
Masih mengisi satu tahun pernikahan mereka.
Judulnya kayak acara di tv berlogo ikan terbang ya π€π€π€
~
~
~
" Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu, istriku tercinta ... ? " Sembari tersenyum nakal Arselli mengingatkan istrinya. Terang saja, sedari tadi semenjak mereka keluar dari butik, Alessya terus mendelik menatap tajam dirinya.
Bak pedang yang siap menghunus musuhnya. Bak taring singa yang siap mencabik mangsanya. Bak silet tajam yang siap mencukur kumisnya π€.
" Belum puaskah kau menatapku ? " Tatkala melihat istrinya itu hanya menghela nafas panjang ketika mendengar ucapannya tadi, demi meredam amarah yang menggelegar sampai di ubun-ubunnya.
Alessya hanya terdiam dengan seribu bahasa di tubuhnya. Mengalihkan pandangan matanya dari suaminya yang tengah menyetir di sampingnya ke luar jendela mobilnya. Sepertinya pemandangan di luar sana lebih menenangkan jiwanya.
" Kita akan ke mana ? " Tanyanya dengan begitu dingin dan lirih. Sepertinya Alessya benar-benar kesal setengah mati. Memilih untuk meredam sementara emosinya di dalam hati.
" Kita lihat saja nanti. " Jawab Arselli. Dia tidak akan membocorkan kejutannya kali ini. Dia benar-benar harus bertahan sekuat hati. Tinggal satu langkah lagi. Tak apalah beberapa jam saja Alessya memperlakukannya dingin seperti ini. Yang pasti ... Kita lihat saja nanti, fikirnya.
" Baiklah aku tidur saja ! " Ketusnya. Memilih tidur untuk menghukum suaminya. Dia begitu lelah menjadi ' Objek Upit ' suaminya itu.
" Huuh ... " Arselli menarik nafas dalam-dalam. Karena kesalahannya, musnah sudah harapan dan angan-angannya. Mencari sensasi luar biasa di dalam mobilnya.
Entahlah ... jika berkaitan dengan Alessya, dia memang slalu saja ingin menggodanya. Istrinya itu begitu polos, lucu dan menggemaskan. Apalagi jika marah-marah seperti barusan.
***
Selama di perjalanan Alessya tidur dengan lelapnya. Walau hanya dengan berbantal boneka kecil yang mengganjal pundaknya. Sesekali kepalanya melenggut ke depan, ke samping bahkan terbentur ke belakang mengikuti irama mobil yang meliuk mengikuti alur medan jalan. Mungkin Alessya begitu mengantuk hingga gerakan mobilpun samasekali tak mengganggu lelap tidurnya.
Arselli dengan rasa cinta kasihnya setelah beberapa lama memperhatikan istrinya, akhirnya memutuskan untuk beristirahat sementara. Kebetulan di perjalanan dia melihat rest area yang langsung berhadapan dengan sebuah danau yang indah nan menyejukkan mata.
__ADS_1
Memarkirkan mobilnya tepat di pinggir danau dan tepat menghadap ke arahnya. Arselli beringsut membuka jas yang dipakainya, menggunakannya untuk menyelimuti tubuh istrinya, Alessya. Mengingat cuaca yang cukup dingin ditengah gerimis yang melanda bumi tercinta.
Sembari menanti sang istri bangun dari tidurnya, tanpa terasa dirinya ikut terlelap bersamanya.
Hari semakin sore ...
Alessya terbangun dari tidurnya. Mendapati suaminya tengah tertidur pula di sampingnya di kursi kemudi yang sedari tadi didudukinya. Sedikit terharu tatkala menyadari sang suami rela mengorbankan jasnya hanya demi menyelimutinya. Sungguh, saat itu cuaca begitu dingin namun Arselli bertahan hanya dengan menggunakan sebuah kaos yang menempel di tubuhnya.
" Russel ... " Menggerakkan bahu Arselli untuk membangunkannya. Suasana begitu sepi, cuaca cukup mendung, Alessya sedikit bergidik dengan tempat yang terasa asing ini.
" Russel, bangunlah ... " Panggilnya lembut setengah berbisik ke telinga suaminya itu.
" Emh ... Kau sudah bangun ? " Dengan mata yang masih terpejam.
" Ini dimana Russel ... mengapa begitu sepi ? " Tanyanya penasaran.
" Ini masih di perjalanan Alessya ... " Jawabnya, lagi-lagi dengan mata yang masih terpejam kala itu.
" Hanya ke suatu tempat, Alessya ... " Masih bertahan untuk menutupi demi kejutannya nanti.
" Masih jauhkah ? " Tanyanya. Arselli menganggukkan kepalanya.
