
Di mobil menuju kantor, Devan semakin tidak tahan dengan perlakuan Johan pada Dewi.
"Johan, kalau kamu terus begini, aku malas jadi asisten kamu." ujar nya nada kesal.
"Jadi kamu mau apa, jadi direktur? Baiklah aku yang jadi asisten." jawab Johan dengan santainya.
"Cis, gak lucu. Bukan itu maksudku, bisa tidak kamu kembali bersikap normal pada Dewi?"
"Devan kamu tidak tau, sudah dua kali Dewi menjumpai pria itu di belakangku. Kalau kamu sebagai suami bagaimana perasaan mu, tidak dihargai oleh istrimu. Pertama aku sudah menjemput nya dan menegur nya, ternyata kemaren dia mengulang lagi kesalahan yang sama. Pulang setelah jam 12 malam, mungkin karena aku terlalu memanjakan nya selama ini sehingga dia menganggap remeh aku." geram Johan.
"Tidak ada asap kalau tidak ada api. Yang aku lihat kamu yang berubah sejak ada Niah, bahkan saat bersama Shopie kamu tidak begini." ketus Devan.
"Kalau saja Dewi mau dipoligami aku tidak akan sembunyi sembunyi. Apa boleh buat, kamu bilang gak ada api gak ada asap, ya ini lah akibatnya."
Hais, dasar. "Aku peringatkan kamu Johan, Dewi istri yang baik. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari, harus kehilangan nya."
"Aku tidak akan membiarkan dia pergi, Dewi harus tinggal di sisiku selamanya dan membuat nya berlapang dada menerima Niah sebagai istri kedua." Johan suara tegas.
"Aku sudah pernah bilang kalau dia tidak bisa ikhlas sendiri, aku akan memaksa nya ikhlas. Aku yakin istri istri ustad juga begitu, tidak ada yang langsung ikhlas dipoligami kalau suaminya yang ustad itu gak maksa." lanjut Johan nada sewot.
"Kenapa kamu bawa bawa ustad, mereka amal makruf nahi munkar. Kalau kamu jelas jelas karena gatal." ceplos Devan gak tahan lagi.
"Aduh." jerit Devan seketika Johan menjambak rambutnya.
*
__ADS_1
Siang hari, Karunia mengantar Dewi ke rumah sakit Bagus. Devan juga membawa Johan, mereka terlambat sepuluh menit dari jadwal. Karena ini sesi Dewi dan Johan sehingga Shopie belum diajak ikut serta.
Setelah pengambilan superma, Johan dan Devan menunggu di ruangan Bagus sementara Karunia menunggu Dewi di ruang perawatan dokter.
Setelah siuman Dewi di hadapan dokter ditemani Niah. "Nyonya Dewi, semoga proses selanjutnya tidak ada masalah yang berarti. Setelah minggu depan mudah mudahan embrio sudah bisa di transfer ke dalam rahim Nyonya Shopie. Yang harus diingat, kita hanya berusaha ketentuan tetap mengharap belas kasihan dari yang maha kuasa." jelas dokter.
"Baiklah dokter, terima kasih." ucap Dewi.
"Sama sama Nyonya, kalau ada masalah segera hubungi dokter. Banyak istirahat dan minum air putih yang cukup. Ini saya resepkan obat, kalau kalau anda merasa pusing." jelas dokter.
Hm, Dewi tersenyum mengangguk.
Di ruangan Bagus, Dewi dan Karunia menghampiri Johan. "Dewi, kamu pulang diantar Devan, aku mau bawa Niah melihat Apartemen. Pak Dadang sudah memberi tahu besok asisten rumah tangga baru akan datang sejumlah tiga orang untuk membantu kamu." ujar Johan.
Dalam hati Karunia seketika gelisah, merasa tidak senang dengan perkataan Johan, segera ia maju bicara. "Tuan, saya tidak mau tinggal di Apartemen. Kalau anda mendatangkan pembantu baru, saya akan mencari kerja lain. Tapi saat ini Nyonya dalam keadaan lemah diambil telur baru siuman dari obat bius, dimana hati nurani mu, brengseeek!" jerit Karunia suara keras, seketika menerjang Johan memukul mukul di wajahnya menjambak rambutnya.
Johan kaget menangkap tangan Niah dan memeluknya, membiarkan Niah memukul mukul punggungnya. Devan dan Dewi juga kaget tidak terkecuali dokter Bagus.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Niah mendorong Johan memandang Dewi jatuh air mata. "Nyonya maafkan saya, karena telah lancang melakukan test DNA. Bukan maksud saya untuk dianggap anak oleh Tuan ataupun mau minta pertanggung jawaban. Hanya penasaran, apakah benar yang dikatakan almarhum ayah dulu, itu saja. Kalau tidak dibutuhkan lagi, saya akan pulang kampung." jelas Niah pada Dewi.
Dewi menatap nanar pada Niah, dan cara Johan memperlakukan Niah yang emosi penuh kasih sayang. Seolah hubungan mereka bukan sekadar ayah dan anak lebih kepada sepasang kekasih.
Kalau bukan karena Niah yakin kasih sayang Johan padanya sangat besar, tidak mungkin Niah berani kurang ajar membentak Johan dan memukul wajahnya.
"Apa kamu pikir saya sebagai orang tua, akan membiarkan kamu pergi setelah mengetahui kamu itu putriku." ujar Johan nada lembut pada Niah.
__ADS_1
Putri dari hongkong.
Dalam hati Niah menatap tajam Johan lalu menoleh lagi pada Dewi. "Anda yang memanggil saya kerja, katakan sesuatu Nyonya, jangan diam saja!" ujar Niah sedikit membentak.
Dewi menghela nafas pelan. "Johan bukankah kamu memberi waktu tiga bulan untuk aku berpikir, aku menginginkan Niah sampai saat itu. Kalau kamu mau mengambil Niah sekarang, aku juga siap jika kamu bersedia menceraikan aku saat ini juga." ujar Dewi.
Astaga!
Devan dan Bagus kaget bukan main ternyata sudah separah itu, mereka menggeleng kepala menyayangkan sikap Johan.
Johan menelan ludah susah payah, ada rasa bersalah dalam hatinya melihat Dewi tubuhnya lemah namun mau minta maaf dia gengsi.
"Niah akan pulang denganku." tegas Dewi, melihat Johan terdiam.
Plak.
Niah menepuk pundak Johan. "Gendong Nyonya ke mobil." titah nya melotot pada Johan.
Hm, Johan nurut segera menggendong Dewi, mengambil tempat duduk di jok belakang sementara Karunia bertindak sebagai supir. Devan kembali ke kantor, ada jadwal meeting yang tidak bisa di cancel.
Sampai di rumah, Johan juga mengendong Dewi ke kamar mereka di lantai dua, membaringkan nya perlahan di kasur. Duduk bersandar di headboard, mengusap lembut ubun ubun nya. Johan menitikkan air mata memandang wajah Dewi yang pucat, perlahan matanya terpejam.
******♥️
Jumpa lagi, 👍
__ADS_1