
Mereka berdua kini duduk di kursi belakang mobilnya. Dengan tatapan mendamba, menarik Alessya untuk duduk di pangkuannya mereka saling berhadapan dan berpelukan untuk meraup dan menikmati indahnya surga dunia.
" Kau gila, Russel ! Ini di dalam mobil. Bagaimana kalau ada yang melihat ... " Ucapan Alessya tadi sama sekali tidak digubrisnya. Hasratnya terlanjur membesar saat ini.
' Membuat cucu sebagai hadiah untuk mertua. ' Sepenggal ucapan rayuan yang dilontarkan Arselli kepada istrinya tadi. Sungguh mengagetkan dan diluar perkiraan , mendapatkan sebuah ide gila dikala terjebak di dalam mobil mogok di derasnya guyuran air hujan.
Alessya yang saat itu memakai dress selutut, memudahkan mereka untuk melakukannya, tanpa harus membuka dress yang dipakainya. Menghadirkan sensasi hangat diantara mereka di tengah dinginnya hujan yang kian lama kian meronta.
" Aww ... " Desisnya pelan, kala meringis merasakan perih.
" Masih sakit ? " Tanya Arselli sembari membelai lembut rambut istrinya yang dijawab anggukkan lemah. Alessya tak ingin membesar-besarkan rasa perih yang dirasakannya beberapa hari ini. Bagaimanapun juga, perih ini adalah buah dari kenikmatan yang dia rasakan beberapa malam terakhir ini, dan bukti kerelaannya dalam membahagiakan dan memuaskan suaminya di atas ranjang.
Arselli membimbing istrinya, membantunya belajar untuk memuaskannya dan belajar mengejar kesenangannya sendiri. Kesenangan yang sungguh-sungguh-sungguh tak terperi.
Cengkraman kuat dirasakan di kedua bahunya ketika tubuh istrinya bergetar sembari menengadahkan wajahnya ke atap mobil, memejamkan matanya, dan menggigit bibir bawahnya. Mungkin saat itu dia sedang melayang terbang tinggi ke nirwana.
Desahan demi desahan yang kian lama kian bersahutan tersamarkan oleh suara derasnya guyuran air hujan. Kaca yang berkabut menjadi saksi percintaan mereka yang begitu menyenangkan.
***
Asisten Henry menghentikan langkahnya seketika, mengangkat tangannya ke atas memberi tanda, menghentikan langkah anak buahnya ketika matanya dan insting kuatnya mendapat gerakan tidak biasa dari dalam mobil atasannya.
Di bawah payung hitam dan di bawah guyuran derasnya air hujan mereka sabar menanti aktifitas penuh gairah itu berhenti.
Mereka setia menanti sembari berjaga-jaga khawatir ada orang lain yang melihat interaksi yang absurd itu. Bagaimanapun juga apabila hal itu dilihat oleh orang lain akan menjadi masalah yang cukup memalukan. Beruntunglah mobil itu diparkir di tempat yang cukup sepi, belum lagi kaca mobil yang gelap mengkilat menyulitkan pandangan mata apalagi di saat hujan begini. Hanya mata dan insting kuat asisten Henry yang mampu menembusnya tadi.he...
***
Sesampainya di apartemen ...
Setelah kecanggungan yang dirasakan di dalam mobil kala asisten Henry mengantarkan Tuan dan Nona mudanya. Lagi-lagi kecanggungan terasa di dalam lift kala mereka menuju kamar apartemennya. Alessya hanya terdiam saja sedikit cemberut dan mencebik menahan kesal yang berkecamuk di dalam dada. Memalingkan wajahnya dari pandangan suaminya yang terlihat bahagia tanpa dosa.
Ini adalah pengalaman pertama dan terakhir bagi mereka. Karena sepertinya Alessya tak ingin mengulanginya.
__ADS_1
Memalukan bagi Alessya . Mengesankan bagi Arselli.
Ting ! Pintu lift terbuka tepat di lantai yang mereka tuju.
Alessya langsung menghambur berlari dengan langkah cepat menuju apartemennya, disusul oleh suaminya di belakangnya yang berhasil menyusulnya kemudian dengan langkah besarnya itu.
" Alessya ... " Teriaknya pada istrinya yang manis yang samasekali tidak digubris oleh istrinya itu. Arselli hanya tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil sedang merajuk itu. Tidak menyadari bahwa dirinya yang telah bersikap seperti anak kecil yang harus dituruti keinginannya itu seolah tak mau tahu.
