Lola And Loly

Lola And Loly
Jelek dan Bau


__ADS_3

.


.


.


" Dia pulang ? Aku fikir dia akan menginap atau mengajakmu pulang hari ini. " Ucap Hana sembari menatap Arselli yang sedang berjalan memasuki mobilnya dari balik jendela.


Mereka sempat berpapasan tadi. Walau berat hati untuk pergi, Arselli berpamitan pada Hana dan memberikan sebuah kartu nama padanya. Hana bisa menelfonnya jika terjadi sesuatu pada Alessya.


" Dia sebaiknya pulang saja. " Jawab Alessya dengan begitu santainya.


" Apa masalahnya sudah clear ? " Hana bertanya.


" Belum. Aku merasa tidak nyaman tadi. " Jawab Alessya.


Hana mengernyitkan dahinya. " Kenapa ? "


Alessya menggelengkan kepalanya.


" Entahlah Hana. Russel sangat berubah sekarang. " Allessya seperti membayangkan sesuatu saat itu.


" Apanya yang berubah ? " Hana mencoba mencari tahu.


" Sekarang, dia terlihat begitu jelek dan bau. Aku tidak suka Hana. Tadi saja, saat mengobrol dengannya aku hampir mau muntah beberapa kali, membuat konsentrasiku hilang saat itu. Namun aku berusaha untuk menahannya. Padahal saat dia memelukku tadi, dia tidak bau samasekali. " Alessya menjawab dengan begitu polosnya.


Hana tertawa mendengarnya. Sepertinya ibu hamil yang tengah duduk di sampingnya ini tengah dipengaruhi hormon kehamilannya yang kadang berubah-ubah.


***


Arselli uring-uringan di villanya. Dia baru saja mendapat sebuah pesan dari Hana, dan mengatakan apa yang disampaikan Alessya tadi padanya.

__ADS_1


" Jelek dan bau ! Apa maksudnya itu, Henry. " Arselli terlihat begitu frustasi saat itu. Seharusnya dia bahagia karena bertemu dengan Alessya, tapi nyatanya Alessya terlihat begitu menghindarinya.


Asisten Henry diam-diam tersenyum memperhatikan bosnya itu. Sedangkan Arselli berjalan ke arah cermin besar yang berada tidak jauh dari mereka.


" Apa aku terlihat begitu jelek, Henry ? " Arselli memegang wajahnya. Memperhatikannya berkali-kali.


" Mungkin karena bulu halus di wajah anda, Tuan. Sepertinya beberapa hari ini, anda lupa untuk mencukurnya. " Jawab Henry masih mengulum senyumannya.


" Dan bau ? Apa aku sebau itu ? " Arselli menciumi aroma tubuhnya.


Asisten Henry hampir tergelak melihatnya.


" Nyonya Alessya sedang hamil, Tuan. Pengaruh dari hormon kehamilan bisa membuat moodnya sering berubah-ubah. Anda harus memakluminya. Apalagi ini adalah kehamilan yang sangat ditunggu-tunggu oleh kalian. "


Asisten Henry mencoba menenangkan, walaupun dia ragu dengan kebenaran dari ucapannya itu. Karena dia sendiri belum pernah mengalaminya. Istrinya walau pernah hamil, namun samasekali tidak serumit ini.


Arselli menghela nafas panjang. Berfikir sesuatu untuk beberapa saat.


Saat itu hampir tengah malam, Arselli fikir tidak salahnya mencoba. Selesai dari salon dia akan menemui istrinya, Alessya. Barangkali dia mau menerimanya, dan mengizinkan tidur bersamanya.


Dia benar-benar merindukan istrinya. Ingin menyentuhnya dan membelai perutnya. Saat bertemu tadi Alessya begitu menjaga jarak darinya. Ya, mungkin karena merasa terganggu dengan kejelekan dan aroma tubuhnya yang menurut Alessya bau.


" Ini sudah tengah malam, Tuan. " Asisten Henry mencoba mengingatkan.


***


Tengah malam ...


Arselli berdiri di depan rumah Hana. Setelah sebelumnya mengirim pesan padanya. Untunglah Jemy sedang tidak ada, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.


Sepertinya dia baru pulang dari salon. Wajahnya kembali tampan dengan aroma wangi terguar dari tubuhnya.

__ADS_1


" Masuklah ! " Hana dengan wajah bantalnya membukakan pintu untuk suami sahabatnya itu.


Ada kekesalan di hatinya. Maksud dia memberitahukan Arselli hal tadi, agar besok disaat Arselli datang ke sini dia sudah siap dengan rapi dan wangi. Bukan datang sepagi buta ini. Walau Hana mengakui suami sahabatnya itu terlihat begitu tampan dan wangi malam itu.


Menunjukkan kamar yang ditinggali Alessya, Hana mengantarnya hingga Arselli masuk ke dalam kamar Alessya.


" Terimakasih. " Ucap Arselli pada Hana. Hana hanya memutar bola matanya merasa jengah dengan tingkah sepasang suami istri ini. Begitu kekanak-kanakan, fikirnya.


Arselli masuk ke kamar Alessya. Mendapati istrinya tengah tidur di sana dengan begitu nyenyaknya. Di sebuah ranjang berukuran kecil sesuai dengan ruangan kamarnya yang kecil.


" Selamat malam. " Bisik Arselli pada telinga Alessya yang saat itu tengah tertidur miring sembari mengecup keningnya.


" Selamat tidur, sayangku. " Arselli mengusap dan mengecup perut istrinya. Bermaksud menyapa buah hatinya yang kini tengah hidup berkembang di sana.


Beringsut menaiki ranjang kecil itu lalu tidur di samping istrinya dan memeluknya dari arah belakang. Memeluknya dengan begitu erat dan lama. Memberikan kehangatan dalam dinginnya malam. Sepertinya untuk pertama kalinya selama dua bulan ini dia bisa tidur dengan begitu nyenyak. Karena Alessya sudah kembali di sisinya, menemaninya dan menghangatkannya.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.


Jangan lupa like, rate dan koment ya ...

__ADS_1


__ADS_2