Lola And Loly

Lola And Loly
Sisi Liar ( 2 )


__ADS_3

Arselli berlari menyusul Alessya , setelah beberapa saat lalu memberi peringatan kepada si pria brengsek tadi , agar tidak mengganggu lagi Akessya. Berlari secepatnya , berharap kekasihnya itu masih ada di depan Club , bermaksud untuk memberikan tumpangan kepada Alessya dan temannya. Sedikit khawatir akan ada teman si pria brengsek yang mengikuti mereka.


" Alessya , " teriaknya ketika melihat gadis itu berdiri tidak jauh dari mobilnya terparkir.


Alessya masih mendelik dengan sorot mata tajam ke arah pria itu , yang hanya dibalas senyuman manis oleh pria itu.


Kau benar - benar singa betina, Alessya.


Ternyata kau mempunyai sisi liar yang memikat, Aku menyukainya .


Banyak sekali kejutan dalam dirimu


Besok apalagi ?


" Naiklah , Alessya ." setelah membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk Alessya dan temannya.


Henry tampak sudah mengambil alih kemudi. Arselli sudah membuka pintu penumpang bagian depan baginya duduk.


Alessya terlihat masih ragu , masih memendam kesal kepada pria itu.


" Kita harus bergegas , Alessya .Aku takut Ben akan menyusul kita. " Meera mengingatkan Alessya bukan saatnya memikirkan hal pribadi.


" Baiklah ".Dengan berat hati Alessya naik ke mobil itu. Lalu duduk di kursi penumpang dengan masih menatap tajam ke arah Arselli , yang tengah membalikkan badannya ke arah belakang mobil ingin menatap Alessya.


" Kau baik - baik saja ? " tanya Arselli pada Alessya merasa cemas. Mengingat perkelahian tadi , Alessya lumayan mengeluarkan tenaga ekstra agar tendangan dan bogemannya telak pada pria brengsek itu.


" Aku masih marah padamu , Russel ." mendelik yang hanya dibalas dengan senyuman oleh pria itu , seolah mengerti , dia tahu pasti , kekasihnya itu memang pendendam.


" Anda sangat hebat , Nona ." ujar Henry sembari mengacungkan jempol ke arah Alessya. " Anda sangat beruntung , Tuan. " lanjutnya lagi menepuk bahu Arselli dan refleks terhenti ketika bosnya menatap tajam dirinya.


" Kalian saling mengenal ? " Meera yang penasaran dari tadi akhirnya bertanya.


" Tidak " Jawab Alessya.


" Ya " Jawab Arselli secara bersamaan.


" Kau yakin , Alessya. " Meera terlihat ragu dengan jawaban Alessya.

__ADS_1


" Sejak tadi pagi , kita sudah tidak saling mengenal lagi. " jawabnya ketus menatap pada Arselli menegaskan bahwa perkataan itu tertuju untuknya.


Arselli hanya mengangguk berusaha mengerti dengan suasana hati kekasihnya saat ini.


" Apa yang kalian lakukan di sana ? " penasaran bertanya , sedikit tidak percaya mendapati Alessya ditempat itu , berkelahi pula . Perkelahian yang terlihat bahkan bukan perkelahian seperti biasa perempuan lakukan yang melibatkan Jambakan dan cakaran , melainkan perkelahian sebenarnya . Alessya terlihat sangat handal kala itu. Jurus yang dia gunakan benar - benar mematikan , tepat sasaran di titik lemah musuh , hanya dengan satu tendangan maut dan beberapa pukulan lawannya langsung KO.


Alessya hanya terdiam enggan untuk menjawabnya. Meera yang melihat sikap Alessya merasa canggung, akan tidak enak jika dia yang harus menjawab pertanyaan itu , sepertinya ada masalah pribadi di antara mereka , fikirnya. Tapi tidak sopan juga bila tidak menjawab.


" Alessya , bermaksud menolongku tadi. " jawab Meera dengan singkat.


" Apa yang kalian lakukan di sana ? "


" Kau tidak perlu tahu tuan Russel, itu urusan kami ." Kali ini Alessya yang menjawab kesal.


Arselli mengerti Alessya masih marah karena kejadian tadi pagi.


Seterusnya hanya keheningan yang kental terasa di dalam mobil itu , sebelum akhirnya Alessya hendak turun dari mobil Arselli , setelah sebelumnya mengantar Meera ke kontrakannya.