" Itu sungguh memalukan Russel ! " Teriak Alessya setelah mereka masuk ke dalam apartemen mereka. Sembari menyimpan tasnya di atas sofa. Lebih tepatnya melemparnya. Mereka masih belum menyadari tas belanjaan mereka yang tertinggal di dalam mobil. Tenanglah ada asisten Henry yang akan selalu sigap menanti tugas dari sepasang pengantin baru yang dilanda kasmaran ini, namun sedang bertengkar kali ini.
Alessya melepaskan kekesalan yang sudah sedari tadi bercokol di dalam dadanya. Bagaimana tidak ? Kala kakinya turun menginjak tanah turun dari mobil suaminya tadi, dia terhenyak sembari menahan malu yang luar biasa mendapati asisten Henry dan anak buahnya telah berdiri di sekitar mobil berada. Entah sejak kapan mereka ada di sana.
Mungkinkah mereka melihatnya ?
" Lain kali kau jangan mengajakku lagi melakukannya di tempat-tempat seperti itu Russel ! " Dia terlihat benar-benar kesal kali ini. Walaupun menyenangkan namun itu sungguh memalukan.
Yang tak kalah membuatnya kesal, sang suami dengan santainya melenggang berjalan menuju mobil yang akan digunakan untuk mereka pulang. Tidak malu barang sedikitpun. Setidaknya dia masih ingat untuk menuntun tangan Alessya, menutupi dressnya yang kusut dengan jasnya, mengajaknya pergi ketika istrinya itu masih diam terpaku menghadapi situasi yang ganjil seperti ini.
" Apa maksudmu ? " Merasa tidak terima dengan nada bicara istrinya yang seolah menyalahkan dirinya. Bukankah mereka melakukannya bersama , fikirnya egois. Melupakan dirinya yang membuat ide gila itu.
" Bukannya tadi kau yang berada di atasku ! " Ucapnya berkata sembari menggoda seolah Alessya tadi yang memintanya, memaksanya, dan memperkosanya.
OMG ... ini benar - benar memalukan . Dan malunya sungguh-sungguh tak terperi he ...
Wajah Alessya merah padam kala Arselli mengucapkan kalimat itu. Bukannya tadi kau yang berada di atasku???? Apa-apaan itu !!! Kau yang menarikku !!!
Bugh !
Alessya melemparkan bantal yang ada di atas sofa di dekatnya berada, ke arah suaminya yang menyebalkan itu. Mengenai tepat di bahunya.
" Ya ... !! Apa maksudmu ? Bukannya tadi kau yang menarikku. " Jawab Alessya sembari berteriak. Merasa tidak terima dengan ucapan suaminya itu yang melempar batu sembunyi tangan.
" Tapi buktinya ... " Belum sempat Arselli menyelesaikan kalimatnya Alessya sudah di luar kendali.
__ADS_1
Bugh !
Satu bantal lagi melayang tepat di wajahnya yang sedang tergelak itu. Gelak yang begitu menyebalkan dan memancing bogeman. Andai Alessya mampu melakukannya pada suaminya itu.
Bugh !
Satu bantal lagi melayang. Hingga pada akhirnya semua bantal di atas sofa telah habis dilempar olehnya. Namun sayang, kali ini Alessya gagal dengan aksi-aksinya. Arselli terlajur sigap menangkap dan menghindarinya.
Alessya marah, mendelik tajam pada suaminya. Yang berhasil menghindar dari lemparan bantal berikutnya , cukup yang pertama dan kedua saja dia kena lemparan bantal itu , karena pada saat itu dia masih belum siap dengan tindakan frontal istrinya itu.
Alessya bergegas berjalan menuju pintu kamar tidur mereka. Dengan langkah cepat dan pasti, dengan emosi yang menguasai diri. Dan keinginan untuk membludak kan isi hati. Dan tepat di ambang pintu dia membalikkan badannya dan berkata.
" Kau ... !! " Sembari menunjukkan jari telunjuknya. Matanya ikut melotot kala itu , Arselli sampai sedikit bergetar melihatnya. Alessya begitu menakutkan kali ini. Dia benar- benar marah ternyata.
" Tidur di sofa malam ini !!! " Tegasnya menggelegar bak petir di siang bolong dengan begitu meyakinkan dan mematikan. Arselli kaget dibuatnya langit seolah runtuh menimpanya.
Brukk !!!!
Menutup pintu kamarnya dengan sangat keras. Meninggalkan Arselli di luar kamar terbengong gusar dengan kemarahan istrinya yang luar biasa. Arselli tidak menyangka tindakannya tadi dan candaannya barusan telah membangunkan singa yang tengah tertidur.
Tidur di sofa dalam suasana pernikahan yang sedang anget-angetnya ? Oh ... No....... !!!
π
π
π
Jangan lupa like , rate dan vote.
Koment ya ...
Bantu Beri semangat author ini yang merasa sepi π₯
__ADS_1