
Pagi itu Dokter Edward memeriksa kondisi terakhir Alessya untuk memastikan pasien spesialnya bisa pulang . Tanpa ditemani suaminya yang sudah sedari tadi pergi entah kemana bahkan sebelum Alessya bangun dari tidurnya .
" Bagaimana malam pertamanya ? Apakah sukses ? " Dokter Edward bertanya lebih tepatnya bercanda , namun lihatlah mimik wajahnya itu ... jikalau Arselli melihatnya, pasti satu pukulan telak melayang ke pipinya . Belum lagi bogem mentah yang belum dia sadari dimiliki oleh pasiennya itu .
Walaupun mulutnya dipenuhi dengan candaan liar , tangan dan fikiran dokter Edward tetap profesional memeriksa kondisi kesehatan pasiennya itu .
Alessya tetap diam menyadari kalau pertanyaan itu hanyalah gurauan belaka . Lagipula tidak ada yang bisa diceritakan hanya mimpi indah semalam yang terasa begitu nyata .
" Kau sudah bisa pulang sekarang. Aku akan mengirimkan perawat wanita yang memeriksa kondisi kesehatan dan luka bekas operasi di perutmu. Dan selebihnya ... kau hanya harus sesekali kontrol ke rumah sakit untuk melakukan teraphy terkait amnesia yang kau alami. " Dokter Edward menjelaskan mengenai prosedural kesehatan yang akan dijalani Alessya dalam waktu ke depan .
" Te-teraphy ... Dokter ? " Dengan ekspresi sedikit kaget , terlihat dari wajahnya yang mendadak pucat.
" Hmm ... Kau akan menjalani teraphy, semoga itu bisa membantu mengembalikan ingatanmu itu. " Sembari menatap dalam mata Alessya .
Alessya menelan ludahnya , merasakan keterkejutan dan kekhawatiran di hatinya . Sedikit banyak dia takut kebohongannya akan terbongkar dan diketahui oleh suaminya . Mungkin suaminya akan senang , bila ingatan Alessya kembali normal. Namun, kebohongannya itu apakah tidak akan dipermasalahkan olehnya ?
Bagaimana ini ? Aku terjebak dalam kebohonganku sendiri ...
Bagaimana kalau Russel sampai tahu aku telah berbohong ?
" Bagaimana kondisinya sekarang ? " Tiba - tiba Arselli sudah berdiri di antara mereka , membuyarkan lamunan Alessya. Langsung menghampiri berdiri tepat di dekat kepala Alessya yang tengah terbaring kikuk .
" Baguslah kau ada di sini.Istrimu sudah bisa pulang sekarang ,aku akan mengirimkan perawat untuk mengecek kesehatannya nanti. " Tegasnya masih berdiri di tempatnya tadi , di samping ranjang Alessya.
" Bagaimana dengan ... " Menggaruk pipinya sembari matanya melirik ke arah istrinya . Jemari tangannya dia tautkan pada jemari Alessya yang tampak dingin dan basah.
" Kita akan melakukan teraphy . Benarkan Nyonya Russel ? " Tanyanya memastikan sembari mengarahkan wajahnya ke arah Alessya yang pucat itu.
" I-iya ... " Jawabnya terbata memalingkan wajahnya dari pandangan dokter Edward yang menatap tajam matanya dihiasi seringaian di bibirnya. Sembari mempererat pertautan jarinya pada jemari suaminya yang membuat suaminya sedikit merasa aneh dengan prilaku istrinya itu.
***
__ADS_1
Alessya dan Arselli dengan diantar asisten Henry sudah tiba di apartemen tempat mereka akan tinggal mengarungi biduk rumah tangga . Apartemen itu adalah apartemen yang dulu sempat ditinggali Alessya sebelum penyekapan terjadi padanya . Selain karena tempatnya lebih besar, apartemen ini merupakan apartemen termewah dari beberapa apartemen yang dimiliki oleh Arselli .
Nyonya Rossie menyambut kedatangan mereka dengan begitu hangat , riang dan gembira. Memberikan cinta kasihnya kepada putri dan menantu satu - satunya yang dia miliki di dunia ini. Selama tidak ada jarak yang membentang diantara mereka, karena apabila waktunya telah tiba mau tidak mau , suka tidak suka beliau harus pergi dari tempat pasangan pengantin baru itu , walaupun tanpa henti putri kesayangannya merajuk agar ibunya tidak pergi dari sana .
Bahkan Arselli sampai menawarkan salah satu apartemennya untuk ibu mertuanya tinggali , agar walaupun mereka terpisah tapi jarak yang tidak terlalu jauh akan memudahkan mereka yang didera rindu untuk bertemu .
Satu Minggu berlalu menghabiskan waktu , melebur rindu, menginap di apartemen milik menantunya itu. Setelah memastikan kondisi putrinya baik - baik saja, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun , sebelum pergi, beliau ingin memberikan sedikit kenangan manis untuk putri dan menantu kesayangannya itu. Sebuah acara makan siang dengan makanan lezat penuh cita rasa tinggi hasil masakannya sendiri.
