
Alessya menatap suaminya yang sudah terlelap tidur di atas sofa . Raut wajah lelah jelas tergambar di wajahnya. Hanya helaan nafas yang terdengar dalam keheningan malam itu . Entah kenapa , malam itu matanya terasa begitu berat untuk memejamkan mata .
Mendadak fikirannya tidak tenang , gelisah tidak karuan . Russel yang selama ini dikenalnya slalu menunjukkan rasa kasih sayang yang berlebihan dan fisiknya yang selalu menunjukkan betapa inginnya lelaki itu memilikinya , melewatkan untuk menyentuhnya di malam pertama pernikahan mereka . Oh ... mengapa pria itu begitu taat dengan perjanzian lelucon yang dibuatnya itu . Andai dia tahu betapa istrinya menyesali kelakuannya itu , yang pada akhirnya hanya merugikan dirinya sendiri .
Lagi - lagi Elliana terlintas di fikirannya , jangan - jangan saat mereka bertemu tadi ...
" Oh .. " Alessya menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya ,sembari menggeleng - gelengkan kepalanya cukup keras .
" Tidak mungkin ! " Berusaha mengusir bayangan buruk yang berkelebat di otaknya .
" Mungkinkah tadi mereka pergi ke hotel ? " Matanya melotot seketika .
Mereka pernah melakukannya , bahkan mungkin sering . Bisa saja saat dia tidak mendapatkannya dariku , dia akan mencarinya dari wanita itu ...
Argh .. aku bisa gila memikirkannya !!
Sembari menendang - nendangkan kakinya ke udara . Lalu merubah posisinya dari tidur menjadi duduk .
" Kau belum tidur ? " Tiba - tiba suara pria terdengar di telinganya . Alessya langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang tak lain suaminya yang ternyata masih tersadar walaupun matanya tengah terpejam saat itu.
Apa aku terlalu berisik ?
" A-aku tidak bisa tidur ." Jawabnya singkat sembari menahan malu , seingatnya terakhir tadi kakinya bahkan bergerak - gerak tidak karuan .
.
" Apa perlu kupanggilkan dokter ? " Tanyanya sembari membuka matanya, masih dalam posisi tidurnya yang terlihat tidak nyaman itu . Maklum saja , sofa yang digunakan untuknya tidur terlalu pendek untuk menopang tubuhnya yang tinggi . Dia memang baru malam ini tidur di kamar Alessya . Selama Alessya dirawat di rumah sakit , ibunya yang slalu menemani di dalam kamarnya , karena merasa canggung Arselli hanya sesekali melihat ke dalam kamar dan tidur di ruangan dokter Edward apabila malam telah tiba .
" Ti-tidak !! " Sembari menggeleng - gelengkan kepalanya .
" Hmm .. kalau begitu tidurlah , ini sudah terlalu larut malam . " Jawabnya singkat tanpa ekspresi sedikitpun. Lalu melanjutkan memejamkan matanya untuk tidur kembali .
__ADS_1
Hah ... itu saja . Tidak ada romantis - romantisnya sama sekali , seperti ...
berkata ' sini biar ku peluk ' atau
mengusap - usap rambutku .
Hah ... aku bisa gila karenanya .
Lalu dengan kasar dia menghempas kasar tubuhnya ke kasur .
" Aww !! " Pekiknya cukup keras karena merasakan nyeri pada bekas luka di tubuhnya . Sejenak dia terlupa jikalau dirinya tengah terluka . Dia bertingkah seperti perempuan galau yang kesepian alias 'jablay' karena jarang di belaiii ... he ...
" Alessya !! Apa yang terjadi ? " Beringsut bangun dari sofa berjalan menghampiri istrinya untuk memeriksa kondisinya yang terdengar begitu berisik dari tadi . Dia bahkan baru pertama kali melihat Alessya bersikap seperti itu , seperti sisi lain dari pribadinya yang berbeda seperti biasanya . Karena Alessya yang dia kenal selama ini adalah seorang gadis yang kalem dan tenang walau kadang agresif , namun tetap pada tempatnya . Tapi , kenapa malam ini dia terlihat begitu berbeda sedikit kacau dan GILA . Entahlah ... mungkin betul kata dokter Edward , otaknya mengalami sedikit gangguan akibat pukulan di kepalanya .
" Ti-tidak , aku hanya sedikit kesal karena tidak bisa tidur . " Jawabnya sedikit merenggut .
" Hmm " .
Mereka tampak salah tingkah , saling bertatap mata dengan posisi yang jelas berbeda . Alessya tengah tidur di ranjangnya dan Arselli tengah berdiri di samping ranjang sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celananya .
