
Arselli mengajak Alessya ke sebuah butik. Pemilik butik itu mengeluarkan koleksi-koleksi indahnya untuk dipilih pelanggannya. Mahal, mewah, elegan, semuanya ada di sana. Dipamerkan sedemikian rupa untuk memancing jiwa belanja dari konsumennya.
Terkagum-kagum sudah tentu dirasakan oleh Alessya. Ini pertama kalinya bagi dirinya semenjak pernikahannya diajak berbelanja pakaian secara langsung seperti ini. Tidak seperti sebelumnya dia menyerahkan kepada suaminya dan asistennya, Asisten Henry. Mengingat dirinya yang saat menikah dengan Arselli tengah sakit dan terluka akibat tembakan yang menyasar diperutnya.
Arselli, sangat mudah bagi dirinya memanjakkan istrinya. Memborong seisi butik ini dia bahkan mampu untuk melakukannya. Dia bahkan bisa membelikan hampir seisi dunia dengan harta yang dimilikinya. ( Gombal ).
Namun ... Lagi - lagi jiwa sederhana istrinya menentangnya. Untuk apa membuang-buang uang secara percuma toh di luaran sana masih banyak orang yang hidup kekurangan dan seadanya. Akan sangat tidak bijaksana, jika menghamburkannya hanya demi pakaian semata. Yang pada akhirnya hanya akan berakhir dilempar kemana saja tatkala suaminya menginginkannya.
" Pilihlah dan cobalah gaun yang kau sukai ... tidak percuma aku menyuruhmu memakai dress bukan , akan sangat memudahkan mu untuk membukanya. " Ujar Arselli kepada Alessya mencoba menggoda istri seksinya. Mencoba memancing apa yang ada di fikirannya.
Sembari tersenyum simpul dia tengah fokus menatap layar ponselnya demi mengecek email dan urusan pekerjaan di kantornya. Walaupun ini hari libur, dia tidak akan begitu saja mengabaikan perusahaan yang sudah dia kembangkan dengan sedemikian rupa.
" Jadi ini tujuanmu menyuruhku memakai dress ... " Ujarnya polos. Memancing suaminya saja untuk menggodanya.
" Memangnya apa yang tadi kau fikirkan ? Jangan - jangan kau berfikiran mesum tadi.. " Jawabnya santai yang langsung membuat pipi Alessya merona. Malunya setengah mati, jangan-jangan dia memang berharap semua yang difikirkannya itu akan terjadi.
" Jika kau menginginkannya, mungkin akan kupertimbangkan nanti. " Ujarnya lagi. OOmmGG dia memang sangat senang sekali menggoda istri cantiknya ini.
" Apa maksudmu ? " Jawabnya ketus.
" Lagipula untuk apa kau membelikanku baju lagi, bukankah baju di lemari juga masih banyak yang belum aku coba. " Mengingat betapa selektifnya suaminya mensensor pakaian yang dipakai istrinya saat akan ke luar dari apartemennya. Bahkan pakaian yang memenuhi lemarinya benar-benar masih banyak yang belum sempat digunakan olehnya.
Mengingat Alessya sangat jarang keluar atau bepergian. Selain keluar untuk kuliah dan bertemu dengan Diana, dia hanya akan diam di apartemen untuk melayani suaminya tercinta. Dengan hanya memakai pakaian santai atau pakaian tidur yang sudah pasti akan berakhir dengan dibuka sukarela bahkan dilepas paksa kemudian.
Huh ... kalau diingat - ingat, hampir tiap malam Alessya tidur tanpa pakaian yang menempel di tubuhnya, semuanya tanpa terkecuali akan berakhir tercecer di lantai kamarnya bahkan di dapurnya, ruangan tamunya dan di mana - mana. Hanya dalam satu bulan sekali saja selama satu minggu lamanya, dia akan aman dengan pakaian yang hangat membungkusnya yaitu saat masa datang bulannya.
__ADS_1
" Nyonya ... biar saya membantumu. " Ujar seorang penjaga butik itu, menggiring Alessya menuju ruang ganti sembari mendorong satu rak pakaian yang akan dicoba pelanggan kelas kakapnya ini.
Arselli menunggu di luar sembari duduk di kursi menanti sang istri, sembari tanpa henti sesekali mengecek ponsel notifikasi.
" Itu terlalu pucat , Alessya. " Walaupun terkagum dia menutupinya, melihat Alessya menggunakan gaun putih itu jiwanya semakin meronta-ronta menginginkan istrinya. Namun berusaha ditutupinya, lagipula ... dia masih ingin melihat Alessya mencoba gaun yang lainnya.
