Lola And Loly

Lola And Loly
Sedih dan Bahagia


__ADS_3

" Darimana kau mengetahuinya ? "


" Aku- pernah melihatmu menangis di pangkuan Ibu. Saat itu ... "


Flash Back On ..


Alessya berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja suaminya. Saat itu adalah beberapa hari setelah Alessya dan Arselli baru saja mengetahui jenis kelamin dari bayi yang tengah dikandungnya.


Perasaaan bahagia yang begitu membuncah mendorong Alessya untuk menemui suaminya yang semenjak hari itu malah begitu sibuk dengan pekerjaannya. Entah memang benar-benar sibuk atau menyibukkan dirinya. Alessya jelas tidak tahu dengan pasti alasan sebenarnya.


Bermaksud untuk membicarakan nama bayi yang akan disematkan nanti pada anak mereka nanti. Alessya malah tertegun, tatkala mendapati suami dan ibu mertuanya tengah berbicara berdua. Alessya berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, dan tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


" Ada apa denganmu ? Kenapa kau terlihat kacau sekali akhir-akhir ini. Bahkan asisten Henry melaporkan bahwa kau gagal dalam meraih tender besar untuk pertama kalinya dalam sepanjang karirmu. Berceritalah, mungkin Ibu bisa membantumu. " Ucap Ny. Alice saat itu. Terdengar begitu jelas sekali, walau Alessya hanya berdiri di depan pintu.


" Ini- mengenai Alessya ibu. Mengenai kandungannya. " Jawab Arselli sembari duduk di sofa panjang di samping ibunya sembari menundukkan kepalanya.


" Ada apa lagi ? Bukankah dr. Edward bilang bahwa kondisinya semakin membaik sekarang ? " Ny. Alice terlihat kaget mendengar kabar itu. Sepertinya, dia juga ikut cemas setelah mendengar kabar tentang menantunya itu.


Arselli lalu menjelaskan kondisi Alessya seperti yang dia dengar dari dr.Mark tempo lalu. Secara tidak langsung Alessya mendengarnya, mengetahuinya bahwa dirinya hanya tinggal menghitung waktu saja.


" Lalu bagaimana dengan aku, Ibu ? " Arselli terdengar begitu emosional saat itu. Dia mulai menangis saat itu.


" Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Bagaimana aku bisa melewati kehidupan ini hanya seorang diri. "


" Kau harus kuat. Bertahanlah demi anak-anakmu nanti .. Dan kau hanya harus yakin. Bahwa hidup dan mati ditentukan oleh Tuhan bukan dokter atau siapapun itu. Mungkin dr. Mark hanya ingin agar kita lebih menjaga kondisi kesehatan istrimu saja. " Jawab Ny. Alice.


Mencoba menenangkan putranya yang kini tengah merebahkan kepalanya di pangkuannya sementara kakinya berselonjor di sofa panjang itu.


Mendengar hal itu, Alessya bersandar di tembok menangis dengan seguk sedan yang dia tahan sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara. Jika Arselli menangis karena mengkhawatirkannya, Alessya menangisi nasibnya yang terasa begitu menyedihkan.


Rasa takut menyelimutinya kian dalam. Namun dia tolak sekuat hatinya. Dia bertekad untuk bertahan demi anak-anak yang kini tengah di kandungnya.

__ADS_1


Flash Back Off ...


" Kau sudah mengetahuinya ? " Arselli menangis saat itu.


Alessya mengangguk.


" Berjanjilah untuk tetap hidup. Jagalah anak-anak untukku. " Ucap Alessya saat itu.


" Apa maksudmu ? Kau tidak akan kemana-mana, yakinlah kau akan baik-baik saja. " Arselli ragu. Namun meyakinkan dirinya untuk keajaiban yang satu persen itu. Berharap Alessya akan baik-baik saja, bertahan hidup demi dirinya dan anak-anaknya.


" Russel .. Mereka adalah bagian dari diriku. Dengan menjaga dan mencintai mereka, berarti kau menjaga dan mencintaiku. " Alessya memelas saat itu. Berharap Arselli merelakan dirinya nanti. Berjanji menerima kenyataan hidup yang dirasa pahit ini.


" Itu akan sulit Alessya. Bertahanlah untuk hidup. Jangan pergi Ok ? Yakinlah bahwa kau akan hidup. Ok ? " Tak henti air mata mengalir di pipi mereka. Alessya menghapusnya. Menghapus air mata di pipinya dan di pipi Arselli dengan jarinya.