" Ru-russel " Lirih Alessya dengan suara yang begitu pelan .
Arselli mengangkat kedua alis nya , dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya dan semburat senyum di bibirnya . Lalu membalikkan badannya kembali menatap istrinya .
" Ada apa , istriku ? " Ucapnya dengan nada sedikit menggombal .
Mendengar ucapan itu , pipi Alessya perlahan bersemu merah . Bibirnya tersungging senyum tipis karena berusaha dia tahan . Lagi - lagi manik mata mereka bertubrukan . Duarrr !!! Memecahkan pancaran sinar yang yang terpancar dari kedua mata mereka yang berbinar .
" Bu-bukankah sofa itu terlalu pendek . Kalau kau tidak merasa nyaman tidur di sana , kau boleh tidur di ranjang ini . " Jawabnya dengan terbata dan begitu pelan . Ragu dan malu mendominasinya saat itu .
Demi bintang yang bersinar di malam hari dan demi indahnya malam pertama , ucapan itu bak oase di Padang pasir . Arselli sangat senang mendengarnya , dadanya terasa membuncah luar biasa . Degub jantungnya yang normal berantakan seketika , memompa darah di tubuhnya yang terasa begitu panas luar biasa .
__ADS_1
" Kau tidak keberatan ? Sofa itu memang terlalu pendek , Alessya . " Jawabnya tenang tak ingin terlalu menunjukkan kebahagiaan yang kini tengah dirasakannya .Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
" Hmm . Naiklah !! " Alessya pura - pura bersikap dingin dan ketus . Padahal kalau ditanya saat ini siapa yang paling bahagia ? Maka ... Dialah orangnya .
Dengan perlahan Arselli naik ke atas ranjang , mengambil posisi dimana tangan Alessya tidak dipasang infus . Memposisikan dirinya agar tidak hanya dirinya yang nyaman saat itu , karena bagaimanapun dia tetap harus mengutamakan Alessya yang masih belum sembuh total .
Kedua insan itu tidur terlentang menatap langit - langit kamar rumah sakit yang polos tak bermotif .Mata mereka belum terpejam , masih merasakan degub jantung mereka yang semakin ke sini semakin tidak beraturan . Dan deru nafas yang pelan seolah mereka tahan .
" Tidurlah ! " ucap Arselli pada istrinya sembari menaikkan selimut menutupi tubuh mereka . Mereka tengah dalam satu selimut kali ini .
" Tadi ... kau pergi ke mana bersama Elliana? " Tanyanya penasaran sedari tadi . Sedikit menengadah menatap wajah suaminya.
" Kita di lorong koridor tadi ." Jawabnya singkat .
" Benarkah ? " Seperti tidak percaya .
Bukannya kalian pergi ke hotel .
" Jangan berfikiran macam - macam . Tadi asisten Henry ikut bersama kami . " Jawabnya menenangkan Alessya yang terbaca jelas kecemburuannya itu .
Alessya tersenyum merasa tenang , teka teki yang sedari tadi berputar di kepalanya terjawab sudah .
Asisten Henry .. kau memang terbaik .
" Kau terlihat senang ? " ketika sudut matanya menangkap senyuman nakal istrinya.
" Eh ... Ti-dak ... Kau pasti salah lihat tadi . " Senggahnya sembari membalikkan badannya membelakangi suaminya yang refleks memeluk tubuhnya seketika membuat jantungnya berdegub cukup kencang .
Setelah beberapa lama , perlahan mereka memejamkan matanya . Alessya yang masih juga belum tertidur menolehkan wajahnya menatap suaminya yang sedari tadi tidur miring menghadap ke arahnya . Tanpa sadar tangannya bergerak . Jarinya perlahan menelusuri wajah suaminya .
Cup !
__ADS_1
Mengecup lembut bibir suaminya . Arselli yang belum begitu lelap tidurnya tersenyum sembari tetap memejamkan matanya . Tangannya bergerak semakin mempererat pelukannya pada tubuh istrinya tercinta .
Dan malam itu jadilah mereka tidur bersama , dengan pelukan hangat diantara mereka. Menemani dalam kedinginan malam yang kian meronta . Dan Alessya terlelap dalam pelukan hangat suaminya . Mengabaikan rasa malu dan gengsi yang sedari tadi dia tahan . Mengacuhkan tangan suaminya yang berkelana liar menapaki jengkal demi jengkal area sensitif di tubuhnya , berusaha mencari dan memberi kenikmatan melalui sentuhan lembutnya yang pada akhirnya mereka raih bersama dalam setengah kesadarannya yang serasa bagai mimpi dalam lelap tidurnya yang entah esok hari akan mereka ingat atau tidak dalam memory ingatannya .