
.
.
.
Alessya membalikkan badannya. Mendapati Arselli telah berada di depannya. Dia terbangun pagi buta itu. Tidak menyangka langsung disuguhi pemandangan indah di depan matanya. Hasil maha karya Tuhan yang begitu sempurna.
Arselli tampak tampan dan wangi saat itu. Alessya menyentuh wajahnya dengan jarinya. Kulitnya begitu putih dan halus. Bibirnya tipis dan sedikit berwarna merah muda, hidungnya mancung, bulu alis dan matanya hitam dan lebat. Ahh .. pagi itu Arselli tampak begitu cantik di matanya.
" Kau sudah puas menatapku ? " Tanya Arselli. Rupanya dia juga ikut terbangun saat itu.
" Kau bangun ? " Tanya Alessya menyipitkan matanya.
" Ada seorang wanita yang menyentuh-nyentuh bagian tubuhku saat aku tertidur. " Jawab Arselli seolah Alessya telah berbuat mesum padanya. Alessya mencebik mendengarnya namun terhenti kala Arselli memeluk tubuhnya dengan begitu erat dan mengecup lembut bibirnya.
Alessya diam terpaku mendapat kecupan kilat itu. Merasa terpana karena sudah terlalu lama tidak mendapat perlakuan itu.
" Russel ... " Panggil Alessya setelah mereka terdiam begitu lama. Menikmati kebersamaan mereka, menikmati hangatnya pelukan mereka.
" Hmm. "
" Siapa wanita itu ? Apakah dia kekasih barumu ? Atau kau menyewanya saat itu ? " Tanya Alessya dengan begitu frontal.
Arselli kaget mendengar pertanyaan itu. Alessya mengira dirinya menyewa seorang wanita ? Yang benar saja. Dia masih belum sadar bahwa hanya dirinya yang slalu Arselli inginkan dalam setiap malamnya. Wanita lain samasekali tidak bisa menggugah seleranya.
Arselli lalu menjelaskan mengenai kejadian di hotel itu. Menceritakan tentang Damian dan Emma yang merupakan sahabat dan temannya saat kuliah di Paris dulu.
" Jadi, selama ini aku salah paham padamu ?" Tanya Alessya terlihat sedikit menyesalinya.
" Ya. Kau jahat sekali Alessya. Menghukumku selama itu. Dua bulan lebih aku mencarimu, kesepian tanpamu. Ahh ... aku bahkan sempat berfikir mampukah aku hidup tanpamu. "
Arselli merubah posisinya. Kali ini dia menatap langit-langit kamar itu. Seolah menerawang kembali kehidupannya yang terasa hampa dan kelam selama dua bulan ke belakang.
" Kau juga tidak memberiku kesempatan saat itu. Kau langsung pergi dan mengurungku. Padahal ... asal kau tahu Russel, saat itu aku sudah memutuskan untuk tidak pergi dari hidupmu. Aku ingin memperjuangkanmu. Melawan ibumu, tapi kau malah menghukumku seperti itu. Sepertinya kejadian yang menyebabkan kepergianku kemarin adalah karma dan hukuman untukmu. "
Alessya terlihat begitu puas mengucapkannya. Dia begitu puas bisa menghukum suaminya yang kadang bersikap egois dan arogan padanya. Walaupun hati kecilnya terluka melihat kondisi suaminya yang terlihat lusuh seperti tadi dan kurus seperti saat ini.
" Maafkan aku. Ini salahku tidak mendengar penjelasan darimu saat itu. Asal kau tahu, Alessya ... semua ini karena aku begitu mencintaimu. Itu saja. " Jelas Arselli pada istrinya. Menatap lagi istrinya, mencari dirinya di dalam matanya.
Mereka menikmati kebersamaan mereka malam itu. Dua bulan berpisah sudah seperti dua tahun lamanya. Hidup dalam kesepian dan kehampaan , dan semua terjadi hanya karena salah paham belaka. Andai waktu dapat terulang ingin rasanya mereka saling terbuka dan saling percaya melupakan ego dan emosi semata.
__ADS_1
Tapi yang lalu biarlah berlalu, waktu yang terlewat tak mungkin terulang kembali. Mereka hanya harus mengisi sisa waktu mereka dengan saling belajar dari pengalaman yang sudah terjadi.
" Alessya ... "
" Hmm. " Alessya menatap Arselli. Kala itu Alessya tengah menunduk memikirkan perpisahan mereka dua bulan lalu.
" Apa kata dokter ? "
" Apa ? "
" Bayi kita ? Apa dia baik-baik saja ? " Arselli begitu penasaran tentang bayi mereka.
