Lola And Loly

Lola And Loly
Suami Sempurna


__ADS_3

Trank ... !


Trank ... !


Trank ... !


Arselli memulai pertempurannya di dapur. Ditemani Robin yang setia mendampingi dan mengekori. Memberi petunjuk dan hal yang lainnya.


Ini sungguh luar biasa ...


Kali kedua menginjak dapur, setelah pengalaman pertamanya membuatkan bubur. Istrinya menantangnya dengan menu masakan yang cukup rumit luar biasa. Robin saja yang seorang cheff, yang sudah biasa bergelut dengan peralatan yang kini berada di depan Arselli, sempat menyerah dulu.


Bukan masalah besar bagi Arselli, dia tinggal menyuruh Robin untuk melakukannya, atau menyewa cheff khusus spesialis makanan itu. Masalahnya Alessya menunggunya di sana, dengan alasan bayi mereka ingin melihat langsung pertempuran ayahnya.


Dengan tatapan antusias, Alessya duduk menatap sang suami yang memakai celemek di depan badannya. Sembari menikmati juice jeruk buatan Robin yang tersaji di atas meja.


" Ayo Russel ... Semangat ! " Ucapnya sembari mengepalkan telapak tangannya. Mengangkatnya ke atas memberi semangat kepada suaminya.


Arselli tersenyum kecut. Menatap miris peralatan masak dan bahan-bahan makanan yang akan ia masak segera.


" Tunggulah di depan sayang ! Aku khawatir kau mual karena mencium bau masakan ini. " Ucapnya sok perhatian. Dia hanya sedang berfikir untuk berusaha lepas dari misi yang dirasa berat itu.


" Tidak sayang ! Mereka ingin melihatnya .. " Sembari mengelus-elus perut buncitnya itu. Slalu saja menjadikan anak mereka sebagai alasan, dibalik keinginannya yang sering tidak masuk diakal.


Pernah satu kali, di malam-malam buta Alessya tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Membangunkan tidur Arselli saat itu juga, karena ingin tidur di hotel bintang lima. Dan tepat setelah sampai di sana, baru saja memarkirkan mobilnya di depan hotel itu, Alessya mendadak ingin pulang karena ingin tidur di kamar tamu di villa suaminya saja. Dia bilang lebih nyaman dan murah di sana.


Dan pernah satu kali juga, Alessya sampai menangis meminta Arselli untuk pulang dari kantornya, hanya untuk menyuruhnya memakan ice cream buatan Robin yang awalnya Alessya pesan untuk dirinya.


Ya ... walau begitu keinginan Alessya masih sedikit masuk akal. Tidak menginginkan hal aneh yang luar biasa.


Seperti meminta bulan misalnya, Arselli mana bisa memberikannya. Atau meminta Arselli mempolygaminya. Kalau itu-mah keinginan terpendam Arselli sepertinya. Kalaupun iya Alessya ngidam menginginkannya, JEELAAS bikin senang suami saja. Dan JEELAAS juga Alessya tidak akan pernah menginginkannya !!!


Kecuali satu keinginannya yang sampai sekarang masih terngiang di telinga Arselli. Karena sesekali Alessya membahasnya walau tidak sengaja. Keinginan Alessya menjadi aktris film laga, Arselli masih penasaran dengan ending dari permintaan yang satu ini. Bagaimana akhirnya nanti, tunggu saja episode terakhir, OK ?


Dan kini Arselli masih bergelut dengan wajan penggorengan, panci rebusan, dan alat pemanggang.


" Kau yakin dia akan menyukainya ? " Tanya Arselli pada Robin. Terdengar begitu putus asa, ketika memasukkan bumbu garam pada masakannya.


Entah apa yang sedang dimasaknya, author juga tidak tahu. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


Hampir dua jam Arselli bergelut di depan kompor bersama Robin. Sesekali meringis kala uap panas menyembul ke wajahnya, atau cipratan minyak yang mengenai lengannya, belum lagi asap yang mengepul ke mata dan hidungnya. Membuatnya perih dan memerah seketika. Dan itu semua dia lakukan demi sang istri dan calon buah hatinya tercinta.

__ADS_1


Sempat melupakan Alessya beberapa lama, Arselli kaget tatkala mendapati Alessya tertidur bersandar di meja. Tepat beberapa saat lalu ketika dia membalikkan badannya hendak memberikan sepiring kecil hasil karyanya untuk Alessya coba.


" Sayang ... " Ucap Arselli lirih. Antara percaya dan tidak percaya melihatnya.


" Biar saya saja yang melanjutkan, Tuan. Anda antarlah Nyonya untuk tidur di kamar. " Setidaknya Robin mengerti dengan perasaan majikannya saat ini. Sedih dan terharu bercampur menjadi satu. Arselli tidak menyangka akan mengalami hal ini dalam hidupnya.


