
Setelah Elliana dan Romeo pergi , Arselli dan dokter Edward mengobrol untuk sementara waktu di ruangan pribadi Edward. Sementara Alessya sudah tertidur lelap merajut mimpi ditemani ibunya tercinta.
Dokter Edward sedikit kaget mendengar penuturan Arselli mengenai pertemuan dirinya dengan Elliana sebelum penyekapan dan penembakan yang terjadi pada Alessya, setelah sesaat lalu menanyakan hal yang cukup membuatnya begitu penasaran dikala dia tengah meneliti penyebab amnesia yang dialami Alessya. Dan jadilah mereka kini terdampar membahas pernikahan Arselli dan Alessya.
" Kau yakin akan tetap menikahinya sekarang ? Dalam kondisinya yang seperti ini ? " Tanya dokter Edward sembari meminum teh hangat yang tersaji di atas meja yang berada di hadapan mereka. Cukup mengagetkan mendengar kabar pernikahan dari mulut sahabatnya tadi. Mengingat kondisi Alessya yang masih belum pulih benar dari lukanya , belum lagi amnesia yang dideritanya.
" Aku tak ingin mempertaruhkan hubungan kami. Semakin lama menundanya , aku merasa dia akan semakin jauh dariku. Aku harus mengikatnya agar dia tetap berada di sampingku. Tak peduli itu amnesia atau apa , aku hanya ingin memastikan Alessya tetap menjadi milikku. " Arogansinya muncul bersamaan dengan rasa egois yang bertopengkan cinta , sembari duduk bersandar di sofa menengadahkan wajahnya menatap langit - langit yang bermotif cantik.
" Aku hanya khawatir , sepertinya kau harus menunda untuk beberapa lama ritual malam pertamamu. " Bibirnya menyeringai lebar , dengan kepuasan yang tiada tara. Lagi - lagi kedok baru muncul , kali ini menutupi sebuah ledekan dan guyonan dari seorang sahabat untuk sahabatnya yang terpaksa gigit jari di malam - malam pertama pernikahannya . Menatap wajah Arselli yang refleks menatapnya kala mulutnya meracau liar begitu saja.
Senyuman kecut didapat dokter Edward dari bibir sahabat sekaligus pasien pribadinya itu , tanggapan atas ucapan yang cukup menggores harga dirinya sebagai seorang laki - laki. Bagaimana tidak , dia bahkan sukses mendirikan sebuah perusahaan maju pesat di kancah nasional maupun internasional , tapi dia luluh lantah di hadapan wanita yang memberinya sebuah perjanzian pranikah dan mirisnya salah satu isi perjanzian itu adalah tidak menyentuhnya. Andai dokter Edward tahu dengan adanya perjanzian itu , pastilah dia yang pertama dan paling keras menertawakan nasibnya itu .
Merusak harga diriku saja !!
" Aku bisa melakukannya dengan perlahan. " Menutupi rasa malu yang menggerogotinya , berujar palsu walaupun tahu dengan pasti hal itu tidak akan terjadi.
" Kau yakin ? !! " Tergelak mendengar penuturan Arselli.
" Jika itu bukan pengalaman pertama bagi kalian, mungkin kalian bisa melakukannya dengan perlahan , tapi jika itu yang pertama, aku sangsi...apalagi mengingat dia yang sedang amnesia , saat dia berserah pasrah pun akan begitu sulit dan menyakitkan belum lagi jika ada penolakan karena amnesianya itu ." Jawabnya tanpa merasa risih sedikitpun , dengan gelak tawa yang semakin kencang saja memekik ke telinga Arselli yang langsung mendelik padanya dengan begitu tajam.
" Baiklah ! " Berhenti tertawa setelah menyadari sebuah delikan tajam menghujamnya dari tadi .
" Tapi .... Apakah itu benar-benar yang pertama bagi kalian ? " Tanyanya dengan begitu penasaran.
" Kau cari mati ? !! " Dengan nada ancaman terlontar tegas dari bibirnya.
" Ayolah aku bertanya sebagai seorang dokter . Aku hanya tidak ingin pasienku mengalami pendarahan di lukanya , hanya karena melewati malam pertamanya. " Sembari mengulum senyum di bibirnya. Modus tetaplah modus, dengan mengatasnamakan status dokter yang disandangnya.
" Baiklah , kau tidak perlu menjawabnya. Jika itu benar - benar pengalaman pertama baginya , setidaknya tunggulah 2 atau 3 Minggu lagi hingga lukanya benar - benar sembuh dan kering . Kau pasti tahu dengan pasti betapa sulit dan sakitnya hal itu bagi yang pertama kali merasakannya. Bukankah kau pernah mengalaminya dengan Elliana ? " Racau dokter Edward kemana - mana yang masih belum menyadari kehadiran seseorang di balik pintu yang sedari tadi terbuka.
" Jaga mulutmu , Edward !! " Kali ini Arselli tidak main - main dengan ucapannya. Nada tegas mengintimidasi seolah memaksa untuk menghentikan obrolan yang tidak bermutu itu.
__ADS_1
" A - Alessyaaa.... " Dokter Edward seketika bergetar melihat Alessya yang duduk di kursi roda berada di ambang pintu ruangannya. Arselli langsung menoleh seketika ke arah dimana Alessya berada.
***
Arselli mendorong kursi roda yang diduduki Alessya , mengantarkannya ke kamar perawatannya semula. Dengan langkah pelan dan keheningan diantara mereka berdua , di lorong koridor rumah sakit yang mulai sepi karena malam yang telah tiba.