" Mereka tumbuh dengan baik. Usianya hampir empat bulan saat ini. Dan asal kau tahu, aku baru saja mengetahui kehamilan ini tadi malam. Berbeda dengan dirimu yang mengetahuinya sedari awal. "
" Ya, Tuhan Alessya. Yang benar saja, kau baru mengetahuinya tadi. " Arselli menjentik hidung lancip istrinya yang seperti biasa dia lakukan dulu saat menghukum istrinya.
" Hmm. Aku sungguh tidak menyadarinya Russel. Vonis dokter itu membuatku berfikir bahwa segala sesuatu yang terjadi di tubuhku, seperti mual, pusing, dan sesak, itu hanya karena sakit atau kelelahan semata. Aku tidak mengira Tuhan telah membuat keajaiban untuk diriku. Aku hamil Russel, kau dengar, ini amazing bukan ? Aku hamil. "
Bola matanya berkaca-kaca saat menggambarkan kebahagiaan di dalam hatinya. Terasa mimpi namun begitu nyata.
" Aku sangat bahagia. Kita harus mensyukuri anugerah ini. Bagaimana keadaannya, apa baik-baik saja? Lalu jenis kelaminnya, apa sudah terlihat ? " Arselli begitu antusias. Dia terlihat begitu tidak sabaran.
" Mereka baik-baik saja, Russel. Walaupun sebenarnya sedikit lemah karena terlambat terdeteksi kemarin. Tapi vitamin dan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan mereka. " Jelas Alessya sesuai informasi dari dokter tadi.
" Tunggu Alessya. Dari tadi kau berkata mereka. Apa maksud dari kata mereka itu ? " Arselli menekankan kata mereka dalam kalimatnya. Setelah sedari tadi bertanya-tanya dan mengernyitkan dahinya tatkala Alessya menceritakan bayinya itu dengan embel-embel mereka.
Alessya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya sudah sedari tadi dia ingin bercerita. Namun terkendala karena belum selesainya masalah diantara mereka tadi.
" Bayi kita kembar Russel. " Bisik Alessya pada telinga suaminya.
Arselli membelalakkan matanya.
" Kembar ? "
Alessya menganggukkan kepalanya sembari tak henti bibirnya tersenyum ceria.
" Kembar berapa ? "
Alessya menunjukkan jarinya pada suaminya.
" Hah !! " Arselli benar-benar tidak menyangka.
__ADS_1
" Sebanyak itu ? Apa kau akan kuat mengandungnya nanti ? " Arselli mulai merasa khawatir.
" Percayalah aku akan kuat. Kau harus membantu dan mendukungku nanti. " Ucap Alessya berharap pada suaminya.
" Rumah kita pasti akan ramai sekali. Kita bisa membalaskan dendam kita pada ibuku. Aku akan menitipkan mereka padanya nanti. Dan kita bisa berjalan-jalan untuk berbulan madu yang ketiga kalinya. " Arselli tertawa mengucapkannya. Membayangkannya saja seperti ada yang menggelitik hatinya.
Alessya mencubit perut Arselli. " Dia ibumu, Russel. Dia hanya ingin yang terbaik untukmu. " Ucap Alessya merasa tidak terima dengan ucapan suaminya. Naluri seorang ibunya mendadak muncul saat itu. Mengingat dia sendiri akan segera menjadi seorang ibu.
" Tapi kau yakin akan kuat menjalaninya ? Masih lima bulan lagi, Alessya. Itu waktu yang lama. " Membayangkannya pasti berat sekali nanti. Dan proses melahirkannya pasti berat sekali. Ada gurat cemas di wajahnya. Arselli begitu takut kehilangan Alessya dalam hidupnya. Jika harus memilih, dia lebih baik tidak memiliki anak, daripada harus kehilangan Alessya selamanya.
" Percayalah padaku, Russel. Aku pasti akan baik-baik saja." Bulir air mata mengalir di pipinya. Dia terharu, dia bahagia. Dia tidak menyangka akan mengalami hal semenakjubkan ini dalam hidupnya.
" Katakan padaku. Jika kau tidak kuat. " Ucap Arselli berusaha berbagi derita.
" Memangnya kau mau melakukan apa ? "
" Andai aku bisa. Aku akan menggantikan dirimu untuk mengandung mereka. " Alessya tersipu mendengarnya. Pipinya merona merah.
" Gomball ! " Merasa tidak percaya, karena tidak mungkin juga.
Mereka tertawa bersama. Arselli mengelus lembut perut Alessya lalu mengecup pipi istrinya.
" Alessya ! " Bisik Arselli pada telinga istrinya.
" Hmm ? " Menatap mata suaminya yang tengah menatap sendu dirinya.
" Bolehkah aku menengok mereka ? " Ucap Arselli terbata-bata dengan suara seraknya. Dia begitu rindu padanya. Dua bulan ini menahan rindu terasa begitu menyiksanya.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, rate dan koment sebanyak-banyaknya ... πππ