Lola And Loly

Lola And Loly
Singa Betina


__ADS_3

Arselli mengemudikan mobil sport nya dengan kecepatan tinggi, setelah beberapa saat lalu mendapat panggilan telfon dari asistennya Henry,meninggalkan Alessya yang masih terlelap tidur di studio fotho nya.


Dengan kemarahan yang seakan memuncak di ubun-ubun, Arselli merasa tidak habis fikir dengan apa yang dia dengar dari asistennya tadi pagi.Saat di pagi hari buta,tatkala mata yang masih rapat,dan nyawa yang masih melayang belum kembali seutuhnya, mendengar kabar yang cukup memekakkan telinga.Pertunangannya dengan Clara akan terjadi dalam kurun waktu satu bulan ke depan.Dan yang merencanakan semua itu adalah ibunya sendiri,Nyonya Alice yang sangat dia hormati.


Bagaimana bisa,ibunya mengambil alih kehidupannya,mengambil alih salah satu keputusan penting yang berkaitan dengan masa depannya kelak.Walaupun selama ini Arselli cenderung menurut dan mengikuti kemauan ibunya,tapi itu tidak lebih dari sekedar eksistensinya di dunia kerja dan profesionalismenya yang menjabat sebagai Presiden Direktur di AR.Company.


Selebihnya untuk kehidupan pribadinya,Arselli samasekali tidak ingin ibunya atau siapapun ikut campur.


Marah dan cemas menjadi satu,di satu sisi lagi yang harus dia pikirkan adalah Alessya,gadis pujaan hatinya,gadis yang sangat dia cintai.Walaupun hubungan mereka belum sampai seumur jagung,tapi dia sungguh tidak rela berpisah dengan gadisnya itu.


Sekelebat bayangan hadir di benaknya, tatkala seharusnya dia berkonsentrasi dalam mengendalikan laju kendali kendaraannya.Tapi tetap tak bisa,sungguh tak bisa,bayangan- bayangan itu kerap muncul di benaknya.


Senyuman dan tatapan lembut Alessya,wajah polos Alessya,tidurnya Alessya,sakitnya Alessya,kemarahan Alessya,Ciuman panas Alessya,pelukan mesra Alessya,kedipan mata Alessya saat menggodanya,tawanya dan segalanya bermunculan di benaknya kala itu.


Seolah tidak bisa membayangkan bagaimana jika Alessya menangis karenanya kelak nanti.


Brukk.....Arselli memukul setir kemudi mobilnya.Meluapkan emosi di dadanya.


***


Arselli menghampiri ibunya yang tengah duduk santai di teras dekat taman,sambil membaca surat kabar pagi ditemani dengan secangkir teh dan sepiring biskuit di meja kecil di dekatnya.


" Kau datang juga Arselli." Dengan senyuman yang tersungging di ujung bibirnya, bersamaan dengan sorot mata yang tajam dan mengintimidasi.


" Aku ingin bicara , Ibu ? " Beringsut duduk di kursi yang berhadapan dengan ibunya.


" Ibu sudah tahu, apa yang ingin kau bicarakan." Menjawab santai setelah menyeruput teh di cangkir yang dipegangnya.


" Kenapa Ibu memutuskan hal penting seperti itu sendirian ? tanpa meminta pendapat ku. "


" Itu adalah keputusan terbaik Arselli, demi eksistensinya perusahaan kita,yang kelak akan menjadi milikmu." Dengan nada suara yang tenang dan elegan.


" Tapi, Ibu..."


" Ibu sudah tahu Arselli !! " lalu menjentikkan jari pada asisten yang berdiri di belakangnya, untuk mengambil sesuatu di dalam.


Untuk beberapa lama hening sesaat, Ibu dan Anak itu memilih diam untuk meredam emosi di benak kepala mereka masing-masing.Selang berapa lama,asistennya datang memberikan sebuah amplop berwarna coklat ,dan langsung diberikan kepada Arselli oleh wanita paruh baya itu.


Mata Arselli membelalak seketika,malu,kaget dan marah campur menjadi satu.Betapa tidak fotho kemesraannya dengan Alessya ketika di mobil ada di tangan ibunya.Arselli tahu pasti,bagaimana hotnya malam itu,dan itu tergambar jelas pada fotho yang sudah pasti telah dilihat lebih dulu oleh ibunya itu.


" Ibu..." Bibir Arselli bergetar.


" Ibu tidak tahu,gadis seperti apa yang sedang kau kencani Arselli.Ibu sungguh tidak menyukainya. Bahkan ibu ragu dia masih gadis."


" Dia gadis baik ." Berusaha membela Alessya dengan tangan yang terkepal menahan marah mendengar ucapan ibunya yang sedikit frontal


" Tapi sudah pasti tidak sebaik Clara. " Tegas Nyonya Alice.


