
Setalah Johan pergi kerja, Dewi memacu mobilnya menuju area perkantoran gedung WJ. Melangkah pasti, Dewi masuk lobby menuju resepsionis.
"Mari Bu, ikut saya. Anda sudah ditunggu." ujar resepsionis mempersilahkan.
Hm, hebat sekali Damien, aku bahkan sudah ditunggu.
Batin Dewi mengangguk mengikuti resepsionis, mereka menaiki lift naik ke lantai paling terakhir gedung.
"Silahkan Bu." resepsionis membuka pintu mempersilahkan Dewi masuk sendirian setelah tadi mengetuk.
"Terima kasih mbak " ucap Dewi, masuk ke dalam ruangan dengan dada berdebar.
Dewi melihat di dalam ruangan ada dua orang pria tampan, kira kira tak jauh umurnya dari Johan.
"Saya Arjit."
Sapa pria yang mirip Salman Khan waktu masih muda mengulurkan tangan, satu lagi pria brewokan diam saja duduk di balik meja ada tulisan Manager Arjit Syahidan.
"Dewi Pelangi." jawab Dewi menerima uluran tangan Arjit.
Kalau ini Arjit, jadi yang brewok itu siapa?Kenapa dia duduk di kursi manager.
"Mari." ajak Arjit duduk di sofa, Dewi mengikuti nya.
"Saya sudah terima resume anda, Tuan Damien merekomendasikan anda secara khusus jadi saya percaya anda akan profesional dalam bekerja." Arjit menatap Dewi.
__ADS_1
Wanita ini cantik, tapi wajah nya sendu. Siapa dia, semalam Johan menyebut nama istrinya Dewi pelangi. Apakah ini wanita yang di maksud?
Batin Arjit menoleh ke Yudi yang duduk di kursi kebesaran nya, diam menunduk.
"Terima kasih Tuan, saya tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang anda berikan." jawab Dewi.
Ehm, angguk Arjit.
Cklekk.
Pintu ruangan dibuka, seorang wanita cantik berdiri memandang kepada Arjit bergantian pada wanita yang dihadapan nya juga pada si brewok Yudi.
"Olivia, ada apa kemari?" tanya Arjit terkejut melihat wanita yang telah dinikahi nya secara siri itu datang menemui nya, gak pernah pernah sejak dia dipecat jadi sekretarisnya. Mana ada Yudi lagi di ruangannya, hah.
"Siapa?" tanya Olivia santai melirik Dewi, duduk di samping Arjit sambil meletakkan bawaannya di meja.
Ini pasti alasan mau melihat mantan terindah.
Batin Arjit menatap Olivia kesal. "Ini Nyonya Dewi yang akan jadi sekretaris saya." jelas Arjit, wajahnya merah maroon gak enak pada Yudi.
"Anda sangat cantik Nyonya Dewi, saya istrinya." Olivia menggenggam tangan Arjit.
"Senang mengenal anda, Nyonya Olivia." jawab Dewi, risih melihat sikap posesif Olivia, seolah ia ada tampang pelakor, aih.
"Baiklah Nyonya Dewi, saya antar ke meja anda. Boleh lihat lihat dulu, besok saja mulai bekerja."
__ADS_1
Arjit melepaskan tangannya dari genggaman Olivia, berdiri mengajak Dewi keluar dari ruangan tidak berniat mengajak Olivia.
Terserahlah siapa yang kau suka Olive, yang penting tiap malam aku dapat jatah darimu.
Batin Arjit setelah di luar ruangannya, ia melihat Yudi juga keluar. Tersenyum seolah mengejek nya berjalan menuju ruangan Presiden direktur.
Dasar si Yudi.
Dalam hati Arjit kembali fokus ke Dewi. "Nyonya Dewi, ini meja anda silahkan kalau ada yang kurang beri tahu, saya tinggal dulu ya permisi."
Arjit berlalu dari hadapan Dewi, Dewi mengangguk teringat Olivia yang rajin mengunjungi suaminya di kantor. Sedangkan dirinya tidak pernah sekalipun datang ke kantor Johan, kecuali acara tahunan. Itu pun di aula, bukan ke kantor Johan. Bagaimana bentuk ruangan Johan pun bahkan Dewi tidak tau.
Alhamdulillah. Aku sudah ada kerjaan, tinggal cerai. Tapi aku pastikan Shopie hamil dulu, baru gugat kalau tidak keduluan Johan.
Dalam hati Dewi, segera menghubungi Damien ingin mengucapkan terima kasih. Sementara Arjit bergegas ke ruangan presiden direktur menemui Yudi.
"Yudi, maaf. Aku tidak tau darimana Olivia mengetahui kamu ada di sini."
Ucap Arjit gak enak hati pada Yudi yang sibuk di depan laptopnya, Yudi menarik ujung bibirnya.
"Sudahlah manager, tidak apa apa. Kita fokus pada proyek sebelum saya balik ke Amrik, besok adakan meeting dengan kedua partner, Johan dan Damien di sini, di kantor WJ. Kita akan live meeting dengan Tuan muda, silahkan manager urus istri anda jangan lama lama dia berkeliaran di gedung ini."
Jawab Yudi suara tegas, walaupun kesal mau gimana lagi.
*****♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, 👍