" Ok ?!! "


" Baiklah. " Alessya mengangguk. Merasa bingung dengan hal yang kini tengah dihadapinya itu. Hanya yakin dan berharap pada Tuhan, bahwa keajaiban itu ada. Bahwa keajaiban akan menghampirinya, memberinya kesempatan untuk kehidupan kedua. Demi menjaga anak-anaknya, suaminya dan keluarganya.


" Lagipula .. kenapa kau begitu yakin kau akan pergi, huh ? Hidup dan mati adalah takdir Tuhan. Ucapan dokter itu hanya sebuah kemungkinan, Sayang. Jangan berlebihan. Berdoalah agar kau dan anak-anak akan selamat dalam proses melahirkan nanti. " Ucap Arselli bijak.


***


" Ibu ... "


Alessya menatap ibu mertuanya yang kini tengah terbaring di sampingnya. Akhir - akhir ini Alessya sering ditemani Ny. Alice jika Arselli sedang sibuk atau menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Arselli masih belum menerima dengan kenyataan hidupnya, memilih menyibukkan diri dan fikirannya agar tidak terlalu hanyut dalam luka yang mendalam.


" Ada apa ? "


Ny. Alice menatap menantunya itu. Membenarkan selimutnya agar lebih nyaman tidurnya.


" Mengapa kau tidak terlalu dekat dengan Lucas ? "

__ADS_1


Menatap dengan mata jernihnya, Ny. Alice mengerjap kaget tatkala mendengar pertanyaan itu.


" Ibu menyayangi mereka berdua. Berapa besar porsinya hanya ibu yang mengetahuinya. Dan semua ada alasannya. Suamimu sangat berjasa dalam memajukan perekonomian keluarga kami, itu menjadi salah satunya. Namun, bukan berarti Ibu tidak menyayangi Lucas. Mereka memiliki porsinya masing-masing. Hanya saja, Lucas memang terlalu liar di luaran. Dia slalu sibuk dengan gadis-gadis yang berada di sekitarnya. Mungkin setelah menikah nanti, dia akan lebih dekat denganku. Seperti Arselli saat ini, karena kehamilanmu kami menjadi lebih dekat sekarang. Padahal dia slalu sibuk dengan pekerjaannya dulu, dan tentu saja sibuk denganmu. " Jelas Ny. Alice panjang kali lebar.


Alessya tersenyum mendengar ucapan terakhir ibu mertuanya itu.


" Kau harus menjadi seorang ibu untuk mengerti situasi itu. " Jawab Ny. Alice membuat Alessya tercekat.


Apakah aku akan mengalaminya ? Apakah aku akan hidup ?


" Ibu ... jika terjadi sesuatu, tolong jaga Russel dan ketiga anakku nanti. " Ucap Alessya dengan berderai air mata.


" Tidak ! Kau harus hidup untuk menjaga mereka semua. " Tegas Ny. Alice berusaha menutupi kesedihan di dalam hatinya.


" Anakmu terlalu banyak, Ibu tidak akan sanggup mengurus mereka seorang diri. " Merubah posisi tidurnya, Ny. Alice kini menangis membelakangi Alessya.


" Tetaplah hidup Alessya. Putraku sangat membutuhkanmu ... " Suara Ny. Alice terdengar serak saat itu.


Alessya bahagia, setidaknya mertuanya menangis untuknya. Secara tidak langsung benih kasih sayang telah tumbuh diantara mereka.


" Aku menyayangimu Ibu ... " Ucap Alessya tersedu-sedu. Berharap kalimat ini bukanlah kalimat terakhir yang akan diucapkan untuk mertuanya itu. Berharap ada lebih banyak waktu baginya untuk mengucapkan kalimat itu di lain masa.


Mendengar itu, Ny. Alice langsung membalikkan badannya memeluk menantunya itu. Mereka menangis bersama dalam pelukan erat dan kehangatan layaknya seorang ibu dan putri kesayangannya.


" Tetaplah hidup ... Sayang. " Kecup Ny. Alice pada kening Alessya. Ada sesal di hatinya, selama ini dia jarang bersikap baik pada menantunya itu. Dan kini , demi mengandung dan melahirkan cucunya, Alessya bahkan harus terancam keselamatannya.


Perasaan bahagia begitu membuncah di dalam dada Alessya. Sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Ny. Alice yang dulu begitu membencinya perlahan menyayanginya. Menerimanya dengan segenap hatinya. Menerima dengan tangan yang terbuka, seperti impiannya dulu.


.


.

__ADS_1


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


__ADS_2