Lola And Loly

Lola And Loly
Beberapa Syarat


__ADS_3

" Amnesia Lakunar . " Dokter Edward akhirnya menyimpulkan jenis amnesia yang diderita Oleh Alessya setelah melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Alessya , dengan cara menanyakan beberapa hal yang terkait dengan kehidupan pribadinya.Dia berdiri menghadap Arselli yang tengah duduk di kursi putar di ruangan pribadi miliknya di rumah sakit ini .


" Apa itu ? " Dengan bertopang kaki dia mengernyitkan dahinya. Sepertinya Arselli belum mengerti arah pembicaraan dokter Edward. Melihat Alessya yang beberapa saat lalu sudah membuka kedua matanya , apalagi setelah pertemuan mereka tadi , tidak ada hal yang perlu dia khawatirkan lagi saat ini , fikirnya dengan begitu mudah dan instant .


Dia masih belum menyadari sesuatu yang tampak jelas di depan matanya tadi. Rupanya , cinta sudah mulai membutakan matanya fikir dokter Edward.


" Kau masih belum menyadarinya rupanya. " Dengan gaya sarkastik dokter Edward menjawab.


" Dia tidak mengenalimu Arselli , hanya dirimu ." Pekiknya di sela - sela senyuman tipis Arselli yang masih terbuai kebahagiaan semu itu.


Terlonjak kaget , Arselli bangkit dari duduknya , melangkahkan kakinya menuju jendela ruangan itu yang tirainya terbuka , memperlihatkan suasana halaman rumah sakit yang hijau menyegarkan.


" Jadi itu benar ? " Tanyanya dengan nada suara yang terdengar putus asa , helaan nafas pelan terdengar bersamaan. Menunjukkan kesedihan yang dirasakan begitu mendalam telah menerpanya bertubi - tubi sejak beberapa hari lalu.


" Kau sudah menyadarinya ? " Berjalan mendekati Arselli untuk bersamaan menikmati suasana sore kala sinar mentari mulai redup menyinari berpamitan undur diri.


" Sepertinya aku melupakan kecerdasan yang kau miliki beberapa saat lalu. " Yang akhirnya memahami betapa tadi Arselli berusaha menutupi ketakutan dan kegelisahan yang dirasakan bersamaan olehnya.


Betapa tidak , semenjak mendengar kabar sadarnya Alessya. Silih berganti secara bergiliran setiap orang yang berkaitan dengan Alessya masuk ke dalam ruang perawatannya , sekedar bertegur sapa menanyakan keadaan menumpah ruahkan segala isi hatinya bersamaan dengan suasana begitu hangat dan mengharu biru. Arselli melihatnya dengan pasti dari balik kaca kecil pintu ruangan itu.


Namun entah mengapa , kehangatan yang begitu dia harapkan saat beberapa kali pertemuan mereka kala Arselli sengaja masuk ke ruangan kekasihnya itu , hanya keheningan , keterasingan yang begitu kental terasa . Walaupun secara gamblang Alessya tidak menunjukkan penolakannya , tapi dia tahu pasti, Alessya menatap dirinya seperti orang asing yang baru saja dia temui.


" Amnesia Lakunar adalah hilangnya ingatan seseorang baik itu peristiwa maupun sesuatu hal secara acak . Untuk kasus Alessya , sepertinya ingatannya terhenti tepat sebelum bertemu denganmu ." Dokter Edward menjelaskan lebih mendetail.


Helaan nafas kembali terdengar , kali ini lebih kencang.


Kenapa hanya diriku yang kau lupakan Alessya ?


" Harus ada pemeriksaan lebih lanjut apakah hanya dirimu yang terlupakan dari ingatannya itu dalam kurun beberapa bulan terakhir ini. " Lanjutnya lagi.


" Selain benturan di kepalanya , adakah penyebab lain ? " Merasa tidak habis fikir hanya kenangan tentang dirinya yang hilang dari ingatannya , walaupun dia belum memastikan apakah Alessya juga melupakan Henry , Clara , Romeo , dan Elliana yang baru beberapa lama ini dikenalnya.


" Mungkin trauma atau syok yang dialaminya akibat insiden yang cukup mengerikan kemarin , menyebabkan dia ingin menghilangkan ingatan buruk di hidupnya yang berimbas menghapus sekaligus ingatan baik yang terjadi secara bersamaan dalam kurun waktu itu. "

__ADS_1


" Ya , kejadian yang terjadi kemarin melibatkan orang - orang yang dikenalnya setelah dia berhubungan denganku. " Ucapnya setelah menyadari sesuatu .


