Lola And Loly

Lola And Loly
Bertemu Denganmu


__ADS_3

.


.


.


Diana memandangi layar ponselnya beberapa kali. Melakukan panggilan tanpa henti. Namun lagi-lagi gagal dan tak bisa dihubungi. Mengkonfirmasi ulang pada Lucas mengenai kepulangan sahabatnya, Alessya. Rasa cemas menderanya apakah yang gerangan yang terjadi padanya, padahal jelas menurut informasi, tiga hari lalu seharusnya Alessya sudah kembali pulang dari LA.


Mencoba menghubungi Arselli namun hasilnya sama saja. Dan hanya asisten Henry harapan satu-satunya.


" Lucas kau sudah mendapat kabarnya ? Apa kau sudah mendapat kabar dari asistennya itu ? "


Diana cemas setengah mati. Apalagi setelah ayah Hans menanyakan Alessya berulang kali.


" Sesuatu terjadi di sana, mereka hanya sejenak memperpanjang liburan mereka. Ayolah, kau jangan terlalu berlebihan Diana. "


Lucas menjawab dengan begitu santai. Membayangkan yang sedang liburan pasti tengah enak-enakan di sana.


" Ya .. aku hanya cemas saja. " Fikirannya tenang hatinya lega mendengar tidak terjadi apa-apa pada sahabatnya.


" Kau sih jomblo terus akhir-akhir ini. Jadi tidak tahu rasanya cemas kehilangan seseorang. " Diana menyindir sang pria kesepian.


" Alessya kan sahabatmu, Diana. Bukan pacarmu. Apa hubungannya dengan aku jomblo ? "


Diana terkekeh mendengarnya. Benar juga, apa hubungannya ...


" Iya-iya. Kau ini slalu emosi saja. Kurang charger ya ? " Kata Diana.


Sembari tertawa, terlintas wajah Meera yang cukup cantik di benaknya. Sepertinya akan cocok bila menjadi kekasih Lucas. Fikirannya menerawang mengingat pertemuan Meera dan Lucas yang begitu canggung saat terakhir kali Meera mengantarnya ke apartemen Lucas. Ada apa dengan mereka ?


Begitupun di kejauhan sana, Lucas yang ternyata juga sedang membayangkan wajah Meera yang pernah dia cium bibir seksinya. Seolah menchargernya hingga penuh isi dayanya.


" Lucas ? "


Diana bertanya setelah beberapa lama mereka terdiam saja.


" Hmm ? " Lucas ber-emh ria.


" Apa pendapatmu tentang Meera ? " Jiwa Mak comblang Diana muncul seketika.


" Apa ?! "


Lucas yang sedang minum air bak menyesap bibir Meera langsung tersedak mendengarnya. Pudar sudah lamunannya.


" I-ya, Mee-ra ? Saat kalian bertemu terakhir kali, kalian terlihat canggung sekali. Apa kau menyukainya ? " Tanya Diana to the point saja.


Lucas hanya terdiam saja, terlihat bingung harus menjawab apa.


Belum tahu dia, kita bahkan sudah pernah berciuman dengan begitu lama ...


***


Alessya begitu segar dan cantik hari ini. Robin sampai terpukau melihatnya. Kabar yang dia bawa pada istri majikannya itu beberapa menit lalu, membuat perubahan besar yang begitu signifikan.

__ADS_1


Alessya keluar dari kamarnya, karena memang sudah tidak dikunci dari luar lagi. Asisten Henry membawa berita baik melalui Robin untuk membantunya memperbaiki hubungan sepasang suami istri yang sedang bertengkar itu.


Dan kini Alessya sudah duduk di kursi meja makan dengan wajah cerah ceria, semangat empat lima, dan penampilan memukau luar biasa. Bukan hanya itu saja, Alessya bahkan makan dengan begitu lahapnya. Seolah ingin mengganti energi beberapa hari ini yang terlewatinya. Dan mengumpulkan tenaga untuk aktifitas berikutnya.


Memangnya dia mau apa ? Mau ke mana ? Tentu saja ... dia berencana untuk menemui suaminya tercinta yang sangat dia rindukan beberapa hari ini. Mengikuti rencana asisten Henry untuk menemuinya, memberi kejutan pada suaminya.


Asisten Henry mengambil inisiatif sendiri untuk meng-akurkan mereka berdua. Karena walaupun bos majikannya itu mulutnya berkata tidak dengan kemarahan di wajahnya, namun asisten Henry bisa jelas membaca isi hatinya dan sorot kerinduan di matanya.


Mengikuti perkembangan laporan Robin mengenai istri majikannya yang juga terlihat putus asa karena berpisah dari suaminya. Dan rengekan tangis dari bibirnya yang tidak henti meminta untuk bertemu dengannya. Maka, tercetuslah ide untuk mempertemukan mereka berdua.


