
Karena bagi Alessya ... pernikahan ini adalah kehidupannya dan Arselli adalah dunianya ...
.
.
.
Arselli menjemput Alessya di bandara. Menyambut kedatangan sang tercinta di negeri Paman Sam ini, dengan senyum merekah dan wajah secerah sinar rembulan.
Satu ikat bunga mawar putih berada dalam genggamannya. Untuk diberikan kepada sang kekasih hati yang dia rindukan selama dua minggu ini.
" Alessya ... !! "
Teriaknya sembari mengangkat sebelah tangannya dan melambai ke arah Alessya yang berada tidak jauh darinya. Sebelah tangannya memegang sebuah karton putih bertuliskan ' My Star Alessya '.
Alessya yang saat itu menggunakan pakaian casual celana jeans dan kaos t-shirt berlengan panjang plus kaca mata hitam segera berlari menghambur ke arah suaminya setelah beberapa saat lalu tatapan mereka bertemu. Membalas lambaian dan senyuman dari pria yang sangat dia rindukan itu.
" Russel ... !! "
Berlari ke arahnya dan memeluknya dengan begitu erat, melepaskan rasa rindu yang terpendam dua minggu ini. Arselli menyambut pelukan itu dengan hangat, sembari mengangkat dan memutar tubuh istrinya.
" Sayyang ... sudah ... ! " Memukul pelan bahu suaminya untuk berhenti berputar.
" Pusing ... " Keluhnya manja.
Memijit pelipisnya setelah Arselli menurunkannya dan berhenti memutar tubuhnya. Dia memang sedikit pusing saat itu. Akibat dari perjalanan yang cukup lama hingga membuat dirinya kelelahan.
" Apa ini ? ! "
Alessya menepuk karton yang dipegang suaminya. Bermaksud mengomentari tulisan yang ada di sana. Dia tersenyum kecil memperhatikan tulisan itu setelah melonggarkan pelukan pada sang suami yang belum terlepas itu. Begitupun sebaliknya.
My star Alessya. ha ...
" Kau ini .. ! " Komentarnya singkat sembari tertawa renyah.
" Kau memang seorang bintang saat ini. " Ucap Arselli, yang langsung membuat Alessya terpana mendengarnya. Sembari memberikan seikat bunga mawar putih yang digenggamnya tadi.
" Terimakasih ... " Setelah menerima bunga itu dengan senang hati dan menciumnya, menghirup aroma wangi dari bunga itu.
" Bintang ? " Tanya Alessya karena belum mengerti. Dahinya sedikit berkerut saat itu.
" Bintang di hatiku. " Bisik Arselli dengan mesra dan romantis ke telinga Alessya. Sembari meniupnya pelan untuk menggodanya.
Alessya tergelak mendengarnya. Merasa bahagia yang luar biasa. Sedikit merasa geli juga, karena merasakan tiupan halus di telinganya. Memberi sensasi hangat dan berbeda.
" Aku merindukanmu , Russel ... "
Bisik Alessya ke telinga suaminya melepaskan pelukannya, lalu bergelayut manja pada lengannya sembari menggenggam bunga kesukaannya itu. Kopernya sudah dibawa oleh asisten Henry tadi.
" Benarkah ? Kenapa aku tidak percaya ? "
Jawab Arselli menggoda istrinya, yang langsung dibalas cubitan di perutnya.
" Aisshh ... " Arselli meringis.
" Apakah villanya jauh ? " Tanya Alessya.
Mereka mulai berjalan menyusuri bandara menuju pintu keluar menuju mobilnya.
" Kenapa ? Kau ingin buru-buru ? " Goda Arselli setengah berbisik pada Istrinya. Sembari mengedipkan matanya yang langsung dibalas cubitan juga. Kali ini di lengan atasnya.
" Tidak ! " Jawab Alessya singkat.
__ADS_1
" Kita bisa memesan hotel jika kau ingin cepat-cepat. " Bisiknya lagi mesra.
" Jangan aneh-aneh ! " Alessya mulai risih dan gelisah. Mengingat pengalaman yang sudah-sudah.
Di dalam mobil ...
" Buka kaca matamu ! " Ucap Arselli pada Alessya. Namun Alessya hanya diam saja.
Arselli melepaskan kaca mata yang menutupi mata indah itu, mata yang selama dua minggu ini dia rindukan untuk menatapnya.
Alessya menunduk memalingkan pandangannya, tatkala menyadari Arselli menatap tajam pada dirinya lebih tepatnya pada matanya.
" Apa yang terjadi dengan matamu ? " Tanya Arselli kemudian.
Mata Alessya terlihat sembab. Sedikit bengkak dengan lingkar hitam di sekitarnya hampir terlihat seperti mata panda.
" Hmm ... Tidak !! " Alessya menggelengkan kepalanya.
Menatap sang suami yang tidak berhenti menatap tajam matanya. Seperti berusaha menelisik dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Alessya terlihat begitu salah tingkah, apalagi ketika lagi-lagi mata mereka tak sengaja bertemu. Ketika dirinya berusaha keras menghindari tatapan penuh tanya itu.
" A-aku menangis ... " Akhirnya berkata jujur.
" Apa yang terjadi ? " Tanya Arselli setelah merasa kaget tadi.
" A-aku merindukan ibu ... " Jawabnya bohong dengan suara lirih dan tercekat. Wajahnya mulai sedikit memerah seperti ingin menangis lagi.