Mendadak dia teringat Lucas yang belum juga menunjukkan batang hidungnya, apakah dia berhasil menemukan pelaku penembakan itu ? Dan apakah hanya Ben yang menjadi dalang dari penyekapan terhadap Alessya kemarin ? Fikiran Arselli merambah kemana - mana.


***


Menjelang malam...


" Menikahlah dengannya , Alessya. Ibu yakin kau tidak akan pernah menyesal. " Setelah penyekapan yang terjadi pada anaknya satu minggu lalu, kecemasan slalu mendera fikirannya. Memutuskan untuk menerima lamaran dari kekasih putrinya itu sedikit banyak akan membantunya meringankan beban fikiran yang menyelimutinya. Dengan berfikir bahwa Arselli pasti akan menjaganya lebih baik setelah status suami resmi di sandangnya.


" Kalau kau tidak mau menikah dengannya , kau harus kembali tinggal di kampung bersama ibumu yang sudah tua ini. Karena ibu samasekali tidak pernah berniat sedikitpun untuk tinggal di kota yang bising ini hanya untuk menjagamu , Alessya. " Nada ancaman keluar dari mulutnya , begitu lancar tanpa beban sedikitpun. Karena itu bukanlah ancaman semata , melainkan pilihan yang diajukan olehnya untuk putri semata wayangnya itu.


Alessya hanya mendelik tajam mendengar ucapan ibunya itu. Mendengar ancaman ibunya untuk kembali ke kampung ,sungguh sangat di luar ekspektasinya . Dia ingin tetap tinggal di sini untuk meraih cita - citanya. Tapi menikah dengan pria yang tidak diingatnya samasekali , sungguh tidak terbayang olehnya.


Bagaimana bisa ibu menyuruhku menikah dengan pria yang samasekali tidak aku ingat sedikitpun.


" Setidaknya dia tampan , Alessya. " Seolah membaca fikiran Alessya, Nyonya Rossie menimpali lamunan Alessya di tengah Delikan tajamnya tadi.


" Walaupun ibu merasa kecewa dengan ayahmu , hah... setidaknya darah biru yang dimiliknya mengalir di darahmu. Kau bukan gadis biasa , Alessya . Tidak ada perbedaan kasta diantara kalian. Ayahmu juga bersedia untuk menjadi walimu disaat pernikahanmu nanti. " Ucapnya menghibur Alessya , khawatir putrinya itu masih memegang prinsip lamanya untuk tidak berhubungan dengan orang kaya karena tidak ingin bernasib sama seperti ibunya.


Tapi , apakah dia akan mengijinkan ku untuk tetap berkuliah atau bekerja ?


" Fikirkanlah Alessya , Dia terlihat baik dan pengertian . Sepertinya dia akan tetap senang menikahimu , walaupun kau mengajukan syarat seperti tetap berkuliah atau bekerja. " Lagi - lagi menjawab pertanyaan yang bergumul di benaknya.


***


Keesokan harinya , setelah berfikir cukup panjang semalaman suntuk , dan setelah terus menerus didesak oleh ibunya yang merasa simpati akan cinta yang ditunjukkan oleh Arselli pada putrinya , belum lagi hatinya yang sedikit banyak ikut terenyuh kala ibunya dan Diana yang sempat bercerita betapa kacaunya kondisi pria itu kala Alessya dalam kondisi kritis kemarin. Akhirnya Alessya mengajak pria yang hilang dari ingatannya itu untuk berbicara.


" Baiklah , tapi dengan beberapa syarat ... " Ucap Alessya berusaha untuk terlihat meyakinkan sembari mencengkeram ujung selimut yang menutupi setengah badannya itu. Seolah dengan melakukan itu dia mendapat kekuatan untuk berbicara dengan orang asing yang sekarang tengah duduk di sampingnya kini. Atas permintaan ibunya , akhirnya dia menyetujui lamaran pernikahan itu dengan beberapa syarat. Dan sekarang mereka di sana untuk membahasnya.


Walaupun mendengar kata syarat sedikit mengusik hatinya kala itu , namun sedikitnya terobati kala mengingat Alessya menyetujui pernikahan itu, walaupun sudah jelas kondisinya saat ini yang tidak mengingatnya samasekali. Sungguh luar biasa bukan ? Setelah beberapa lama menjalin kasih , dan kini mereka akan menikah dalam kondisi seolah mereka baru kenal satu sama lain.