" Aku tidak bisa memilih Clara,aku samasekali tidak mencintainya." Tegas Arselli.


" Kau mencintai gadis itu ? " menatap dalam mata Arselli, tidak ingin menemukan kebohongan.

__ADS_1


" Aku sangat mencintainya. "


Nyonya Alice terdiam mendengar kata-kata itu.Memikirkan sesuatu agar anaknya mau menurutinya.


" Baiklah.Ikuti keinginan Ibu atau gadis itu akan mendapatkan akibatnya.Kau tahu pasti seberapa besar kekuasaan Ibu kan.Dengan sekali jentik,dia akan hancur. "


Arselli kaget tidak menyangka akhirnya hal yang paling dia takuti akan terjadi.Kekuasaan ibunya akan bertindak, lambat laun menghancurkan mimpi-mimpinya dan Alessya.


" Bertunanganlah dengan Clara.Maka gadis itu akan selamat.Ibu juga tidak akan melarangmu berhubungan dengan gadis itu.Bersenang-senanglah sepuasnya.Dia memang pantas menjadi simpananmu." Berkata sarkastis tersenyum sinis ,bangkit dari duduknya berlalu pergi meninggalkan Arselli yang masih duduk termenung sendiri.


Tangan Arselli mengepal kuat menahan amarah,mendengar perkataan menyakitkan dari seorang wanita yang selama ini dia hormati dan segani,tapi mampu mengeluarkan kata - kata yang menyakitkan mengenai Gadis yang dia cintai.


***


Alessya perlahan membuka matanya,mendapati dirinya terbaring di sofa.Dengan kaos yang tersingkap memperlihatkan perut ratanya dan bertuliskan " I Love U " dengan spidol berwarna hitam.


Mengerjapkan matanya berulang kali,berharap itu hanya mimpi.Karena sudah tahu pasti jika hal ini nyata,siapa lagi pelakunya pasti Arselli Russel kekasihnya yang akhir-akhir ini terus menggodanya.


" Russseeell....!!! Dasar pria gila !!! " Bangun dari sofa, berteriak sembari berkeliling mencari keberadaan pria itu.


Saat menulisnya,pakah dia melihatnya,bukankah aku tidak memakai bra saat ini.


Sedikit panik,dengan berbagai fikiran kotor yang menggerogoti otaknya.


Apalagi yang dia lakukan selain ini?Apakah dia juga menyentuhnya?Apalagi selain ini,..apakah dia juga menyentuh yang lain...


Masih panik sembari mencari ponselnya.


Apakah tidak apa-apa jika dia menyentuhnya.Bukankah kita berpacaran .Suatu saat semua ini....ah....


Dimana dia,bahkan aku tidak bisa menemukannya.Apakah karena dia sudah puas menikmati tubuhku,lalu dia pergi begitu saja?


Beralih menatap ponsel di tangannya,melakukan panggilan telfon kepada pria yang dianggap gila itu.


***


Arselli mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan perasaan galau yang berkecamuk di hatinya.Tiada lagi semangat dan binar di matanya.


Dia mengarahkan mobilnya kembali ke studio Fotho.Fikirannya yang sempat teralihkan karena masalah pertunangan dengan Clara,kembali dia fokuskan kembali kepada Alessya yang dia tinggalkan di studio fotho sendirian.


Kegalauannya sedikit sirna,kala mengingat dirinya sempat menjahili Alessya tadi malam saat dia tertidur dan kaosnya tersingkap.Terang saja lagi-lagi menggoda imannya,seperti genderang perang menabuh jiwa kelelakiannya.Demi menahan gejolak di dadanya,kejahilan malah muncul di fikirannya,kala sudut matanya melihat sebuah spidol permanent di atas meja.


Ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak membayangkan Alessya yang sudah bangun di sana dengan perut bertuliskan sesuatu yang akan sedikit sulit dihapus,karena ulah spidol permanent miliknya.


Drrttt...Drttt..ponsel Arselli berbunyi dan benar saja,nama Alessya tampak di layar ponsel canggih keluaran terbaru miliknya itu.


Dia pasti marah..Singa betina itu pasti marah..


Memencet tombol hijau di layar ponsel. " Hallo... ",dan langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya,tatkala singa betina itu mengaum keras.


" Russell !! Kau dimana? " Berteriak kencang hingga memekikkan telinga.

__ADS_1


" Kau benar-benar gila..." berteriak marah meluapkan emosinya. Sekaligus lega,Arselli tidak meninggalkannya begitu saja seperti yang difikirkanya tadi.Setidaknya pria itu mengangkat telfonnya bukan menghindarinya ataupun merijeck panggilan telfon darinya.


" Aku mencari makanan dan pakaian untukmu Alessya." menjawab santai seolah tidak terjadi apa-apa, sembari menahan senyum yang terkulum di bibirnya.Setelah meloudspeaker panggilan telfon di ponselnya .


