
Malam tadi menjadi malam terakhir bagi mereka berpeluh keringat selama sisa kehamilan Alessya beberapa bulan ke depan.
Terasa menjadi cobaan berat bagi mereka yang dilanda rindu dan membutuhkan buaian.
Namun ... Hal itu hanyalah sepele belaka, tatkala ada yang lebih penting darinya. Dan lebih menyesakkan jiwa ...
" Kehamilan istri anda beresiko tinggi. " Ucap dokter pria itu, yang katanya merupakan dokter kandungan terbaik di negeri ini.
Arselli berdehem mencoba menenangkan ritme jantungnya yang tiba-tiba saja terasa berantakan.
" Anda yakin ? Coba jelaskan, Dok ! " Tanyanya kemudian.
Dokter pria itu memandangi Arselli beberapa lama. " Beresiko Kematian ! " Lanjut dokter itu.
Arselli melonggarkan dasinya. Dadanya mendadak terasa sesak. Ada yang bergemuruh di sana. Alessya menunggunya di ruang tunggu. Dengan alasan pergi ke toilet, Arselli malah diam-diam menemui dokter yang telah memeriksa Alessya beberapa saat lalu. Setelah dokter itu memberinya tanda agar bisa berbicara berdua saja.
" Apa maksud dokter ? Kematian siapa yang dimaksud ? " Arselli tampak begitu tegang kala itu. Ragu dengan pertanyaan yang akan diajukannya. Lebih tepatnya merasa tidak siap untuk mendengar jawaban dari pertanyaan yang diajukannya ini.
" Beresiko kematian, bagi istri anda. " Jawab dokter itu. Bak kilatan petir menerpa tubuhnya, kabar itu sungguh menyesakkan jiwanya membuat tubuhnya mati rasa seketika.
" Rahim istri anda pernah bermasalah. Jika kehamilan kali ini hanya ada satu bayi, atau mungkin maksimal dua bayi, sepertinya masih bisa ditoleransi. Hanya saja tiga bayi itu, terlalu ... " Dokter menghentikan kalimatnya untuk sesaat.
" Untuk rahim yang sehat saja, hamil kembar tiga adalah hal yang cukup berat. Dan ini jelas, rahim istri anda pernah bermasalah sebelumnya. Saya bertaruh, istri anda pernah mendapat vonis dari seorang dokter, bahwa dia tidak akan pernah hamil. Begitu bukan ? " Arselli mengangguk, wajahnya tampak pucat saat itu.
" Apakah ada solusinya ? " Arselli mengerutkan dahinya sehingga membentuk beberapa kali lipatan. Suaranya terdengar parau kala itu.
" Ini cukup berat ! Keputusan final ada di tangan anda dan istri anda. "
***
Arselli berjalan perlahan menghampiri istrinya yang tengah duduk di kursi di ruang tunggu rumah sakit itu untuk menunggunya.
Langkahnya terasa begitu gontai, seakan melayang. Fikirannya berkecamuk kencang, terpecah belah terbang entah ke mana. Ucapan dokter itu masih terngiang begitu jelas di telinganya.
" Sayang .. kau kenapa ? Apa kau sakit ? " Alessya begitu khawatir ketika melihat wajah Arselli yang tampak pucat kala itu.
" Tidak. Sepertinya aku hanya kelelahan saja, Sayang. " Jawabnya kemudian. Tak ingin Alessya terlalu mencemaskannya.
" Benarkah ? Kau pucat sekali. Apa tidak sebaiknya kau memeriksakan kesehatanmu ? Mumpung kita sedang di rumah sakit. " Alessya benar-benar merasa khawatir. Tidak biasanya Arselli terlihat begitu rapuh di hadapannya.
" Kau baru pulang dari toiletkan, Sayang ? "
__ADS_1
Arsselli menganggukan kepalanya. Untunglah dalam situasi itupun ia tidak lupa bahwa dia tadi berbohong pergi ke toilet saat dia menemui dokter kandungan itu lagi. Dan membicarakan masalah yang membuat dia pucat kini.
Pusing dan stress sudah pasti. Jantung pun mendadak terasa nyeri, berdetak begitu kencang bak menabuh genderang. Padahal dia samasekali tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
" Jangan-jangan kau melihat hantu, Sayang. "
Alessya bergidik ngeri setelah mengucapkannya. Begelayut erat pada lengan Arselli seolah ketakutan tengah menghantuinya kala itu.
Ucapan Alessya terdengar begitu polos sekali di telinganya. Apa jadinya jika wanita yang satu ini pergi dari dunia ini untuk selamanya. Pergi dari kehidupannya dan tak akan pernah kembali maupun dia temui lagi seumur hidupnya.
Dia sungguh pasti akan merana dan tersiksa. Hampa dan tak berarti apa-apa, hanya kekosongan terasa, kesendirian kian nyata dan kini hampir di depan mata.
Sungguh sesak, menyesakkan, menyiksanya, Arselli sungguh tidak sanggup untuk membayangkannya. Apalagi setelah mengingat obrolan ini ...
