
π
π
π
Lagi dan lagi Alessya marah. Cemberut, mencebik, mendelik dan semuanya. Untung saja dia masih berbaik hati. Membantu suaminya untuk meyelesaikan urusannya di kamar mandi tadi sembari membersihkan diri.
Bukk !!
" Ini benar-benar memalukan, Russel !!! " Sembari memukul keras spring bed yang dia duduki. Dengan rambut yang masih basah dan hanya bathrobe yang menempel di tubuhnya. Kali ini matanya melotot. Memancarkan kemarahan yang tiada terkira. Jika dia mempunyai kekuatan magic, sinar laser pasti memancar dari matanya. Dengan warna merah menyala.
Kali ini Arselli hanya diam saja, sembari berdiri menunduk setengah duduk di lemari pendek yang tepat berada di belakangnya. Jarinya tidak henti memijit pangkal hidungnya dengan tangan yang bertopang pada sebelah tangannya lagi yang bertengger di bawah dadanya. Pussing mungkin dia, sesuai perkiraannya Alessya pasti marah-marah kepadanya.
Apakah dia menyesal ? Tentu tidak.
Lalu apa ? Dia hanya kesal saja ...
Kejadian tadi sungguh diluar prediksi ... Andai ada asisten Henry ...
Lagi dan lagi, dia mendadak merindukannya ribuan kali.
" Russel ... aku serius !!! Selama dua Minggu kau tidak boleh menyentuhku ! " Ucapnya dengan begitu mengerikan.
Glek !
Arselli malah tersenyum kecut saja.
Yakin ... kau tak ingin disentuh olehku, bathinnya. Berpura-pura terluka ketika Alessya kini menatapnya.
" Lalu ... bagaimana dengan honey moon kita ? " Tanya Arselli kemudian. Sembari menggaruk pangkal hidung yang sedari tadi dia pijit. Sembari mengulum senyum penuh arti. Senyum yang masih berusaha dia sembunyikan dari sang istri. Kali ini dia terbangun dari duduknya, berdiri lalu berjalan perlahan menghampiri istrinya.
" Hah ! " Alessya terdiam kebingungan. Mengerjapkan matanya beberapa kali.
Masa sih honey moon gak boleh bersentuhan. Honey moon macam apaan ? Wajahnya tampak memucat saat itu. Sesekali menelan ludahnya sembari menatap hampa sekitarnya.
Lagi-lagi Arselli tersenyum, kali ini lebih lebar dan penuh dengan kepuasan. Dan kini jelas tertangkap sudut mata istrinya .
" Kau itu sengaja ya ?!! " Alessya menatap tajam suaminya, yang kini tengah berjongkok di hadapannya.
" Sengaja apa ? Kepergok mereka ? " Lagi-lagi tersenyum dia, kali ini Alessya melihatnya lagi. Membuatnya semakin kesal saja dan lebih menjadi-jadi.
" Mengerjai aku ?! " Jawabnya ketus.
" Dasarr curang !!! " Masih dengan mode ketus.
Menghentak-hentakkan kakinya ke lantai mengungkapkan kekesalan. Hampir menangis dan berurai air mata menahan kesal yang luar biasa bahkan beberapa kali tangannya terulur memukul bahu suaminya.
__ADS_1
" Kau pasti seneng kan ? " Lirihnya kemudian sembari mengingat kejadian di butik dan di mobil tadi. Mengingat betapa suaminya sangat sering bahkan terlalu sering menggoda dirinya.
Lagi, lagi, dan lagi Arselli hanya diam dan tersenyum saja. Sembari menatap mata sang kekasih hati tercinta. Meraih tangan mungil dan lembutnya lalu dikecup mesra olehnya.
Ya Tuhan ... tatapan matanya itu yang slalu Arselli rindu dan dia damba. Bola mata indah, sendu nan memikat jiwa.
Entahlah sepertinya menggoda istrinya yang bernama Alessya itu kini telah menjadi hobby dan candunya.
***
Malam ini ... mereka tidak keluar kamar. Akibat malu yang luar biasa, mereka bertahan di sana hingga tertidur dan saling terdiam dan memunggungi. Sebenarnya, Alessya tidak tidur, hanya sekedar memejamkan mata saja, karena fikirannya kini entah terbang kemana. Begitupun juga Arselli ... entahlah apa yang dirasakannya, rasa bersalah tengah menyelimuti hatinya.