Untung saja walaupun Arselli sedang marah dan bingung dia masih ingat Alessya membutuhkan sebuah baju.Setidaknya dia masih berfikir normal untuk tidak menunjukkan kemelut hatinya,dan tidak menunjukkan masalah yang sedang merundunginya.Dia ingin menikmati kebersamaannya dengan gadis kesayangannya itu,yang entah sampai kapan akan bertahan.


Jadi dia menyempatkan dirinya mampir ke sebuah butik untuk membeli beberapa setel pakaian wanita lengkap dengan dalamannya.Sebegitu sayangnya pria ini pada gadis itu,dia ingat betul apa yang dibutuhkan gadis itu saat ini.Entahlah,mungkin karena semalaman dia berada di samping gadis itu,jadi dia tahu betul Alessya membutuhkannya.


Jadi penasaran apa sih yang sudah Arselli lihat semalam.Mengingat kaos Alessya sampai tersingkap begitu,entah disengaja atau tidak.Tidak ada flash back nya...lagi puasa...


***


Arselli berjalan perlahan membuka pintu dimana Alessya berada saat itu.Dengan menjinjing beberapa paper bag berisi pakaian dengan brand terkenal dan mahal dan sebuah paper bag berisi makanan, berjalan tanpa suara tak ingin membangkitkan amarah si singa betina.


Dan terang saja,Alessya tengah duduk di sofa dengan tangan bersidekap di dada,dan kaki berselonjor ke meja.Bibirnya mencebik,matanya mendelik,mengeluarkan aura kemarahan yang luar biasa.


Arselli mengusap wajahnya pelan,bibirnya seperti komat Kamit seolah membaca mantra.Mantra untuk menjinakkan singa betina.Padahal asli,pria ini terkenal dingin, angkuh serta berwibawa tinggi.Tapi dia begitu terlihat lemah apabila di hadapan Alessya.


Dia lalu tersenyum,menyebar aura kehangatan berusaha mendekati gadisnya itu,yang seolah olah ingin menerkamnya sedari tadi.


Menunjukkan jinjingan paper bag nya yang lumayan banyak ke depan mata Alessya,mengingat ingat kelemahan kebanyakan wanita yang akan luluh setelah disuap dengan tas belanjaan dan kartu kredit unlimited.


Tapi beda dengan Alessya,gadis itu tidak menunjukkan luluh atau pun meleleh seperti es mencair.


Baiklah dengan segenap hati dan sekuat tenaga.


" Maafkan aku, Alessya tadi... ada hal yang benar-benar penting ".Beringsut duduk di samping Alessya, sambil menundukkan kepalanya.


" Seharusnya kau membangunkan aku atau memberi kabar.Untuk apa ponsel mahal jika tidak ada gunanya." Menunjuk ponsel yang memang terlihat mahal yang berada di genggaman Arselli.


" Duh..maaf banget ya.." mengusap kasar rambutnya,bingung harus berbuat apa.


" Terus..apa ini? " melemparkan spidol permanent ke atas meja di hadapan Arselli.


" Itu..." Arselli semakin bingung,memalingkan wajahnya tidak ingin menatap mata Alessya yang benar-benar marah dan mulai berkaca-kaca.


" Kamu tega banget...Nanti kan susah dihapusnya..." dengan nada marah dan manja.


" Bener deh Al aku minta maaf...kamu boleh deh minta apa aza untuk menebus kesalahan aku itu." Menggeserkan tubuhnya lebih mendekati Alessya.


Alessya masih terdiam menahan kesal.Menarik nafas dalam - dalam ,karena sebenarnya dia juga tidak ingin bertengkar dengan pria yang dia cintai itu.Tapi emang bener sih , Arselli itu keterlaluan.


" Tapi janzi ya...apapun itu !! " mengintimidasi pria yang duduk di sampingnya itu .


" Iya...janzi..." Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mulai ragu dengan ucapannya jangan-jangan Alessya meminta hal-hal aneh yang tidak mungkin dia turuti.


" Beneran ya...janzi !! " berdiri lalu merebut paper bag yang berada di dekat kaki Arselli.Beringsut berjalan menuju kamar di lantai dua, hendak mandi dan berganti baju.


" Oh iya ada satu lagi." Arselli berlari ke ruangan kerjanya mengambil sebuah paper bag kecil berisi dompet yang sedari tadi malam hendak dia berikan.


" Jangan marah lagi ya...!" mencubit hidung Alessya yang mancung,hingga memerah.

__ADS_1


" Ih.. " memukul lengan pria itu.


" Sakit tau.. " Pergi meninggalkan pria itu yang mulai bernafas lega, karena amarah gadisnya sudah SEDIKIT mereda.


__ADS_2