" Sudahlah ... Ibu tidak akan suka jika kau terus seperti ini. " Menarik Alessya masuk dalam pelukannya. Menepuk dan mengusap lembut punggungnya
Arselli berusaha menghibur istrinya. Walau dia tahu dengan pasti Alessya tengah berbohong padanya. Seperti yang dulu-dulu dia ketahui, Alessya memang sangat tidak pandai berbohong dan kali ini Arselli jelas bisa melihatnya.
Alessya ingin menangis lagi namun dia tahan sekuat tenaga. Dia tidak ingin Arselli cemas dan curiga dengan dalih bohong yang tadi terucap dari bibirnya.
Setelah hampir selama dalam perjalanan tadi di pesawat menghabiskan waktu dengan hal yang sama. Belum lagi di rumah, sebelum keberangkatannya kemarin. Alessya hanya menangis dan menangis saja.
***
Pertemuan yang sungguh tidak terduga akan dialaminya. Tepat beberapa menit setelah kabar buruk menimpanya. Seperti luka yang belum kering lalu ditaburi air garam, rasanya perih tak tertahankan.
Mereka duduk di ruang pribadi Ny. Alice dengan sangat tertutup. Tidak menginginkan pembicaraan itu terdengar oleh pelayan sekalipun.
Dengan duduk saling berhadapan. Alessya hanya mampu menangis, menunduk sembari meremas ujung kemejanya. Disaat dia merasa lemah butuh penopang kekuatan untuk bertahan dari terjangan badai yang akan menimpa hatinya.
" Kau berbohong, Alessya ... "
Ny. Alice menghakimi sang menantu yang ketahuan telah berbohong padanya.
" Ibu ... "
Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Disaat begitu banyaknya air mata yang tak henti mengalir di pipinya.
" Sampai kapan kau akan berbohong ? "
Tanya Ny. Alice penuh dengan intimidasi. Tatapannya tajam setajam elang, mencabik hati dan perasaan Alessya.
" Bu-bukan itu maksudku ibu. Aku hanya ingin memastikannya terlebih dahulu ... "
Sekejap menatap sang mertua untuk menyalurkan kejujuran dari sorot matanya. Hanya saja dia sungguh tak berani lebih lama melakukannya .
Alessya berusaha menjawab dengan jujur dan apa adanya. Dia hanya menunggu waktu, berharap keajaiban itu ada dan keadaan rahimnya akan berubah setelah beberapa lama.
" Tentu saja ! Kau ingin memastikan putraku terjerat dengan cintamu bukan ? " Jawab Ny. Alice begitu sinis.
__ADS_1
" Tidak, Ibu ... Tidak ! Bukan seperti itu. "
Dengan sekuat tenaga Alessya menyangkal tuduhan itu. Menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berharap gerakan itu dapat membantu meyakinkan sang ibu mertua.
Nyonya Alice benar-benar marah dan kecewa. Kebohongan Alessya padanya sungguh tidak termaafkan.
" Sampai kapan kau akan berbohong ? " Tanya Ny. Alice menghakimi.
" Aku berniat jujur, Ibu. Aku butuh waktu saat itu. " Derai air mata terus mengalir indah di pipinya.
Beberapa lama mereka terdiam. Seolah berfikir keras dan merenungi diri.
Tiba-tiba ...
" Dari dua pilihan itu mana yang akan kau pilih , Alessya ? " Tanya Ny. Alice yang langsung membuat Alessya membelalak seketika.
Kehidupannya terasa hancur dan dunianya terasa runtuh saat itu ...
Dua pilihan itu menghancurkannya , menghancurkan hatinya ...
***
Masih di dalam mobil ...
Cup
Alessya mengecup singkat bibir Arselli yang sedari tadi memeluknya, merelakan dada bidangnya menjadi sandaran wajahnya.
Arselli tersenyum mendapat kecupan singkat itu.
" Kau menginginkan sesuatu ? " Tanya Arselli kemudian. Sembari mengangkat kedua alisnya
Alessya membalas senyuman itu dengan lebih menggoda.
" Apakah villanya masih jauh ? " Tanya Alessya dengan suara yang lembut.
" Tenanglah ... sebentar lagi ! " Bisik Arselli pada telinga istrinya. Mengingat ada asisten Henry di sana.
" Emh ... " Mencoba mengerti dan memahami. Menatap sang suami dengan ragu dan mendadak terbersit hasrat .
" Bagaimana kalau seperti ini dulu ? "
Memagut bibir Arselli lembut.Tangannya terulur cepat kala sudut matanya mendadak menangkap penampakan surat kabar di samping paha suaminya. Menggunakannya sebagai penutup adegan yang cukup menggiurkan para jomlowan dan jombowati kesepian itu.
Arselli menyambut pagutan itu, berawal dari lembut dan lebih bernafsu. Mengobati kerinduan yang selama ini merayapi hati.
Entahlah, apa mereka sadar melakukannya ? Surat kabar sudah terhempas entah kemana. Alessya bahkan sudah duduk di pangkuannya sembari melingkarkan lengan di leher suaminya. Dan Arselli dengan lihainya memainkan bibir sang istri sembari mengusap dan meremas punggung mungilnya.
Dan asisten Henry ? Hanya senyum-senyum saja sembari menggelangkan kepalanya. Dalam hati dia berdoa semoga pernikahan mereka akan baik-baik saja.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan koment.