
~
~
~
" Bagaimana bulan madu kalian ? " Alessya memulai obrolan di sela aktifitas makan malam mereka, memecah keheningan diantara merdunya dentingan sendok dan piring di ruang makan yang cukup luas itu.
" Serrruu !!! Pokoknya Alessya kau harus mencobanya. " Jawab Diana merasa bahagia dengan destinasi wisata yang sudah dijalani dalam rangka honey moon bersama suaminya tercinta. Berbangga diri di hadapan Alessya dengan sedikit bermaksud mengompori sepasang pengantin yang belum juga berbulan madu itu.
Hueuh .. boro - boro bulan madu , pesta pernikahan pun bahkan tidak Alessya dapatkan sekalipun. Alessya sedikit jengah mendengar penuturan kegembiraan Diana, sembari memutar bola matanya. Bahkan disela kesibukannya menikmati makanan favoritnya yang telah tersaji di atas meja, dia menyempatkan diri untuk sekedar mendelik tajam pada suaminya yang tengah menatapnya sembari terkekeh. Tidak lupa sedikit lebih keras mendentingkan sendok ke piring yang ada di hadapannya kini.
" Ehem !!! " Reynald berdehem cukup keras. Bermaksud menegur istrinya Diana yang sedikit berlebihan dalam mengumbar pengalaman pribadinya tersebut. Sedikit banyak menyadari suasana yang mulai terasa panas diantara mereka. Apalagi setelah melihat mata Alessya yang tiada henti mendelik tajam kepada suaminya yang katanya dia cintai setengah mati itu.
" Seharusnya kau mengajakku Diana. Aku pasti akan sangat berbahagia !!! " Ketus sekali nada bicaranya, hi ... hi ... karena apa coba ? Ya ... karena suaminyalah ... ceritanya milyuner, pengusaha sukses namun samasekali tak kunjung jua mengajaknya honeymoon untuk sekedar ke luar kota sekalipun.
Sembari menahan nafas yang mendadak terasa bergemuruh di rongga dada. Wajah Alessya tanpak memerah, untuk beberapa menit dia hanya menunduk sembari tangannya tidak henti mengaduk makanan yang tersaji di piringnya dengan sendok yang berada di genggaman tangannya.
Hello ... apakah dia menangis ? Suasana makan yang diperkirakan akan terasa begitu hangat dan menyenangkan berubah menjadi menegangkan dan terasa begitu kelabu.
" Berhentilah pamer Diana ! " Bisik Reynald pada Diana, sembari menyikutkan sikutnya ke arah Diana. Mendapat perlakuan itu setelah melihat sikap sahabatnya Alessya , Diana malah terkikik geli.
" OPS !!! Maaf Alessya. Aku sedikit berlebihan. " Ucap Diana. Dia memang sengaja menggoda sahabatnya itu. Ya sembari menyelam minum air. Sekalian menyindir pak pengusaha sekalian, tuan rumah dari apartemen yang mereka kunjungi itu.
" Tidak Diana , kau tidak salah. Kau hanya sangat beruntung karena menikah dengan Kak Reynald. Tidak seperti aku ... " Jawabnya lirih. Sambil memasukkan satu suap sendok yang penuh makanan kali ini. Belum beres dia mengunyah sudah dia lahap lagi satu sendok penuh makanan ke mulutnya. Entah karena lapar, doyan atau marah. Mulutnya sampai penuh saat itu.
Mendengar ucapan itu, mereka kaget sudahlah pasti. Merasa ambigu dengan maksud dari jawaban Alessya kali ini tentunya, jangan ditanya. Tapi yang membuat mereka semakin merasa aneh adalah kala melihat cara Alessya makan saat itu. Mulutnya yang sudah penuh masih saja terus diisi.
__ADS_1
***
Alessya membongkar semua bungkusan berisi oleh-oleh pemberian dari Diana dan Reynald setelah beberapa saat lalu mereka akhirnya pulang meninggalkan suasana malam yang sedikit menegangkan. Sembari duduk di tepi ranjang king size miliknya. Sendiri saja tiada yang menemani. Memangnya dimana suaminya ?
Dibalik pintu kamar Arselli berdiri di sana. Sudah lumayan lama, hampir satu jam lamanya. Mengetuk pintu yang terkunci dari dalam karena lama tak kunjung dibuka oleh Alessya. Dia bolak-balik ke sofa lalu mendekati pintu lagi, mengetuk lagi, sembari memanggil namanya.