Dengan berat hati dokter itu menjelaskan dan memberinya dua pilihan apakah kehamilan itu akan dilanjutkan dengan resiko terancamnya nyawa Alessya walaupun tidak seratus persen dan tetap tangan Tuhan yang bekerja dalam keputusan akhirnya, atau mengakhiri kehamilan itu mumpung usia kandungannya masih muda dan belum terlalu besar juga.
" Bagaimana jika kehamilan itu tetap dilanjutkan ? Seberapa persen kemungkinan kematian itu ? " Dia mencoba bernegosiasi, berusaha mencari celah untuk kebaikan semuanya.
" Kondisi ini sangat berbahaya. Tidak seratus persen. Ada kemungkinan keajaiban di sana. Hanya saja menurut saya, sangat tipis. Dan ... apabila kehamilan itu benar-benar dilanjutkan istri Anda harus bedrest, tidak melakukan aktifitas yang berat dan menguras keringat berlebih. Dan aktivitas suami istripun harus dihentikan sementara waktu sampai proses melahirkan nanti. "
" Selain itu hindarkan hal-hal yang dapat menambah beban fikirannya. Jangan biarkan istri anda mengalami stress barang sedikitpun. " Lanjut dokter itu. Usianya sekitar empat puluh tahunan. Lebih tua beberapa tahun dari Arselli.
" Saya juga akan memberikan vitamin dan penguat rahim yang terbaik untuk istri Anda, jika memang kalian bersikukuh untuk mempertahankan kehamilan itu. "
" Hanya saja ... pertimbangkanlah terlebih dahulu. Demi keselamatan istri Anda tentunya. Bicarakan dengan istri dan keluarga Anda. Nyawa seorang ibu dipertaruhkan saat ini. "
Arselli begitu bingung saat itu. Dia sangat mencintai istrinya itu. Dan dia tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Tapi dengan adanya dua pilihan ini membuatnya bingung sejuta rasa.
Alessya pasti akan kecewa dan sedih dengan hasil pemeriksaan itu. Mengingat kehamilan ini adalah hal yang sangat dia inginkan selama ini. Dan entah apa jadinya, jika dia tahu dengan adanya dua pilihan itu.
Dia pasti .. akan lebih memilih untuk mempertahankan kandungannya. Mengabaikan hidupnya, berharap keajaiban itu ada dalam hidupnya. Tanpa memikirkan Arselli yang kini cemas, ketakutan setengah mati.
***
" Kita akan langsung pulang ? " Alessya bertanya pada Arselli yang sedari tadi hanya diam saja seolah tenggelam dalam fikirannya.
" Bagaimana kalau kita ke kafe itu dulu ? Aku ingin membeli minuman di sana. " Tanya Alessya lagi, kala pertanyaan tadi hanya berlalu sambil lalu bersamaan angin yang bersemilir di halaman rumah sakit itu.
" Russel ! "
Panggil Alessya. Arselli terus berjalan meninggalkannya dalam kesendirian. Saat itu dia benar-benar tenggelam dalam bayangan kelam tentang kehidupan masa depan yang akan terasa begitu menyesakkan.
__ADS_1
" Russel ! " Panggil Alessya lagi.
Tiba-tiba sepasang suami istri mendekati Arselli. Menepuk bahunya, seolah menyadarkannya. Kedua orang itu mengobrol bersamanya dan menunjukkan jari telunjuknya pada Alessya yang masih berada di belakangnya, tertinggal jauh langkahnya dari langkah suaminya tadi yang begitu besar dan cepat.
" Alessya ... Maafkan aku ! " Ucapnya sembari berjalan mendekati Alessya yang kini tengah berdiri berdiam seorang diri.
" Kau kenapa ? " Wajahnya sedikit sendu kala itu.
" Dari tadi aku memanggilmu ... " Hampir menangis dia. Sisi sensitifnya keluar. berkolaborasi dengan hormon kehamilannya yang berlebihan.
" Apa yang kau fikirkan sebenarnya ? " Sejak keluar dari toilet tadi Arselli bertingkah aneh. Dan Alessya menyadarinya.
" Maafkan aku ! Aku hanya sedikit pusing saja sayang. Oh iya .. perkenalkan, mereka temanku, namanya Damian dan Emma. "
Mengarahkan tangan dan pandangannya kepada kedua temannya yang kini berdiri di dekatnya. Mereka adalah Damian dan Emma.
" Mereka yang berada di hotel saat itu. " Bisik Arselli pada istrinya. Dan Alessya ber-oh ria saat itu. Tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang sempat dia salah pahami kurang lebih dua bulan lalu.
" Dan Damian, Emma ... ini istriku Alessya. " Mereka tersenyum berkenalan dengan Alessya. Berjabat tangan sebagai awal perkenalan mereka.
" Maafkan kami atas kejadian tempo lalu, Alessya. " Damian memulai obrolan saat itu.
Alessya memahami, lagipula dua bulan sudah terlewati. Tak ada gunanya mengingat masa lalu yang hanya akan membangkitkan luka lama saja.
Mereka akhirnya berpisah setelah beberapa saat lalu berbagi kabar dan kisah. Arselli segera mengajak Alessya untuk pulang meninggalkan rumah sakit itu. Segera memikirkan jalan keluar dari masalah yang tengah dia hadapi saat itu.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
Jangan lupa like, rate dan koment ya ...
__ADS_1