
.
.
.
.
Jika kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi menantuku Alessya ...
Dan jika kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi istri dari putraku ...
Setidaknya berikanlah aku cucu laki-laki sebagai generasi penerus putraku nanti.
Jika kau bisa memberikannya, maka kau berhak untuk semua ini ...
.
.
.
.
.
Dua tahun sudah ikatan suci telah terjalin diantara mereka. Ucapan dari mertuanya masih terus terngiang di telinganya. Kehampaan mulai terasa tatkala tangisan seorang bayi tak juga terdengar di rumahnya.
" Alessya ... apa yang sedang kau fikirkan ? " Tanya Arselli suaminya kala mendapati Alessya tengah terbengong di depan meja makan dengan memeluk kedua lututnya.
" Tidak !! Aku hanya sedang memikirkan skripsiku. " Jawabnya berbohong dengan nada bicara yang begitu dingin.
" Besok lusa aku harus ke LA untuk melakukan perjalanan bisnis, cukup lama hampir satu bulan lamanya. Siapkanlah pakaianmu, aku ingin kau ikut. " Seperti biasanya Arselli slalu mengajak Alessya kemanapun dia pergi jika dia terpaksa harus lama pergi ke luar negeri.
" Aku sedang mengerjakan skripsiku, Russel. Sepertinya aku tidak bisa ikut, maafkan aku. " Jawabnya dingin juga sembari berpura-pura mengerjakan skripsinya. Mengalihkan pandangannya pada buku dan laptop yang sedari tadi berada di hadapannya.
" Aku tidak bertanya, Alessya. Aku meminta padamu. Bisakah kau hanya menurut padaku saja ? " Sedikit meninggikan nada bicaranya, setelah menyadari sedari tadi Alessya bersikap biasa saja tanpa antusiasme yang sering diperlihatkannya kala mendapat ajakan serupa darinya.
Beberapa bulan ini, Alessya berubah ... apalagi semenjak kepergian ibunda tercintanya Ny. Rossie untuk selamanya dari dunia. Terasa hampa dan tidak punya siapa-siapa, tatkala menyadari sang ibu mertua tak kunjung jua menerimanya.
Ini sudah memasuki tahun kedua pernikahan kami ... Entahlah, begitu sulit bagiku untuk menggapaimu ...
" Alessya ... !!! " Teriaknya kesal pada istrinya. Ketika Alessya hanya berlalu saja pergi meninggalkan dirinya berdiri sendiri di sana. Pergi menuju kamar yang bukan tempat tidurnya. Menuju kamar lain dan menguncinya dari dalam seolah menghindar darinya.
Dan semua itu berawal dari sebuah kisah ...
Alessya seorang gadis biasa. Dengan wajah cantik, imut dan bola mata yang indah. Senyumannya merekah dengan pipi yang merona merah.
__ADS_1
Dia cerdas dan bekerja keras. Mandiri dan tidak manja. Menjalani kehidupan remaja dengan cukup keras menjadikan dirinya pribadi yang kuat dan penuh dengan tekad bulat untuk meraih cita-cita.
Cintanya berlabuh pada seorang pria tampan yang kaya raya. Pengusaha sukses di berbagai negara. Menjadikan dirinya harus menghadapi ujian berat tatkala taraf kehidupan dirinya semakin meningkat. Bak pohon yang semakin tinggi, badai yang menerjang pun semakin menjadi.
Nyaris sempurna ... Dengan wajah cantik jelita, tubuh seksi nan menggoda, pintar dan disukai semua temannya dan kini menikah dengan pengusaha kaya yang merupakan kekasihnya.
Tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Karena pada kenyataannya sampai hari ini dan detik ini juga Alessya belum juga mendapat restu dari ibu mertuanya. Diterima tulus dengan tangan terbuka hanyalah impian semu baginya. Apalagi syarat yang mengharuskannya untuk bisa memberikan seorang anak laki-laki untuk penerus suaminya. Karena pada kenyataannya setelah dua tahun lamanya mereka berumah tangga tak kunjung jua tangisan seorang bayi menghangatkan kebersamaan mereka.
" Bagaimana keadaanmu ? " Tanya Nyonya Alice pada menantunya itu. Ini kali pertama dia datang berkunjung ke rumah putranya setelah sekian lama berumah tangga, justru disaat Arselli sedang tidak ada di sana.
" Ba-baik , Ibu. " Jawabnya sembari menunduk. Berhadapan dengan Ny. Alice serasa menjadi hal menakutkan baginya. Auranya begitu gagah dan kuat sulit ditembus mata hatinya.
Entahlah, Ibu menanyakan kabarku, atau menanyakan mengenai diriku yang tak kunjung jua memberi cucu padanya ?
Sedikit rancu dengan pertanyaan itu. Tak ingin terlalu besar kepala, sepertinya walaupun hatinya sedikit sakit Alessya menyadari maksud pertanyaan ibu mertuanya. Yaitu mengenai rahimnya.
" Apa kau sudah pergi ke dokter ? " Tanya Ny. Alice mengintimidasi.
" Su-sudah. " Jawabnya dengan begitu lirih sedikit bergetar.
" Apa katanya ? " Tanyanya lagi.
" Ba-ik Ibu. " Masih menunduk.
Ny. Alice tersenyum sarkasme. " Apa kau benar-benar mencintai putraku ? "
Aku bahkan rela mengorbankan nyawaku untuknya ...