" Kenapa tidak mengajak supirmu ? Kau jadi kelelahan seperti ini. " Berusaha menunjukkan perhatiannya pada suaminya. Lagi-lagi pria itu bertahan dalam lelap tidurnya, kali ini tanpa menjawab samasekali bahkan menganggukkan kepalapun tidak. Sepertinya kantuknya tengah bergelayut berat di bulu matanya.
Menghela nafas, Alessya memutuskan keluar dari dalam mobil setelah sebelumnya menyelimutkan jas pada tubuh suaminya. Menikmati pemandangan indah yang terpampang jelas di depan matanya, ia berjalan perlahan ke tepian danau dan berdiri di sana menatap indahnya perairan. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, Alessya memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam, berusaha menikmati segarnya oksigen yang bertebaran.
Kebetulan rest area di pinggir danau itu dikelilingi pagar. Alessya berdiri di sana menyandarkan dadanya pada pagar besi yang cukup tua dan usang itu.
Sudah lama tidak melihat pemandangan alam seperti ini ...
Sejak menikah denganmu, aku hanya terkurung di apartemenmu ...
Aku tidak menyangka kau begitu posesive padaku, Russel ...
__ADS_1
Bibirnya tersenyum, mendadak teringat semalam suaminya memberikan sebuah tiket destinasi wisata honeymoon untuk mereka lakukan berdua. Menghapus kesedihan dan kekecewaan yang cukup lama terpendam di dalam hatinya yang kian lama makin merajalela.
Ya ... walaupun Alessya tidak pernah berkeluh kesah di lubuk hati yang paling dalam dia menangis tak kentara kala dia menyadari dan harus menerima sebuah fakta, pernikahannya dengan suaminya seperti sebuah rahasia, disembunyikan dari dunia bahkan tidak diakui oleh sang ibu mertua. Hatinya menangis dan menjerit sejadi-jadinya namun apa daya dia bukanlah siapa-siapa. Hanya cinta yang dia punya untuk dipersembahkan kepada sang pria.
Tanpa sadar, air mata menetes membasahi pipinya. Meluap perlahan bersamaan dengan kesedihan yang telah lama terpendam di dalam dada.
" Apa yang sedang kau lakukan ? " Tiba-tiba Arselli telah berdiri tepat di belakangnya , sangat dekat dan kini tengah memeluknya. Memberikan kehangatan dalam dinginnya kesendirian. Menghapus kehampaan diantara indahnya dunia.
Walaupun Alessya tidak menjawab, Arselli tahu pasti istrinya tengah menangis menahan duka yang sudah beberapa lama ini terpendam. Huh ... dalam situasi seperti ini, dia sungguh lemah dan tak berdaya. Tanpa bisa berbuat apa-apa hanya bisa memberikan penghiburan semata.
Percayalah Alessya ...
Suatu saat ibu pasti akan merestui kita, kita hanya butuh waktu untuk sementara.
Berjuang untuk meraihnya.
" Kau masih marah padaku ? " Walau begitu ternyata dia masih menyadari duka istrinya hari ini berawal dari keusilannya tadi.
" Tidak ! " Alessya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kalau begitu ..." Ucapannya terputus tatkala Alessya menatap tajam padanya.
" JANGAN MINTA YANG ANEH-ANEH !!!! " Ucapnya tegas memutus alur mata rantai khayalan tingkat tinggi sang suami tercinta. Sepertinya mencari sensasi luar biasa di dalam mobilnya kali ini hanyalah menjadi impian belaka. Mungkin ... lain kali bisa dicoba lagi. Uiuh ... Arselli mendadak teringat kembali kala mobilnya mogok di parkiran mall. Dia dan Alessya terjebak di sana di bawah derasnya guyuran air hujan. Dan dengan saling mendamba mereka melakukannya di sana, meraih sensasi luar biasa. Dan jujur saja, dia memang ingin mengulanginya ... Walaupun kini sudah tidak mungkin juga, istrinya sudah jelas menolaknya. Ya ... jika diingat lagi, Setelah mereka bercinta hebat di sana, pulangnya mereka bertengkar cukup hebat dan kalap. Bantal sofa berterbangan menimpukinya. Khayalan ini sementara dihapus saja, bukankah ada rencana kejutan yang sedang dipersiapkan untuk istrinya. Jangan sampai gagal hanya karena masalah alay-alay melodrama cinta.
Ucapan tegas itu disambut senyuman kecut sang suami yang langsung merenggut luchu di ceruk leher istrinya.
Semakin mempererat pelukannya mereka menikmati kebersamaan mereka berdua. Berbagi cinta dan tawa bersama. Meraih kenyamanan hati dan ketenangan jiwa.
π
π
π
__ADS_1