Lola And Loly

Lola And Loly
Kemarahan


__ADS_3

.


.


.


" Braaakkkk "


Arselli marah besar. Dia menggebrak meja yang ada di hadapannya. Menjatuhkan semua barang yang ada di meja kerjanya. Tidak peduli barang itu penting atau tidak. Tidak peduli berkas itu penting atau tidak. Asalkan itu mampu meredakan amarahnya, dia akan melakukan apapun saat itu juga.


" Kau sudah memastikan itu semua, Henry ? "


Sembari berdiri Arselli berteriak, dengan kedua telapak tangannya yang mengepal di atas meja, dia berusaha meredam emosi. Wajahnya memerah karena amarah, matanya hampir menangis karena merasa tidak percaya.


" Sudah, Tuan. Saya sudah memastikannya berulang kali. " Jawabnya dengan begitu meyakinkan sembari menundukkan kepalanya.


Tak ada ragu di sana, karena dia sudah memastikannya berkali-kali dalam beberapa hari ini. Dan puncaknya pada hari ini, setelah anak buahnya berhasil menangkap anak buah Ny. Alice yang akan membantu mengurus kepergian Alessya saat nanti Alessya pergi diam-diam meninggalkan Arselli di bandara.


" Jadi dia berencana pergi meninggalkanku ? " Arselli memastikan sekali lagi.


Suaranya terdengar lirih. Ada sakit di sana, marah, kecewa dan hampa. Yang menggambarkan perasaannya saat itu. Membayangkan Alessya pergi dari hidupnya, meninggalkannya seorang diri.


Untunglah, asisten Henry berhasil mendapatkan informasi ini. Kalau tidak Alessya sudah terlanjur pergi darinya, dari hidupnya. Meninggalkannya seorang diri dalam keterpurukan dan kesengsaraan hati yang tak berujung, fikirnya.


Ada kebencian di sorot matanya. Semudah itukah Alessya menyerah akan cintanya ? Menyerah akan dirinya ? Seberapapun besarnya tekanan yang diberikan ibunya, tapi apabila Alessya mencintainya, Alessya pasti akan rela berkorban untuknya. Berjuang dan berusaha bersama dirinya untuk mempertahankan ikatan cinta mereka, ikatan suci pernikahan mereka.


Mengapa Alessya tidak mau terbuka padanya. Bukankah masalah akan lebih mudah jika berbagi berdua. Jangan hanya sendiri menanggung beban di hati. Kecuali ... jika Alessya memang benar-benar sudah menyerah akan dirinya dan tak ingin mempertahankan pernikahan itu lagi.


Tanpa Arselli ketahui, walaupun asisten Henry tidak berhasil mendapat informasi ini. Alessya akan tetap berada di sampingnya menolak permintaan Ny. Alice padanya. Karena keputusannya sudah bulat, untuk tetap berada di samping Arselli selamanya. Kecuali jika Arselli sendiri yang memintanya untuk pergi dari kehidupannya.


" Lebih tepatnya Nyonya muda terpaksa pergi karena tekanan dari ibu anda, Tuan. "


Asisten Henry berusaha melindungi Alessya. Karena bagaimanapun juga, saat ini yang paling tertekan adalah istri dari majikannya itu. Dia tahu dengan pasti bagaimana Ny. Alice menekannya sesuai dari laporan anak buahnya.


Kedua tangan Arselli semakin mengepal. Dia mendadak teringat sesuatu. Kejadian saat dia memergoki Alessya menyembunyikan sesuatu di dalam tasnya.


Arselli berjalan dengan langkah besar dan cepat. Keluar dari ruangan kerja, menyusuri tangga, lalu menuju kamarnya di lantai dua, dimana Alessya kini berada. Asisten Henry sigap mengikutinya dari belakang, seolah bersiaga apabila sesuatu terjadi diluar kendali.


Suara pintu yang dibuka secara kasar mengagetkan Alessya yang sedang duduk di depan meja riasnya. Sedang membereskan peralatan kosmetik yang ada di sana.


" Sa-sayang ! "

__ADS_1


Alessya masih duduk saat itu, ia hanya menolehkan kepalanya ke arah suaminya yang tiba-tiba datang. Dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit ketakutan ketika melihat Arselli dengan aura menyeramkan seperti itu.


" A-da apa ? "


Alessya menatap asisten Henry. Dia teringat tadi, asisten Henry mengajak suaminya untuk berbicara dengan wajah yang begitu serius. Seolah hal sangat penting yang akan dibicarakannya. Apakah karena hal itu suaminya menjadi seperti itu ?


" Mana tasmu ? " Arselli menggerak-gerakkan jarinya ke arah Alessya. Seolah meminta barang yang disebutkannya tadi secepatnya.


