
~
~
~
Setelah dua tahun menikah, sekarang mereka sudah tidak tinggal di apartemen lagi. Arselli sengaja membeli rumah mewah di kawasan perumahan elite dari satu tahun yang lalu. Dilengkapi dengan kolam renang dan fasilitas olahraga. Dengan beberapa pelayan yang akan membantu meringankan tugas istrinya.
Alessya yang terlihat begitu stress karena tidak kunjung hamil membuat Arselli berfikir mungkin istrinya itu sedikit kelelahan. Setelah sempat berkonsultasi dengan sahabat dan dokter pribadinya Dr. Edward yang memberinya saran untuk memberinya suasana baru dan pelayan yang membantu segala pekerjaan di rumahnya. Karena selama ini, walaupun Alessya menikah dengan Arselli yang orang kaya, dia slalu berusaha mandiri dan samasekali tidak pernah manja dalam urusan pekerjaan rumah tangga.
" Baiklah Alessya. Hanya satu permintaanku ... Jika kau tidak juga bisa memberi Arselli anak. Baik itu secara alami ataupun medis, aku ingin bertanya ... apa kau bersedia untuk pergi dari kehidupan putraku ?
Pertanyaan ini pasti begitu menyakitkan bagimu. Setidaknya ini lebih baik daripada aku meminta putraku untuk menikah lagi bukan ? "
Kali ini ucapan itu yang terkunci di fikirannya dan mencuci otaknya. Hari-harinya menjadi lebih sendu dan tidak berwarna nyaris polos tak bersisa. Tiada semangat dan gairah lagi. Hanya kekosongan dan kehampaan yang terasa.
Di tengah malam buta Alessya keluar dari kamar, setelah beberapa lama merenung seorang diri. Merenungi kesedihan yang dia alami selama ini. Menyadari bahwa kehidupan dirinya masih terlihat lebih sempurna dibandingkan orang lain yang lebih menderita. Bersyukur adalah jalan utama yang dia pilih untuk saat ini, untuk berikutnya biarlah Tuhan yang menentukan. Walaupun sejujurnya rasa takut begitu menggerogotinya, bagaimanapun semua yang dia alami sekarang ini adalah kenyataan. Kemungkinan pahit bisa saja terjadi, dan dia benar-benar harus bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi padanya suatu saat ini. Untuk saat ini jalani saja dan nikmati walaupun masih berat dan ragu menguasai di dalam hati. Semangat ...Semangat ... !!!
Dia berjalan menuju dapur dikala dirinya merasakan dahaga. Mendapati sang suami tercinta tertidur di atas sofa di ruang keluarga di lantai dua yang merupakan ruang pribadi mereka dimana pelayan tidak akan seenaknya masuk ke sana. Sesuai dengan permintaan Alessya sebelum pindah dari apartemen dulu, walaupun di rumah mereka yang baru ada pelayan dia ingin memiliki ruang gerak sendiri dan pribadi demi kenyamanan mereka nanti.
Tubuhnya bergetar dan merinding, malam ini begitu dingin dan jendela rumah yang tampak terbuka. Sepertinya karena perdebatan tadi, Arselli sedikit stress lalu menghisap rokok dan lupa untuk menutup jendela setelahnya.
Berjalan perlahan, Alessya menghampiri jendela untuk menutupnya, kemudian dia mendekati sofa. Menaikkan kakinya, lalu ikut berbaring di sana. Berdempetan menangkupkan wajahnya di dada suaminya untuk menghangatkannya.
" Ehem ... " Arselli berdehem menandakan dia belum tidur. Seperti orang yang insomnia, Alessya adalah pil tidurnya. Karena malam ini mereka tidur terpisah, dia mengalami insomnia karenanya.
Mendadak merasakan kehangatan kala Alessya memeluk erat dirinya. Dia merasa bahagia, berharap hal ini akan terjadi terus dan berlangsung lama.
" Kau tidak dingin ? " Tanya Alessya lembut pada suaminya.
Arselli mengerjap kala mendengar pertanyaan itu. Keisengan mendadak muncul melintas di fikirannya.
Sembari menyeringai dia menjawab ...
__ADS_1
" Tentu saja ingin ... ! " Bercanda sembari tersenyum penuh makna. Berpura - pura mendengar pertanyaan Alessya tadi seolah menawarinya bercinta. Kau tidak ingin ? ha ...
Alessya mengernyitkan dahinya, kala mendengar jawaban dari suaminya. Otaknya yang cerdas langsung mengerti maksud fikiran suaminya saat ini. Dasar otak mesum !!
" Jangan bercanda ! " Serunya sedikit terkekeh menengadahkan wajahnya menatap suaminya sembari menepuk pelan dadanya.
" Aku tidak bercanda ! " Dengan gerakan cepat, terbangun dan membalikkan badannya lalu menindih tubuh istrinya.
" Apa yang kau lakukan ?! " Sedikit kesal Alessya bertanya. Paham, sebenarnya dia sangat paham. Hanya saja dia tidak paham karena suaminya itu slalu menggodanya, dan pandai memanfaatkan situasi yang ada. Seolah otaknya sangat encer jika berurusan dengan menggoda istrinya.
" Bukankah tadi kau menawariku sesuatu ? " Sembari tersenyum membelai pipi lembut istrinya. Dan senyumnya itu terlihat begitu menyebalkan.
