
Jika ada bintang yang paling bersinar, maka itulah dirimu...
Jika ada dunia yang gelap karena tak ada bintang yang menyinari dan menghangatkannya, maka itulah aku ...
.
.
.
.
Coba kau tunjuk satu bintang
Sebagai pedoman langkah kita
Jabat erat hasil karyaku
Hingga terbias warna syahdu
Akan ku ukir
Satu kisah tentang kita
Di mana baik dan buruk
Terangkum oleh indah
Akan kucerna
Semua karya cipta kita
Di mana hitam dan putih
Terbalut oleh hangatnya cinta
Dan bila mimpi terwujudkan oh
Di sisimu selalu hariku
Akan ku ukir
Satu…
Lantunan lagu Sheila on Seven menggema ke penjuru restoran. Membangkitkan sisi puitis di hati para pengunjung yang tengah asyik menikmati makanan lezat yang menari-nari di atas lidah mereka. Sembari bercengkerama bersama keluarga atau seseorang yang berharga di hati mereka.
__ADS_1
" Kau yakin ? " Tanya Lucas pada Diana.
" Dia begitu aneh. Tapi saat aku bertanya apakah kau mengidap penyakit mematikan ? Dengan keras dia menyangkalnya. " Kata Diana sembari menyeruput es jeruk yang ada di depannya. Baby Zyo tidak dia ajak hari ini. Dengan santai dia bertingkah bak seorang remaja yang sedang kencan dengan pacarnya.
" Tapi, bukankah di film-film juga orang yang terkena masalah seperti itu biasanya lebih memilih untuk merahasiakannya ? " Daffa menimpali. Dia mulai cemas tatkala mendengar cerita itu dari bibir kakak satu ibunya itu.
" Alessya orang yang sangat tertutup. " Ucap Reynald. Dia begitu mengenal wanita yang sudah dia anggap sebagai adik itu. Dan mendengar kabar itu dari Diana, rasa cemas menggerogoti hatinya
" Semoga saja, semuanya akan baik-baik saja ... " Ucap Diana terdengar lirih.
Mereka lanjut mengobrol dengan tema yang berbeda, sembari menunggu Alessya yang sedang pergi ke toilet.
***
Di malam yang begitu cerah, Arselli berdiri di teras balkon villanya di LA sembari menyesap sebatang rokok yang terapit di jarinya. Memandang langit yang bertabur bintang nan indah di sana.
Mungkinkah ada Alessya di sana ? Tidak ... karena Alessya kini ada di hatinya.
Merindukan Alessya kini menjadi rutinitas malamnya hampir dua Minggu ini. Kesepian yang melandannya tak jua terobati, hanya sesekali menelfon tak membuatnya merasa puas sama sekali. Dia ingin menatapnya langsung, membutuhkannya dan menyentuhnya.
Sebatang rokok setia menemaninya di malam-malam sepinya. Pengobat stres kala masalah pekerjaan begitu menyita waktu dan fikirannya. Jika biasanya ada Alessya yang mengobati kehampaan fikirannya dengan pijitan di bahunya. Yang bermula dari sana dan berakhir di ranjang hangatnya.
Aku merindukanmu ...
Sembari tanpa henti matanya menatap salah satu bintang yang dari tadi tidak henti berkerlap kerlip bersinar, memancarkan cahaya putih nan berkilauan.
Belahan bumi Amerika tengah musim panas saat ini. Namun hatinya begitu dingin karena berpisah jauh dengan istrinya. Dunianya terasa gelap karena bintangnya tak bersinar di sana dan menghangatkan hatinya.
Apa jadinya jika waktu memisahkan kita, dua Minggu saja terasa begitu lama dan hampa.
" Kau sudah mengurus semuanya ? " Tanya Arselli pada asistennya yang dia ketahui telah berdiri di belakangnya sedari tadi.
" Sudah, Tuan ... "
" Kapan keberangkatannya ? " Tanya Arselli lagi.
" Dua hari lagi dipastikan Nyonya Muda akan di sini. Sepertinya masih banyak urusan yang harus diselesaikan olehnya terlebih dahulu. "
" Urusan apa itu ? Bukankah hanya dua minggu dia di sini ? " Merasa aneh, memangnya istrinya itu sibuk apa. Sok sibuk sekali dia. Aku bahkan harus kesepian selama dua Minggu lamanya.
" Aku akan menyelidikinya, Tuan. "
" Tidak ! Jangan lakukan itu. Dia slalu marah jika aku melakukan hal itu. Pastikan saja dia datang dengan selamat ke sini. " Tepis dia pada asistennya.
***
__ADS_1
Alessya termenung sembari duduk di atas sofa di sudut kamarnya. Menatap sebuah kertas dengan sorot mata nanar dan menyedihkan. Ada keterpurukan di sana, keputusasaan dan kekecewaan.
Dia sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Disaat hidupnya terasa begitu sempurna, ternyata ada celah yang begitu besar di sana. Bak kubangan hitam yang mematikan, menghancurkan kebahagiaannya hingga begitu menyedihkan.