Ingatkan Ny. Alice, sepertinya dia terlupa dulu, Alessya bahkan mengorbankan nyawanya untuk melindungi nyawa putranya. Entahlah apakah dia terlupa atau dia tak ingin menerima sebuah fakta. Sekedar mengucapkan terimakasih sepertinya begitu berat baginya. Apalagi harus membalas budi dan bersikap baik sebagai ungkapan terimakasihnya karena telah melindungi nyawa putranya.
" Aku harap kau tidak keberatan, jika suatu saat aku memberimu pilihan. " Ny. Alice sepertinya mulai bermain tebak-tebakan. Alessya mengernyitkan dahinya karena merasa tidak paham.
Memberanikan diri Alessya menatap ibu mertuanya itu, mengeratkan tangannya pada ujung dress yang digunakannya. Dia memberanikan diri untuk bertanya " Apa maksud ibu ? " Tanyanya kemudian.
" Kita lihat saja nanti. Ini baru dua tahun bukan. Sepertinya aku masih bisa bersabar untuk menunggu beberapa lama lagi. " Jawab Ny. Alice dengan begitu tenang. Walaupun Ny. Alice belum menerimanya sebagai menantu resminya , setidaknya selama ini dia selalu bersikap baik pada istri putranya itu. Tidak bersikap frontal secara langsung, walaupun pernah sekali Alessya mendengar ucapan kasar mengenai dirinya dari mulut mertuanya itu saat di kantor Arselli dulu. Hanya sekali saja saat itu terasa begitu menyakitkan, selebihnya pertemuan mereka beberapa kali terjadi dan hanya terasa datar, tegang dan kaku saja seperti saat ini.
Alessya menegang.
" Apakah ibu akan memisahkan kami ? " Tanyanya setelah puluhan kali pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Ny. Alice tertawa lalu mencibir. " Andai aku bisa melakukannya Alessya. Aku pasti sudah melakukannya dari dulu. "
Alessya kaget mendengarnya. Hatinya sakit terasa diiris-iris pisau belati.
" Maafkan aku ... Karena tidak sesuai dengan harapan Ibu. " Dengan rendah hati dia menyadari kekurangannya sendiri.
" Maaf tidak akan cukup Alessya. Kau hanya cukup memberikan Arselli seorang putra. Maka aku pastikan kebahagiaanmu akan terasa begitu sempurna. " Ucapnya dengan begitu meyakinkan.
__ADS_1
" Tidak ada kebahagiaan yang praktis. Segalanya butuh proses dan perjuangan. Begitupun putraku ... untuk mencapai kesuksesannya seperti saat ini, dia meraihnya dengan segala cara dan upaya bahkan sampai mengorbankan kebahagiaannya. "
Ucapan Ny. Alice memang benar bagaimana perjuangan Arselli dulu dia mengetahuinya dengan pasti. Apalah arti Alessya yang bertemu dengan putranya saat kesuksesan telah dimilikinya. Belum teruji secara pasti sejauh mana cintanya jika Arselli hanyalah orang biasa.
" Menurutku tidak berlebihan memberinya hadiah seorang anak untuk meneruskan hasil jerih payahnya kelak. Walaupun ada Lucas adiknya, akan sangat tidak adil jika bukan darah dagingnya sendiri yang meneruskannya. " Kasih sayang seorang ibu memang tak terhingga , Ny. Alice bahkan memikirkannya sampai sejauh itu.
Alessya tertegun mendengar satu persatu kata yang terucap dari bibir sang mertua. Penuh dengan makna yang tersirat.
Alessya menelan ludahnya beberapa kali bingung harus menjawab apa.
" Baiklah Alessya. Hanya satu permintaanku ... Jika kau tidak juga bisa memberi Arselli anak. Baik itu secara alami ataupun medis, aku ingin bertanya ... apa kau bersedia untuk pergi dari kehidupan putraku ? " Pertanyaan yang terasa begitu menyakitkan. Serasa palu Godam yang memukul tepat ke jantung hatinya.
" Pertanyaan ini pasti begitu menyakitkan bagimu. Setidaknya ini lebih baik daripada aku meminta putraku untuk menikah lagi bukan ? " Lanjutnya kemudian.
Sesak ...
Dada Alessya terasa begitu sesak. Sesaat setelah Ny. Alice berlalu pergi meninggalkan dirinya, dia menangis tak tertahankan. Kakinya bergetar, lemas dan terasa mengambang. Dia berada dalam dua pilihan, dan dua-duanya terasa begitu menyakitkan
Siapa yang berani jatuh cinta maka dia harus siap untuk berkorban.
.
.
to be continue ...
.
.
.
Jangan lupa like, rate dan vote ...
Untuk Season 2 ... masih prolog dulu ya ...
Untuk aktif up setiap hari akan dimulai awal bulan depan tepat di tanggal 1, mungkin saat itu tabungan episodenya sudah lumayan banyak.
Untuk akhir bulan ini, mungkin hanya akan up sesekali dulu ...
Selamat membaca dan selamat menikmati
Mohon maaf jika banyak bumbu bawang merah di sana nanti.
Tapi ... percayalah rasa cinta yang kuat akan tercipta dengan kolaborasi bumbu penyedap yang lainnya.
...
__ADS_1
πππ