" Alessya ... ! " Mencoba merayu istrinya kali ini. Sudah paham betul karakter pasangannya, bahwa dia tidak semudah itu dirayu. Biasanya jika marah, Alessya akan meleleh bila Arselli membelikannya makanan enak. Namun tidak kali ini. Wong tadi dia baru saja selesai makan. Mana makannya begitu lahap dan tandas tak bersisa. Sepertinya kali ini cara itu tidak berfungsi, dia harus mencari cara lain.
Bergegas mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya. Arselli tidak lupa untuk menyambar kunci cadangan kamar dimana Istrinya tengah merajuk marah dan manja.
Krieeett ...
Suara pintu terbuka berbunyi. Alessya samasekali tidak kaget mendengar dan melihat hal itu. Seperti biasanya pemilik apartemen ini akan beraksi, menunjukkan bahwa dia adalah pemilik asli, dengan adanya kunci cadangan di tangannya. Tidak memberi Alessya sebuah privacy.
Derap langkah terdengar dengan begitu tenang. Menghampiri sang istri yang tengah duduk di atas ranjang membelakanginya. Sembari khusu dan asyik membuka satu persatu bingkisan dari Diana.
" Ambillah !! " Memberikan sebuah amplop kepada Alessya.
Dengan dingin Alessya menerima amplop itu. " Apa ini ? " Tanyanya dengan nada yang ketus. Sembari membuka tutup amplop yang tidak dilem itu.
" Buka saja. " Arselli menjawab singkat, ingin segera melihat reaksi istrinya nanti.
" Hah ... !! " Sembari menutup mulutnya yang menganga, Alessya membelalakkan matanya saat membaca kertas yang berhasil dia keluarkan dari dalam amplop tadi.
" Russel ... apa ini, apa maksud semua ini ? " Dengan begitu antusias dia menatap suaminya, bahkan matanya begitu berbinar kala itu. Tak lupa dia melingkarkan lengannya pada leher suaminya kemudian.
" Ini hadiah untukmu. Maafkan aku karena baru sekarang bisa memberikannya. Kau senang ? " Menatap wajah Alessya yang sekarang begitu dekat dengannya, terlihat begitu bahagia dan kini mengangguk padanya menandakan senang di hatinya.
__ADS_1
" Kau harus membalas semua itu ... " Melingkarkan lengan kokohnya pada pinggang ramping Alessya cukup erat, cukup membuat mereka semakin dekat sekarang ini.
" Dengan apa ? " Tanyanya dengan begitu polos. Menatap lebih dalam mata Arselli. Mencoba mencari jawaban dari sana.
Pipinya memerah melihat mimik wajah suaminya. Sepertinya dia paham apa yang suaminya inginkan saat ini.
" Dimana ? " Alessya menggigit bibir bawahnya kemudian. Yang ternyata memiliki hasrat yang juga terpendam.
" Di sini saja ... " Jawab Arselli sembari menatap istrinya yang tersenyum dan telah menyadari bahwa mereka sudah di atas ranjang.
Berawal dari mengecup kening, mata, dan pipi, berlanjut ke bibir lalu memagutnya mesra, hangat dan dalam. Arselli mendorong tubuh Alessya ke ranjang berbaur dengan bingkisan oleh-oleh dari Diana dengan gesit menindihnya kemudian. Jangan ditanya tangan Arselli sekarang ada di mana, yang pasti saat ini jemarinya tengah berburu kenikmatan. Bersamaan dengan suara pekikan dan jeritan manja, entah karena nikmat atau geli semata.
Dengan gairah yang sama-sama tinggi dan menegang, mereka bercumbu mesra mengungkapkan kebahagiaan.
Beberapa lembar kertas yang berkaitan dengan destinasi wisata honeymoon yang akan mereka lakukan beberapa waktu ke depan terhempas ke bawah ranjang tergeletak di lantai begitu saja, terpaksa terlepas dari genggaman Alessya tadi. Karena sekarang ini tangannya tengah sibuk menjambak rambut ataupun mencakar punggung suaminya, ditengah lenguhan dan desahan yang sesekali memekik seksi dari bibirnya.
" Russelllhhh ... !! "
π
π
π
Kelamaan libur nulis ... jadi hilang feel dan nyawa alias penghayatan πππ.
Dapat ide juga jadi agak susah ...
__ADS_1
Maafkan ya ... jika ceritanya sedikit ngawur.π€¦π€¦π€¦