Keheningan begitu terasa. Antara rasa kesal dan kecewa. Berusaha saling merenungi diri. Atas kesalahan yang telah terlanjur terjadi.
" Maafkan aku, Alessya ... " Ucap Arselli pada istrinya, setelah lebih dulu membalikkan tubuhnya menatap punggung wanita yang sangat dia cintai itu.
Hening ... Alessya hanya terdiam tak menjawab apa-apa. Sekedar membuka matanya dan berusaha bersikap tenang dalam menghadapi ini semua.
Setelah berfikir lama, Alessya bergerak membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya yang ... entahlah, dia bingung dengan cara apa menggambarkannya. Yang pasti semarah apapun dirinya pada Arselli, cinta di hatinya hanyalah untuknya.
Saling bertatapan mata, mereka berusaha mengungkapkan isi hatinya.
" Kau tidak lapar ? " Tanya Arselli pada Alessya.
Teringat tadi sore mereka hanya sempat mengemil di dalam mobil. Dan saat ini waktu hampir tengah malam.
" Hem ... aku sangat lapar. Tapi aku malu untuk keluar. " Jawabnya dengan begitu lirih dan manja. Matanya lalu terpejam , entah karena ngantuk atau karena lemas karena tidak ada asupan makanan.
" Benarkah ? " Langsung membuka matanya lagi. Beringsut duduk bersandar di sandaran ranjang.
" Hah ... kenapa tidak bilang dari tadi sih ... Kau tidak lihat, karena telat makan tubuhku menjadi kurusan. " Menunjuk pada perutnya yang mendadak terlihat begitu kempis, sembari merenggut lucu di hadapan suaminya.
Arselli terkekeh mendengarnya. Melihat istrinya kembali bersikap manja padanya, hatinya mendadak bahagia.
" Baiklah ... aku akan menelfon kokinya. Kau ingin apa ? " Tanyanya dengan begitu semangat dan antusias.
Alessya mengucapkan beberapa menu makanan yang diinginkannya. Cukup banyak dan beraneka ragam.
" Kau yakin akan menghabiskannya ? " Tanya Arselli , mengingat banyaknya makanan yang disebutkan istrinya tadi. Sembari mengernyitkan dahinya.
Dan Alessya hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun malu, apa daya cacing di perutnya berdendang ria.
" Apa koki itu tidak akan apa-apa ? Aku menyuruhnya memasak di tengah malam ini." Sedikit ragu dengan permintaan tadi, berniat untuk mengurangi makanannya jika kokinya merasa keberatan.
" Tidak !! Malam ini kau adalah ratu di villa ini." Ucap Arselli. Membuat pipi Alessya merona kala mendengarnya.
" Hanya malam ini ? "
__ADS_1
" Tentu saja tidak !! Selamanya ... !!! " Jawabnya, berusaha membuat senang istrinya.
***
Duarrr ....
Duarrr ....
Duarrr ....
Alessya bergegas keluar membuka pintu kamar balkonnya...
Menatap takjup, matanya berbinar tatkala melihat kembang api bertebaran di udara membentuk symbol cinta ...
" Apakah itu darimu ... ? " Tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada kembang api itu.
" Hmm .... tadinya aku berencana membuat acara makan malam dengan teman-teman mu itu, sayang sekali kejadian tadi menggagalkan semuanya. "
" Bukankah itu salahmu ? " Mendelik kemudian terkekeh meledek suaminya.
" Kau benar, itu salahku ... tapi salahkan dirimu, karenamu aku slalu menginginkanmu. Setiap saat ... setiap waktu ... " Gombalnya.
" Ah ... kau ini. " Mencubit perut suaminya, mendempetkan tubuhnya lalu memeluknya.
" Terimakasih ... " Ucap Alessya tulus, mengeratkan pelukannya. Menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah suaminya dan merenggut lucu padanya.
" Hanya itu saja ? " Rayu Arselli mengharapkan hal lebih.
" Itu saja ! " Lalu membisikkan sesuatu pada telinga Arselli yang terlihat lemas setelah mendengarnya.
.
.
.
.
.
Memang apa sich yang dibisikkan Alessya pada Arselli yang membuat dia lemas setelah mendengarnya ?
.
Palingan kabar kedatangan tamu bulanan.
π
__ADS_1
π
π