Arselli beringsut berniat menggendong istrinya yang semakin gemuk itu.


" Russell ... " Alessya tiba-tiba bangun, sesaat Arselli menyentuh tubuhnya untuk membawanya dalam pangkuannya.


" Kau bangun ? " Arselli kaget. Berdilema akankah misi masaknya berlanjut ?


" Aku sedikit pusing. Bisakah kau meminta Robin menyiapkan salad buah untukku ? " Alessya memijit pelipisnya.


" Dan juice strawberry. Sepertinya akan segar meluncur di tenggorokanku. " Pintanya polos, sembari membayangkan makanan dan minuman yang tiba-tiba dia inginkan.


" Salad ? " Tanya Arselli memastikan.


" Hmm. " Alessya mengangguk, berusaha meyakinkan suaminya.


" Lalu, bagaimana dengan masakan timur tengah itu ? " Ragu sekali Arselli bertanya, tapi bagaimanapun dia harus menanyakannya. Statusnya penuh dengan tanda tanya.


" Iya. " Kali ini Arselli yang mengangguk.


" Aku rasa cukup, Russel. Melihatmu memasaknya saja, mereka sudah puas. "


Tersenyum manis, Alessya mencoba meredakan amarah Arselli yang bisa saja muncul seketika. Tapi, untunglah Arselli adalah suami dan ayah yang sabar serta setia, pekerja keras dan tidak sombong pula. Tampan pula itu adalah bonusnya. Kaya dan sukses sudah pasti miliknya. Ah.. Arselli memang juaranya. Alessya tidak menyangka akan memilikinya.


Jika ditanya siapa suami yang paling sempurna, maka Arselli-lah orangnya ...


Dengan sabar hati, Arselli menuruti keputusan istri dan bayinya. Tidak mungkin untuk memaksanya.


Menggaruk kepalanya, Arselli berusaha legowo saja.


***


" Ini salad dan juice-nya, Nyonya. " Robin mengantarkan makanan dan minuman pesanan ibu hamil itu.


Kini Alessya tengah duduk di home theatre milik suaminya, dengan TV megah di hadapannya.


Kala itu Alessya menonton sendiri, tanpa ditemani Arselli yang kini telah meluncur ke ruang kerjanya setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu tadi.

__ADS_1


" Terimakasih, Robin. " Ucap Alessya dengan begitu tulus. Merasa berterima kasih, Robin slalu menuruti permintaannya yang kadang aneh dan berubah-ubah.


" Tidak apa-apa, Nyonya. Sudah kewajiban saya menuruti permintaan Anda. " Jawabnya ragu. Takut-takut memancing ibu hamil itu menginginkan hal aneh lainnya.


Alessya mengerjapkan matanya. " Kau baik sekali, Robin. Terimakasih .. " Ucapnya lagi.


Dan Robin lega mendengarnya. Beringsut berjalan meninggalkan ruangan itu menuju dapur tempatnya bekerja dan bersemayam.


Menonton acara TV yang membahas tentang ibu hamil dan bayi. Alessya begitu antusias menontonnya.


Beringsut bangun dari duduknya setelah acara tv itu selesai, berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya. Alessya menghampiri Arselli yang cukup sibuk dengan pekerjaannya.


" Russel ... " Alessya tiba-tiba duduk di pangkuan suaminya itu. Merengkuh lehernya dan menatap wajahnya.


" Ada apa ? Ada lagi yang kau inginkan ? " Sedikit menyindir.


" Uhh. " Alessya merenggut.


" Kita pergi ke dokter kandungan sekarang. " Pintanya tiba-tiba.


" Hmm ? " Arselli kaget.


" Kau merasakan sesuatu ? Ada yang sakit ? " Ucapnya begitu khawatir.


" Tidak ! " Alessya menggelengkan kepalanya.


" Lalu apa ? " Bertanya-tanya.


" Saat pemeriksaan minggu lalu, dokter tidak memberitahukan jenis kelamin bayi kita. Aku ingin ke sana sekarang. Mungkin dokter akan memberitahu kita sekarang. " Ucapnya dengan begitu antusias. Padahal dokter itu tidak memberitahunya karena memang itu permintaannya. Arselli yang saat pemeriksaan waktu lalu sempat penasaran, bahkan terpaksa menahan rasa ingin tahunya.


Setelah menonton acara TV tadi, Alessya mendadak begitu penasaran jenis kelamin bayi yang sedang dikandungnya. Padahal dia sudah beberapa kali membicarakan dengan suaminya, untuk tidak membahas hal itu. Lebih memilih mengetahuinya nanti setelah lahir saja, kejutan katanya.


" Kau yakin ? " Tanya Arselli untuk ke sekian kalinya.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2