Manisnya Madu

Manisnya Madu
100


__ADS_3

Di restoran.


Johan memandangi Lee gak berkedip, cukup tampan dan masih muda. Sambil menunggu pesanan makanan datang gak sabar Johan nanya nanya.


"Berapa umur kamu?" tanya Johan pada Lee bahasa santai merasa ia jauh lebih tua.


"Tiga puluh tiga tahun, Tuan Johan," jawab Lee, tersenyum melihat wajah kaget Dewi.


Tak ayal Johan juga kaget, begitu juga Devan yang melihat perawakan Lee setidaknya kira kira 24 atau paling tua 26 tahun, gak nyangka ternyata sudah tiga puluh tiga tahun.


"Heh! Kamu fermak plastik wajahmu biar kelihatan awet muda, ya?" Johan nada mengejek memandang nama Lee seo jin yang berasal dari Korsel, di mana warga negaranya punya kebiasaan mengutak atik wajah.


Lee pasang tampang gak senang pura pura. "Ini wajah asli Tuan Johan, memang saya tampan sudah dari bayi. Asal anda tau, orang tua saya masih lebih tampan dari saya!"


Jawab Lee ketus. Yang memang wajah aslinya juga tampan sebelum diminta melakukan death protokol saat masih jadi agen nasional (artinya dibuat mati kalau dalam dunia mata mata, sehingga Lee harus merubah wajah untuk mendapatkan identitas baru).


"Beritahu pada bos anda untuk melupakan Dewi, kalau tidak dia akan berhadapan dengan saya. Saya banyak mengenal pejabat negara Inggris saat jadi guru magang di sana. Kepolisian sekitar Universitas London saya kenal semua," jelas Johan sombong, menduga Lee adalah utusan Tuan Prana.


"Baik Tuan, saya catat!" jawab Lee suara tegas khas seorang bodyguard.


Memang itu tujuan saya datang Tuan, untuk menyatukan Dewi dan anda hanya untuk 4 bulan. Setelah itu, Tuan Tirta sendiri yang akan menjemput putrinya Dewi, hahaha.


Dalam hati Lee. Tidak berapa lama makanan pesanan mereka datang, dengan telaten Johan mengambil makanan untuk Dewi.


Dewi gerah diperlakukan seolah istri oleh Johan. Saat jadi istrinya, Dewi yang selalu melayani Johan. Sekarang sudah cerai tiba tiba Johan bersikap baik melayani dirinya.


Apa ini efek Niah kabur, aku jadi pelarian. Enggak nyangka ternyata anak itu serius pergi.


Batin Dewi, gak habis pikir kenapa lancar sekali kemaren mulut Johan waktu melafazkan talak pada dirinya kalau toh masih saling terikat.


"Tuan Johan, baik saya tegaskan sekarang! Kemanapun Dewi pergi saya akan mengawal nya, ini perintah dari London!" jelas Lee melihat perhatian Johan pada Dewi, ia senang merasa tugasnya akan lebih mudah.


"Untuk apa Dewi butuh bodyguard di sampingnya, sudah ada saya," ujar Johan.


Dewi benar benar gerah dengan sikap Johan, hah!


"Justru saya diutus untuk menjaga Dewi dari anda!" jelas Lee.


Ck, Johan menghentikan makannya menatap Lee. "Memangnya saya kenapa?" tatap Johan berang.


"Saya sudah tau anda men-talak Dewi, saya akan menjaga nya sampai selesai program!"


Johan memandang Dewi, marah. "Kamu yang mengatakan padanya? Bukankah...."

__ADS_1


"Kan memang itu kenyataan nya, sudahlah cepat makan! Aku ngantuk ingin istirahat!" ketus Dewi memotong bicara Johan, ck decak Johan.


"Jangan khawatir Tuan, saya mendapat tugas dari kedua belah pihak. Orang tua Dewi dan Tuan Prana. Kabar buruk ini gak akan sampai ke London, jika Tuan memperlakukan Dewi dengan baik," jelas Lee meyakinkan Johan.


Hm, menarik nafas kesal. "Katakan pada nya, saya mau rujuk!" tegas Johan pada Lee menunjuk Dewi.


Dewi membesarkan matanya, kesal sudah pasti. Johan menyukai cara Dewi menatap nya, gemas dan menggairahkan.