" Makanlah, menantuku ! " Sembari menyendokkan pauk ke piring milik Arselli dengan penuh kasih dan cinta .
" Terimakasih , mertuaku . " Sembari tersenyum sumringah menyambut perhatian tulus mertuanya itu .
" Makan yang banyak sayang , agar kau kuat membuat calon cucu-cucuku nanti . " Ucapnya lagi pada menantunya itu. Nyaris tanpa bersalah sedikitpun , kalimat itu meluncur begitu bebasnya dari mulutnya. Alessya yang sedang asyik menikmati makanan yang tengah berpesta pora di mulutnya, langsung tersedak seketika.
" Uhuk ! Uhuk ! " Batuknya cukup keras.
Arselli menepuk pelan punggung Alessya, sembari tertawa bungah seolah mendapat dukungan paten dari mertuanya itu.
" Terimakasih do'anya ibu , aku pastikan putrimu akan mencetak cucu-cucu yang sehat dan kuat . " Yang langsung dibalas sikuttan tajam di bagian perut dari gadis yang tengah kompak mertua dan menantu itu ledek bersama hingga mati kutu dan mati gaya. Nyonya Rossie walaupun sudah cukup tua, ternyata memiliki selera humor yang cukup tinggi , berbeda dengan Alessya yang begitu pemalu dan pendiam .
" Jangan seperti anak kecil Alessya ? Ingat sekarang kau sudah menjadi seorang istri , layani dan perlakukan suamimu dengan baik ." Ujar ibunya memberi nasihat kepada putrinya itu .
" Dan nak Arselli , ibu titip padamu putri ibu yang manja ini . Walaupun dia sedikit manja ibu pastikan dia seorang gadis yang lincah dan tangguh . " Ujarnya pada menantunya tidak menyadari pelototan anak gadisnya kala mendengar ucapannya tadi.
OMG ... Lincah dan tangguh ? Apa maksudnya ?
Saat mendengar nasihat itu wajah Arselli tampak berseri - seri sembari menatap wajah Alessya yang kepergok tengah menatap jengah padanya , bola matanya bahkan berputar kala itu .
" Jangan berfikiran macam - macam ! " Bisik Alessya di telinga suaminya sembari mencubit perutnya . Mulutnya yang masih penuh dengan makanan memancing tawa Arselli karena merasa lucu .
" Baiklah , Ibu . " Jawab Arselli pada mertuanya tidak melepas tatapan matanya pada istrinya yang sedang marah namun terlihat menggemaskan itu.
__ADS_1
***
Menjelang sore hari , ibu Alessya akhirnya pergi . Arselli mengantarnya sampai ke mobil di depan lobby apartement . Arselli menyuruh salah satu supirnya untuk mengantar mertuanya itu .
" Ibu minta maaf atas tingkah Alessya yang seperti itu . Mungkin dia hanya sedikit marah padamu , Nak. Maafkanlah dia . " Ujarnya sembari duduk di dalam mobil pada Arselli yang tengah berdiri di dekat jendela mobil yang terbuka itu .
" Tentu saja ibu . Bagaimanapun dia telah menyelamatkan nyawaku . Kebaikannya tidak akan terbayar oleh apapun. " Jawabnya bijak.
" Akh... ibu hanya tidak mengerti dengan apa yang ada di fikirannya. Sampai - sampai dia memutuskan untuk pura - pura amnesia seperti itu . " Sembari memijit pelipisnya . Akh , sudah tahu rupanya mereka selama ini . Ternyata selama ini mereka hanya mengikuti permainan nakal gadis itu rupanya. Tapi ... bagaimana mereka tahu ?
Setelah saling berucap kata perpisahan dan melepas kepergian mertuanya, Arselli kembali ke apartemennya di lantai atas . Belum terlalu jauh kakinya melangkah, tiba - tiba ponselnya berbunyi .
" Bagaimana dengan rencananya , apa kau sudah mulai ? " Dokter Edward langsung bertanya tanpa memberi jeda waktu barang sedikit pun untuk bernafas bagi lawan bicaranya itu .
" Hei .. kau terlalu bersemangat , Dokter ! " Ujarnya sinis disertai senyum tak kalah sinis juga. Namun sayang tak dapat dilihat oleh orang yang sangat ingin dia hajar itu.
" Istrimu itu sangat menggemaskan , aku jadi penasaran dengan akhir ceritanya nanti ! " Jawabnya masih dengan nada yang kental akan candaan antar sesama pria. Tawa renyah terdengar bersamaan dari balik ponsel Arselli yang ditempel di telinga kanannya .
" Diamlah ! Bahkan kau lebih tahu dengan pasti kondisinya bukan .. " Mengingatkan kembali luka Alessya yang bahkan masih dibalut perban itu. Bukankah dia dokternya ?!
" Ya .. Ya .. Selamat berjuang .. !! " Sembari terkekeh membuat panas telinga yang mendengarnya saja.
Menutup telfonnya , Arselli segera melenggang pergi , berlari menuju kamar apartemen dimana Alessya berada .
Menemuimu kekasih hatiku ...
Memangnya apa yang mereka rencanakan ?
~
~
__ADS_1
~
Jangan lupa , like , rate dan vote .