" Aku tidak bilang seperti itu ! " Sembari mencebik, Alessya meronta. Meronta dengan setengah tenaga, berpura-pura menolaknya. Padahal, dia juga menginginkannya.
" Benarkah ? Tapi kenapa aku merasa kau tadi mengatakannya. " Arselli berniat untuk melanjutkan aksinya .
" Tidak ! Kau salah. Ini sudah larut malam Russel, kita harus segera ... " Berusaha menyangkal namun mendadak terputus ucapannya.
" Baiklah, segera ! Lagipula kita sudah lama tidak melakukannya . " Arselli segera memulai aksinya. Berawal dari mengecup lembut bibir istrinya, lalu menyesapnya dengan begitu lama. Malam ini mereka bercinta di atas sofa. Beberapa kali dan beberapa lama. Dan beberapa kali berganti gaya.
***
" Kau yakin tidak akan ikut ? " Arselli bertanya lagi mengenai keikutsertaan istrinya hari ini, berharap Alessya merubah fikirannya. Dengan nada bicara setengah memelas dan memohon.
Sedikit marah dan kecewa dia rasa, namun apa daya dia tidak pernah tega untuk sekedar marah pada istri tercintanya itu. Dia hanya mencoba memahami dan mengerti, mungkin sesekali istrinya itu butuh waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri.
" Maaf ... !!! " Ucapnya lirih dengan bola mata berkaca-kaca. Arselli hanya terdiam dan paham.
" Baiklah ... " Jawabnya dengan wajah yang terlihat kacau dan gusar.
" Padahal aku fikir ini adalah bulan madu kedua kita, setelah beberapa lama. " Ucapnya dengan begitu lirih seolah ingin membuat Alessya merasa bersalah padanya.
" Russel ... " Dengan suara pelan Alessya berkata. Sorot matanya seperti memohon.
__ADS_1
" Jika kau berubah fikiran telfon aku. Asisten Henry akan mengurusnya untukmu. Ok ? " Memberi kode dengan jarinya.
" Ok .. " Jawabnya lirih seolah ragu itu akan terjadi.
Pagi yang cerah ini menjadi terasa begitu kelabu. Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, Alessya menolak permintaannya untuk menemani perjalanan bisnisnya.
Dengan langkah gontai dia meninggalkan rumah itu dimana istrinya berada. Setelah terlebih dahulu memeluk, mengecup dan mencium mesra Alessya sepuasnya. Seolah menjadi vitamin untuk satu bulan ke depan yang tidak akan ditemukannya .
Sesi bercinta yang dilakukan beberapa malam ini, seolah masih kurang baginya. Walaupun dilakukan berulangkali dalam semalam seolah takkan mengobati kerinduannya nanti, malah akan membuat rindunya semakin menjadi-jadi.
Dan untuk ke sekian kalinya sebelum naik ke mobil, seolah untuk terakhir kalinya Arselli memeluk dan mencium Alessya lagi dengan begitu hangat dan mesra. Walaupun ada asisten Henry di sana, dia samasekali tidak memperdulikannya.
" Anda yakin akan pergi sendiri Tuan ? " Tanya asisten Henry setelah mereka naik ke dalam mobilnya. Merasa aneh melihat bosnya masuk ke mobil sendiri. Terbiasa melihat bosnya itu didampingi istrinya apabila melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dengan rentang waktu yang cukup lama.
Dengan raut wajah datar dia menatap asistennya seolah menyuruhnya untuk berhenti bertanya. Hari ini benar-benar hari yang sial dan kelabu baginya. Dia samasekali tidak bersemangat untuk sekedar menjawab pertanyaan dari asistennya.
" Bye . I love you ... " Sembari melambaikan tangannya dari balik jendela yang terbuka kepada Alessya, yang setia berdiri di teras rumahnya menanti hingga mobil suaminya berlalu pergi dari pandangannya.
" I love you too ... jaga dirimu ... !! " Alessya berteriak kala mobil mulai melaju. Melambaikan tangannya begitu lama, melepaskan kepergian suaminya tercinta.
Dari balik kaca kecil di dalam mobil Arselli menatap istrinya yang masih berdiri di belakang sana sembari melambaikan tangannya. Kian lama terlihat kecil dan semakin mengecil namun cintanya malah kian besar dan semakin membesar.
Menetes ... tanpa sadar air mata menetes di pipi Alessya. Melepaskan kepergian suami tercintanya untuk beberapa lama dan cukup lama hampir satu bulan lamanya adalah hal baru baginya. Biasanya dia slalu ikut mendampingi.
Entahlah kegalauan dan kegelisahan yang tengah dia rasakan akhir - akhir ini membuatnya ingin menyendiri dan menenangkan diri.
Tak terfikir olehnya sedikitpun untuk mengadu kepada suaminya mengenai pertemuan terakhir dengan ibu mertuanya beberapa bulan lalu. Begitupun mengenai syarat yang pernah diutarakan oleh ibu mertuanya dulu.
Dia samasekali tidak ingin merusak hubungan suci antara ibu dan anak itu. Walaupun begitu berat beban dia rasa. Namun dia fikir inilah bentuk pengorbanannya demi lelaki yang sangat dia cinta.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, rate, koment dan vote ...