Kenapa semakin Dewi menolak semakin aku tertantang untuk mendapatkan nya lagi.


Batin Johan. Tiba tiba, ponsel Dewi berbunyi. Masuk pesan dari...Lee. Dewi melirik Lee.


"Sabar Dewi, hanya 4 bulan. Berbaik baiklah dengan nya," tulis Lee di pesannya, ck. Dewi berdecak kesal.


*


Senin, 22.00wib waktu Jkt sama dengan Senin, 11.00 waktu NYC.


Niah terbangun dari tidurnya, selama 24 jam di pesawat membuatnya pusing kena jet lag. Zan yang jadi pilot, membuat Niah lebih takut dari biasanya.


Sudahlah sememangnya Niah takut naik pesawat, takut kalau kalau pesawatnya jatuh. Ada beberapa turbulensi lumayan kuat membuat Niah gak tenang menjerit jerit sehingga Zan memberi Niah obat penenang dosis rendah.


Cklekk.


"Hi, selamat tengah hari," sapa Zan membuka pintu kamar Niah.


"Ha alaa, kamu mabuk teruk. Neh minum air hangat!" Zan menyerahkan Niah segelas air lemon madu.


"Sebentar, aku cuci muka dulu," ujar Niah malu mengusap matanya, kali aja ada beleknya.


"Tak apa, minum dulu biar ada tenaga. Lepas tu ke kamar mandi, siap siap kita keluar makan kat restoran bawah." Zan menyodorkan lagi gelasnya.


Hm, angguk Niah meraih gelas dan meneguk lemon madunya, ah segar. Selesai minum Zan meraih gelas Niah.


"Kamu nekad sekali bawa pesawat cuaca buruk!" ketus Niah kesal.


Hehe. "Kan kamu yang nak buru buru pergi, macam dikejar hantu pulak!" Zan alasan.


"Kita bisa pergi ke malaysia dulu, cuma dua jam sudah sampai," ujar Niah, merengut.


Hehe. "Enggak seru malaysia. Dekat sangat, jauh lagi seronok," kekeh Zan.


Cih, "Emang ini di mana, Zan? Satu hari satu malam baru sampai?" tanya Niah melihat sekeliling ruangan kamar yang mewah.

__ADS_1


"Ini Amrik, NYC tepatnya. Lepas makan kita ke club, enjoy." Zan menjeling genit.


Niah mendelik. "Club, siang siang?" tanya nya mimik wajah gak suka.


"Ada...aku penasaran mau pergi. Kat London juga ada, tapi bodyguard abah di mana mana, si sini kita bebas!" terang Zan.


"Apa kamu suka teler?" tanya Niah, walau gak percaya melihat wajah Zan yang lembut kayaknya alim ternyata oh ternyata


"Apa tuh, teler?" tanya Zan.


"Minum alkohol!" jawab Niah.


"Dikit," Zan tersungging.


"Hei jangan coba coba, aku bagi tau abah kamu!" sergah Niah.


"Niah, usia muda kita nikmati hidup," ujar Zan selamba.


"Terserah kamu, jangan bawa bawa aku teler!"


"Oke, kamu gak usah teler. Cukup jaga aku, tapi kalau aku mabuk jangan rogol tau, hehe." Zan terkekeh.


"Sorry, gak minat! Kamu kurus macam papan!" Niah mengerucut.


"Mana pulak gini ganteng, tak nampak kah? Kamu baru bangun tidur mata pun rabun, iye lah. Mari tengok dekat dekat!" Zan mendekatkan wajahnya ke Niah.


Deg,


Tak ayal jantung Zan berdegub, Niah jengah replek menahan wajah Zan.


"Aaa, pergilah keluar, aku mau mandi!" jerit Niah menghalau Zan.


Hehe, "Baiklah Niah, take your time. Dalam almari ada baju ganti buat kamu, oke!"


Senyum Zan mengembang, lalu ia berdiri keluar dari kamar Niah, di balik pintu Zan memegangi dadanya.


Apa neh...


Kan aku dah kata suka pada Niah tapi Abah tetap jodohkan aku pada perempuan yang aku gak suka, ah.


Sekalian aku bawa kabur Karunia, puas kan Abah!


*****♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, ikutin terus ya.


Jangan lupa like dan vote juga hadiah terima kasih, 👍


__ADS_2