" Itu sangat tidak cocok, warnanya terlalu mencolok ! " Ujar Arselli tatkala Alessya keluar dengan gaun berwarna merah menyala. Mendengar komentar suaminya, Alessya hanya tersenyum kecut saja. Padahal dia sangat yakin saat bercermin tadi penampilannya begitu cantik luar biasa. Mungkin ini bukan selera suaminya , fikirnya.
" Itu terlalu seksi, Alessya. Aku tidak menyukainya. " Berkomentar dan bersungut halus tatkala Alessya keluar dengan gaun warna kuning gold yang menempel eksotis di kulit tubuhnya. Alessya hanya terdiam saja, menghela nafas untuk lebih melatih kesabarannya.
" Tidak. Kulitmu terlihat lebih pucat sekarang ... " Ujarnya sembari menggelengkan kepalanya. Alessya mendelik tajam suaminya, gaun hitam yang kini digunakannya merupakan gaun yang ke sembilan yang sudah dicobanya.
Bagaimana ini ? Bahkan satupun tidak ada yang sesuai dengan selera suaminya itu.
" Itu sangat tidak cocok , Alessya. Itu sangat menggoda para pria. " Ujarnya pada istrinya. Sepertinya dia tengah posesive saat ini. Melihat Alessya memakai gaun berwarna peach benar-benar menunjukkan aura kecantikannya kepada seluruh dunia. Dan dia sangat tidak suka pria lain akan melihatnya.
" Sepertinya kau ... Apa kau sedang mengerjaiku ? " Ketusnya kemudian, dia benar-benar kesal saat ini. Mendelik tajam matanya, seperti ingin mencongkel suaminya saking kesalnya.
Arselli menyadari kemarahan istrinya, sepertinya sandiwaranya harus segera diakhiri olehnya. Kalau tidak, bisa-bisa amarahnya akan mengguncang seluruh dunia.
" Baiklah, pilih gaun itu saja ! " Tunjuk Arselli pada pegawai butik itu sembari tersenyum kecil bercampur rasa puas karena berhasil menggoda istrinya sehingga terlihat begitu kesal dan dongkol dengan sikap Alessya yang mengintimidasinya. Menunjukkan telunjuknya pada sebuah gaun berwarna putih polos yang pertama kali dicoba istrinya tadi.
" Baiklah ... " Pegawai itu berjalan mengambil gaun yang ditunjuk itu.
Dahi Alessya mengkerut, mencoba mengingat dan menyadari sesuatu. Menggigit bibir bawahnya kemudian, terlanjur menahan kesal yang begitu demikian.
__ADS_1
" Tunggu !! " Teriak Alessya pada pegawai butik itu yang tengah membawa gaun berwarna putih dan berjalan ke arah suaminya yang tengah duduk nyaman di sana. Mendekati pegawai butik itu kemudian lalu melihat gaun yang dibawanya. Matanya membelalak seketika.
" Russel ... !! " Teriaknya dengan begitu kesal. Saking kesal dan menderu emosinya mungkin cocok ya ... dengan peribahasa Sunda ' Ngajeurit maratan langit, Ngoceak maratan Jagat. "
Arselli tersenyum kecut, bersiap dengan apa yang akan di hadapinya beberapa detik kemudian. Dia tidak kaget, karena ini sudah diperkirakan olehnya sedari tadi. Namun sungguh ... dia itu terlalu, begitu nekad untuk menggoda istrinya sampai seperti ini.
" Emh !!! " Arselli mendehem cukup keras.
" Russellll ... Bukankah ini gaun yang pertama kali aku pakai tadi ?!!! " Ketusnya dengan cukup keras. Pipinya memerah karena marah bukan karena malu atau apalah.
" Bukankah tadi kau bilang ini terlalu pucat bagiku ?!! " Lanjutnya lagi, sepertinya dia ingat betul dengan semua komentar yang diucapkan suaminya tatkala dia mencoba beberapa gaun tadi. Nah Lho ... tau rasa lho Russel ... Alessya bukanlah gadis bodoh yang bisa dikerjai habis-habisan begitu saja. Apalagi itu oleh suaminya.
Bibirnya mencebik kala itu. Apalagi saat sang suami mengucapkan kalimat pamungkasnya kepada pegawai butik tadi.
" Tolong bungkus gaun putih ini dan gaun lainnya yang sudah dicoba istriku tadi. Bagaimanapun istriku sangat cantik saat memakainya tadi. " Ucapnya sembari memberikan kartu kredit miliknya kepada pegawai butik itu.
Mendengarnya Alessya benar-benar ingin marah. Namun ... pujiannya tadi, sungguh begitu menghangatkan jiwanya. Ayolah Alessya ... berpura-pura sajalah tetap marah. Bagaimanapun Arselli itu sangat terlalu dalam bercandanya.
π
π
π€£
Masih sekedar cerita ringan diantara mereka ya ... mengisi satu tahun pernikahan mereka.πππ
__ADS_1
.