Dia melayang membumbung tinggi ke angkasa dan dalam sekejap dia terjatuh dari sana hingga hancur tak bersisa. Terasa mimpi buruk namun terlihat dan terasa begitu nyata.
Beberapa bulan yang lalu, selang berapa lama sepeninggalnya Ny. Rossie, tanpa sepengetahuan suaminya dengan inisiatif sendiri, dia memeriksakan kondisi rahimnya ke dokter kandungan. Awalnya, dia hanya ingin berkonsultasi mengenai dirinya yang tak kunjung hamil. Sekaligus meminta vitamin penyubur atau apapun itu yang bisa mempermudah proses kehamilan.
Namun bukannya kabar baik yang dia terima sebagai penyemangat hidupnya, melainkan sebuah kabar buruk yang menjadi awal hancurnya impian akan pernikahan indah yang selama ini dia idam-idamkan. Sebuah kenyataan yang memporak-porandakan perasaan dan fikirannya selama beberapa bulan berikutnya bahkan hingga detik ini disaat dia tidak sengaja membaca kembali vonis dokter akan kondisi rahimnya itu. Alessya yang tadi tengah berkemas menyiapkan pakaiannya tidak sengaja menemukan kertas yang sempat dia sembunyikan di sela-sela pakaiannya dulu.
" Rahim anda mengalami masalah. " Ucap tegas dokter itu.
" Maksud dokter ? " Dengan suara parau dan bola mata yang berkaca-kaca dia bertanya.
" Sepertinya luka tembak yang pernah anda alami dulu, melukai rahim anda saat itu. Sehingga rahim anda mengalami gangguan saat ini. Walaupun tidak bisa dipastikan 100% hal itu penyebabnya, namun untuk sementara waktu alasan itu yang paling masuk akal. " Dokter itu mengambil kesimpulan setelah Alessya menjelaskan mengenai bekas luka di perutnya.
" Tapi.. saat itu dokter Edward tidak mengatakan hal apapun padaku. " Jawab Alessya.
" Efek samping dari sebuah luka dan sebuah prosedural kesehatan tidak semuanya bisa dilihat dan dirasakan secara langsung, untuk kasus anda hal ini baru diketahui sekarang setelah anda menikah dan memeriksakan rahim anda. " Jawabnya jujur.
" Apakah tidak ada kemungkinan samasekali ? " Tanya Alessya terdengar begitu putus asa.
" Mohon maaf, sangat tipis. Kerusakan pada rahim anda tergolong parah. Jikapun suatu saat anda hamil, akan sangat beresiko bagi keselamatan anda. " Alessya menangis mendengarnya. Ini sungguh tidak adil baginya.
" Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menjadikan sesuatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. " Ucap dokter itu lagi yang membuatnya sedih tak terperi. Hatinya begitu hancur bertubi-tubi.
Kehancuran semakin dia rasakan tatkala Ny. Alice mertuanya datang berkunjung beberapa lama kemudian. Bukannya memberi penghiburan atas meninggalnya Ny. Rossie, ibunya, atau memberi restu atas pernikahan mereka, ibu mertuanya itu malah menghakimi dirinya. Bahkan memberinya dua pilihan yang menyakitkan dalam hidupnya. Padahal saat itu Ny. Alice belum tahu kondisi rahim Alessya yang sebenarnya, apalagi jika mengetahuinya sudah diperkirakan apa yang akan dilakukan olehnya.
Waktu enam bulan kemarin adalah bulan yang penuh dengan duka dan nestapa bagi Alessya. Berawal dari meninggalnya Ny. Rossie, lalu vonis dari dokter kandungan mengenai rahimnya dan kedatangan sang mertua yang memberinya pilihan yang menyakitkan. Dan hampir semua masalah itu Alessya pendam sendiri tanpa berbagi pada sang suami. Memendam kesedihan dan derita dalam hati.
Tiada lagi Alessya yang ceria, mesra, hangat dan agresif dalam bercinta. Yang slalu merayu mengajak bercinta setiap malam demi memberi putra bagi sang suami tercinta. Yang ada hanya Alessya yang dingin, pasif dan tak bersemangat maupun bergairah. Bahkan berat badannya pun menurun drastis karena pola makan yang tidak teratur. Sehingga tiada lagi Alessya yang terlihat seksi dan menggoda.
Alessya menangis dalam pedih. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Air mata menjadi sahabat terbaiknya malam ini, menemaninya mencurahkan perasaan yang berkemelut di dalam hati.
Sembari tidur di atas ranjang, tanpa henti air matanya menetes. Tangannya menggenggam kalung dan liontin Bintang yang melingkar di lehernya. Kalung kesayangan miliknya pemberian pujaan hatinya yang kini telah menjadi suaminya. Dengan menggenggamnya dia merasa mendapat kekuatan darinya, serasa memeluknya dan bersamanya.
Russel ... apakah kita akan terus bersama ?
Apakah takdir akan membiarkan kita bersama ?
.
.
.
__ADS_1
Like, rate , dan koment ya ...