidak tahu malu itu. Dia sadar kehadirannya di sana hanya akan menjadi obat nyamuk yang sangat tidak diharapkan kehadirannya.
" Woii...sadar !! jangan malu - maluin. " Teriaknya pelan pada telinga Alessya.
" Aku pulang dulu. Ingat ! ini rumah sakit jangan kebablasan ! " berusaha mengingatkan sembari meledek sahabat sekaligus saudara tirinya itu. Alessya hanya melongo cengo mendengar ucapan Diana dan melepas kepergian Diana dengan tatapan bingung.
***
Cup !!
Tiba - tiba Arselli mengecup bibir lembut Alessya. Melihat reaksi Alessya yang tengah duduk bersandar di bantal , dan sesuai harapannya Alessya diam tidak berpaling ataupun menolak .
__ADS_1
Cup !!
Mengecup bibirnya sekali lagi. Memastikan bahwa Alessya juga menginginkan ciuman itu. Alessya hanya menatap Arselli sendu. Dia mulai terbawa perasaan .Persetan dengan status hubungan mereka , yang pasti saat ini Alessya menginginkannya juga , melepaskan hasrat kerinduan yang berkecamuk di dadanya yang sudah dia tahan - tahan seminggu ini.
Arselli menarik tubuh Alessya ,mendekap erat tubuhnya hingga dada mereka menyatu erat , meraup kehangatan diantara mereka. Sebelah tangannya meraih pipi gadis itu , membelainya dengan sangat lembut. Menatap bola mata indahnya untuk menyampaikan rasa cinta di hatinya.
" Aku merindukanmu , Alessya ." Bisiknya lembut ke telinga gadis itu , sembari menghembuskan nafas penuh kehangatan dan kemesraan yang menggoda, menimbulkan gelenyer - gelenyer aneh di tubuh Alessya.
" Aku juga , Russel ." Jawabnya jujur dia tidak mau berbohong lagi kali ini. Tidak ingin membohongi perasaannya sendiri.
" Kembalilah padaku Alessya , menjadi kekasihku .Kau mau ? " Bisiknya lagi lebih mendekatkan wajahnya lagi ke hadapan Alessya.
Alessya mengangguk . " Hmm " .Arselli bahagia melihat anggukan itu serasa sesuatu yang membuncah meledak di dadanya.
" Kau yakin ? " Tanyanya lagi meyakinkan.
" Hmm . Kita sepasang kekasih saat ini." jawabnya pelan sembari melingkarkan tangannya di pundak kekasihnya. Mengusap lembut pundak yang terbuka itu . Saat itu Arselli masih bertelanjang dada tetapi itu tidak masalah, tetapi jika itu Alessya itu akan menjadi masalah besar.
" Selamanya. Alessya." jawab Arselli seperti berjanzi. Mengecup bibir gadis itu dengan lembut ,mengecap , menggigit , melumatnya lembut ,mengalirkan kehangatan . Alessya membalasnya dengan agresif, jari tangannya meremas rambut Arselli . Gigitan pria itu walaupun sedikit menyakitkan tapi begitu nikmat dan membuatnya ketagihan. Polusi udara terdengar berdecakan , berdecit nyaring saling bersahutan , membuat iri sang pendengar jomblo yang kala itu kesepian , untunglah saat itu hanya mereka berdua , tapi...
Krieettt....
Tiba - tiba seseorang datang ke ruangan itu.
Ciuman panas mereka yang sedang berada di puncak - puncaknya kenikmatan saat itu terpaksa berhenti dan terlepas. Nafas mereka tersengal dan terlihat ngos - ngosan, terlihat dari dada mereka yang naik turun dengan kencang.
" Ma- Maaf !! " ucapnya terbata sembari berlalu pergi dari ruangan itu dengan segera.Meninggalkan sebuah paper bag berisi pakaian ganti untuk Arselli yang tengah bertelanjang dada itu . Dia setengah berlari sedikit ketakutan , melihat tatapan membunuh dari Arselli.
__ADS_1
" Henry !!!! " Teriak Arselli kesal. Wajahnya tampak memerah. Dia terlihat begitu kesal aktifitas menggairahkan yang mereka lakukan terpaksa berhenti di tengah jalan , dan tidak mungkin diulang lagi bukan ??? Nikmatnya tidak akan sama.