Arselli sedikit kaget melihat Alessya yang tiba -tiba sudah berada di ambang pintu , selagi dirinya dan sahabatnya membicarakan sesuatu hal yang tidak pantas dan cukup tidak mengenakan untuk didengar oleh telinganya. Bahkan ada sesuatu hal yang menyangkut nama Elliana tadi , begitu sensitif dan menyakitkan bila Alessya benar-benar mendengarnya.
Sungguh rasa penasaran kian menggelayuti perasaan Arselli kala itu , namun keberaniannya menciut seiring tatapan tajam yang menyorotnya seolah menembus tepat ke jantung hatinya.
" Kau tidak tidur , Alessya ? " Bagaimanapun tidak mungkin hanya berdiam diri saja kala mereka berduaan menelusuri lorong yang kian sepi itu. Dia memilih untuk mengalah , walaupun dengan resiko didiamkan .
" Aku ingin bicara denganmu . " Jawabnya tanpa menunda sedikitpun , seolah sedari tadi dia menunggu Arselli bertanya padanya terlebih dahulu.
" Apa yang ingin kau bicarakan ? " Tanya Arselli menghentikan langkahnya mendorong kursi roda itu tepat di sudut lorong yang cukup senyap dan sepi , berjongkok di hadapan Alessya sembari meraih tangan Alessya untuk digenggam olehnya.
" Elliana , siapa dia bagimu ? " Membalas genggaman hangat pria itu , meraih kehangatan darinya di suasana malam yang mulai dingin.
" Dia masa laluku , Alessya. Dan kau masa depanku. " Jawabnya dengan begitu pasti .
" Hmm . Apa kau ingat kata yang pernah ku katakan padamu dulu ? " Membelai rambut Alessya , merapikannya dan menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinganya. Alessya sedikit tergelak , kala Arselli melakukan sedikit gerakan nakal di cuping telinganya.
" Tidak . Aku tidak ingat . Bukankah kau tahu , kau telah hilang dari ingatanku. " Jawabnya dengan begitu polos tanpa menjaga perasaan kekasihnya itu.
Menghela nafas dengan begitu dalam. Sedikit menyakitkan kala mengingat sebuah fakta bahwa dirinya terhempas begitu saja dari ingatan kekasih yang sangat dia cintai itu.
" Baiklah ! " Kepala Arselli menengok ke arah sekitarnya seolah mencari sesuatu di sana.
" Cukup dengarkan dan ingat ini selamanya. "
" Apa ? " Tanyanya lagi karena rasa penasaran sudah begitu menggerogoti hatinya.
__ADS_1
" Aku sangat mencintaimu , Alessya ! Hanya dirimu yang aku cintai saat ini dan seterusnya nanti " Sembari tangan kanannya terulur meraih tengkuk gadis itu menariknya sehingga wajah mereka begitu dekat , sementara tangan kirinya menopang tubuhnya di samping kursi roda yang diduduki Alessya.
Bibirnya merapat ke bibir gadis itu yang terlihat pucat , memagutnya perlahan demi perlahan yang makin lama kian dalam dan kencang. Melepaskan hasrat kerinduan yang sedari sore lalu hanya sedikit yang terlampiaskan. Melebur bersamaan dengan hasrat menggebu yang kian membuncah di dadanya. Meraih kenikmatan yang mengalir hangat terasa ke ubun-ubunnya.
Alessya , walaupun saat ini tengah dilanda amnesia, walupun mulut dan logikanya menolak keberadaan kontak fisik diantara mereka , namun gerakan bibir dan tubuhnya menunjukkan betapa dirinya melayang menikmati rasa yang kian menggelora diantara mereka. Persetan dengan perjanzian yang dibuatnya , bukankah itu berlaku setelah mereka menikah nanti .
Keheningan malam menjadi saksi diantara mereka , betapa nyaringnya decitan yang terdengar diantara pertautan bibir mereka . Hingga pada akhirnya terpaksa berhenti tatkala derap langkah sepatu terdengar mendekat ke arah mereka.
Terpaksa mengakhiri kenikmatan yang tiada tara itu , Arselli kembali mendorong kursi roda yang diduduki Alessya menuju ke kamar perawatannya. Hingga akhirnya mereka tiba di kamar Alessya disambut sambutan penuh kecemasan oleh ibunya.
" Kau dari mana , Alessya ? Ibu mencemaskan mu ... " Tanyanya menginterogasi selagi Arselli masih berdiri tepat di belakangnya.
" A-Aku... " Jawabnya terbata , sepertinya sebagian nyawanya masih melayang - layang bersamaan dengan kenikmatan yang melayang pergi membumbung tinggi.
Ibu Alessya terbengong mendapati bibir Alessya yang membengkak berbeda dari biasanya. Baru saja bibirnya refleks hendak bertanya akan apa yang telah terjadi , tanpa sengaja sudut matanya berhasil menangkap penampakan serupa pada bibir calon menantunya. Bibirnya terkulum menahan senyum , tak apalah sekali ini dia menggoda.
" Apa yang terjadi dengan bibir kalian ? " Mata Alessya dan Arselli bersamaan melotot , merasa melakukan dosa di belakang ibunya. Alessya yang sedari tadi sesekali menengadahkan wajahnya pada Arselli hanya diam menunduk dengan wajah yang bersemu merah , sedangkan Arselli memalingkan wajahnya ke arah sampingnya berusaha menghindari tatapan meneliksik dari calon ibu mertuanya yang tercinta.
π
π
π
Senyumin aza...
Jangan lupa untuk bahagia...
Jangan lupa untuk makan saat tidak bahagia...
Karena, pura - pura bahagia itu juga perlu tenaga ekstra...
__ADS_1
Jangan lupa like , rate dan vote
I love u all...