" Terimakasih, Robin. Aku takkan melupakan kebaikanmu itu. "


Ini ucapan terimakasih dari Alessya untuk yang ke berapa kalinya. Sudah terlalu sering sedari lama tadi. Dari sebelum dia mandi hingga kini dia sudah tampak cantik sekali. Dengan satu gagang sendok yang berada dalam genggamannya.


Alessya kini tengah menikmati satu mangkuk sup buatan Robin. Ini adalah menu makanan yang ke sekian kalinya yang berhasil masuk ke mulut dan perutnya. Menjadi rekornya hari ini, memakan berbagai jenis makanan dalam satu waktu saja. Dan menjadi kebanggaan bagi Robin juga. Dimana hasil masakannya habis kandas dicerna Nyonya majikannya yang akhir-akhir ini sering berganti mood tiba-tiba. Hingga akhirnya kadang masakan yang sudah sengaja disiapkan untuknya, berakhir merana karena samasekali tidak disentuh olehnya.


" Apakah aku terlihat cantik, Robin ? "


Dengan bola mata berbinar Alessya bertanya. Merasa bahagia karena akhirnya akan bertemu dengan suami tercinta yang beberapa hari ini tidak bisa ditemui olehnya.


Robin terperangah mendengarnya.


" Tentu saja, Nyonya. Anda terlihat cantik sekali ... "


Sembari tersenyum, hatinya berkata-kata, sungguh polos gadis cantik yang kini tengah duduk di hadapannya. Yang usianya tebak separuh dari umurnya. Pantas saja tuan majikannya itu terlihat begitu mencintainya. Karena beginilah dia, begitu polos dan apa adanya.


***


" Nyonya ... tunggu ! "


Namun terlambat Alessya sudah terlanjur masuk lift, dan lift pun perlahan naik menuju lantai yang dituju, lantai tiga puluh tiga.


Tiba-tiba ...


" Tuan Henry ! "


Panggil seorang resepsionis hotel itu yang berada tidak jauh darinya.


" Ada apa ? "


Asisten Henry menghampiri ,melihat resepsionis wanita yang cukup cantik itu terlihat hendak berbicara cukup serius dengannya.


" Tadi ... ada seorang wanita yang mencari Tuan Arselli. " Ujar resepsionis itu.


" Tadi ? "


Mengingat istri majikannya, namun dia sangkal seketika. Bukankah Ny. Alessya baru saja tiba ...


" Lebih tepatnya lima belas menit yang lalu. " Asisten Henry menelan ludahnya. Mengapa jantungnya terasa deg deg an ... ?


" Lalu ? Apa yang kau katakan ? " Asisten Henry mengemukakan rasa penasarannya.


" Dia bilang seorang teman lama. Ada hal mendesak yang harus dibicarakan olehnya. Jadi, terpaksa kami memberitahunya. " Jawabnya beralasan tidak ingin disalahkan.

__ADS_1


Asisten Henry langsung mengerti, walaupun jantungnya tidak berhenti berdebar kencang sedari tadi ...


***


Ting


Pintu lift terbuka. Alessya berjalan mencari nomor yang tadi disebutkan asisten Henry padanya.


3390 ... 3391 ... 3392 ... 3393 ...


Alessya terus melangkah menyusuri lorong membaca setiap nomor yang terpampang di setiap pintu.


3394 ... 3395 ... ini dia ... 3396 !


Hatinya senang tak terkira. Berdiri di depan pintu. Dengan irama jantung yang mulai tidak beraturan. Ada takut di sana. Bersemayam di dalam dada. Bagaimanapun Arselli masih marah padanya.


Hal yang ditakutkan melayang-layang di benaknya. Berputar - putar di fikirannya. Akankah Arselli memaafkannya dan tidak mengabaikannya.


Tapi ...apapun itu dia harus berusaha untuk memperbaikinya. Bagaimanapun caranya bukan ?


Russel ... aku datang ...


Aku merindukanmu ...


Krieet ...


Pintunya tidak dikunci. Akh ... aku bahkan lupa tidak mengetuknya ...


Alessya berjalan ke dalam kamar. Matanya membelalak. Terkejut sudah pasti. Melihat suaminya Arselli bersama seorang wanita dan berpelukan di depan matanya. Air mata menetes tak tertahankan.


" Russel .... !! " Ucap Alessya lirih.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.


Jangan lupa like, rate dan vote ya ...


Jangan dulu emosi ...


Jangan dulu terbawa perasaan ...


Ikuti alur ceritanya ok πŸ‘Œ ??

__ADS_1


__ADS_2