" Hmm ? "


Alessya mengernyitkan dahinya.Tas ?


" I-itu-. "


Alessya menunjukkan jari telunjuknya pada beberapa tas yang kini sudah berada di atas ranjang dan sekitarnya. Ada beberapa tas di sana dan koper juga yang belum selesai dia bereskan tadi, karena dia masih berkemas saat itu.


Arselli langsung mengambil tas yang ada di ingatannya. Merogohnya, mencari sesuatu di dalamnya.


" A-ada apa ? "


Alessya berjalan menghampiri suaminya. Wajahnya sedikit memucat kala itu. Mendadak teringat sesuatu yang dia simpan di dalam tas itu.


Arselli terus mencarinya, dengan wajah cemas penuh harap bahwa yang disembunyikan Alessya bukanlah apa-apa.


Kekecewaan dirasakannya saat itu.


" Apa ini ? "


Teriaknya pada Alessya saat menemukan ticket dan paspor dari dalam tas istrinya. Setelah mengeceknya terlebih dahulu, tanggal dan Jam yang tertera di sana. Dan hasilnya sama, sesuai dengan laporan asisten Henry sebelumnya.


" Apa ini ?!! " Teriaknya lagi.


Kali ini lebih kencang dengan penuh emosi. Dia mengangkat benda itu tinggi-tinggi, sehingga Alessya bisa dengan jelas melihatnya pasti.


Alessya terkejut, membelalakkan matanya seketika. Refleks menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya. Air mata menetes membasahi pipinya, tak tertahan lagi, tak terelakkan lagi. Kakinya terasa lemas, membuat dia tanpa sadar mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula.


" Russel ... kau jangan salah paham. Aku bisa menjelaskan hal itu. " Jelas Alessya dengan bibir bergetar.


" Apa yang ingin kau jelaskan, Alessya ? " Kemarahan Arselli sungguh tak terbendung lagi. Dia menatap tajam Alessya yang menangis tiada henti.


" Ini adalah bukti. Bahwa kau akan pergi meninggalkanku bukan ? " Ucapannya begitu menusuk hati sang istri.

__ADS_1


" Tidak ! Kau salah paham Russel ! Aku sudah memutuskan untuk menolak permintaan ibu. Kemarin aku berniat untuk merobeknya. Tapi, kau tiba-tiba datang ke kamar ini. "


" Bahkan kau tidak jujur padaku, Alessya. Apakah menurutmu aku tidak berguna ? Tidak dapat menyelesaikan masalah ini ? " Arselli tersenyum penuh kegetiran. Kekecewaan yang begitu besar tersirat di sana.


" Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin merusak hubungan seorang anak dengan ibunya, Russel. Aku mohon ... percayalah padaku. Aku sudah memutuskan untuk menolaknya." Alessya memelas, memohon agar Arselli bisa mempercayainya.


Alessya duduk di lantai. Kedua kakinya benar-benar terasa lemas untuk menopang tubuhnya itu. Hari ini adalah puncak deritanya. Puncak kesedihannya.


Apakah ini yang disebut takdir. Tak bisa dielakkan walau kemanapun kau pergi. Tak bisa dikontrol walau bagaimanapun kita berusaha mengambil kendali.


Dia sudah memutuskan untuk menolak permintaan ibu mertuanya itu. Tapi nyatanya, pertengkaran tak terelakkan lagi. Kala suaminya berhasil mengetahui sebuah rencana yang samasekali tidak akan dilakukan olehnya.


Apakah ini takdir ? Ataukah ujian semata ? Untuk mempererat jalinan kasih cinta mereka. Untuk menguji seberapa besar cinta mereka. Atau mungkin justru untuk benar-benar memisahkan mereka ?


" Russel ! Dengarkan aku ! "


Alessya mengejar Arselli yang berjalan meninggalkannya begitu saja. Yang mengabaikan dirinya, tanpa ingin sedikitpun mendengar penjelasannya.


" Henry ! "


Asisten Henry menghampiri majikannya.


" Tutup pintunya ! Jangan biarkan dia keluar dari kamar ini ! " Ucap Arselli tanpa menghiraukan Alessya yang menangis memanggil namanya berulang kali. Meninggalkannya seorang diri di kamar itu.


Asisten Henry melakukan perintah majikannya itu. Menutup pintu dan mengunci pintu kamar itu dari luar.


" Maafkan saya, Nyonya. " Ucap asisten Henry sebelum melakukannya.


Alessya menatap Arselli dengan tatapan hampa. Hingga akhirnya pintu tertutup memisahkan mereka berdua.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, rate dan koment ya ... Terimakasih semuanya ...


__ADS_2