" Buka pintunya , Russel. " mendapati pintu terkunci otomatis.


" Kau baik - baik saja , Alessya. " menarik lengan gadis itu , dilihatnya punggung telapak tangannya terlihat biru karena berbenturan keras dengan tulang wajah pria brengsek tadi. Alessya terlihat tangguh saat melepaskan bogemannya ke wajah pria tadi , tapi Arselli tahu itu sangat menyakitkan.


Beringsut mengambil sapu tangan dari saku celananya , membalut luka di tangan Alessya. Memberikan kecupan lembut pada punggung tangan gadisnya itu.


" Maafkan sikapku tadi pagi , Alessya."


Alessya hanya terdiam mendengarnya.


" Kau masih marah , Alessya. " tidak melepas genggaman tangannya , malah meraih satu tangan Alessya lagi ke genggamannya. Memberikan kecupan - kecupan lembut di kedua tangan gadisnya itu.


Tangan Alessya yang begitu kurus dan kecil , tapi mampu mengalahkan musuh yang berbuat jahat padanya .Sedikit membuatnya merasa lega , kekasihnya tidak selemah dan seringkih yang dibayangkannya. Setidaknya dia mampu melindungi dirinya sendiri disaat kesulitan.


" Kau menyebalkan. " Alessya menjawab setelah melihat ketulusan sikap Arselli. Mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Arselli .


Arselli mencoba meraih tubuh Alessya , merengkuhnya ke dalam pelukannya tapi ditolak mentah Oleh Alessya. Akhirnya mereka hanya terdiam menikmati kebersamaan mereka. Duduk bersandar di kursi masing - masing.


" Apakah benda itu begitu berharga ." tanya Alessya masih menatap ke depan jendela mobil.Memecah keheningan malam itu.

__ADS_1


Lebih berharga dariku ?


Arselli hanya terdiam.Memikirkan jawaban terbaik untuk masalah itu. Dia sendiri masih bingung dengan semua itu. Pot itu memang berharga , sedikit keterlaluan mereka bertengkar hanya karena sebuah pot yang tidak seberapa itu , menurut Arselli.


" Apakah Elliana begitu berarti dalam hidupmu ? " tanyanya terbata.


Arselli kaget , ternyata Alessya membaca pesan dibalik pot itu. Menarik nafas panjang akhirnya menjawab.


" Aku berencana untuk mengembalikan benda itu....." terdiam sesaat , " Sebagai tanda benda itu sudah tidak berarti lagi bagiku. " jawab Arselli mengagetkan Alessya .


" Jika aku menyimpannya , aku takut dia akan besar kepala nanti." lanjutnya lagi.


" Kau yakin ? " ragu dengan jawaban Arselli.


" Seharusnya , kau tidak memajangnya. Bukankah kau bisa mengirimnya melalui paket ? "


" Aku ingin memberikannya langsung , Alessya. "


Sembari menatap matanya ,meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi.


" Kau ingin menemuinya ? " Alessya mengerti dengan jawaban Arselli , merasa dirinya tidak berarti dibandingkan dengan gadis bernama Elliana itu


***


Arselli melepas kepergian Alessya dengan langkahnya yang terlihat gontai dari mobilnya. Tanpa senyuman , pelukan hangat , dan ciuman mesra diantara mereka . Hati Alessya benar - benar patah seperti keramik yang pecah di pagi itu.


Entah mengapa , aku merasa kau masih menyembunyikan sesuatu dariku , Russel.


Hanya penyesalan di hati Arselli , tiada kata lain yang bisa diucapkan selain itu. Tapi dia tidak bisa berbohong , dia memang sangat mencintai Alessya , tapi kenyataan bahwa dia belum sepenuhnya melupakan Elliana adalah sebuah fakta.


Benda itu dan pemiliknya , memang sangat berarti bagiku , Alessya .


Aku masih belum tahu apakah kau telah benar - benar menggantikan posisinya di hatiku.


Arselli menyesali kejadian pagi tadi, yang bersikap berlebihan kepada Alessya , seolah menyadarkan gadis itu , bahwa gadis itu belum begitu sangat berarti baginya .Hubungannya dengan Alessya sedang hangat - hangatnya , sedikit hancur karena masalah yang terlihat sepele bagi orang lain.


Dan itu semua terjadi hanya karena sebuah benda kenangan dari mantan.

__ADS_1


__ADS_2