" Baiklah , aku akan mendengarkan syaratmu itu... " Jawab Arselli begitu tegas.

__ADS_1


" Pertama . Aku ingin tetap berkuliah dan mungkin bekerja jika aku merasa bosan. " Terhenti sejenak untuk mendapat jawaban dan dilihatnya Arselli sepertinya tidak keberatan samasekali.


" Sepertinya setelah menikah denganmu aku tidak akan kekurangan uang sepeserpun " Yang langsung dibalas anggukan oleh Arselli.


" Untuk kuliah tidak masalah, namun untuk bekerja .. " Terputus sejenak untuk memikirkan kelanjutan pembicaraannya.


" Daripada memikirkan menyibukkan diri bekerja mencari uang yang tidak seberapa , sepertinya aku lebih suka kau menyibukkan dirimu untuk menghabiskan uangku yang tidak akan pernah habis itu. " Sedikit menyombongkan diri , Arselli berusaha menyadarkan Alessya agar tidak perlu capek - capek lagi bercucuran peluh demi mencari uang.


Mendelik tajam dengan seulas senyum di wajahnya , sepertinya ide untuk menghabiskan uangnya yang begitu banyak itu bukanlah ide yang buruk , fikirnya licik namun segera dia tepis langsung seketika.


" Kedua . Tidak mengatur kehidupanku . " Walaupun sedikit ambigu , Arselli berusaha menganggukkan kepalanya walau begitu pelan . Dia khawatir gadis itu membatalkan pernikahannya secara tiba - tiba. Ya , sudahlah untuk hal ini mungkin bisa diusahakan agar lebih fleksibel. Bagaimanapun seorang suami harus tetap membimbing istrinya walaupun nantinya akan dianggap terlalu mengatur kehidupan pribadinya.


" Terakhir . Tidak ada kontak fisik samasekali." Terlonjak sudah seketika. Syarat yang sungguh membuat Arselli tergelak tawa menertawakan nasibnya yang begitu miris . Menikahi kekasih yang sangat dia damba, namun harus dia jalani dengan kesabaran ekstra menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Bagaimana bisa ?


" Apa kau setuju ? " Sembari menatap tajam pria itu , Alessya berusaha terlihat kuat . Bagaimanapun , hatinya sedikit banyak mengakui bahwa pria yang mengaku - ngaku sebagai kekasihnya itu begitu tampan di matanya.


Dia benar - benar tampan , kau yakin tidak ingin disentuh olehnya , Alessya ?


" Untuk syarat terakhirmu , bagaimana jika kau yang menginginkannya ? " Kali ini Alessya yang terlonjak kaget.


Seperti ibu , dia juga bisa membaca fikiranku ?


Sepertinya Arselli mencoba bernegosiasi , tak ingin terlalu frontal menunjukkan keinginannya untuk menyentuh istrinya yang kelak berstatus halal untuk dia sentuh dan dia nikmati nanti. Hanya cukup bersabar dan menahan diri , setidaknya Alessya sudah terikat resmi dengannya. Dia takkan bisa pergi meninggalkan dirinya hanya karena alasan tidak ingat , sedang ada ikatan hukum dan agama yang mengikat ikatan suci dua insan itu.


" Mu-mungkin itu pengecualian ." Jawabnya dengan terbata , memalingkan wajahnya yang mulai bersemu merah dari tatapan pria yang menurutnya begitu tampan itu.


Tersenyum tipis , Arselli sedikit terhibur mendengar jawab itu. Sepertinya dia hanya harus berusaha agar kekasih dambaannya itu menginginkan dirinya untuk menyentuhnya . Melakukan sesuatu yang dapat menggugah hasratnya mungkin.


" Baiklah , aku cukup menyetujuinya saja bukan ? " Berdiri tepat di tepi ranjang Alessya , bersiap pergi meninggalkan ruangan itu.


" Bersiaplah , pernikahannya akan terjadi dalam beberapa hari ke depan... " Lanjutnya menengok sebentar ke arah Alessya berada , sembari pergi melangkah meninggalkan Alessya yang tengah merasakan debaran jantungnya yang mendadak berantakan ketika mendengar pernikahan mereka akan terjadi dalam waktu dekat .


Debaran ini , walaupun begitu kencang tetapi terasa begitu menghangatkan .

__ADS_1


__ADS_2